
Beberapa bulan kemudian, Zidane kembali memboyong istri serta anaknya untuk kembali ke pusat kota.
Betapa senangnya hati Sherly saat mengetahui akan kembali bertemu keluarganya.
Begitu juga dengan Karmila. Ia sangat senang karena Rian berjanji kepada si tuan muda, akan melamar dirinya begitu sampai di pusat kota nanti.
Namun, tidak untuk Rian. Dia menjadi gelisah dan tak percaya diri. Karena janjinya itu, dirinya harus melamar Mila kepada keluarganya yang menurut Rian sangat sempurna.
Rian minder kepada keluarga Mila. Karena, dia sadar betul bahwa dirinya tak mempunyai keluarga seperti yang Mila miliki.
Kedua orang tua Rian sudah meninggal dunia sejak dirinya masih kecil. Dia di besarkan di panti asuhan sebelum di temukan kakek Hutama, yaitu kakek Zidane.
Pada saat usianya menginjak dua belas tahun, Rian dan Zidane sama-sama di besarkan kakek di Amsterdam sampai keduanya kuliah dan memiliki pekerjaan sendiri sesuai cita-citanya.
Rian sangat bergantung kepada keluarga Zidane. Dia selalu menganggap kalau kebaikan kakek sebagai hutang budi yang harus di bayar.
Jadi, Rian tidak mau membebankan apapun lagi kepada mereka untuk urusan pribadinya. Padahal, kakek ataupun Zidane tak pernah keberatan jika harus mengurusi semua kebutuhan Rian sampai dia berkeluarga nanti.
Mungkin Rian sadar diri, jika dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya anak yatim piatu yang menerima belas kasihan keluarga Prasetyo.
"Kau harus menepati janjimu, Rian. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya!" Ancam Zidane.
Rian mendengus kesal karena Zidane selalu mengatakan itu. "Berhentilah mengancamku, Zidane! Aku mengingat janjiku. Tapi, aku tak berani mengatakannya di hadapan keluarga Mila." Tutur Rian sedih.
"Kenapa? Apa kau tak percaya pada kemampuanmu sendiri? Atau, kau tak percaya kepada keluargamu?"
Sungguh, bukan itu yang Rian maksud. Dia hanya malu karena tak memiliki orang tua.
"Haahhhh!"
Helaan napas panjang terdengar dari mulutnya. Sepertinya, dia sangat frustasi dengan masalah yang di hadapinya saat ini.
"Emmm, Zidane. Menurutmu, apa aku mampu membahagiankan Mila? Rasanya, aku tak yakin!" Tutur Rian.
__ADS_1
Zidane pun menoleh ke arah sahabatnya itu. "Apa yang kau cemaskan? Apa karena keluarga Mila adalah keluarga terpandang?" Rian mengangguk cepat. "Jadi, menurutmu keluarga kita kalah jauh di bawah keluarganya?" Rian langsung menggelengkan kepala. "Jadi, apa yang membuatmu tak yakin?" Tanya Zidane lagi.
Wajah Rian menunduk seiring dengan helaan napasnya. "Aku takut keluarganya tak menerimaku yang hanya anak yatim piatu. Aku pernah tinggal di panti asuhan, dan kalian bukan keluarga kandungku. Apa orang tuanya akan menerima kebenaran tentang diriku?"
Zidane tersenyum menanggapi hal yang di takuti sahabatnya itu. "Mereka bukan orang yang seperti itu. Pemikiran mereka tak serendah itu untuk menilai orang lain, Rian."
"Tapi ... aku masih sangat takut jika mereka menolak niat baikku ini, Zidane. Aku takut jika mereka tak mau mempunyai menantu yang tak jelas asal usulnya seperti diriku ini. Mungkin, seluruh dunia akan menertawakan mereka jika mempunyai menantu sepertiku!"
Ungkapan kesedihan Rian tak sengaja di dengar Mila saat dirinya melewati ruang kerja Zidane. Tanpa terasa, air matanya mengalir begitu saja mendengar perkataan Rian kepada tuan muda.
"Apa kamu menganggap keluargaku seperti itu, Steven? Baiklah, aku akan meyakinkanmu kalau orang tuaku menerimamu apa adanya!"
Mila pun berbalik arah lagi dan pergi dari rumah Zidane. Ia kembali ke rumahnya setelah mereka tiba di ibukota kemarin.
Maksud hati ingin memeriksa keadaan nona muda, tapi malah mendengar kejujuran hati dari pria yang di cintainya. Mila pun bertekad ingin mempermudah niat baik Rian dengan memberitahukan semua kepada keluarganya.
Sementara Sherly, dia sedang beristirahat di kamar bersama si tampan. Dia tak mengetahui apapun tentang Rian atau Mila yang pergi begitu saja.
