
Seorang gadis berlari keluar dari bandara dan mencari taksi untuk di tumpanginya.
"Taksi!"Panggilnya saat melihat sebuah taksi lewat di depan.
"Antarkan saya ke Perumahan Taman Indah, blok taman ros, nomor dua delapan"Ucapnya setelah ia duduk di kursi penumpang.
"Baik"Supir pun meluncurkan mobil taksinya menuju tempat yang di minta penumpang.
Maafin ke tidak tahuan gue.Gue menyesal..
Hatinya tak karuan, apalagi setelah mendapat kabar bahwa sahabatnya telah pergi untuk selamanya.
Taksi meluncur dengan cepat sampai di kediaman Grisheld pukul tujuh pagi.
"Terima kasih!"Ia membayar ongkos sesuai argo kemudian melangkah masuk ke halaman rumah megah itu.
Semuanya tampak sepi."Apa aku sudah terlambat?"Ia terus melangkah masuk di sambut kedua security.
"Pagi, mbak Iren!"Sapa kedua security.
"Pagi, pak.um..aku boleh masuk untuk ber...." Ucapannya langsung di jawab denhan cepat.
"Silahkan, mereka di dalam"Ucap keduanya dengan tersenyum ceria.
Iren menatap dengan aneh.Kok mereka tak kelihatan sedih sih?
"Terima kasih, pak"Pintu terbuka dan ia pun masuk kedalam dengan perasaan aneh.
Ting..tong..
Bel di tekannya dengan perlahan dan langsung di bukakan pintu oleh seorang Art.
"Selamat pagi, bi!"Ucapnya ramah.
"Tante sama om, ada?"Tanya nya saat Art itu membukakan pintu.
"Eh, mbak Iren.Tuan dan nyonya ada kok, mbak.tapi tumben sekali yang ditanya bukan mbak Sherly lagi?"Tanya si bibi.
Iren mengerutkan dahinya."Maksud bibi?"
"Iya mbak, kenapa mbak Iren tidak men...?" Ucapannya terhenti saat terdengar suara seseorang dari belakang.
"Eeh, Iren sayang.Kenapa gak langsung masuk sih?"Nyonya Fransisca bertanya setelah melihat tamu yang datang.
"Pagi, tante.maaf, Iren ganggu tante pagi-pagi gini."Ucapnya tak enak.
"Enggak apa-apa kok!"Mommy mengelus lengan Iren."Ayo, masuk!"Ajak mommy.
Tanpa berkata, Iren langsung memeluk mommy."Maafin ketidak tahuan Iren, tante. Iren gak berniat meninggalkannya saat itu. Huhuuuu.."Ia menangis tersedu.
Mommy menjadi bingung tentang apa yang di katakan Iren."Kamu kenapa sih, sayang?"
Dengan perlahan, Iren melepaskan pelukkannya dan ia berusaha berkata."Iren tidak sengaja untuk berpamitan pada Sherly saat dia tak sadarkan diri.Seharusnya aku tak melakukan itu.Mungkin dia marah kepadaku karena aku pergi begitu saja!"
"Tante tidak tahu tentang itu.Coba kamu tanya saja sama orangnya!"Kata mommy.
Iren menjadi bingung tak mengerti dengan ucapan ibu negara."Maksud tante apa?"
Segitu sedihnya kah tante sampai menyuruhku menemuinya?oh, mungkin beliau menyuruhku ke makamnya.hemh, dasar Iren.
"Baiklah tante.Kalau boleh tahu, dimana tempatnya?"Tanya Iren.
Mommy bingung dengan pertanyaan Iren. "Hemh, kamu kaya baru pertama kesini saja. Dia kan di kamar biasa"
"Di kamar?maksud tante apa?"Dia semakin bingung.
Pertanyaannya terjawab setelah mendengar teriakan seseorang yang biasa ia dengarkan.
"Mommy..mommy dimana sih?"Iren langsung menoleh ke arah suara.
Di perhatikannya dari atas sampai bawah orang yang sedang berjalan menuruni tangga.
Sherly melihat Iren di bawah bersama ibunya, ia pun tersenyum dan melangkahkan kaki untuk menghampirinya.
Iren mundur seketika melihat sahabatnya berjalan ke arahnya."Whooaaa..di..dia??"
Semua nampak heran dengan tingkah Iren.
"Elu kenapa?"Sherly berusaha menyentuh Iren namun ia menghindar.
"Ja..jangan mendekat!"Ia tetap mundur.
Sherly menyipitkan matanya."Elu takut sama gue?"
Mommy mendekat dan menepuk bahu Iren.
"Dia sahabatmu, kenapa kamu takut?dia bukan hantu lho!"Mommy terkekeh mengerti akan maksud Iren.
Iren menoleh ke arah tante Fransisca."Jadi, kabar yang aku dengar itu....?"
