Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Gagal lagi


__ADS_3

Zidane dan Nania terus mengikuti kemana si makhluk besar itu menggiring mereka. Keduanya tak perduli jika akan di bawa kemana, asalkan bisa bertemu dengan Sherly. Semua itu tak masalah, batin keduanya.


Namun, di pertengahan jalan mereka mendapati si makhluk besar itu menatap tajam dengan mata yang merah menyala.


"Kalian harus pergi dari sini secepatnya!" Ucapnya sebelum menghilang dari perjalanan itu.


Sempat tadi makhluk itu berhenti sejenak sebelum berkata kepada mereka, lalu menghilang begitu saja.


"Hei tunggu. Apa maksud ucapanmu itu?" Namun, makhluk itu tak menghiraukan keduanya.


Apa maksud dari perkataan makhluk besar itu? Zidane dan Nania hanya termenung di tempat melihat kepergian si besar yang tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.


"Bagaimana ini? Si besar malah pergi gitu aja dan tak bilang apapun." Nania tampak bingung.


Zidane hanya diam terpaku di tempat. Mungkin ada sesuatu yang mengharuskan dia pergi. Apa mungkin Hendri sudah tahu kedatangan kami?


"Kita coba nanti malqm saja, Nan. Jika siang hari, tempat ini tak akan menampakan wujud aslinya. Sebaiknya kita pulang saja dulu!"


Zidane berbalik dan melangkah kembali ke tempat ia memarkirkan mobilnya.


"Tapi, ... ya sudah lah. Terserah kamu saja." Nania pun pasrah mengikuti langkah Zidane.


Aku harus kembali kesini nanti dan menemukan istriku. Hendri, awas kau!


Tangannya terkepal dengan penuh amarah di hatinya. Paman yang seharusnya membimbing dan menyayanginya setelah kematian orang tuanya, malah tega berbuat jahat dengan menculik istrinya bahkan dia ingin mengeluarkan janin yang ada di rahim istrinya yang tak lain adalah cucunya sendiri.


☆☆☆☆☆☆


"Apa yang lu inginkan dari gue?" Tanya Sherly lantang.


"Keinginan saya adalah kamu menikah dengan saya sekarang juga!" Seringai Hendri membuat Sherly sangat kesal.


"Apa? Lu gila ya. Suami gue itu keponakan lu, dan otomatis gue adalah keponakan lu juga. Lagi pula, gue sedang hamil dan ini adalah cucu lu." Teriak Sherly.


"Dia gila. Bagaimana kamu bisa meminta hal itu kepada keponakan kamu sendiri dan dia dalam keadaan mengandung? Dasar psikopat kamu." Alea berteriak sama halnya dengan Sherly.


"Saya gak perduli. Yang penting hati saya senang dan kamu bisa bebas tanpa diikat seperti ini. Tapi jika kamu menolak, mereka akan bertindak." Ucap Hendri sambil menunjuk seorang dokter dan suster yang membawa pisau bedah.


Mereka bersiap menjalankan tugas yang di perintahkan Hendri kepada mereka.


"Bagaimana? Apa kau setuju?" Tanya Hendri lagi.


Nyali Sherly seketika menciut saat dokter dan suster itu mendekat ke arahnya dan bersiap dengan peralatan di tangan.


"Alea, tolongin aku!" Jeritnya saat tangan dokter akan menyentuh perutnya.


Sherly meronta sekuat tenaga untuk membebaskan diri namun usahanya tetap gagal.


"Berhenti dokter setan. Jangan pernah menyentuhnya! Jika kau berani menyentuhnya, akan ku pastikan kau merasakan kemarahan suaminya." Teriak Alea.


Namun mereka tetap mendekat dan sudah siap dengan suntikan di tangan.



Hendri menatap Sherly dan sekali lagi bertanya padanya dengan pertanyaan yang sama. "Apa kau bersedia, sayang?"


