
Sementara di rumah Zidane ataupun rumah Sherly sedang sangat sibuk untuk menggelar acara syukuran pertunangan mereka yang di susun sedemikian rupa atas persetujuan keluarga kedua belah pihak.
Zidane yang terlihat gelisah karena tak kunjung ada kabar dari gadis berisiknya.
Dia mondar-mandir kaya setrikaan yang sedang bertugas melaksakan pekerjaannya.
Nania dan Alea yang melihatnya sangat pusing di buatnya.Pasalnya Zidane bolak-balik di depannya dengan membawa gaun untuk di berikannya pada Sherly dan gaun itu mengenai wajahnya dan wajah Alea.
"Hei Ganteng, aku pusing melihatmu yang terus kesana kemari gak jelas.Lihat nih, wajahku penuh dengan hiasan di baju si Galak.Wajahku jadi meling kaya gini!" Rengek Nania yang kesal dengan tingkah si Ganteng nya.
"Tahu nih, kamu itu kenapa sih?"Alea menimpali perkataan Nania.
"Malam ini aku merasa ada yang aneh. Pikiranku tak tenang dan rasanya aku sangat takut sekali.Entah mengapa jantungku ini berdetak lebih cepat."Tangannya menempel di dadanya.
"Sesuatu akan terjadi, tapi apa itu aku pun tak tahu!"Raut wajahnya sangat tegang.
Kedua hantu wanita itu saling bertatapan.
"Mungkin kamu nervous kali.secara kan acaranya besok!"Tutur keduanya.
Zidane menggelengkan kepalanya."Bukan seperti itu.Rasa ini lebih dari perasaan grogi, ini lebih ke rasa takut.Takut yang berlebihan." Jelas Zidane.
Mereka pun diam dan tak mengatakan apapun.
Terdengar langkah kaki berlari ke arah kamarnya dengan cepat dan...
Brakk
Pintu kamar di buka dengan sedikit mendorong dengan keras.
Ketiganya menoleh ke arah pintu dan disana sudah berdiri Rian dengan wajah yang sangat cemas dengan napas yang terengah-engah.
"Hah..hah..hah..Zidane, kamu harus ke rumah sakit sekarang."Rian berusaha mengatakannya walau dengan kesusahan.
Ketiganya saling pandang kebingungan.
"Ada apa?"Tanya Zidane dengan menghampirinya.
"Kakak ipar...kakak ipar..itu..itu.."Kata-kata Rian yang tak jelas membuat bingung tapi tidak dengan Zidane.Ia langsung berlari dan menjatuhkan gaun untuk di pakai Sherly.
Rian yang baru bernapas lega pun harus berlari kembali menuruni tangga menyusul Zidane yang sudah berlari duluan.
"Tyo, kamu mau kemana?"Kakek yang melihat Zidane berlari dengan tak memperdulikan siapa pun sampai menabrak orang yang membawa tumpukan piring sehingga piring itu pecah dan berserakan di lantai.
Rian berhenti sejenak dan menyampaikan kabar duka itu.
"Kakak ipar kondisinya kritis, kakek!"Ia pun berlari lagi mengejar Zidane.
"Apa?"Kakek terlihat syok dengan kabar itu. Tapi untung kakek fisiknya sangat kuat sehingga ia tak pingsan seperti kakek yang lain pada umumnya.Hihiiii.
Mobil Zidane melesat menuju rumah sakit.
Apa ini jawaban mimpiku kemarin?Apa ini waktunya aku kehilangan dirinya?Pikiran Zidane tak karuan.
Rian diam dengan berpegangan pada selt beltnya karena takut dengan cara mengemudi Zidane yang sedikit kencang membuat dirinya ingin memuntahkan isi perutnya.
Sesampainya di rumah sakit, Zidane berlari masuk tanpa menunggu temannya yang sempoyongan karena merasakan pusing dan perutnya seperti di aduk.
"Uweeeekkk"Rian memuntahkan isi perutnya tepat di samping mobil Zidane dan untungnya gak ada yang melihatnya karena ini sudah malam.
"Kurang asem tuh bocah, gue sampai mabok kendaraan gini.gila dia, mengendarai mobil udah melebihi pembalap F1 saja."Gerutu Rian yang tak terdengar oleh Zidane karena si babang tampan sudah berlari masuk.
Nafas Zidane terengah-engah karena berlari dengan terburu-buru.
