Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Teman hantu


__ADS_3

Sebuah tangan terulur memegangi pundak mereka membuatnya terhenyak dan semakin ketakutan.


"Haaaaaaaa"Keduanya berteriak histeris dengan tepukkan di bahu mereka.


Plak..


"Woi, elu kenapa teriak-teriak?sambil pelukkan lagi.!"Cibir Sherly yang memukul bahu Geri karena dia tak berhenti teriak walau sudah di goyangkan bahunya.


Geri menoleh kearah sumber suara, dan di lihatnya Sherly yang sedang marah dengan bertolak pinggang.


Geri pun menyentuh tangan Sherly dengan takut.


"I..ini beneran elu kan, Sher?"Di sentuhnya perlahan tangan Sherly.


"Elu pikir..??"Ia melotot ke arah Geri.


"Ah Sherly, syukur lah"Geri melompat keluar dan langsung memeluk Sherly.


"Sherly, gue seneng banget elu ada di sini!"Ia terus mengeratkan pelukkannya.


Zidane, Rian, dan Nania di buat diam.mereka memperhatikan interaksi keduanya.


"Aih, suasana mulai panas nih!kayaknya bakal ada perang dingin?" Rian berucap dalam hati, karena ia tak mampu berkata apapun.cuma bisa tersenyum.


"Sial, kalau bukan sahabatnya?udah aku tendang tuh orang!"Batin Zidane.ia sampai mengepalkan tangannya.


"Aduh, dasar si galak.bikin masalah aja deh!udah tahu si ganteng posesif akut, di panas-panasin lagi"Nania mendelikkan matanya.


"Lagian, siapa sih nih cowok?"


Sherly melepaskan pelukkan Geri.


"Sebenarnya elu kenapa sih tadi, telpon gue kaya ketakutan gitu?"Ia bertanya pada sahabatnya.


"Ta..tadi ada..ada"Geri masih takut dan nada bicara yang bergetar.


"Tadi apa?"


"Kaca mobil..darah...tangan..tulisan sama..sama..."Ia meracu tak jelas membuat tiga orang itu bingung.


"Relaks dulu bro, cerita secara perlahan, oke!"Rian mengelus punggung Geri yang masih takut.


"Tarik napas, keluarkan secara perlahan"Instruksi Rian.


"Heeeghh..huuhhh...heegghh..huuh" Geri mengikuti instruksi Rian.


(Untung tuh si Geri enggak kaya kal Al, disuruh tarik napas dan buang secara perlahan dari hidung, dia malah keluarin dari belakang.ckk)


"Bok saya di ajakin gitu loh mas!" Ucap si supir taksi.


"Eh, lupa ada bapaknya!"Mereka menoleh ke dalam mobil.


Supir pun turun dan berkumpul dengan mereka, ia langsung merentangkan tangan seperti ingin memeluk Sherly.


Namun, dengan cepat Zidane menariknya dan supir itu pun akhirnya memeluk Rian.


"Whoaa.."Tubuh Sherly tertarik Zidane dan Rian yang jadi sasaran.


"Hei pak, kenapa kau memelukku?" Rian kesal karena si bapak memeluk dengan erat.


"Saya tadinya mau meluk si mbaknya, tapi si mas itu menariknya. Jadi, ya saya peluk mas ini!"Ucap si supir pada Rian.


"Lagian, aneh-aneh saja.pake mau meluk dia, mau habis di makan raja es, apa?"Rian berbisik lirih.


"Baiklah, ceritakan semuanya!"Titah si king ice pada mereka.


"Tadi ada....."Geri dan si bapak supir pun menceritakan pasal tentang kecelakaan, tangan tanpa tubuh, juga darah dan tulisan minta tolong yang terdapat di jendela kaca mobil.


"Disini Sher, tadi kita...eh, mana tulisannya pak?darahnya hilang!" Seru Geri pada mereka dan supir yang mengangguk.


Keduanya memutari mobil taksi itu dari depan ke belakang , begitu pun sebaliknya.


"Iya mas, mbak. tadi jelas banget kalau kita lihat tangan itu menempel di kaca mobil dengan darah yang berlumuran dan juga tulisan "Tolong Aku"gitu ya?"Tutur supir.


Sherly dan Zidane saling terdiam, mereka saling pandang kemudian memandang Nania.


"Apa?"Nania yang sudah tahu arti dari tatapan itu.


"Iya..iya, baiklah!"Ia mengerti tatapan keduanya walau tanpa di mengucapkan sepatah kata pun.


Nania langsung berkeliling dan melihat lokasi dan situasi di sana.


Beberapa saat, ia kembali dengan tergesa-gesa.


"Hahh..hahh.."Ia kembali dengan Napasnya yang tak beraturan.


