Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kematian Hendri


__ADS_3

Para jin dan hantu itu bersiap menyerang Hendri yang hanya seorang diri. Walaupun seorang diri, Hendri sangatlah kuat karena tubuhnya di masuki raja jin yang terkuat.


"Serang!" Nania berteriak dan terjadilah pertarungan antara mereka.


Namun tak lama kemudian, para jin dan hantu itu mundur karena kalah oleh kekuatan dan hempasan tangan yang Hendri lakukan.


"Hanya segitu saja kemampuan kalian?" Cibir Hendri dengan sombong.


Sherly yang melihatnya sangat geram. Andaikan cincin bermata birunya kembali ke tangannya, mungkin saja dia bisa mengalahkan si penjahat itu.


"Kamulah harapanku satu-satunya, king ice. Jangan tinggalkan aku dan anakmu!" Air matanya berlinang dan ia bersimpuh karena tak tahu harus berbuat apa.


Tiba-tiba, Hendri menarik tangan Sherly sampai ia berdiri. Dia juga menarik tubuh Sherly menuju tumpukan reruntuhan bangunan yang menindih tubuh Zidane.


"Sherly!" Kelima pria itu tak bisa menolongnya karena kondisinya sendiri.


"Lihatlah Zidane, keponakan sayang! Istri cantikmu ada di tangan pamanmu. Apa kau akan merebutnya kembali? Atau, kau akan merelakannya untuk selama-lamanya? Hahaha ...!"


Sungguh, rasanya ingin sekali mencabik mulut Hendri saat itu juga. Namun apalah daya, dia tak mampu berbuat apa-apa.


Semua makhluk yang di bawa Nania kalah oleh kekuatan Hendri termasuk Nania juga.


Jadi, tak ada satupun yang bisa menolong Sherly dari tangan Hendri saat ini.


"Zidane ... Zidane. Sial benar nasibmu, keponakan. Dirimu mati sebelum menyelamatkan istri kesayanganmu. Ditambah, kau tak akan pernah melihat rupa anakmu sebelum dia dilahirkan."


Hendri terus berkata sambil menggenggam erat pergelangan tangan Sherly. Sehingga, darah keluar dari bekas luka goresan tali yang mengikatnya.


"Aaakkhh!" Ringisan Sherly terdengar kala dia merasakan sakit di bagian perutnya.


Mungkin karena dia terlalu letih dan berlarian terus walaupun sudah merasa sakit.


"Sherly ... kenapa kamu, dek?" Aldrian mencoba merangkak mendekati adiknya.


Yang di tanya malah tak menjawab. Dia terus meringis memegangi perutnya sambil terisak menahan sakit.


"Hendri, kumohon. Lepaskan adikku! Kasihanilah, dia sedang hamil muda. Tolong jangan berbuat seperti itu!"


Aldrian berusaha berbicara baik kepada Hendri yang tersenyum senang mendengar rengekan kesakitan Sherly.


Dia tak menghiraukan perkataan Aldrian yang memohon kepadanya untuk melepaskan adiknya. "Lebih keras lagi, sayang. Saya sangat senang mendengarkan rintihan kesakitanmu."


"Brengs*k. Dia bahkan tertawa melihat Sherly yang kesakitan. Gue akan melawan dia dengan sekuat tenaga."


Dika berlari menerjang ke arah Hendri. Namun disayangkan, hanya dengan menghempaskan satu tangan dari kejauhan, tubuh Dika melayang sampai tersungkur di tanah dengan sangat keras.


"Ukhuk ... ukhuk. Ku-rang ajar kau, Hendri." Darah keluar dari mulut Dika.


"Kau menggunakan cara kotor untuk mengalahkan orang lain. Jika berani, lawan gue dengan gentle!" Kata Geri dengan geram.


"Hahh, Geri. Kenapa kau mau membuang tenaga dengan percuma? Walaupun tanpa kekuatan ini, kau akan tetap kalah sama saya." Ucap Hendri meremehkan. "Jika kau masih berusaha, jangan salahkan saya saat kau mati di tangan saya!"


"Cih, gue gak bakal kalau sama lu!" Ucap Geri dengan kesal.


"Ger, jangan mengorbankan diri lu buat gue lagi. Sudah cukup bagi gue kehilangan mommy, dan mungkin juga suami. Gue gak mau kehilangan kalian!" Sherly berkata lirih dengan menahan sakit.