Sherly berdecih sebal. "Cih, gak sudi gue jika harus jadi istri orang jahat macam lu."

__ADS_1


Hendri tersenyum menanggapinya dan ia pun berdiri serta memberi isyarat kepada kedua setan dokter dan suster itu untuk melakukan pekerjaannya.


"Tidak ... jangan!" Seru Sherly dan Alea bersamaan.


Saat benda tajam itu semakin mendekat, tiba-tiba salah satu siluman peliharaan Hendri datang menghadap.


"Maaf tuanku. Keponakanmu dan hantu wanita itu mengarah kesini bersama si besar." Laporan si hantu yang di terima Hendri.


"Apa? Dasar makhluk bodoh. Kenapa dia malah membawa bocah nakal itu kemari? Beritahu dia untuk menghabisi keduanya disana. Jangan biarkan mereka kemari!" Perintah Hendri langsung di turuti hantu itu dan ia pun pergi dari hadapan Hendri.


King Ice. Cepat datang! Tolonglah aku dan calon anak kita. Ku mohon!


Jeritan hati Sherly dan ia menangis seketika saat aksi si setan dokter itu terhenti.


"Pergi kalian. Untuk saat ini biarkan dia beristirahat dulu. Kalian harus berjaga jika bocah nakal itu kemari, kalian harus membuatnya tak berdaya."


Kedua hantu itu pun pergi dari ruangan karena perintah Hendri.


Syukurlah. Dengan mendengar kabar Zidane kemari saja, si jahat ini langsung menghentikan aksinya. Mudah-mudahan dia mengurungkan niatnya saat Zidane benar-benar datang kemari.


Alea merasa lega karenanya. Ia berharap yang terbaik untuk Sherly dan calon anaknya.


Sementara, salah satu siluman peliharaan Hendri mendatangi si besar yang mengajak Zidane dan Nania ke tempat persembunyian Hendri.


Kedatangan siluman itu tak diketahui Zidane karena dia menyerupai pohon dan berbisik kepada si jin besar itu.


"Segera lenyapkan keduanya jika kau ingin diampuni oleh tuanku."


Si besar pun berhenti dan berbalik menatap tajam ke arah Zidane dan Nania.


Tangannya terulur seolah dia ingin menghabisi keduanya. Namun saatsiluman itu menghilang, si besar menyuruh keduanya segera meninggalkan tempat ini.


🍁🍁🍁🍁


Rencana untuk mengikuti jin peliharaan Hendri gagal sudah. Kini Zidane hanya bisa mengandalkan instingnya untuk menemukan istri kesayangannya.


Dia sangat bingung harus kemana lagi mencari Sherly. Namun, tak pernah terbesit rasa putus asa di hatinya untuk menyerah.


"Akan ku cari kemana pun dia membawamu, sayang. Jangan pernah takut karena aku akan datang dan menyelamatkanmu."


Mobil Zidane kembali membelah kegelapan malam.


Kali ini, dia ingin mencarinya saat di malam hari karena lebih mudah mencari sebangsa siluman atau hantu pada malam hari.


Tujuan utamanya yaitu perumahan tua yang pernah di lewatinya bersama Nania saat di bawa oleh jin peliharaan Hendri.



Mobil berhenti tepat di depan bangunan tua yang terlihat menyeramkan itu. Aura mistis sangat tercium dan bisa di rasakan Zidane.


Dia turun dan menilik semua bangunan yang terlihat disana. Memang sangat berbeda keadaan saat siang dan malam hari. Karena, di malam hari semua keanehan akan nampak di depan mata dan jelas terlihat.



Berbekal lampu senter dan kompas, ia menyusuri tiap bangunan tua itu. Terkadang, ia berhenti sejenak untuk melihat arah yang benar.


Dengan tas ransel di punggung yang berisikan peralatan yang pasti akan di butuhkannya saat penyelamatan nanti.

__ADS_1


Ya Allah, tunjukan jalan yang benar untukku supaya bisa menemukan istriku.


