
Ruangan yang gelap dan lembab. Bau menyengat tercium dimana-mana. Rasa mual dan ingin muntah selalu menggelitik di perut Sherly.
Dengan kedua tangan yang terikat disampingnya dan dalam ke adaan terduduk di kursi rotan dan kedua kaki yang terikat pula, perlahan mata Sherly mengerjap dan mengedarkan pandangannya.
Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap berdiri membelakanginya.
Sherly menyipitkan mata untuk melihat siapa pria yang sedang membelakanginya itu. Dia terlihat seperti ...
"Kak Hendri." Si pemilik nama pun menoleh kearahnya.
"Hai, sudah bangun?" Dia pun berjalan ke arah Sherly.
"Apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan yang membuat Sherly jengah.
Tentu saja tidak! Bagaimana bisa Sherly baik-baik saja jika kini tangannya terikat dan di hadapannya pun berdiri seorang iblis berwajah manusia.
"Lepaskan aku, kak! Kenapa kau berbuat seperti ini padaku?" Teriakan Sherly hanya ditanggapi senyuman oleh pria dihadapannya.
Hendri berjongkok dan bersimpuh dengan menaruh kepalanya di pangkuan Sherly.
"Saya senang karena kamu baik-baik saja. Saya merasa bersalah karena tidak bisa membukakan ikatanmu." Ucapnya sedih.
Sherly memutar bola matanya dengan malas.
"Singkirkan kepalamu dari pangkuanku!" Teriak Sherly lagi.
Namun Hendri tetap melakukannya, bahkan tangannya menyentuh kedua tangan Sherly yang terikat.
"Sherly. Andai kau tahu, saya sangat sayang sekali kepadamu. Makanya, saya membawamu kemari dan melepaskanmu dari ikatan pernikahan bersama bocah nakal itu." Tutur Hendri.
"Apa kamu bilang? Melepaskanku dari ikatan pernikahan?" Suara Sherly meninggi.
"Kau dengar kapten Hendri. Suatu hubungan yang suci tidak dapat di putuskan begitu saja. Apalagi itu dengan cara menculikku seperti sekarang ini." Jelas Sherly.
"Saya bisa melakukannya. Saya sudah mengirimkan surat gugatan cerai untuk si bocah nakal itu atas namamu." Ucap Hendri datar.
"Kamu gila!" Teriak Sherly.
"Memang. Memang saya sudah gila. Saya tergila-gila kepadamu, gadis bintang." Tangannya terulur dan menyentuh wajah Sherly.
"Itu hanya obsesi semata, bukan rasa menyayangi. Kau tahu jika aku memiliki tanda bintang dipunggung, dan itu bisa kau manfaatkan untuk memenuhi keinginanmu, bukan?" Perkataan Sherly tepat sasaran.
Namun Hendri berusaha menutupinya.
"Mengapa kamu berbicara seperti itu, sayang? Saya ini benar-benar sangat ... sangat mencintai dan menyayangimu lebih dari si bocah sialan itu dan keluargamu. Saya bisa memberikanmu apa saja." Ucapnya sombong.
"Cih, tak sudi aku di cintai dan di sayangi oleh manusia sepertimu. Aku menyesal telah mengenalmu dalam hidupku. Kau ini iblis bertopeng manusia." Hendri melirik Sherly dengan tatapan tajam karena mendengar perkataannya.
Namun, seketika mata itu meneduh kembali dan senyumnya mengembang dengan rasa manis sebagai tambahannya.
Mungkin dia memakai SP atau baking soda biar senyumnya bisa mengembang dengan sempurna.
"Sayang. Apa saya perlu membuktikan rasa cinta dan sayangku kepadamu yang tulus ini?" Nada bicaranya sangat lembut.
Aku yakin, dia pakai semua bahan tadi biar ucapannya enak di denger.
Sherly tak perduli dan ia tak menanggapi ucapan Hendri.