__ADS_1


"Sabar sayang. Setelah kamu menikah dengan saya, kamu gak akan pernah kehilangan siapapun lagi." Seringai Hendri. "Saya akan membahagiakan kamu selamanya," Lanjut Hendri.


"Cuih, gak sudi. Gue lebih baik mati dari pada menikah dengan lu."


"Sayang, jangan seperti itu! Saya tidak akan membiarkan dirimu mati begitu saja!" Di belainya rambut panjang Sherly oleh tangan Hendri.


"Singkirkan tangan kotor lu darinya! Gue gak rela jika dia tersentuh olehmu. Dasar sialan." Indra sangat marah.


Hendri hanya memandang remeh kepada Indra. "Apa hak kamu melarang saya? Keponakan saya saja tak melarang menyentuh istrinya. Bukan begitu, Zidane?" Kepalanya melongo ke arah tumpukan puing reruntuhan.


"Oh iya, saya lupa." Hendri menepuk keningnya. "Dia kan sudah mati. Pantas saja dia tak banyak protes walaupun istrinya di pegang, bahkan jika saya mengecupnya juga dia gak akan marah. Bukan begitu, keponakan. Hahaha ...!"


"Dia belum mati. Suami gue belum mati. Huhuhuuu ... Zidane!"


Untuk pertama kalinya Sherly meneriakan nama suaminya dengan benar. Bukan king ice lagi!


"Sayang. Dia tak kan bisa selamat dari reruntuhan itu. Hanya seorang Hendri saja yang mampu keluar dari maut." Ucapnya sombong. "Jadi, relakan dia pergi dan kita bisa menikmati kehidupan ini. Ayo, kita pergi!"


Kecil kemungkinan untuk Zidane selamat dari reruntuhan bangunan tersebut. Dia hanya manusia biasa yang bisa mati kapan saja saat tuhan menghendaki. Apalagi, di celakai dengan sengaja sampai separah ini


Tubuh Sherly terseret karena tarikan tangan Hendri yang kencang. Walaupun darah masih menetes dan Sherly merasakan kesakitan di perutnya, Hendri tak perduli.


"Ja-jangan lakukan i-ituuu!" Suara Sherly sangat lirih menahan rasa sakitnya.


"Ayo cepat, kita harus segera pergi sebelum matahari terbit!" Hendri terus menarik tangan Sherly.


"Aakkhhh, pe-perutku. Kkkaak, to-tolooong!" Tiba-tiba Sherly hilang kesadaran. Dia pingsan seketika.


"Sherly ...!"


Semuanya berlari mendekat namun Hendri mengulurkan tangannya. "Jangan ada yang berani mendekat!"


Tak pernah terbayangkan dalam hidup seorang Aldriansyah Grisheld Prayoga harus memohon kepada penjahat seperti Hendri, jika bukan karena keselamatan sang adik tersayang.


"Kau memohon kepada saya? Seorang tuan muda Grisheld yang terkenal dingin dan kejam bisa memohon kepada orang lain? Hahaha ... luar biasa!" Hendri malah bertepuk tangan.


Kalau bukan demi nyawa adikku, aku tak akan melakukan itu kepadamu penjahat.


"Baiklah. Karena kakak ipar yang memohon, akan saya kabulkan!" Dengan cepat Hendri mengangkat tubuh Sherly. "Saya akan membawa dia ke tempat pemujaan untuk mengeluarkan janinnya supaya dia tak kesakitan lagi. Ide bagus, bukan!"


Semua orang membulatkan mata mendengar perkataan Hendri. Namun tak lama kemudian, mereka tercengang dengan apa yang di lihatnya.


Zidane keluar dari tumpukan reruntuhan puing bangunan tua tersebut. Dia berdiri tertatih dengan darah yang memenuhi wajah dan tubuhnya.


"Hah ... hah ... A-aku gak akan bi-arin kamu mem-bawa is-triku."


Hendri menoleh ke belakang dan begitu terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Kau masih hidup? Bagaimana mungkin?"


"Kau menyiksa istri dan keluargaku. Mana mungkin aku meninggalkan mereka begitu saja!" Ucap Zidane lirih.