Tak lepas dari do'a-do'anya, Zidane terus berjalan menembus kegelapan malam dan bau yang menyeruak menusuk hidung karena keadaan sekitar yang lembab dan kotor.


Srek ... srekkk ... srekkkk


Langkah kaki terdengar dari kejauhan membuat Zidane lebih waspada. Dia pun bersembunyi di balik tembok yang mudah roboh bila tersentuh.


Dengan perlahan ia mengintip ke luar untuk memastikan siapakah pemilik langkah kaki tersebut.


Ternyata salah satu siluman anak buah Hendri yang sedang berjaga. Ini kesempatannya untuk mengikuti kemana arah makhluk itu pergi.


Dengan mengendap-endap bagaikan maling, Zidane terus mengikuti sampai ke sebuah bangunan yang di yakini itu tempat istrinya di sekap.


Makhluk itu berbalik lagi dan Zidane pun bersembunyi kembali diantara reruntuhan tembok bangunan tua.


Saat makhluk itu pergi, dia pun masuk dan mencari keberadaan istrinya dan juga teman hantunya.


Sebuah ruangan dengan pintu tertutup rapat. Dia yakin pasti itu tempatnya.


Perlahan tapi pasti, Zidane mendorong pintu itu dan mulai masuk kedalam ruangan yang pengap dan bau itu.


Saat pintu di buka dan tubuh Zidane masuk dengan sempurna, sebuah teriakan memanggil namanya dan mengejutkan dirinya.


"Zidane!" Si pemilik nama pun menoleh ke arah sumber suara.


Betapa lega rasanya karena ternyata itu arah yang benar dan Zidane pun tersenyum menatap si pemanggil namanya.


Seorang wanita terikat di tangan dan kaki yang di rantai di atas ranjang berukuran satu orang. Peralatan operasi caessar lengkap sudah di sampingnya.


Wanita itu meronta dan seketika tangisnya pecah saat melihat si pria tampan di hadapannya.


Dengan cepat Zidane menghampiri dan berusaha melepas rantai yang terbuat dari ikatan ghaibnya Hendri.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Rantai ghaib itu terlepas dan wanita itu berdiri kemudian bersimpuh di kaki Zidane.


"Zidane, maafkan aku. Aku tak bisa menjaga istrimu. Dia di bawa si penjahat itu barusan." Alea menangis dan memeluk kaki Zidane.


Betapa sesaknya dada Zidane mendengar perkataan Alea. Ia berharap jika Alea di kurung disini, pasti istrinya pun tak kan jauh dari sini.


"Bangun, Alea. Apa yang terjadi? Kenapa kamu diikat di ranjang itu dengan peralatan operasi di sampingnya?"


Alea menggelengkan kepalanya sambil terisak. "Itu bukan untukku, Zidane. Itu tadinya untuk istrimu. Hendri ingin mengeluarkan anak yang ada di rahim istrimu oleh bantuan setan dokter." Penjelasan Alea membuat Zidane geram.


"Namun, saat mendengar salah satu siluman mengabarkan jika kamu dan Nania kemari di bawa jin nya Hendri, dia menghentikan aksinya. Namun, membawa Sherly pergi dari sini entah kemana dan aku yang menggantikannya diikat di ranjang ini." Jelas Alea.


"Pantas saja penjagaan di luar tidak ketat. Ternyata dia sudah tahu kalau aku akan kembali kesini untuk menyelamatkan kalian."


"Mungkin seperti itu. Makanya di cepat-cepat membawa istrimu pergi. Tapi, dia memberikan penawaran kepada istrimu jika ingin menyelamatkan bayi kalian."


Zidane melirik hantu wanita di sampingnya dengan penasaran. "Apa itu?"


"Dia ingin ....!"


"Apa??"

__ADS_1


▪▪▪


Penasaran? Cus lanjut ah biar gak nanggung.


__ADS_2