Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe Ternyata itu!


__ADS_3

Di dalam asrama


"Shaaaa ... sssshhaaa!"


Sebuah suara yang mengganggu indra pendengaran Zyan.


Tanpa memperdulikan, Zyan berjalan melewati sesosok makhluk halus tersebut yang sengaja menggodanya.


"Aku tahu kamu bisa melihatku, tampan!" Berbicara dengan genit.


Namun, Zyan tetap tak menghiraukan. Dia memilih mengobrol dengan Andra.


"Oh ya, Ndra. Besok kita ada acara tour bukan? Gue mau minta izin dulu sama papi dan mami."


Mereka terus berjalan berkeliling asrama diikuti sosok makhluk halus yang terus


"Ya tuhan, ni hantu nyintil mulu lagi!" Zyan berusaha tetap fokus pada keadaan di sekitarnya. Namun, si hantu itu tetap mengganggu.


Datanglah Rena dan Ashanti yang baru kembali dari toilet.


"Hai gaess, gimana ... gimana ... ada yang seru gak disini?"


Kening Zyan dan Andra mengerut mendengar pertanyaan kedua gadis tersebut.


"Kalian pikir kita sedang berada dimana? Tamasya di taman?" Keduanya hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Oh ya, om sama tante dimana? Kok gak bareng kita!" Keduanya celingkukan mencari keberadaan Zidane sama Sherly.


"Papi sama mami lagi ngobrol sama pemilik asrama. Katanya ada urusan dulu, mungkin agak lama. Kita keluar aja duluan, yuk!" Ajak Zyan.


Sebenarnya dia gak mau lama-lama berada di dalam asrama. Hantu genit itu terus berusaha membuat Zyan membuka mulutnya, untuk bisa berinteraksi dengannya.


Zyan semakin gelagapan saat si hantu menggodanya dengan tubuh pol*snya, berlenggak-lenggok memperlihatkan setiap lekukkan tubuhnya.


"Astagfirullahal'adzim!" Zyan menutup matanya dengan telapak tangan. "Mata gue kelilipan deh! Sakit banget nih." Berpura-pura menggosokkan jari dikedua matanya yang tertutup telapak tangan.


"Sini gue tiupin, Zy!" Rena bersiap mendekatkan wajahnya ke arah Zyan.


"Di-diluar aja, Ren. Biar udaranya seger dan mata gue gak kemasukan debu lagi." Rena menuruti keinginan Zyan dan menuntunnya ke halaman belakang.


"Kita tunggu di sini ya sob! Biar tante sama om gak pusing nyariin kita." Andra dan Ashanti tak ikut.


Dengan jempol yang di acungkan Rena, mereka pun duduk di bangku lorong.


"Dimana kita Ren? Apa udah di luar?" Tanya Zyan kemudian.


"Udah, sini gue tiupin!" Kata Rena.


Zyan melihat sekeliling dan ternyata benar, mereka sudah di halaman belakang dengan keadaan sepi.


Di rasa aman, Zyan langsung menolak untuk di tiup matanya. "Kayaknya, mata gue udah ...!" Namun, sosok hantu genit telanj*ng itu mengikuti mereka ke sana. "Astagfirullahhal'adzim ... astagfirullahhal'adzim ...!" Matanya kembali di tutup supaya tak melihat pemandangan yang tak pantas itu.


Melihat Zyan yang replek menutup matanya kembali, Rena pun jadi tak tega. "Masih sakit ya, Zy? Sini gue tiupin biar hilang debunya!"


Bukannya membuka mata, Zyan menarik tengkuk Rena dan secepat kilat bibirnya menaut bibir merah Rena, membuat siempunya terkejut dengan diam tak bergerak. "Cup!"


Tadinya, Zyan hanya ingin sekedar menempelkan saja. Namun, karena terbawa suasana dan suara hantu genit itu mengganggunya terus, ia pun terus melum*at bibir Rena lebih dalam.


Rena yang awalnya terdiam, tersentak dengan gigitan yang di lakukan Zyan dan ia langsung membalas kecupan itu dengan melingkarkan kedua tangan di pinggang si tampan.