Mereka tersenyum dwngan pertanyaan Iren.
"Dia memang sudah di nyatakan meninggal. Bahkan jasadnya sudah di kubur dalam tanah. Tapi, nasibnya memang sangat mujur.Zidane yang terus bersikeras bahwa gadis nakal ini masih hidup, dia juga mendengar teriakannya, sampai menggali kuburannya dengan kedua tangannya walaupun semua orang menentangnya"Tutur Mommy.
"Dan ternyata, dia benar-benar masih hidup!" Lanjutnya.
"Aaaahh, syukurlah.Gue seneng elu masih hidup.Gue takut banget saat elu dateng ke dalam mimpi gue dan berpamitan untuk pergi selamanya.Gue kan jadi sedih tahu!"Iren memeluknya dengan senang.
"Hish, kapan gue dateng ke dalam mimpi lu?perasaan, gue ikut ke rumahnya seseorang deh!"Sherly tak berani mengatakannya.
"Ke rumah siapa?"Mereka penasaran dengan perkataan Sherly.
"Ah, lupain aja.Oh iya Ren, ngapain gue masuk ke mimpi lu?"Ia berusaha menghindar dari pertanyaan mereka.
"Jadi nenek lampir!"Ucap Iren asal dengan mendapat pelototan darinya.
"Apa?gue jadi nenek lampir?Yang bener aja lu, gila?"Suaranya meninggi.
__ADS_1
"Iya, gue gak bohong.Elu nyelonong masuk ke dalam mimpi gue tanpa ngetuk pintu.Terus parahnya lagi, wajah lu jadi keriput, rambut lu acak-acakan, dan....kuku jari tangan lu berubah jadi item.Elu mau nyekik gue karena gue balik ke rumah tanpa pamit sama lu. Kan gue jadi takut dengan penampilan lu yang kek begitu.Hiiiiyyyu...Syeeleeemm"Wajah Iren terlihat serius saat mengerjai sahabatnya.
"Eh dodol, elu kira tuh mimpi kamar kost apa?masa orang masuk ke dalam mimpi harus ngetuk pintu dulu!"Di tepuknya lengan Iren dengan gemash.
"Parah abis lu!"Lanjutnya.
Iren terkekeh dengan uvapannya."Mommy percaya, enggak?"Iren menoleh ke arah ibunya si gadis berisik.
Nyonya Fransisca tersenyum dengan candaan sahabat putrinya sambil mengangguk."Iya, mommy percaya.Kamu lihat saja sendiri.Nih, rambut dia saja masih berantakan kaya mak lampir di mimpi kamu kan?"Mommy terkekeh.
"Iiihhhh..mommy apa-apaan sih?Ikutan ngeledek kaya si Iren.Putri mommy ini cantik jelita bagaikan bidadari syurga yang turun ke bumi."Sherly merengek manja.
"Masa sih?gue enggak percaya!"Iren terkekeh.
"Terserah lu, deh!Gue mau mogok ngomong sama elu dan mommy, hemhh"Wajahnya di palingkan ke arah lain sambil cemberut.
"Eh, nak Zidane.ayo masuk!"Mommy memancing putrinya supaya menoleh dan ternyata benar saja.Gadis berisik itu terkena jebakan sang mommy.
"Mana si king ice?"Kiri kanan ku lihat saja namun tak ada siapa pun apalagi pohon cemara.
"Mommy mengerjai aku?"Sang mommy terkekeh bersama Iren dan bertos ria.
"Mommy"
Kebiasaan emang tuh bocah.Kalau apa-apa mesti teriak memanggil mommy nya.huuh, dasar anak mommy.
"Ups, sorry.aku ralat.Si mak lampir. Hahaha" Iren tertawa lepas.
"Renitaaaaaaaaaa"Teriak Sherly dengan menambahkan huruf A yang banyak.
Syukurlah, ternyata mimpi gue tak menjadi nyata.Sahabat gue, sekaligus saudara gue.Dia masih hidup...Alhamdulillah.
Iren merasa lega karena sahabatnya itu tak meninggal seperti yang di kabarkan Geri.
Berterima kasih lah pada si king ice karena dengan berpegang teguh pada pendiriannya, ia mendapatkan bukti yang nyata.
π₯π₯π₯π₯
Kwakk..kwakkk
Burung gagak mengeluarkan suaranya di tengah malam buta.
"Hiks...hiks..huhuuu"Terdengar sayup-sayup tangisan seseorang dari depan rumah.
Sebuah kepala menyembul dari balik selimut tebal.Ia menyingkirkan kain tebal yang menyelimutinya itu.
Dengan malas kakinya melangkah menuju arah jendela dan menyingkapkan gorden penutup jendela kaca kamar.
