Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Misteri hilangnya ...


__ADS_3

Hari mulai senja, mentari sudah tenggelam di ujung barat. Terlihat cahayanya yang sudah meredup, dan di gantikan bulan yang perlahan merangkak naik.


Waktu bergulir lebih cepat sampai tak terasa suasana sekitar mulai gelap, pertanda malam menjelang.


Tak ada kegiatan apapun yang terlihat di rumah besar milik seorang pengusaha kaya. Entah mereka sedang pergi, ataukah mereka belum kembali?


Entahlah!


Suara telepon rumah berdering cukup nyaring, mengganggu indra pendengaran. Namun, tak ada seseorang pun yang menjawab panggilan melalui pesawat udara tersebut.


Dering telepon kedua terdengar kembali, namun lagi dan lagi tak ada siapapun yang menjawab panggilan itu.


Tak lama kemudian, tak ada suara apapun lagi yang terdengar dari rumah besar tersebut.


Waktu menunjukan pukul dua puluh lewat lima belas menit.


Lampu di rumah besar itu tampak tak ada yang menyalakan, menjadikan sekitaran sangat gelap gulita.


Suara deru mobil berhenti di parkiran rumah besar tersebut. Tak lama kemudian, hentakkan langkah kaki berlarian dari beberapa pasang kaki terdengar memasuki rumah itu.


Brakkk


Pintu di buka paksa oleh seseorang dengan kencang, di susul suara bernada cemas memanggil.


"Mami ... papi ... bi Murni ... mang Sidik ...!" Tak ada siapapun yang menyahuti panggilannya. "Kemana mereka? Kenapa tak ada siapapun yang menjawab?" Wajahnya terlihat cemas.


"Bahkan, lampu rumah saja belum menyala!" Tangannya merayap menyentuh saklar untuk menyalakan penerang ruangan.


"Gak ada siapapun, guys. Kita berpencar aja supaya cepet ketemu!" Mereka setuju dengan usulnya.


Dengan kekhawatiran, ia mengitari seluruh ruangan di rumah besarnya. Tak lupa, teman-temannya pun ikut membantu.


"Mami ... papi ... bi Murni ... mang Sidik ...!"


"Om Zidane ... tante Sherly ... bi Murni ... mang Sidik ...!"


Tetap tak ada jawaban dan tak menemukan apapun.


"Gimana? Ketemu gak?" Terlihat kecemasan di raut wajah Zyan.


"Enggak, Zy. Belum!" Gelengan kepala terlihat dari mereka.


"Ya tuhan, kemana mereka?" Zyan terduduk lemas. "Gue takut kalau yang dikatakan orang itu benar." Telapak tangan menutupi wajah tampannya. "Jika itu benar, apa yang harus gue lakukan!" Terlihat sangat frustasi.


"Sabar, Zy. Kita cari lagi ya!" Berkata seraya meraih tangan si tampan.


"Sebelum semuanya jelas, kita jangan menyerah dulu!" Kata Rena dan Ash.


"Iya Zy, kita akan bantu lu buat nemuin om sama tante! Gue juga bakal minta bokap gue buat nyari mereka!" Kata Andra.


"Benar tuh, Zy. Kita juga bakal minta tolong sama personil and the genk lainnya biar cepet ketemu!" Ucap kedua gadis.


Dengan dorongan semangat dari para sahabatnya, Zyan berdiri bersiap mencari kembali keluarganya.


Brak ... brakkk ... braaaakkk


Terdengar seperti sebuah pintu berusaha di dobrak.


Keempatnya saling memandang dengan menajamkan pendengaran.


Brakk ... brakkk ... braaakkk


"Dari arah dapur kayaknya!" Berlari secepatnya menuju dapur.


Mereka mencari sumber suara yang tadi terdengar.


"Sepertinya, tadi jelas dari sini suaranya!" Andra celingukan mengedarkan pandangan.


"Iya, gue juga yakin dari sini!" Zyan memutar tubuh mengamati setiap sisi ruangan.


Dapur rumah itu cukup besar, makanya mereka harus mengamati dengan teliti.


"Tapi, apa tadi yang ...?"


Brakk ... brakkkk


Gebrakan itu terdengar kembali, membuat keempatnya yakin jika suara itu berasal dari sana.


"Apa yang ada di dalam situ, Zy? Kok gue jadi merinding ya!" Rena dan Ash saling berpelukkan.


Zyan dan Andra saling menatap, kemudian mengangguk dengan kaki melangkah mendekati lemari perabot yang terbuat dari kayu jati.


Walaupun ragu, namun tangan mereka perlahan tetap mengulur ke depan membuka gagang pintu lemari kayu tersebut.


Jangan takut ... jangan takut ... jangan takut!


Itulah mantra yang dibaca Zyan dan Andra di dalam hati dengan mata tertutup dan tangan terulur.


"Kalian mau merem terus? Buka lemarinya cepat! Kita penasaran." Suara cempreng membuyarkan konsentrasi kedua pemuda tampan itu.


"Astaga, gue lagi fokus gini di bikin kaget." Protes Andra. "Mau bikin gue jantungan, haahh!" Berdiri seraya berkata dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Cieelah lu. Kalau lu jantungan dan jantung lu copot, ganti aja ama jantung pisang. Gampang bukan!"


