
Di sebuah gedung tua, seorang wanita cantik dengan kedua tangan terikat ke belakang, dan mata yang di tutupi kain.
Beberapa pria berbadan besar yang di yakini suruhan seseorang untuk menculiknya, mereka tersenyum menatap kemolekan tubuh si wanita cantik dengan tatapan lapar.
Wanita cantik itu terus berteriak meminta untuk di lepaskan. Namun, si penculik malah tertawa dengan kencang.
"Lepaskan aku. Kalian berani menculikku dan mengikatku seperti ini. Sebenarnya, siapa yang menyuruh kalian untuk melakukan kejahatan ini kepadaku?"
Wanita itu terus berteriak membuat kegaduhan di ruangan itu.
Bukannya segera melepaskan, kelima pria itu tertawa melihat wanita cantik meronta ingin melepaskan diri.
"Hahaha. Berusahalah sekuat tenagamu, cantik. Setelah kau lelah, baru kami akan memanjakanmu!" Tutur salah satu dari mereka.
Wanita itu mengerti akan perkataan si penculik. Dia pun diam dan berusaha bernegosiasi.
Dengan rasa takutnya, dia berusaha berbicara kepada mereka. "Bang, aku mohon kalian untuk melepaskanku. Apapun yang kalian mau, aku akan menurutinya. Kalian tinggal sebutkan saja jumlahnya, aku akan langsung mentransfer sejumlah uang yang kalian minta!"
Salah satu pria itu menghampiri dan membuka kain penutup mata si wanita.
"Nona cantik. Jika kau mau menuruti semja keinginan kami, itu sangat bagus. Kami tak perlu uang ataupun barang berharga. Karena, bos kami memberikan uang dengan jumlah yang cukup banyak. Keluarga kami pun terjamin kehidupannya." Kata si pria.
"Lalu, kalian mau apa sebagai gantinya untuk melepaskan aku?" Tanya wanita itu.
Kelima pria penculik itu tersenyum ke arah wanita dengan penuh arti. "Jadi, kamu benar-benar ingin tahu dengan apa yang kami mau?"
Wanita itu langsung mengangguk cepat.
"Kami mau ... kamu melayani kami secara bergiliran. Atau perlu ... layani kami sekaligus dengan service yang memuaskan. Barulah, kami akan melepaskanmu dengan senang hati. Bagaimana cantik?"
Mata wanita itu membulat sempurna mendengar permintaan si penculik.
"Apa? Gila. Aku tak kan pernah mau melayani kalian yang menjijikan itu. Tubuhku hanya untuk satu pria dan itu Zidane Prasetyo." Jelasnya lantang.
"Zidane Prasetyo? Hahaha ... siapa dia? Apa dia orang hebat dan terpandang di kota ini?" Ledek salah satunya.
"Mungkin, dia seorang pewaris tahta kerajaan? Atau, dia seorang pemilik perusahaan besar?" Timpal salah satunya.
"Memang. Dia memang seorang yang hebat. Dia bahkan terkenal di seluruh dunia. Namanya di kenal di kerajaan bisnis, dan dia pun orang terkaya bukan di kota, bahkan di negara ini!" Teriak si wanita.
"Oh, jadi menurutmu, kamu berarti buat si tuan muda dan dia bisa menebusmu dengan harga yang di tawarkan bos kami?" Tanya si penculik.
Wanita itu mengangguk mengiyakannya. "Kau bisa menghubungi perusahaannya dan meminta tebusan untukku. Silahkan coba saja!"
Kelimanya saling pandang, kemudian salah satunya mengangguk dan mengeluarkan ponsel.
__ADS_1
"Berapa nomor telponnya?" Tanya pria itu.
Wanita itu pun menyebutkan angka-angka yang langsung di tekan oleh si penculik yang kemudian melakukan panggilan langsung ke nomor telpon perusahaan Diamond Emperor Grup.
"Hallo selamat sore. DEG di sini. Apa ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita yang di yakini sekretaris dari perusahaan itu.
"Hallo, nona. Apa saya bisa berbicara dengan tuan muda Zidane Prasetyo?" Tanya si pria penculik.