"Kau menang, tampan." Hantu genit itu menarik lengan Zyan. "Sudahlah, jangan buat aku cemburu dengan melihat aksi ciuman kalian itu! Aku hanya ingin meminta bantuanmu saja, tapi kamu sepertinya gak mau berurusan denganku. Apa kamu takut kepadaku? Atau takut untuk menolongku?" Perkataan si hantu membuat Zyan tersadar.


Kecupan itu ia lepaskan segera dengan mata yang terbuka lebar. Tatapannya tertuju lurus ke depan, menatap Rena yang menutup mata dengan bibir basah karena ulahnya.


"Ma-maafin gue, Ren. Gu-gue gak sengaja untuk ...!"


Rena membuka mata dengan menyentuh bibirnya yang basah karena ulah Zyan. Tanpa berkata, dia langsung meninggalkan si tampan dengan wajah yang memerah.


Zyan menjadi tak enak hati kepada Rena. Tanpa persetujuan, Zyan mencuri ciuman gadis itu di tempat sepi ini.


"Ya tuhan, apa yang gue udah lakuin. Pasti dia marah dan sedih!" Pikiran Zyan salah. Bukannya marah atau sedih, jantung Rena malah sedang berdegup kencang.


"Zyan nyium gue? Dia nyium gue? Aaaaahhhhh, ciuman pertama gue diambil sama dia!" Rena berkali-kali menyentuh dadanya dan berusaha menenangkannya.


Si hantu kembali menegur Zyan. "Tampan, tolonglah aku. Bebaskan aku dari tempat ini. Aku sangat tersiksa disini kau tahu!"


Akhirnya, Zyan menyerah dan menoleh ke arah si hantu. "Maaf nyonya, aku tak bisa menolong mu. Aku tidak mempunyai kemampuan untuk itu!" Ucapnya tak enak.


"Kau bisa, aku tahu itu. Tolonglah!" Meraih tangan Zyan supaya mendapat bantuan. "Jika kau tak mau menolongku, maka aku akan mengganggu seluruh penghuni asrama. Termasuk, ketiga anak yang kau titipkan itu!" Seringai jahat nampak dari hantu tersebut membuat Zyan bergidik ngeri.


Pemuda tampan itu mundur dan langsung pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Ia mengajak para sahabatnya keluar dan pulang lebih dulu.

__ADS_1


Zyan sengaja menyuruh Andra untuk membawa mobilnya dan ia menumpang di mobil orang tuanya, berharap hantu itu tak mengejarnya. Karena ia yakin, orang tuanya adalah tempat teraman.


Mungkin orang tuanya sengaja meledek karena tahu ada yang tak beres dengan putranya, sehingga membuat putranya kesal dan menggerutu.


Zidane lebih paham akan hal ini. Makanya, ia membuat Zyan tak mau diam melamun. Takutnya, jika hantu itu akan merasuki tubuhnya dan membuat kekacauan. Zidane pun mengusir hantu itu supaya tak mengikuti mereka pulang.




Makan malam berlangsung tanpa obrolan apapun. Keadaan sangat hening membuat asisten rumah tangga menjadi tak enak hati.



"Mam, pap, aku mau tidur di kamar kalian ya!" Pinta Zyan setelah selesai makan.



"Lho kok, kenapa? Gak biasanya!" Zidane menoleh ke arah istrinya dan menyentuh tangan istrinya sambil berkata, "Anakmu ingin tidur bareng kok kamu nanya!" Sherly mengerutkan dahinya.



"*Tumben si papi setuju. Biasanya dia yang protes kalo Zyan ikut tidur di kamar! Ada yang gak beres sama ayah dan anak ini*."



"Ya sudah, mari kita tidur! Ini sudah malem."



Mereka pun akhirnya masuk kamar dan tidur bertiga di kamar utama.



Bi Murni dan mang Sidik pun masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena waktu sudah menunjukan pukul sembilan.



Zyan tidur di tengah-tengah Sherly dan Zidane. Ia langsung terlelap saat tangan ibunya mengelus kepalanya dengan lembut sambil memeluknya.



Sedangkan Zidane sekarang malah tampak kesal melihat istrinya mengelus kepala dan memeluk putranya.




"Astaga papi, dia kan anakmu juga. Masa ngiri sama anak sendiri sih! Lagian, tadi kan kamu yang ngizinin dia tidur disini. Kenapa sekarang protes?"