Andra membelalakan mata mendengar perkataan kedua gadis yang berdiri di belakangnya.


"Ya tuhan, jangan siksa hamba dengan mempunyai sahabat seperti mereka!" Menengadahkan kedua tangan.


Plakk


"Aw, buset dah. Lu berdua kurang garem nih!" Di elusnya lengan oleh sendiri dengan gaya lebay.


"Hahahaha ... gak lucu!" Nada datar terdengar. "Buka cepet itu, kita penasaran!" Keduanya menunjuk lemari.


Tanpa diminta lagi, Zyan membuka pintu lemari kayu di dapur rumahnya. Isi di dalam lemari membuat mereka terkejut sampai melongo.


Coba tebak, apa isinya hayo??


"Jangan-jangan ada pencuri yang datang kesini dan mereka mengur ... hahh, apa ini?"


Mereka tak percaya dengan penemuan ini.


"Gue kira bi Murni apa mang Sidik yang di kurung disini dan minta tolong di bukakan. Tahunya cuma seekor kucing???" Menggelengkan kepala tak percaya.


Meeeeoooong


"Kenapa ada kucing disini? Dan ... kenapa dia bisa masuk lemari sih?"


"Enggak tahu!" Jawaban singkat yang keluar.


"Hadeuh, gak ada petunjuk hilangnya mereka!"


Rasanya sudah bingung tanpa petunjuk apapun yang tertinggal. Bagaimana cara untuk mencari mereka?


"Kemana kita harus mencari mereka?"


Zyan tampak sedih atas kehilangan orang tua dan kedua asisten rumah tangganya.


Ketiga sahabatnya yang melihat wajah sedih Zyan pun menjadi tak tega. Pelukkan hangat sebagai tanda penyemangat.


"Lu harus yakin kalau kita bakal nemuin mereka semua!"


"Bener tuh, Zy."


Zyan tersenyum kecil. Entah apa yang akan dilakukannya sekarang, semenjak sepucuk surat ia terima dan baca.


Datanglah padaku secepatnya! Jika kamu gak mau menuruti perintahku, maka jangan salahkan aku tak berbelas kasih kepadamu.


Salahkan dirimu dan nasib buruk mu atas hilangnya orang yang kamu sayangi dan cintai.


"Fighting!"


Senyum manis terukir di bibir. Namun teman-temannya tak tahu apa yang ada dalam hati Zyan. Rasa sesal di hatinya semakin memuncak saat tak di temukan keluarganya di rumah.


Andai aja tadi gue gak pergi, mungkin ini gak bakal terjadi. Hemmhh!


∆∆∆∆∆


Pagi yang diawali drama ayah dan anak itu membuat Sherly pusing, karena tak ada satupun diantara mereka yang mau mengalah.


Setelah puas berdrama, akhirnya Zidane memutuskan untuk berangkat ke kantor dengan putra kesayangannya.


"Ya udah, kita berangkat dulu ya mam!" Kecupan hangat mendarat di kening sang istri.


"Hati-hati di jalan ya, sayang-sayangnya mami!" Senyum manis menghias bibir seksi Sherly.


"Oke mam!" Ucap keduanya bersamaan.


Mobil mewah perlahan bergerak keluar gerbang kediaman Prasetyo yang kemudian melaju cepat di jalan beraspal menuju perusahaan diamond emperor group.


Hari pertama Zyan belajar mengurus perusahaan keluarga, di dampingi oleh asisten kepercayaan Zidane, yaitu Joan.


"Nak, Joan akan memberitahumu apa yang harus kamu kerjakan disini. Papi akan memantau kinerjamu dalam menangani masalah perusahaan. Jika kamu tak bisa menangani masalah perusahaan, Joan akan menanggung hukumannya!"


Zyan mengernyitkan dahi mendengar perkataan ayahnya. Bagaimana bisa sang ayah mengancam dengan mempertaruhkan asisten pribadinya?


Apakah ancaman ini sebagai pembelajaran supaya Zyan bisa bertanggung jawab?


Ataukah, sang ayah terlalu sayang kepadanya dan tak mau menghukum dirinya?


"Baiklah, pap. Aku akan berusaha dengan sebaik mungkin!" Jawaban Zyan sangat memuaskan Zidane.


Dengan bibir tersenyum, Zidane melangkah keluar meninggalkan ruangan yang di tempati sang putra tampannya dengan di dampingi sang asisten pribadinya.


Cukup lama Zyan bergelut dengan dokumen dan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


Rasa lelah dan penat menghampiri si tampan begitu cepat, padahal ini belum waktunya istirahat.


Di liriknya terus menerus jam dinding dan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya secara bergantian.


"Kenapa jarum jamnya berputar begitu lama? Jangan-jangan, jamnya mati!"


Joan tersenyum kecil menanggapi ucapan putra bosnya itu. Ia tahu jika Zyan bosan dan belum terbiasa dengan pekerjaan kantor.

__ADS_1


"Jamnya gak mati, bos!" Ucap Joan meledek.