"Kenapa?"Tanya Zidane dan Sherly.


"Itu..itu"Nania tak bisa menjelaskan apa yang di lihatnya.


"Apa sih?yang jelas dong!"Sherly dan Zidane tak sabar dengan penjelasan Nania kepadanya.

__ADS_1


"Huftt..cewek yang kecelakaan tadi, dia ingin menyampaikan sesuatu pada kalian.hiiiiiiiiyyy..."Nania malah bersembunyi di balik tubuh Zidane dan Sherly.


"Dasar, hantu pena..kuutt"Sherly yang melihat sosok wanita di depannya dalam keadaan luka parah.sekujur tubuhnya di penuhi darah dan tangannya yang buntung.


Mereka cuma melihat Sherly yang ketakutan saat melihat ke arah depan dan ia bersembunyi di balik tubuh Zidane.


Nania yang berada di belakang tubuh Zidane pun otomatis tergeser Sherly yang bersembunyi di sana.


"Whoa.."Nania terjatuh lalu berdiri lagi dan berdesak-desakkan dengan Sherly.


Terlihat, Sherly seperti geser-geseran dengan orang lain dan itu di lakukan padahal tidak ada siapapun.


"Mereka kenapa sih?"Ketiga orang di belakangnya tak mengetahui apa-apa.


Zidane melirik keduanya kemudian menatap sosok di depannya.


"Kenapa kamu kemari?mau mengganggu kami?"Tanya Zidane.


Sosok itu menggeleng.


"Lalu, untuk apa kemari dan mencegah mereka pulang?"Tanya Zidane lagi.


Ia pun terdiam.


Ketiga orang di belakang pun berbisik-bisik tetangga.mereka malah bergosip ria, membicarakan Zidane yang menurutnya aneh karena bicara sendiri.


Tapi bagi Geri, itu hal yang sudah biasa.ia sering melihat Sherly berbicara sendiri.itu pertanda bahwa ada sosok makhluk halus berada di sini.


"Dia lagi bicara sama hantunya!" Kata Geri penuh pengertian.


"Apa?"Keduanya menatap Geri tak percaya.


"Kenapa?tak percaya?"Tanya Geri.


Mereka menggeleng kemudian mengangguk.


"Haish, kita lihat saja.bakal ada sesuatu deh!"Ucap Geri dengan yakin.


Mereka pun memperhatikan Zidane dan Sherly lagi.entah apa sekarang yang terjadi, karena Sherly tidak bersembunyi lagi.


"Maju kamu!"Perintah Zidane.


"Ogah, gue takut"Tutur Sherly.


"Cih, kaya gitu saja takut.katanya senang nolongin orang!"Cibir Zidane.


"Gu..gue memang seneng nolongin orang lain, tapi gue juga takut kali lihatin yang begituan!"Ia tak berani maju ke depan.


Zidane kesal dan menariknya ke depan.


"Aku cuma menarikmu untuk maju ke depan dan mengintrogasinya, bukan mau ngapa-ngapain kamu. Pake teriak mommy segala lagi.entar orang ngira, kamu di apa-apain tahu.apalagi disini cuma kamu cewek yang terlihat!"Jelas Zidane dengan nada dinginnya.huucchh...


"Oke..oke!"Sherly pun maju dan berusaha mengendalikan dirinya.


"Huch..hufft"Ia pun maju.


"Oke mbaknya, kamu kesini mau apa?"Tanya Sherly tak berani memandang ke arahnya.


Wanita itu diam


"Dia gak bisa ngomong kali"Celetuk Nania.


"Apa lagi baru mati, masih susah beradaptasi itu!"Lanjutnya.


Keduanya pun mengangguk.


"Ya sudah, kamu bisa tulis apa yang kamu sampaikan"Kata Sherly.


Ia pun menulis sesuatu di kaca mobil.


"Tolong aku, sampaikan permintaan maafku pada tunanganku!"


"Tuh lihat, bukankah sudah gue bilang kalau ada sesuatu"Tunjuk Geri pada mereka.


"Iya ya, memang bener"Keduanya pun mengangguk.


"Apa lagi yang ingin kamu sampai kan?"Tanya Zidane.


Tulisan itu kembali muncul.


"Berikan tasku pada ibuku"


"Baiklah, kami akan memberikan itu"


"Tolong temukan tanganku"


Tulisan darah itu kembali muncul lagi.


Semua yang melihatnya bergidik takut.hiiiiiiii....


Setelah permintaannya di iya kan, hantu wanita itu menghilang setelah menulis."Terima kasih"

__ADS_1


"Dia sudah pergi, ah leganya"Mereka mengelus dada.


"Baiklah Ger, ayo pulang ke basecamp!"Ajak Sherly.


