Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Keluar villa


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu. Kini kandungan Sherly sudah menginjak masa persalinan.


Dengan bantuan dan perawatan khusus dari dokter Karmila, kandungan Sherly sehat dan kuat. Janinnya bergerak dengan lincah dan juga jelas terlihat.


Walaupun pada awalnya dirinya tak yakin jika di dalam perutnya masih ada si jabang bayi, namun Zidane tetap meyakinkannya untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan khusus.


Pulau yang jauh dari pusat kota menjadi tempat Zidane untuk menyembunyikan istri tercinta dari ancaman para musuhnya.


Zidane tak ingin mengambil resiko dengan melakukan pemeriksaan di pusat kota karena dia tahu jika nyawa istri dan calon anaknya akan terancam.


Banyak hantu gentayangan yang selalu mengejar Sherly karena mencium aroma dari kehamilannya. Apalagi para jin penunggu daerah tertentu yang menginginkan bayi dari mereka.


Zidane berpikir jika dirinya pergi membawa istrinya dari pusat kota akan menghindarkan keduanya dari bahaya. Namun pemikiran Zidane ternyata salah.


Sherly memang tak di ganggu musuh mereka, melainkan para arwah gentayangan yang mengincar bayi mereka.


Alhasil, seluruh penjuru villa di siram air do'a oleh Zidane sebagai perlindungan untuk istri dan calon anak mereka.


Zidane membawa Rian dan dokter Mila beserta beberapa perawat dan pelayan, juga pengawal untuk menjaga mereka dan melayani mereka di villa ini.


Keluarga dan sahabatnya saja tidak di beritahu jika mereka tinggal di villa di pulau ini. Dengan alasan tak mau ada yang mengikuti mereka nanti, sehingga mengancam keselamatan istri dan calon anaknya.


Mereka hanya mengetahui jika Sherly dan Zidane pergi berobat ke luar negri bersama Rian sebagai dokter pribadinya.


Seseorang yang mengintip di balik tembok dan melihat jika Zidane sudah sembuh ialah Prita. Wanita itu menguntit terus bagaikan detektif profesional yang bekerja dua puluh empat jam.


Beruntunglah saat itu Zidane menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan mereka dan selalu mengawasi dari jarak dekat namun tak terlihat. Karena, Prita mengambil sesuatu dari tempat Hendri yaitu jimat penghilang raga.


Maka dari itu, Prita dengan leluasa bisa mengawasi mereka semudah dan sesuka hatinya tanpa takut ketahuan. Namun dia tak tahu, jika kemampuan batin Zidane melebihi batas kemampuan Hendri.


Prita mengira dengan jimat itu dia bisa dengan mudah menyingkirkan Sherly dan memperdaya Zidane supaya menjadi miliknya. Tapi usahanya gagal, karena Zidane selalu mengetahui niat busuk Prita.


"Sayang, baik-baik ya di dalam perut mami!" Janin di perut Sherly bergerak setelah mendapat elusan tangan Zidane yang lembut.


Seolah dia sedang berinteraksi dengan sang ayah, janin itu terus bergeram membuat si ibu meringis merasa ingin buang air kecil.


"Aduh, pap. Rasanya aku ingin pippis deh kalau kamu terus ngelus perut aku kaya gitu!"


Zidane malah terkekeh di ikuti Rian dan Mila.


"Wajar nona muda. Jika janin terus bergerak membuat si ibu selalu ingin buang air kecil." Ujar dokter Mila.


"Itu bagus, kakak ipar. Berarti si utun ngerti apa yang di katakan bapaknya." Timpal Rian.


Zidane melotot mendengar panggilan aneh yang di sebutkan Rian.


"Siapa si utun? Enak saja kamu kasih nama panggilan buat anakku dengan sebutan si utun!" Bentak Zidane.


Rian terkesiap mendengar bentakkan Zidane, begitu juga dokter Mila. Sedangkan Sherly hanya menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Ma-maksud aku tuh gini lho, bos. Utun itu ...!"


"Apa? Jangan sembarangan kasih nama buat calon anakku! Apa kamu mau aku kirim ke tempat jauh supaya otakmu lebih cerdas?" Tegas Zidane.


Dokter Mila tersenyum menghadapi sikap Zidane dan melihat rasa ketakutan Rian terhadap si tuan muda.


"Utun itu panggilan buat bayi yang belum lahir . Bayi yang masih ada di dalam rahim gitu!" Jelas dokter Mila.


Setelah mendengar penjelasan dokter Mila, barulah Zidane mengerti.


"Oooh, jadi utun itu panggilan si jabang bayi yang masih di kandungan?" Rian mengangguk cepat. "Bilang dong yang jelas. Dasar dokter bodoh!" Ejek Zidane.


Rian mengelus dadanya merasa lega. Tapi, dia juga seperti kesal terhadap sikap Zidane yang selalu tak mau mendengar ucapannya sampai tuntas.


Huuuh, dia itu selalu salah paham atas ucapanku! Nasibmu jelek sekali sih Rian.


Rian menunduk meratapi nasib sialnya yang selalu di permainkan otor, eh Zidane.


(Otor kan baik hati dan tidak sombong lho! Nyatanya otor deketin Rian sama Mila. Tapi ... nanti)


"Ckk, selalu saja!" Gerutu kesal terdengar dari mulut Rian. Entah dia kesal pada sahabatnya atau pada otor. Yang pasti otor gak perduli. Hehehe.


Tanpa memperdulikan gerutuan kesal dari mulut Rian, Zidane kembali menatap istri tersayangnya.