Zyan melirik sekilas. "Gak usah manggil aku dengan embel-embel bos deh, om!"


Sekali lagi, hanya senyuman yang di berikan Joan sebagai tanggapan ucapan Zyan.


Akhirnya, jarum jam menunjukan pukul dua belas siang. Waktunya istirahat!


Yeeeeeaaaahhh.


Seseorang masuk kedalam ruangan Zyan. Ia adalah sekretaris dari Zidane.


"Permisi!" Ucapnya sopan dengan sedikit menunduk. "Waktunya istirahat, tuan muda! Tuan besar bilang anda harus makan tepat waktu." Berkata setelah mengangkat kepalanya.


Zyan dan Joan menoleh ke arah sumber suara.


"Apa tuan sudah keluar dari ruangannya?" Tanya Joan.


"Tuan besar sudah keluar sejak dua jam yang lalu."


Joan menatap sekretaris bosnya itu. "Gita, apa tuan bilang mau pergi kemana?"


"Maaf, saya tidak tahu tuan Joan. Karena, tuan besar hanya berpesan supaya tuan muda harus makan tepat waktu!" Tutur Gita.


Ada yang aneh menurut Joan. Zidane tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia pergi tanpa memberitahu Joan, itu sangat tidak mungkin.


"Apa ada sesuatu sebelum tuan pergi?" Selidik Joan.


"Tidak ada yang terjadi, tuan! Beliau hanya berpesan seperti itu sebelum pergi." Jawab Gita.


Zyan menatap asisten pribadi ayahnya. "Apa papi seperti ini jika pergi, om?" Melirik sekretaris ayahnya.


"Tidak pernah! Zidane tidak pernah keluar tanpa om, walaupun itu hanya ke cafe depan!" Tutur Joan.


"Ada yang aneh dengan kepergian papi. Menurut om Joan, apa yang membuat papi pergi tanpa om?"


Joan menggelengkan kepalanya. "Walaupun keadaan darurat, dia tak pernah pergi tanpa om. Kecuali ...!" Zyan dan sekretarisnya menoleh ke arah Joan menunggu perkataan selanjutnya. "Kecuali ada yang memaksa dia untuk pergi diam-diam."


Gita terlihat gugup dengan wajah melengos tak berani menatap lagi.


Tanpa berkata, Joan duduk dan membuka laptopnya. Di lihatnya secara teliti dengan apa yang ada di layar benda kotak pipih tetlipat tersebut.


Dia berdiri dengan tangan satu di masukkan dalam kantong celana depan setelah melihat apa yang ada di layar tersebut.


"Kamu mau jujur atau saya yang bicara?" Langsung berkata kepada intinya.


Gita semakin tertuduk memperlihatkan rasa bersalah dan ketakutannya.


"Ssssa-sa-saya ... mmm!" Terlihat sekali jika dia salah.


"Jawab!" Di bentaknya Gita oleh Joan dengan keras.


Joan bukan cuma asisten pribadi Zidane, tapi dia juga sahabat kecilnya. Dia tahu sifat dan kepribadian Zidane dari yang biasa sampai yang luar biasa.


"Maafkan saya tuan Joan." Gita bersimpuh di kaki Joan. "Saya diancam oleh orang itu. Jika saya tak menurutinya, keluarga saya akan dibunuh!" Isak tangis terdengar.


"Mbak Gita, mbak kan udah ikut papi bertahun-tahun. Kenapa mbak bisa melakukan ini kepada papi?" Zyan terlihat kesal. "Bagaimana jika papi ... jika papi ...!" Tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.


Zyan memijat pelipisnya dengan sedikit keras.


Gita hanya menangis tersedu. Entah apa yang harus ia lakukan saat ini untuk menebus kesalahannya. "Hiks ... hiks ... hiks!"


"Gimana om?"


"Kamu tenang dulu ya Zy, kita kan belum tahu apa yang diinginkan mereka!" Kata Joan menenangkan.


"Mereka sebenarnya menginginkan tuan muda!"


Zyan dan Joan menatap serius kearah Gita. "Maksud kamu?"


Gita menarik nafasnya, kemudian menghembuskan secara perlahan. Di ceritakan-nya apa yang dia tahu dan ancaman orang yang membawa paksa Zidane dari perusahaannya.


Sebuah surat di serahkan ke tangan Zyan. Dengan seksama, Zyan membaca setiap kata demi kata yang tertulis di selembar kertas tersebut.


Di remasnya kertas itu sehingga kepalan tangan Zyan terlihat. Urat yang terlihat dari kepalan tangan, menandakan kalau amarahnya meningkat.


"Kurang asem nih orang. Dia berani mengancam gue dengan menculik mereka!"


"Apa isi suratnya, Zy? Apa papi kamu benar-benar dibawa oleh mereka?" Zyan menggelengkan kepala. "Lalu?"


"Papi pergi dengan suka rela!" Penjelasan singkat Zyan membuat Joan tak percaya.


"Maksud kamu?"


"Papi pergi sebab ....!"


***Apa hayo???


Penasaran ya!😃😃


Pantengin terus ya gengsss***

__ADS_1


__ADS_2