Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe Kembali pulang


__ADS_3

Burhan adalah duda kaya yang kini hidup sendiri di rumah besarnya. Setelah istrinya meninggal, dia mengirim ketiga anaknya ke panti asuhan kasih bunda.


Walaupun anak-anaknya tak mau, namun Burhan tetap dengan pendiriannya untuk meninggalkan ketiganya di panti asuhan tersebut.


Sungguh tega


"Ibu kalian sudah pergi jauh dan gak akan kembali lagi. Dia sudah muak sama kalian karena kalian itu menyusahkan. Sedangkan papa sekarang sudah gak bisa ngurus kalian lagi, karena papa akan menikah dengan wanita pujaan papa. Dia gak mau ngurus kalian bertiga, maka kalian harus pergi!"


Itulah kata-kata terakhir dari ayah untuk ketiga anaknya.


Namun Burhan tak tahu, jika setelah dia menikah dengan wanita pujaannya itu, ketiga anaknya di bawa pergi dan di kurung di gudang tua atas suruhan istri barunya tersebut.


Istri baru Burhan adalah janda seksi teman sekantornya yang bernama Sari.


Sari adalah dalang di balik pembunuhan Laila, yaitu istri Burhan dan ibu dari ketiga anaknya.


Sari menginginkan harta kekayaan Burhan, seperti rumah besar, mobil mewah, dan juga tanah warisan milik Laila yaitu, perkebunan sawit.


Semua surat berharga di pindah nama atas dirinya setelah dia mengelabui Burhan.


Sebulan setelah pernikahan, Burhan tahu jika ternyata Sari adalah orang yang sangat licik.


Janin yang di kandung Sari ternyata bukan anak dari Burhan, melainkan suaminya sendiri.


Selama ini Sari mengaku jika dirinya seorang janda, namun kenyataannya dia masih bersuami dan bersekongkol dengan suaminya untuk menipu Burhan.


Burhan yang tertipu oleh Sari pun tampak menyesal. Dia mendatangi panti asuhan untuk menjemput ketiga anaknya, tapi kenyataan pahit harus di telannya.


Ketiga anaknya sudah tak ada di sana bahkan dari pertama dia mengantarkan mereka. Ketiganya di ambil paksa oleh para preman suruhan Sari.


Betapa terkejutnya Burhan yang mengetahui itu. Dia pulang dalam keadaan marah.


Di tamparnya wajah Sari dengan keras oleh Burhan sampai pipi wanita itu merah, sambil membentak wanita licik itu dengan amarah yang meluap.


"Kurang ajar kamu, Sari. Selain kamu menipuku, kamu juga menculik ketiga anakku!" Kata Burhan dengan nada marah. "Kau sembunyikan dimana ketiga anak-anakku?" Bentak Burhan.


Sari yang di tampar Burhan pun tak terima mendapat perlakuan seperti itu. Dia berdiri dengan bertolak pinggang.


"Kurang ajar kamu, Burhan. Berani kamu menamparku? Sudah bosan hidup rupanya!"


"Kamu yang sudah bosan hidup, Sari. Kamu telah membunuh istriku dengan alasan dia menghalangi cinta kita yang ternyata cinta palsu. Kau membohongiku dengan bilang kalau kamu itu janda tapi ternyata masih punya suami. Kau menipuku dengan mengambil semua harta kekayaanku. Kini, kau juga menculik ketiga anakku." Amarah Burhan terus meluap.


"Katakan, Sari! Dimana anak-anakku kau sembunyikan?" Bentak Burhan lagi.


"Anak-anakmu? Hahaha. Bukankah kau sendiri yang tak mengakui mereka dan membuangnya ke panti? Ayah macam apa kamu ini?" Cibir Sari. "Aku hanya menuntaskan tugas akhir darimu, yaitu menyingkirkan mereka!" Lanjut Sari.


Burhan langsung menarik tubuh Sari dengan mencengkram kuat. "Tugas akhir apa yang kau maksud, hehh? Apa kau sudah membunuh mereka juga?"


Senyum di bibir Sari tak luntur walaupun dia kesakitan karena cengkraman tangan Burhan.


"Bukankah itu yang kau mau, Burhan? Mereka bertiga menyusahkan kita. Jadi, aku pilih untuk membantumu untuk menyingkirkan mereka dari dunia ini untuk menyusul ibunya. Baik bukan aku ini!" Tangan Sari mengelus wajah Burhan dengan lembut.


Burhan segera menepis tangan itu dari wajahnya. "Singkirkan tangan kotormu itu dari wajahku! Kau pembunuh, Sari."