"Machanku sayang, apa kamu mau jalan-jalan sebentar di pantai? Aku ingin kamu merasakan segarnya udara sekitaran. Itu bagus untuk kesehatanmu dan anak kita. Gimana?"


Zidane tersenyum kikuk. Istrinya memang benar. Dia mengurung istrinya di villa hanya untuk kebaikan Sherly dan calon buah hati mereka. Tapi kali ini, Zidane sudah siap karena kandungan Sherly pun sudah kuat.


"Maafkan aku, sayangku!" Mencium kening Sherly dan menggandengnya keluar. "Ayo, kita keluar!" Ajakan Zidane membuat Sherly sangat bersemangat.


"Aku seneng banget!" Menyandarkan kepala di dada Zidane. "Oh ya, Rian. Kamu tolong temenin dokter Mila sebentar ya." Kata Sherly sambil mengedipkan mata.


Rian jadi salah tingkah karena ledekan istri si tuan muda ini. "Aa-aku ... iiii-iya kak!"


Zidane melirik Rian sepintas. "Jangan gugup. Kamu gak bakal di apa-apain sama dokter Mila. Iya kan, Mil?"


Dokter Karmila tersenyum dengan mengangguk pelan. "Iya, tuan muda. Justru aku yang harus takut di tinggal berdua sama dokter Steven." Ucapnya terkekeh.


Sherly dan Zidane hanya tertawa mendengar candaan Mila. Sedangkan Rian menunduk malu.


"Maafkan aku, dokter Steven! Aku hanya bercanda." Ucap Mila setelah pasangan suami istri itu keluar.


Rian hanya menunduk. "Tidak apa-apa, dokter Mila!"


Melihat raut wajah Rian, Mila mendekat sambil menyentuh tangan lelaki tampan yang sedang duduk di hadapannya itu.


"Kenapa kita kaku ya. Padahal kita udah bersama di sini cukup lama. Emmm, gimana kalau kita mulai berteman baik?"


Rian tersentak karena jarak mereka sekarang semakin dekat, karena Mila berpindah duduk di samping Rian sambil menggenggam tangannya.

__ADS_1


Rasa gugup merayapi diri Rian karena sentuhan tangan Mila. Dia tak sanggup berkata apa-apa dan tak sanggup untuk menatap mata Mila.


"Apa kamu gak mau berteman denganku, dokter Steven?" Dengan cepat Rian menggelengkan kepala. "Jadi, kamu gak mau?" Terlihat wajah kecewa dokter Mila.


Dengan malu-malu, Rian menatap wajah dokter cantik di sampingnya. "Bukan gak mau. Tapi ... aku mau kok, dokter Karmila!" Jawab Rian menjeda ucapannya.


Mila tersenyum kemudian menjabat tangan Rian. "Panggil Mila saja. Jangan ada embel-embel dokternya!"


"Kalau begitu, panggil aku nama juga. Jangan pake dokternya!" Pinta Rian cepat.


Karmila tersenyum manis membuat hati Rian meleleh seketika. "Baiklah, Steven!"


Rian pun tersenyum dengan panggilan dari Mila.


Tanpa mereka sadari, kedua orang yang tadi meninggalkan mereka itu ternyata mengintip dan menguping obrolan Rian dan Mila. Keduanya tersenyum sambil melangkah menjauh dari villa menuju pantai.


"Aku senang akhirnya mereka jadi tak kaku lagi. Uuh, rasanya kesel deh setiap kali Rian merasa canggung di dekat Mila." Ungkap Sherly.


"Aku juga, sayang. Makanya aku mengajak keduanya ke sini supaya mereka lebih dekat lagi." Ucap Rian.


Keduanya berjalan ke arah pantai untuk melihat indahnya pemandangan.




* * * *


Di tempat lain ....


"Sebenarnya pergi kemana mereka? Aku bahkan tak menemukan jejaknya di manapun!" Gerutu Avril yang sedang curhat kepada sahabatnya, yaitu Prita.


"Aku rasanya ingin sekali menendang wanita itu. Kenapa Zidane begitu mencintai wanita murahan itu di banding aku? Aku itu cantik dan juga sempurna. Sedangkan dia ... apa yang lebih menonjol dari diri wanita itu?" Lanjut Avril.


Prita menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya kembali. Terdengar seperti sedang frustasi.


Kau tak tahu jika banyak sekali perbedaan antara dirimu dan dirinya. Sampai-sampai Hendri pun rela melakukan apapun demi wanita itu. Huuh, kau itu tak ada apa-apanya di banding Sherly.


Avril melirik sahabatnya yang tak mendengarkan curahan hatinya.


"Kamu kenapa sih, Ta? Seperti sedang frustasi gitu?"


Prita melirik ke arah Avril dengan senyum yang terpaksa. "Ah, tidak. Aku hanya sedang ada masalah sedikit."


"Kalau ada masalah, bilang aku dong Ta. Kita kan teman! Lagipula, aku juga ingin kamu fokus untuk masalah pribadiku ini!" Ujar Avril.


Wanita ini sama menyebalkannya dengan istrinya Zidane. Dia ingin mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa perduli kepadaku. Huuh, kalau kamu tahu aku juga menginginkan Zidane. Apa yang akan kamu lakukan kepadaku?


Prita melengos mendengar ocehan sahabatnya itu. Ia sangat kesal karena Avril selalu saja ingin di perhatikan, namun tak sekalipun dia memperhatikan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2