"Siapa sih yang nangis malem-malem gini?" Di liriknya kiri dan kanan namun tak ada satupun orang yang terlihat di sana.
"Mungkin cuma perasaan gue doang kali, ya?" Ia pun berbalik dan ingin melanjutkan tidurnya kembali.
Namun sebelum ia melangkah, tangisan itu terdengar kembali dengan diiringi suara burung gagak.
**Kwakk..kwakk.
"Hah, itu memang suara tangisan.Mungkin gak sih ada orang nangis di sekitar sini?sedangkan ini sudah jam dua belas malam" Ia menggelengkan kepalanya.
Ia pun tak memperdulikan tangisan itu dan melanjutkan langkahnya menuju kasurnya kembali.
Namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti karena sesuatu.
Brakkkkk..
Jendela kamar terbuka entah karena apa. Yang pasti angin saat ini tidak terlalu kencang berhembusnya.Tapi, kenapa jendela bisa terbuka dengan lebar?
Ia pun tersentak dengan suara keras dari bantingan jendela kaca.
"Astagfirullahaladzim, apa sih itu?" Langkahnya kembali di putar tapi tidak di jilat apa lagi di celupin.Karena ia cuma mau nutup jendela aja, bukan mau makan oreo!
"Kok bisa jendela kebuka sendiri, bukannya udah gue kunci tuh jendela?"Tangannya terulur keluar untuk menarik pegangannya namun sesuatu menghentikannya.
Grep
Sebuah tangan berkuku panjang dengan jari yang keriput terulur dan memegangi serta menahan tangannya dengan kuat.
Ia terkejut dengan sebuah tangan yang memegangi pergelangan tangannya. "Si...siapa ini?"Berusaha menghempaskannya namun tak bisa.
Cengkraman itu semakin kuat dan menyisakan rasa sakit dengan luka lecet.
Ia semakin takut dengan itu."Bunda, tolongin aku!"Teriakannya tak di dengar siapa pun.
Rasa putus asa bercampur rasa takut menghantuinya."Tolong lepaskan tangan gue!" Berusaha melepaskan dengan tangan yang satunya namun tenaganya tak bisa mengalahkan satu tangan yang mencengkramnya.
Sebuah tangan yang entah dimana keberadaan tubuhnya membuat hawa dingin menyeruak dan semakin merinding.Di tambah suara tangisan dan juga suara burung gagak yang terus berteriak.
**Kwakkk..kwakkkk..kwakkk
"Hiks..hiks..huhuuuuuuu**"
Suara tangisan dan suara burung gagak menambah suasana mencekam meliputinya.
"Ayah...bunda...tolong!"Ia berteriak lagi namun tetap tak ada yang datang menolong.
Cengkraman tangan itu perlahan melonggar dan menampakkan sosok seorang wanita berambut panjang dengan wajah yang menghitam.
Sosok itu menyeringai menampakkan giginya yang hitam dan bergerigi."Hihihiiiiiiiiiiiiiiiiii"
"Haaaaaaa.."Lengkingan suaranya menggema di ruangan berukuran sedang itu.
Sosok itu terus menghampirinya dengan tangan teulur dan seringai menyeramkan.
"Tolong jangan mendekat!"Ia berusaha mundur dan menjauhi sosok itu.
"Berikan bayi itu padaku"Suara sosok itu ciri khas seorang nenek.
Bayi..bayi apa yang di bicarakan nenek itu?
__ADS_1
Ia mundur menjauhi sosok nenek dengan tangannya yang terulur untuk menyentuh perut ratanya.
Ia yang terus mundur sampai mentok ke ranjang dan jatuh terlentang di kasurnya.
"Berikan bayi itu padaku!"Sosok nenek itu terus mendekat dengan tangan terulur seperti ingin menyentuhnya.
"Jangan..jangan!"Kedua tangannya di jadikan pertahanan dengan di silangkan di depan tubuhnya.
Saat tangan keriput itu hampir menyentuhnya, tiba-tiba seseorang hadir di sana dan menendang sosok nenek itu sampai terpental ke luar jendela.
"Aaaaaaaaahhhhhhhh"Sosok nenek terbang tak tahu kemana.Syukurin lu.
Seseorang itu menyentuh tangannya yang menyilang di depan.
"Woi, elu gak pegel kaya gitu terus?"Tanya orang yang baru datang.
Ia mendongakkan kepalanya menatap sosok di depannya.
"Sherly"Dia melompat dan memeluknya.
"Gue takut, barusan ada nenek lampir"Suara yang begetar karena ketakutan.
Sherly melepaskan pelukannya"Elu yakin dia nenek lampir?"Pertanyaan Sherly di angguki olehnya.
"Bukannya nenek lampir itu ibu tirinya cinderella sama snow white?"Ia melongo dengan pertanyaan sahabatnya.