__ADS_1
"Hemm, baiklah. Akan saya tunjukkan kasih dan sayang yang tulus padamu walaupun kamu tak mau pembuktian saya."
Hendri berdiri dan kemudian menepukkan tangannya dengan keras.
Prok prok prok
Dia tidak bilang bantu yuk bantu jadi apa, ya. Dia cuma menepuk tangannya untuk memanggil seseorang dan memperlihatkan sesuatu kepada Sherly.
Slarakkk
Sebuah tembok di depannya terbalik dan menghadirkan dua orang hantu wanita yang kedua tangannya dalam keadaan terikat ke atas.
"Nania ... Alea!" Pekik Sherly saat melihat kedua hantu temannya ternyata di tawan oleh Hendri.
Sherly semakin terkejut saat sebuah lemari berputar berbalik ke arahnya.
Dua kursi menampakkan Dika dan Iren yang terikat dan pingsan disana. Wajah Dika babak belur, darah mengalir dari pelipis dan kepalanya. Sedangkan Iren, wajahnya pucat dan sepertinya kelelahan.
Lalu, dimana putri kecil mereka? Dimana Maharani sekarang?
"Dika ... Iren!" Tatapan mata Sherly semakin menajam kearah Hendri.
"Lepaskan mereka, dasar kurang ajar." Teriak Sherly lagi.
"Sayang. Ini bukti rasa cinta dan sayang saya kepadamu. Apa kamu tak menyukainya?" Mimik wajah Hendri menjadi sedih.
"Padahal jika kamu senang, saya akan melepaskan mereka semua ..." Ucapannya terjeda saat melihat wajah Sherly yang berharap. Namun, dia memang tak bisa di percaya. Sherly menjadi kesal saat Hendri melanjutkan ucapannya. "Ke alam baka ... selamanya."
"Hendri!" Sherly membentak dengan nada tinggi.
Kini hanya nama yang disebut oleh Sherly. Bukan kakak, kapten, atau paman.
Tangan Sherly terkepal dan wajahnya memerah dengan nafas yang menderu karena menahan amarahnya.
Hendri terkejut mendengar nada bicara Sherly yang meninggi. Ia tak menyangka jika gadis yang anggun itu bisa berbicara dengan seperti itu.
"Kamu terlalu baik sama mereka, sayang. Kamu tahu ..." Hendri kini berjongkok kembali di hadapan Sherly. "Mereka itu menghianatimu." Lanjutnya sambil berbisik.
Ingin rasanya Sherly menendang orang yang berada di hadapannya ini. Namun, kedua kakinya tak bisa di gerakkan karena ikatan yang cukup kencang.
Sherly memilih diam dan memalingkan wajahnya. Namun, tangan Hendri tiba-tiba menyentuh perut ratanya membuat dia membelalakkan mata.
"Apa yang kamu lakukan?" Tatapan matanya terus menajam.
Sedangkan Hendri tersenyum menanggapinya. "Sayang, jangan takut! Saya tidak akan melukainya kok. Justru saya ingin menyapa saja." Ucapan Hendri membuat Sherly kebingungan.
Sebenarnya, apa yang dia bicarakan dengan tidak akan melukainya? Apa gue ...? Gak mungkin ... gak mungkin kalau gue sedang hamil.
"Hai bayi kecil, apa kau baik-baik saja di dalam sana?" Nada bicara Hendri sangat lembut dan tangannya pun mengelus perut Shrly. "Tentu kau akan baik-baik saja. Karena ibumu wanita tangguh, iya kan?" Lirikkan matanya tertuju pada Sherly.
"Menyingkir dari hadapanku, breng**k." Bentak Sherly.
"Sssttttt ... turunkan nada bicaramu, sayang. Tak baik untuk perkembangan janinmu." Hendri menyeringai sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.
"Pergi dari hadapanku. Aku muak melihat kepura-puraanmu!" Teriak Sherly terus.
Hendri tertawa sambil berdiri dan melangkah menuju ke arah Dika dan Iren. "Hahaha."