"Aku pembunuh? Hahaha. Lucu sekali kamu ini, sayang. Bukankah itu semua yang kamu inginkan? Oh tidak, aku yang menginginkan itu semua. Aku menyingkirkan satu persatu penghalang yang menghalangi tujuanku. Termasuk ... dirimu!" Ucapnya setelah menjeda.


Mata Burhan membelalak. "Jadi, kamu juga ingin membunuhku? Tidak Sari, aku yang akan membunuhmu sekarang juga."


Tangan Burhan mencekik leher Sari dengan erat sampai Sari meronta ingin melepaskan diri. Namun sebelum Burhan membunuh Sari, tiba-tiba sebuah tongkat baseball melayang ke arah kepala Burhan dengan keras.


Hantaman itu mengakibatkan Burhan jatuh tersungkur ke lantai dengan bersimbah darah segar.

__ADS_1


Tak cukup sampai di situ, tongkat baseball itu pun melayang kembali ke tubuh Burhan berkali-kali sampai korban meregang nyawa.


Akhirnya, tak lama kemudian Burhan pun mati secara mengenaskan di tangan suami Sari dan para preman suruhannya yang datang saat itu tanpa wajahnya terlihat oleh Burhan.


Pembunuhan terjadi di rumah milik Burhan sendiri. Mayat Burhan pun di makamkan di halaman belakang oleh pasangan suami istri jahat tersebut.


Setelah kejadian itu, rumah Burhan di jual kepada orang lain dengan harga yang cukup tinggi karena memang rumah itu sangat mewah.


Tak ada yang tahu jika si pemilik rumah di bunuh dan di kubur di halaman rumah itu, karena Sari mengatakan bahwa mereka akan pindah dari komplek perumahan tersebut.


Yang di maksud para preman dengan menjadi tanah pemakaman yaitu, karena Burhan di kubur di halaman rumahnya sendiri tanpa di ketahui semua orang.


Sungguh tragis


Sedangkan ketiga anaknya, mereka di kurung di gudang tua yang jauh dari kota.


Saat para preman lengah, ketiganya kabur dan bermaksud untuk melaporkan kepada sang ayah atas perbuatan Sari.


Namun, mereka tak tahu jika ayahnya sudah di bunuh oleh suami Sari dan para preman suruhannya. Sampai mereka bertiga bertemu para junior saat di kejar oleh preman.


▪▪▪▪


"Jadi, semua ini ulah Sari? Kurang ajar dia. Selama ini, dialah yang membuat keluargaku terpecah belah dan menderita!" Geram si tante hantu.


"Sabar tante, kita akan pikirkan cara untuk menangkap Sari dengan bukti-bukti yang kuat!" Ucap Zyan.


Ketiga anak Laila menjadi penasaran. "Kak, apa mama bisa mendengar ucapan kami?" Tanya mereka pada Zyan.


Zyan tersenyum. "Tentu. Bicaralah! Ibu kalian ada di samping kalian."


Ketiga junior malah melompat ketakutan karena jari tangan Zyan menunjuk ke arah samping Andra.


Zyan hanya berdecih sebal. "Cih, kalian ini sangat aneh. Dia bahkan dari tadi ikut dalam mobil kita dan duduk di samping Rena dan Asyanti. Kalian tak ketakutan!" Cibir Zyan.


"Ya ampun. Kalau gue tahu, gue gak ikut!" Rena bergidik.


"Yaelah, kalian kan tahu kalau Zyan sepanjang jalan ngomong sendiri. Berarti tuh hantu ikut kita. Masa baru sekarang bilang kek gitu!" Ucapan Asyanti ada benarnya.


"Terus, kenapa elu ikut loncat, dodol?" Cibir Rena.


"Gue cuma kaget!" Jawab Asyanti datar.


Sebelum mereka bertengkar lagi, Zyan sudah memotong yang pasti bukan kue. Tapi, ucapan pertengkaran mereka.


"Katakanlah apa yang ingin kalian katakan sama ibu kalian. Dia mendengarkan!" Ucap Zyan.


Dengan perasaan senang, ketiga anak Laila pun langsung berucap mengeluarkan keluh kesah selama ini yang tak bisa mereka sampaikan.


"Ma, kami kangen sama mama.Saat papa bilang kalau mama sudah tak menginginkan kami dan pergi meninggalkan kami, kami sebenarnya tak percaya."


"Iya ma. Kami tahu jika mama tetap menyayangi kami selamanya. Papa pasti berbohong karena dia ingin menikah dengan tante jahat itu."