• • •
Tentu istrinya menggeleng. "Tidak. Aku kan seharian di kamar bersama Zyan! Memangnya, dia gak ada di rumah?" Sherly balik bertanya.
"Iya. Dari tadi aku mencarinya namun tak ada dimana pun. Apakah dia pergi tanpa berpamitan kepada kita?" Seketika Sherly terdiam dengan pertanyaan suaminya.
"Apa alasan dia pergi tanpa pamit?" Zidane langsung menoleh ke arah istrinya.
"Mungkinkah kemarin dia mendengar obrolan kita? Tapi, kita kan gak ngomongin yang membuat hatinya sakit?" Gumam Zidane.
"Ada apa?" Tanya Sherly yang melihat suaminya hanya bergumam.
Zidane tersenyum sebelum menjawab pertanyaan istrinya. "Ah tidak, sayang. Baiklah, sebaiknya kamu siap-siap ya. Kita akan nemuin opa!" Kata Zidane sambil mencium pipi Zyan.
Si bayi tampan itu tertawa dengan mulut kecilnya karena sang ayah yang menggelitik tubuh mungilnya. "Hahaha!"
__ADS_1
"Aih, lucunya anak papi. Uluh ... uluh ... tayang!" Zidane terus mengajaknya berbicara tentu dengan bahasa yang sengaja di buat-buat.
Sherly terus tertawa dengan tingkah suaminya itu. Dia sangat senang karena telah menjadi seorang ibu dan istri yang sempurna buat Zidane.
Di saat dia mengetahui jika dirinya keguguran, betapa hancurnya hatinya saat itu. Namun, saat Zidane mengatakan jika bayi mereka masih bertahan dalam kandungannya. Sherly berharap semua itu bukanlah mimpi semata.
Dan perkataan suaminya itu sangat benar. Ternyata, bayi mereka masih tetap bertahan dalam kandungannya. Juga, bayi itu tumbuh sehat sesuai usianya.
Sherly memeluk keduanya dengan uraian air mata. Bukan karena sedih, melainkan ia sangat bahagia dengan anugrah yang tuhan berikan kepadanya.
"Hei, kenapa kamu nangis? Apa yang membuatmu sedih, sayang" Tanya Zidane.
"Tidak. Aku saat ini bukan bersedih. Tapi, aku sangat bahagia karena memiliki kalian berdua. Aku harap selamanya kita hidup bahagia!" Tutur Sherly sambil mengusap air matanya.
Zidane langsung memeluk istrinya dan mengecup keningnya juga. "Aku akan selalu berusaha membuat kalian berdua bahagia. Insya allah!"
Sherly tersenyum dan langsung memeluk suaminya. "Terima kasih karena kamu selalu setia kepadaku!"
"Tentu aku akan setia kepadamu. Istriku kan cantik. Kalau jelek, mungkin aku akan mencari wanita lain lagi untuk mendampingiku." Ledek Zidane.
Seketika mata Sherly melotot. "Apa kamu bilang? Jika istrimu jelek, kamu akan mencari wanita lain, hehh? Bagus. Carilah wanita cantik dan nikahi dia karena kecantikannya. Jika sudah jelek, kamu harus nyari lagi dan lagi sampai kamu puas memakan wajah cantiknya."
Dengus kesal Sherly hanyadi tanggapi tawa suaminya. "Hahaha. Sayang, wajah cantik tidak mejamin hidup bahagia. Kecantikan dari dalam diri seseorang baru bisa membuat rumah tangga bahagia. Cantik wajah bisa berubah seiring usia. Tapi, kecantikan hati dan kepribadiannya akan tetap awet sampai ajal menjemputnya." Tutur Zidane.
"Aku bukan mencari istri cantik, tapi mencari istri yang baik. Apa salahnya jika dapat keduanya? Cantik di luar dan cantik di dalam. Bonus double bukan!" Lanjutnya sambil tertawa kecil.
Sedangkan Sherly hanya memanyunkan bibirnya karena ledekan suaminya itu. "Huuh, menyebalkan."
Namun, seketika ia tersenyum karena pelukan dan kecupan suaminya. Jauh dalam lubuk hatinya, Sherly sangat bersyukur karena memiliki suami seperti Zidane yang selalu memprioritaskan dirinya.
Dalam keadaan apapun, Zidane selalu menyayangi dan menghargai istrinya. Apapun yang di ingingkan istrinya, Zidane selalu menurutinya. Dia selalu berusaha membuat istrinya bahagia.
Itulah yang membuat Sherly selalu menghormati dan menyayangi Zidane. Karena Zidane tak pernah membuat dirinya sedih.
__ADS_1