"Kami ikut"Ucap keduanya singkat.


"Saya gimana?"Si bapak supir masih ke takutan.


"Bapak ya pulang saja sana!"Kata Geri.


"Nih, ongkosnya"Ia menyodorkan dua lembar uang merah.


"Tapi kita belum nyampe tujuan mas, lagi pula ini kebanyakan."Kata supir.


"Anggap saja rejeki bapak, ambil lah"Geri memaksa.


"Tapi, saya takut lewat sendirian"Ia berkata langsung.


"Kita anterin kok, yuk!Ucap Zidane.


Setelah mengantar bapak supir taksi ke jalan raya yang ramai, mereka melanjutkannya ke base camp.


Mobil Zidane berhenti di depan sebuah bangunan unik gaya tradisional.


Rumah sederhana dengan nuansa seperti taman bermain, ada ayunan, perosotan, juga puter-puteran dan lapangan tempat main basket.


Di depan rumah itu ada Rumah pohon yang berdiri di atas pohon beringin, terbuat dari kayu jati dengan di hiasi berbagai macam lampu kecil.membuat rumah itu terlihat indah dan layaknya tempat nongkrong remaja.


"Wah kakak ipar, tempatmu bagus ya?"Puji Rian pada Sherly.


"Ckk, masih suka main di rumah pohon.kaya monkey saja!"Cibir Zidane dengan ketus.


"Yeeeeey, anda belum merasakan indahnya dunia kalau belum pernah nongkrong di rumah pohon."Sherly tak terima.


"Ih, ogah kali"


"Lihatlah si genit, dia senang dengan tempat ini, sampai melompat ke sana kemari"Sherly tersenyum melihat Nania yang mencoba semua jenis permainan.


Saking senangnya, Nania turun dari mobil dan melayang mengelilingi rumah itu.


Dari dalam terdengar suara gitar dan nyanyian mengalun merdu.musik dan lirik lagu yang lucu, membuat ia penasaran.ia pun masuk ke dalam untuk mendengarkan.


Terdengar dua orang sedang bertepuk tangan memuji si penyanyi.


Nania pun ikut bertepuk tangan dan berkata."Iya lucu, hihihiiii"Ia tertawa cekikikan di tengah obrolan mereka.


"Siapa tuh?"Mereka bertanya dengan ketakutan.


"Sherly, Sher.jangan bercanda lu ya?"Makin takut karena Nania tak menjawab.


"Wah gawat, mereka teman-teman si galak. kalau si galak tahu aku menakuti mereka.habis lah"Nania melayang kembali ke luar dengan menembus tembok.namun tanpa sengaja, ia menabrak sebuah hiasan dinding yang terpajang di ruangan itu.


Gubragh


"Haaaaa"Jeritan mereka terdengar sampai ke luar.


Sherly, Zidane, Geri dan Rian, berlari ke dalam rumah itu.mereka terkejut dengan suara benda jatuh dan teriakan ketiga orang yang ada di dalam.


Di depan pintu, terlihat Nania yang sedang tersungkur dan memegangi kepalanya.


"Hei, kenapa lu?"Tanya Sherly pada nya.


"Sakit, kejedot Itu"Nania merengek dengan menunjuk pajangan.


"Pantas saja mereka teriak, rupanya kamu biang keladinya."Cibir Sherly.


"Nakutin orang, tahunya kamu apes kan!" Ledek Zidane.


"Hahaha"Sherly dan Zidane tertawa sedangkan Geri dan Rian menatap mereka dengan tak mengerti.


Di dalam basecamp


Ketiga orang yang sedang bernyanyi itu terhenti karena suara cekikikkan dari makhluk yang tak di ketahui keberadaannya.


Mereka berpelukkan satu sama lain untuk mengurangi rasa takutnya.


Keempat manusia di tambah satu makhluk halus itu memasuki bangunan yang di sebutnya basecamp.


"Sedang apa kalian?"Tanya Sherly dan Geri.


"Sherly, Geri"Ketiganya berhambura ke pelukkan mereka.


Mereka pun menceritakan kejadian itu.


Sherly dan Zidane cuma tersenyum.


"Apa yang kalian senyumin?"Pertanyaan Iren membuat semua mata tertuju pada mereka.


"Semua ini ulah dia!"Tunjuk Sherly dan Zidane ke bangku kosong di samping jendela.


"Hantu temanmu lagi?"Keempatnya serempak bertanya, cuma Rian yang tak paham.

__ADS_1


"Haahhh"Helaan napas panjang dari keempat sahabat Sherly.dan si pelaku cuma nyengir mengangkat dua jari tangan kanan di depan wajah, sedangkan tangan kiri memegangi keningnya yang benjol.


"Hehehe...vish ah"


__ADS_2