Tangannya terulur dan mendongakkan wajah Dika yang terlihat darah. Dia pun mencengkram dagu Dika dengan kuat sehingga si empunya terbangun dan meringis seketika. "Aaarrrrggghhhh."
__ADS_1
"Dika!" Sherly tak menyangka jika Hendri akan berbuat seperti itu.
"Jangan lakukan apapun kepadanya, dasar penjahat!" Hendri tergelak mendengar panggilan dari Sherly. "Hahaha."
"Ya tuhan, sayang. Jadi, kini kamu sudah mempunyai panggilan-panggilan khusus untuk saya?" Tanya Hendri.
"Hemh, baiklah. Itu tak masalah, sayang. Selama hatimu senang, saya akan menerima dengan ikhlas dan sabar. Bila perlu, saya akan ikut senang." Perkataan Hendri semakin membuat Sherly kesal.
Dika yang sudah terbangun dari pingsannya seketika melirik Sherly yang terikat sedikit agak jauh di depannya.
"She-Sherly." Suaranya lirih hampir tak terdengar.
Kemudian ia menatap pria yang berdiri membelakanginya dan sedang berbicara dengan Sherly setelah melepaskan cengkraman di dagunya. "Kkk-kak Hendri."
Hendri pun berbalik menghadap ke arah Dika sambil tersenyum dan melambaikan tangan. "Hai, Mahardika. Apa kabar? Sudah lama kita tidak berjumpa." Ucapannya membuat Sherly semakin kesal mendengarnya.
Dika yang masih belum mengetahui jika mereka itu terkurung dan terikat di tempat seperti ini karena ulah pria yang dipanggilnya kakak tersebut.
Bukankah gue tadi kejatuha lemari dan kepala gue seperti ada yang mukul? Akhh, masih sakit juga ini kepala. Sherly berlari keluar bersama istri dan anak gue. Ehh ..
"Renita ... Maharani." Dika pun menoleh ke sampingnya.
Dia terkejut saat mendapati Iren sama halnya seperti dirinya dan Sherly yang dalam keadaan terikat di sebuah kursi rotan.
"Ren ... Iren." Teriaknya memanggil nama istrinya namun tak kunjung sadar juga.
"Renita." Teriaknya lagi dan Iren pun mengerjapkan mata mengedarkan pandangannya.
"Di~kaaaa." Lirih suara Iren terdengar namun cukup membuat Dika merasa lega.
Tapi, dimana Rani anak gue?
"Kak Hendri, tolong bukakan ikatan kami!" Pinta Dika kepadanya.
Hendri tersenyum dan mengangguk. "Baiklah." Ia berjongkok dan tangannya berusaha membuka ikatan yang melilit di tangan dan kaki Dika.
"Ini susah sekali, Dika." Ucapnya dengan sedih.
"Harus menggunakan ...,"
"Apa? Pisau? Ya sudah kak Hen, kalau ada pisau gunakan saja untuk membuka ikatan kami." Hendri tersenyum sambil melirik Sherly yang melotot ke arah mereka.
"Iya kan, sayang. Saya sudah menebak jika dia ingin saya menggunakan benda tajam untuk membebaskannya." Arti dari tatapan dan senyum jahat Hendri.
Hendri langsung mengeluarkan pisau cutter dari kantong jaketnya.
Srekk
"Tidak. Jangan!" Teriakan Sherly menghentikan tangan Hendri yang memegang pisau cutter.
Ketiganya menoleh ke arah Sherly dengan tatapan heran. "Kenapa?"
"Di-dia ... dia."
Hai para pembaca yang budiman👋👋
Tiap hari yang **baca banyak, yang like sama yang komen cuma itu-itu aja.
Kasih like, vote, ama gift dong buat karyaku biar selalu semangat nih.
__ADS_1
Sekuntum mawar aku tak menolak, apalagi secangkir kopi di tambah hati kamu juga boleh😄😄**