Monitor menampakkan garis tak beraturan dan berbunyi sangat kencang dan cepat. Dokter dan suster terlihat cemas dengan kondisi pasien yang ngedrop seperti ini.
Padahal, tadi siang tidak terjadi apa-apa. Namun sekarang, entah apa yang terjadi padanya sampai kondisinya menurun.
Di dekatinya dokter yang sedang memeriksa keadaan si gadis berisiknya.
"Dokter, apa yang terjadi padanya?"Zidane bertanya pada dokter namun matanya tertuju pada si Machan nya.
"Oh, tuan muda.Maaf, anda tidak seharusnya masuk.Tolong keluar dulu ya, supaya kami bisa bekerja dengan fokus!" Pinta suster.
"Aku gak akan mengganggu kalian."Diliriknya sekilas suster itu dan ia menatap kembali si Machan.
"Tapi, tuan muda...!"
Dokter mengangguk ke arah suster.
"Baiklah, silahkan!"Ucapnya sopan.
"Sherly..huhuuuuu..jangan tinggalin mommy, sayang."Nyonya Fransisca menangis histeris saat datang ke kamar perawatan putrinya.
Nyonya Fransisca berusaha masuk kedalam ruang perawatan namun di cegah oleh dua orang suster.
"Maaf, nyonya.Anda tidak boleh masuk karena dokter sedang melaksanakan tugasnya."Cegah suster saat mommy berusaha menerobos.
"Hiks..tapi, saya ingin tahu keadaan putri saya, suster.Huhuuuu.."Mommy tetap keukeuh pada permintaannya.
"Mom, tenanglah.dia akan baik-baik saja, oke!"Daddy memeluk dan mengelus punggung isyrinya.
__ADS_1
"Hiks..tapi dad, gimana kalau terjadi sesuatu padanya..?huhuuu.."Beliau terus menangis tersedu.
"Jangan khawatir, nyonya.di dalam sudah ada tuan muda Zidane."Tuan Hadi pun menjadi lega mendengar perkataan suster.
Tuan Hadi sedikit mengangguk "Baiklah, suster.terima kasih!"
Ditutupnya rapat pintu kamar ruang perawatan Sherly dan meninggalkan mereka di luar dengan tangisan ibu negara.
Terlihat kak Al berlari bersama kak Aisyah menghampiri mereka.
"Gimana keadaannya, dad?"Raut wajah keduanya terlihat cemas.
"Daddy gak tahu Al.Dia masih di periksa dokter.Di dalam juga sudah ada Zidane yang menungguinya"Jelas tuan Hadi.
Keduanya pun mengangguk.
Tak lama kemudian and the genk datang dengan berlarian dan tentunya dengan raut wajah kecemasan di wajah ketiganya.
"Om, bagai mana keadaan Sherly?" Indra bertanya padanya yang sedang memeluk istri tercinta yang terus menangis.
Om Hadi melirik ketiga pemuda sahabat putrinya."Dia masih di periksa dokter!"
"Apa kita tak boleh masuk kedalam?"Dika mengintip di balik pintu kaca yang sedikit tebal dan tak terdengar apapun ke luar.
"Kita dilarang masuk, Dik!"Kak Al menepuk bahu Dika pelan.
Dika melirik kak Al kemudian menunjuk pintu kaca tebal itu."Dia boleh masuk."
Mereka pun melirik jari Dika yang menunjuk ke dalam.
"Biarkan saja, sudah seharusnya dia disana." Singkat kak Al.
Dika menunduk lesu saat tangan Geri merangkulnya dan membawanya duduk di kursi tunggu lorong rumah sakit.
Ketiganya duduk terdiam dengan berbagai macam pikiran.
Ya Allah, selamatkanlah dia.Jangan sampai dia kenapa-kenapa. Ketiganya berdo'a dalam diam dan saling berpegangan tangan.
"Mom, duduk dulu.Tenangkan diri mommy." Di tuntunnya tubuh sang mommy yang bergetar karena tangisan tersedu-sedu.
"Hiks...hiks..Mommy takut kehilangan dia, dad."Masih dengan tangisannya.
"Sabar ya mom, do'akan putri kita supaya melewati masa kritisnya dan dia akan baik-baik saja"Daddy terus menenangkan hati mommy dengan sabar.
Tuan Hutama datang bersama adik sepupu Zidane untuk menengok keadaan Sherly setelah di beri tahu oleh Rian.
"Tuan Hadi, bagaimana kondisi putrimu?" Tanya tuan Hutama atau kakek Zidane.