"Iya, makanya aku nyesel. Udah, kamu pindah ke pinggir sini biar aku di tengah. Aku juga mau di peluk dan di elus sama kamu, mam!" Nada cemburu terdengar.



"Posesif amat walaupun itu sama anak sendiri tetap ngiri. Iiihhh, sudah tua bukannya santai malah di buat repot sama dua bayi besar!" Gerutu Sherly. "Aku tidur di tengah aja biar adil, takutnya Zyan bangun lagi. Kalo kalian gak bisa tidur, aku juga yang capek!" Lanjutnya di setujui Zidane walau cemberut.



"Ya sudah, geser anakmu ke pinggir. Kamu di tengah-tengah aja tidurnya biar aku juga bisa meluk kamu." Kata Zidane.



Tubuh jangkung si tampan di geser perlahan ke pinggir dan Sherly langsung tidur diantara kedua lelaki tampan miliknya.



"Senangnya dalam hati ... punya dua lelaki. Serasa dunia, ana yang punya."



**Plak**



"Awww, apaan sih pap? Maen geplak aja."



"Kenapa nyanyi seperti itu. Lelakimu cuma aku, sedangkan dia bakal jadi lelaki gadis lain calon menantu kita!" Zidane berkata dengan kesal.

__ADS_1



"Astaga dia ini!" Sherly kesal di buatnya. Suaminya benar-benar. "Sayang, posisiku sekarang itu sangat pas untuk mengatakan itu. Lihat, kanan kiri lelaki tampan. Lagipula, dia kan tetap milikku. Sekarang, kamu mau tidur atau aku akan tidur miring ke arah Zyan saja!"



Ancaman Sherly berhasil. Akhirnya, Zidane diam menerima pelukkan satu tangan istrinya dan pasrah satu tangan lagi di pegang putranya.



"*Huuhh, menyebalkan*!"



Mereka terlelap setelah drama kecil yang terjadi barusan. Namun, tak lama kemudian dering ponsel berbunyi mengganggu pendengaran si pemilik kamar.



Tangan Sherly menggapai ponsel yang berdering itu diatas nakas samping ranjang.



**Nomor tidak di kenal**.



"Hallo!" Sherly berusaha menetralkan suaranya.



"*Hallo*" Terdengar suara seorang gadis dari sebrang.



Gadis itu menanyakan putranya dan Sherly menjawab kalo si tampan sudah tidur.



Ada nada cemburu dan penasaran dari gadis yang menelpon ke nomor putranya tersebut.



*Apa dia pacarnya? Tapi, Zyan gak pernah dekat dengan gadis lain kecuali Rena dan Ash*.



Gadis itu bilang kalau Zyan ada janji dengan seseorang, itu membuat dirinya yakin kalo gadis itu salah satu teman dekat putranya.



Gadis itu pun bertanya siapakah dirinya. Saat Sherly akan menjawab, suaminya terbangun dari tidurnya. Zidane terus merengek manja ingin di peluk supaya bisa tidur lelap.



Sherly berusaha melepaskannya karena risih. "Baiklah, tapi lepasin dulu. Aku harus menjawab telponnya sebentar!"



Namun Zidane terlalu posesif dan tak mau kalah walaupun hanya telpon yang mengganggu.



Sherly akan berbicara lagi, namun panggilan itu sudah di putus sebelah pihak oleh gadis di sebrang itu. Entah dia salah paham atau kehabisan batre dan signalnya jelek.



"Saya adalah ... maminya!"



**Tut tutu tuuuutt**



"Eh, di matiin." Matanya menatap ponsel yang sudah terputus sambungannya. "Hemh, ya sudah kalo gitu. Lanjut tidur aja lah." Ia pun merebahkan tubuhnya kembali diantara suami dan putranya.



Malam itu, mereka tidur terlelap sampai menjelang pagi. Sedangkan si gadis penelpon, ia uring-uringan karena suara manja yang dikira suara si pemuda tampan incarannya. Padahal, itu suara bapaknya si tampan.


__ADS_1


Mungkin karena wajah, sifat, dan postur tubuhnya mirip dengan sang ayah, suaranya pun tak jauh berbeda dengan ayahnya membuat semua orang salah paham jika mendengar mereka berbicara di telpon.


__ADS_2