"Elu kira ini dongeng, dodol.nek lampir itu seperti yang tadi.kalo mak tiri itu mak lemper"Iren terkekeh dengan ucapannya.
"Gue kira nenek tadi nek grandong?"Iren terkekeh dengan perkataan Sherly.
"Kok elu bisa kesini, Sher?bukannya elu lagi koma di rumah sakit?"Sherly pun terdiam dengan perkataan Iren.
Iren jadi tak enak hati.Ia pun mengalihkan pembicaraannya."Gue seneng elu disini."
"Kapan lu terbang dari jakarta kesini?kenapa gak ngomong sama gue sih kalau elu mau dateng?"Di tatapnya wajah sahabatnya dengan seksama.
Kok gue ngerasa ada yang aneh sih?
"Ren, gue kesini mau berpamitan aja sama lu. Gue mau minta maaf kalau selama ini gue punya salah sama kalian terutama sama lu!" Nada bicaranya datar dan wajahnya berubah pucat.
"Elu ngomong apa sih, Sher?"Sumpah, saat ini gue ngehang mungkin karena efek ketakutan tadi.
"Gue mau pergi, Ren.jaga diri kalian ya?Kembalilah sama Indra, dia sangat membutuhkan lu saat ini"Ucapannya seperti sebuah perpisahan yang tak kan pernah bertemu lagi.
Iren menatapnya dengan mata berkaca."Elu ngomong apa sih, Sher?omongan lu seakan kita tak kan ketemu lagi."
Sherly tersenyum dan perlahan melayang ke luar jendela kamar Iren dengan melambaikan tangan."Jaga diri lu"
"Sher..Sherly..elu mau kemana?"
Kenapa dia melayang dan wajahnya juga pucat.
"Sherly!"Teriak Iren yang melihat kepergian sahabatnya dengan melambaikan tangan kemudian menghilang.
"Tidaaaaaaakk!"Ia terbangun dari tidurnya.
"Haahh..haaahh"Napasnya terengah.
Ternyata itu cuma mimpi.Syukurlah..
Dadanya di elus dengan lega.Saat dirinya sudah mulai tenang.Sesuatu mengganggunya untuk tidur kembali.
Drrrrttttt...drrrtttt
Ponselnya bergetar karena sebuah notifikasi panggilan masuk.
Diliriknya jam dinding yang jarum jamnya menunjukkan pukul delapan pagi.
"Ya ampun, gue kesiangan!"Ia menepuk keningnya.
Iren yang berpamitan kepada Sherly saat di rumah sakit untuk pulang ke Padang.Ia baru tiba di rumahnya pukul lima subuh.Jadi, wajar dia bangun kesiangan karena lelahnya di perjalan.
Diangkatnya panggilan telpon itu yang ternyata dari Geri.sahabat and the geng nya.
"Hallo, Ger.ada apa sih?hoaaamm"Ia tak dapat menutupi kekantukkannya.
"Ren...Sherly mau di makamin sekarang.Jadi, tolong bantu do'anya ya supaya semuanya berjalan lancar!"Kata Geri dari ujung sana.
"Maksud lu apa dengan bilang Sherly mau di makamkan?"Iren terdengar bingung.
"Lho kok, elu kaya gak tahu gitu?" Tanya Geri.
"Tahu apa?emang ada apa sih?"Iren semakin bingung.
"Memangnya Indra belum ngasih tahu kalau Sherly udah gak ada?" Sekali lagi Iren menjawab dengan bingung.
"Maksud lu dengan udah gak ada, apa sih?"
"Sherly kan udah ninggal, Ren.semalam kondisinya ngedrop.dia menghembuskan nafas terakhirnya sekitar jam satu lebih lah. Dokter menyatakan Sherly udah meninggal"
Penjelasan Geri membuat Iren terkejut."Lah barusan gue mimpi dia datang ke sini dan berpamitan untuk pergi."Tutur Iren sedih.
"Berarti dia langsung ngedatengin lu untuk berpamitan, Ren.Gue mewakilinya untuk meminta maaf yang sebesar-besarnya ya.Jika ada salah, tolong di maafkan!"Kata Geri.
"Enggak, gue gak mau maafin dia.Dia jahat sama kita kalau kayak gini caranya!"Iren terisak.
"Elu jangan gitu, Ren.Kita harus...!"
Tuuutttt...tuuuttttt.
Sambungan telpon di putus oleh Iren dan ia pun bergegas untuk kembali ke jakarta. Namun, sesuatu menahannya.
"Ssstttt....akkhhhh.Perut gue sakit sekali!"Ia merasakan perutnya seperti keram.
"Apa yang terjadi sama gue?ini sakit sekali!"
Ia pun menunda keberangkatannya untuk kembali ke jakarta.
__ADS_1