"Kakek duduk dulu ya!"Pinta Andin adik sepupu Zidane yang membuat Sherly salah paham kepada mereka sampai menghilang dari rumah Zidane.
Mereka duduk dan berdo'a demi keselamatan gadis itu.
Sementara di dalam ruangan..
Kardiogram berbunyi dengan kencang dan cepat menunjukkan tanda kecemasan.
Tit..tit..tit..tit..tit..titi..tit..tiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt.
Yang pasti bukan bunyi klakson mobil yang sedang di mainkan bocah ya gengs.
Layar monitor menunjukkan garis yang tak beraturan dan tak lama kemudian menunjukkan garis lurus.
"A..apa yang terjadi, dok?"Zidane mendekat dengan tangan yang gemetaran.
Dokter dan suster sangat panik melihat kondisi pasiennya yang langsung down seperti itu.Mereka mengira pasiennya ini akan bangun seperti dulu lagi karena kondisinya sehari-hari menunjukkan kesembuhan.
Namun, mereka tak menyangka akan menjadi seperti ini.
Zidane menyingkirkan tubuh suster yang menghalanginya melihat keadaan si Machan.
"Maaf, tuan muda.kami sudah melakukan semampu kami.Tapi takdir berkata lain. Sepertinya, dia sudah tak bisa tertolong lagi." Dokter dan suster menunduk di hadapan Zidane.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya dan tak mau menerima apapun yang di katakan dokter itu."Jangan katakan apapun, dok."
Zidane menepuk pipi si gadis berisiknya dengan lembut.
"Hei, Machan.ayo bangun, jangan membuatku menangis lagi!"Di genggamnya tangan Sherly yang sudah dingin kemudian menciumnya.
"Wake up, baby.please...!"Ia memohon dengan memelas namun tak ada pergerakkan apapun.
"Suster, catat waktu, hari dan tanggal kematiannya."Kata dokter kepada suster yang mengangguk.
"Sabtu:17-12-2009 pukul 01.49"Suster mencatat hari kematian Sherly.
"Berhenti dok, dia masih hidup..dia masih hidup!"Zidane berteriak namun tak beranjak dari tempatnya.
Dokter dan suster pun saling pandang sampai Rian masuk ke dalam ruangan itu.
"Bagaimana keadaan kakak ipar, dok?"Rian menepuk bahu dokter yang menggelengkan kepalanya pertanda mereka gagal menyelamatkan nyawa gadis itu.
Rian menghampiri Zidane dan menepuk bahunya."Kuatkan dirimu, Zidane." Pertanda ia mensupport sahabatnya.
__ADS_1
"Dia masih hidup, aku tahu dia gak akan meninggalkan aku."Zidane tetap menggenggam erat tangan yang sudah dingin.
"Bagaimana dia bisa meninggalkanku, sementara dia belum menjawab semua pertanyaanku?"Sekilas lirikkan mata Zidane terarah kepada Rian yang menatapnya sedih.
Rian mengerti akan perasaan Zidane saat ini. Memang saat kemarin-kemarin mereka selalu bertengkar dan tak mau mengakui perasaan satu sama lain.Tapi kini, saat semuanya sudah terlambat, rasa itu malah muncul dan semakin dalam.
"Aku menyesal, kenapa kemarin aku tak mencegahnya pergi!"Mata Zidane berkaca.
Kemarin?bukankah kakak ipar sudah tak sadarkan diri hampir tiga bulan?Oh gue tahu, mungkin maksud Zidane kemarin itu dua bulan yang lalu ya.hemh..
Suster dan dokter keluar dari ruang perawatan dan mengabarkan berita duka itu kepada keluarganya.
Tangisan kesedihan tak bisa di hindari mereka sampai nyonya Fransiska pun pingsan karena tak kuasa mendapat berita putrinya.
Akhirnya, malam itu juga jasad Sherly di bawa ke rumah duka.Rumah kediaman Grisheld untuk di kebumikan di tempat peristirahatan terakhirnya.
Zidane tak pernah melepaskan genggaman tangannya sampai tiba di rumah kediaman Grisheld.
Semua keluarga, sanak saudara, para sahabat, dan tetangga pun berdatangan ke rumah megah itu melihat si putri bungsu Grisheld Prayoga untuk yang terakhir kalinya.
Mereka semua menangis dalam diam. Mengenang sosok gadis ceria walaupun berisik, tapi dia adalah gadis yang baik hati, anak yang penurut, dan seorang teman yang selalu care sama semuanya.