"Dan ternyata memang benar jika papa berbohong. Tapi kami sedih karena ternyata mama ... sudah gak ada di dunia ini lagi. Mama sudah meninggalkan kami selamanya! Hiks ... hiks."


"Maafin mama, sayang! Mama tak sempat mengatakan apapun kepada kalian. Mama menyesal karena tak bisa menemui kalian dan mengatakan kebenarannya! Mama juga tak bisa menemukan kalian dimanapun. Huhuuu."


Isak tangis Laila tak bisa di dengar oleh anak-anaknya.


"Ma, bisa tidak mama menampakkan diri di hadapan kami supaya kami bisa melihat mama untuk yang terakhir kalinya!" Pinta si bungsu. "Aku kangen mama."


Laila melirik Zyan yang sedari tadi hanya diam.

__ADS_1


"Bagaimana anak tampan? Apa mereka bisa melihat tante?" Tanya Laila.


Zyan sendiri bingung dan tak yakin dengan itu. Dia sendiri belum pernah melakukannya.


"Mmm, tante. Aku tak yakin akan hal itu. Tapi, kita coba dulu ya!"


Diulurkan tangannya ke arah tante hantu supaya dia bisa menyentuhnya dan menampakkan wujud asli si tante hantu di hadapan ketiga anaknya.


Dengan berdo'a, Zyan berharap bisa membantu Laila berjumpa ketiga anaknya tersebut.


Seketika, sosok Laila pun nampak di hadapan semuanya.


"Mama!"


Pecah sudah isak tangis mereka bertiga saat bertemu dengan ibunya. Ketiganya menangis tersedu melihat ibunya yang kini sudah berbeda alam dengan mereka.


"Maafin mama, sang! Huhuhuu." Laila pun tak bisa menahanair mata yang mengalir membasahi pipinya.


Begitu pula ketiga anaknya yang tak henti-hentinya menangis. "Mama, kami merindukan mama! Huhuhuuu."


Para junior tampak terharu dengan pemandangan tersebut. Mereka sesekali mengusap air bening yang turun tanpa permisi di pelupuk mata.


"Sialan, kok gue sedih ya!" Andra mengusap air mata di ikuti Rena dan Asyanti.


"Gue udah mewek dari tadi, Ndra!" Kata Rena.


"Iya, gue juga!" Timpal Asyanti.


Sedangkan Zyan hanya diam sambil memejamkan mata.


Entah dia itu ikut nangis atau tidak, yang pasti dia juga ikut sedih saat ini.


Setelah mereka mengobrol dan melepaskan kerinduan, kini Laila harus pergi untuk selamanya.


"Maafin mama karena waktu mama sudah tak ada lagi. Walaupun balas dendam belum tercapai, tapi mama sudah tenang karena sudah bertemu kalian dan mengetahui pembunuh mama sesungguhnya." Jelas Laila.


"Baiklah ma, kami sudah ikhlas untuk merelakan mama pergi. Kami sudah tahu yang sesungguhnya. Semoga kita bertemu lagi di syurga. Selamat jalan mama!"


Hantu Laila pun menghilang seiring menghilangnya cahaya putih yang tadi datang.


Zyan terduduk lemas setelah dirinya jadi media untuk mempertemukan Laila dengan ketiga anaknya.


"Balik!" Ucap Zyan lemas dan singkat.


junior pun langsung mengiyakan ucapan Zyan.


"Lalu, ketiga anak ini?" Tanya Rena melirik ketiganya.


"Bawa!" Jawab Zyan singkat.


Mereka pun ikut para junior tanpa berkata apapun karena, memang sudah tak ada lagi yang mereka andalkan disini.


Ayah dan ibunya sudah meninggal. Berbahaya jika mereka berkeliaran di area itu. Sebab, bisa saja Sari menyuruh orang untuk menangkap mereka dan membunuh ketiganya seperti yang dia lakukan kepada kedua orang tua mereka.


Mobil junior melaju kembali di jalan beraspal menuju rumah Zyan untuk melaporkan apa yang terjadi kepada si ibu ratu, yang tak lain adalah si mami sengklek.


Sepanjang jalan, Zyan tertidur karena merasa lemas dan teman-temannya pun memakluminya.


"Zyan kelelahan. Biarkan dia istirahat!"


Dan si tampan itu tertidur pulas sampai mobil memasuki gerbang rumah besar miliknya dan berhenti di parkiran halaman rumah.

__ADS_1


__ADS_2