Rasanya tak percaya, melihat Zidane bisa selamat dari reruntuhan bangunan tersebut. Apa dia kerasukan jin seperti Hendri?


"Hehh! Walaupun kau hidup kembali, saya tak akan segan untuk melenyapkanmu sekarang!" Cibir Hendri.

__ADS_1


Tubuh Sherly di turunkan kembali dan dia bersiap melayangkan pukulan kepada Zidane.


Tapi, dengan cepat Zidane mengelak walaupun sangat sulit bergerak.


"Aku akan membalas semua perlakuanmu kepada mereka, terutama istriku. Hiyaaaatt!"


Zidane langsung menerjang ke arah Hendri sambil melayangkan pukulan dan tendangan dengan brutal. Seolah amarahnya berkobar, tanpa henti Zidane terus bergerak seperti tak merasakan kesakitannya.


Hendri kewalahan menghadapi Zidane yang sedang di liputi amarah. Sampai dirinya tak mampu menahan serangan walaupun dalam dirinya dirasuki jin.


Bambu kuning kawung wuluh Zidane menancap tepat di perut Hendri. Sehingga, jin yang berada di dalam tubuh Hendri pun lenyap.


"Eeekkhhh!" Tangan Hendri memegangi perutnya yang mengeluarkan darah setelah Zidane mencabut senjatanya.


Tubuhnya terkapar di tanah dengan darah mengucur dari perut. "Kkkau ... be-berani membunuh pa-manmu sen-diriiii?"


Zidane menundukkan badannya sambil mencengkar leher Hendri dan membawanya berdiri.


"Kau pun berani membunuh kakak kandung dan kakak iparmu. Bahkan, istri dan anakmu pun kau bunuh. Kau membunuh semua orang yang tak berdosa. Kejahatanmu sudah banyak, Hendri. Jadi, pergilah kau ke neraka." Zidane memukul kembali Hendri setelah melepaskan cincin bermata biru milik Sherly.


"Aaarrrrggghhh! Gubrak."


Tubuh Hendri terjatuh ke tanah dengan keras dan tak bergerak lagi.


"A-aku membunuhnya. Aku membunuh pamanku sendiri." Seketika tubuh Zidane lemas dan dia pun ambruk di tanah setelah Hendri tergeletak tak bernyawa.


"Zidane!" Semua orang menghampirinya.


Selang waktu beberapa menit, datanglah tim penyelamat dan tim medis. Mereka segera mengangkat tubuh Sherly, Zidane, dan juga Hendri.


Aldrian, Deni, dan Dika pun di bawa segera untuk mendapat pertolongan medis. Karena, ketiganya terluka oleh Hendri.


Sedangkan Indra dan Geri, keduanya hanya mengikuti dari belakang dengan menggunakan mobil Zidane dan mobil Aldrian.


Sesampainya di rumah sakit, masing-masing dari mereka di bawa ke ruangan gawat darurat untuk segera mendapatkan pertolongan.


"Gue harap mereka baik-baik saja ya, Ndra. Gue sangat takut banget jika terjadi sesuatu kepada mereka. Apalagi, kandungan Sherly yang masih rentan."


Indra mengangguk dengan ucapan Geri. "Ya, Ger. Semoga saja. Gue gak tahu jika sesuatu terjadi kepada mereka, hidup kita akan seperti apa? Kita menyaksikan kejadian ini dengan mata kepala kita. Gue gak sanggup jika harus kehilangan mereka."


"Kita berdo'a saja ya. Mudah-mudahan ada keajaiban tuhan."


♡♡♡♡♡


**Jika ada tutur kata atau ucapan yang tak sengaja menyinggung dan menyakiti hati para readers dan kakak author lain, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.🙏🙏


Kita hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa. Tak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata.🤗🤗


Untuk menyambut bulan suci ramadhan ini, mari kita sucikan hati dan sucikan diri dari segala dosa yang pernah kita perbuat.🤗🤗


Saling maaf-memaafkan antar semua umat beragama.🙏🙏🙏**


Marhaban yaa ramadhan ... Selamat menunaikan ibadah puasa bagi semua muslim di dunia.🤗🤗


Terima kasih atas dukungan semua untuk setiap karya-karya otor.

__ADS_1


Lupyuh always.😘😘😘


Salam manis---Lien machan


__ADS_2