Orang tua dan kakak serta kakak iparnya mencium dan memeluk jasadnya untuk yang terakhir kalinya setelah jasad Sherly di mandikan dan di pakaikan pakaian lengkap.
Karena Sherly non muslim mengikuti agama sang ibu, jasadnya di masukkan dalam peti.
"Bangun dek, kalau gak bangun gue jual si sweaty"Bisik kak Al yang pasti tak di dengarnya.
Semuanya menangis dengan perkataan kak Aldrian begitu pun para sahabatnya. Terutama Dika, ia masih belum mau mempercayai kalau gadis yang ia cintai meninggalkannya begitu saja.
Zidane yang tak mau melepaskan genggaman tangannya dan masih setia duduk di samping jasad si gadis berisiknya.
Ayo, bangun lah, Machan.Kembalilah padaku!
Tepukan di bahunya membuyarkan lamunan Zidane yang sedang menatap sedih.
"Dia harus segera dikebumikan.Kasihan kalau terlalu lama"Rian berkata dengan lembut.
"Enggak, dia masih hidup..dia masih hidup!" Tolak Zidane berkata dengan perlahan dan lirih.
"Tapi, kasihan jasadnya kalau harus disini terlalu lama"Rian menjadi tak enak hati kepada keluarga Sherly yang terus menatap ke arah Zidane.
"Tyo, sebaiknya kamu merelakannya dengan ikhlas. Biarkan dia pergi"Kakek menepuk bahu cucunya dengan perlahan.
Namun Zidane tetap keukeuh pada pendiriannya."Dia belum meninggal, kek.Aku yakin dia masih hidup"
Semua orang merasa simpati kepada pemuda dingin itu.Tak pernah ada yang melihat pemuda itu menangisi siapapun.
Tapi sekarang, air matanya menetes membasahi pipi karena ulah si gadis berisiknya yang tak mau bangun lagi dan pergi untuk selamanya.
"Nak Zidane, kami tahu kalau kamu sangat terpukul dengan kepergian putri kami.Tapi, saya mohon untuk membiarkannya beristirahat dengan tenang!"Tuan Hadi yang mendekat dan menepuk bahu Zidane.
"Kamu sangat sedih dengan kepergiannya, apalagi kami.Selama dua puluh empat tahun kami bersama membangun semua cerita cinta kehidupan.Tapi, hari ini kami harus merelakannya untuk pergi menghadap yang maha kuasa"Lanjut tuan Hadi.
"Iya, Zidane.Aku sebagai kakaknya, memohon maaf yang sebesar-besarnya kepadamu dan juga keluarga besar Prasetyo. Kami sangat menghargai pinanganmu kepada putri bungsu Grisheld.Tapi apalah daya, takdir berkata lain dan bukan cuma kamu saja, melainkan kami juga yang harus berpisah dengannya"Tanpa terasa air mata kak Al membasahi pipi.
Dika tak kuasa melihat itu semua.Ia pergi keluar dan diikuti kedua sahabatnya.
Zidane tetap tak mau beranjak dari tempatnya.Air matanya terus menetes dan dia menangis dalam diam.
Sampai ia berkata dengan lirih.
"Izinkan aku menciumnya untuk yang terakhir kali!"Pinta Zidane kepada keluarganya.
Mereka tercengang dengan permintaan Zidane itu sampai saling berpandangan.
Ada yang sedih dan ada yang malu mendengar kata mesra itu.
Mereka pun serempak memalingkan wajah ke arah lain saat Zidane mengecup bibir Sherly yang sudah pucat pasi itu.
Aku mohon, kembalilah!
Untuk beberapa menit, bibir Zidane menempel di bibir mungil Sherly yang sudah tak merespon apapun dan sudah tak bergerak.
Peti yang terdapat jasad Sherly pun di gotong oleh kak Al dan ketiga sahabatnya menuju ke pemakaman khusus keluarga.
Zidane terduduk di tanah dengan sedihnya.
"Kembalilah!"Teriak Zidane saat peti itu di turunkan ke liang lahat.
Huaaaaaa....otor nangis saat nulis bagian ini.
***Apa yang harus di lakukan Zidane untuk membuatnya kembali lagi?
Tapi, apa mungkin gadis itu akan kembali setelah di kuburkan?
Ikutin cerita otor setiap hari biar tahu kelanjutannya.
Ayo, like, komen, dan vote sebanyaknya biar otor gak nangis lagi.
Lupyuh semuanya😘😘😘***
__ADS_1