"Oh maaf tuan. Tuan muda sedang pergi ke luar negri bersama istrinya." Jawab sekretaris. "Apa ada sesuatu yang penting? Mungkin setelah tuan muda kembali, saya akan menyampaikan pesan anda!" Lanjutnya.
"Emm, begini nona. Seorang wanita bernama Avril Restidiningrat mengaku bahwa tuan muda mengenalinya. Kami menculiknya dan dia menawarkan kami untuk meminta tebusan atas dirinya kepada tuan muda. Jadi, apakah kalian bisa memberikan sejumlah uang yang kami minta?" Tanya si penculik terang-terangan.
Dahi sekretaris Zidane mengerut. Ia merasa tak mengenal nama wanita yang di sebutkan tadi.
"Maaf tuan. Kami tidak mengenal wanita itu. Nona muda kami bernama nyonya Sherly, dan adik tuan muda bernama nyonya Andin. Untuk nama itu, mohon maaf sekali lagi. Kami tidak mengenalinya!" Jelas sekretaris.
Mendengar perkataan sekretaris Zidane di telpon, Avril pun berusaha berbicara dan membela dirinya. Karena panggilan itu di loudspeaker, Avril pun bisa mendengar dengan jelas.
"Jeni. Apa kau tak ingat kepadaku? Aku kekasih tuan mudamu." Teriaknya.
Sang sekretaris mengerutkan dahinya. "Maaf nona. Nama saya memang benar Jeni. Tapi, saya tak mengenali anda. Jangan mengaku-ngaku bahwa kamu kekasih tuan muda. Karena, tuan muda dan nona muda menikah sudah lama. Saya mengikuti tuan muda sudah sepuluh tahun lebih, dan saya betul-betul tak mengenali anda." Jelasnya.
"Tolong jangan membuat gosip yang tidak-tidak dengan bilang bahw anda kekasihnya tuan muda. Kesalah pahaman bisa menimbulkan masalah besar dan keretakan rumah tangga mereka. Maaf tuan, saya tak akan terpengaruh dengan penipu seperti kalian. Selamat sore."
Avril berteriak memanggil kembali nama sekretaris Zidane itu. "Jeni ... Jeni ... kamu memang tak mengenalku, tapi aku mengenalmu. Aku yang sering datang ke perusahaan Zidane dulu. Apa kau tak ingat?"
Kelima pria itu melirik Avril dengan sengit. Apa wanita itu benar-benar seseorang yang penting buat si tuan muda?
"Berhenti berteriak, wanita jal*ng. Kau mengaku-ngaku kekasih tuan muda padahal kau hanya fans beratnya saja. Kau mengaguminya, sedangkan dia tak memandangmu sama sekali. Dasar wanita tak tahu diri."
"Kau berani membohongi kami dengan mengiming-imingi bayaran yang lebih. Kau mengulur waktu supaya kami bisa melepaskanmu? Huuh, jangan harap!" Ucap si penculik tegas.
"Ayo kawan. Beri dia pelajaran yang membuat wanita cantik ini jera. Mungkin dia wanita penggoda suami orang, sampai dia mengaku-ngaku kekasih orang kaya."
Kelima pria itu maju dan mulai menyentuh tubuh molek Avril.
Otomatis, Avril pun berteriak dan meronta ingin melepaskan diri karena merasa jijik.
"Tidak. Jangan sentuh aku. Tolong jangan sentuh aku!" Isak tangis terdengar saat pria-pria itu merobek pakaiannya dan berusaha melecehkannya.
"Nona cantik. Salahkan nasib sialmu dan wanita yang menjadi istri kekasihmu. Dialah penyebab kesengsaraanmu!"
Dengan bringasnya mereka melakukan pelecehan kepada Avril seperti singa kelaparan. Dan Avril pun tak bisa melawan kekuatan lima pria besar tersebut.
Uraian air matanya tak menghalangi niat kelima pria yang haus akan kenikmatan duniawi.
__ADS_1
Setelah aksinya, kelima pria itu pun beranjak meninggalkan wanita malang yang tergeletak lemah di lantai berdebu gedung tua.
Sepeninggalan si penculik, Avril berusaha bangkit dengan tertatih.
Tubuhnya yang tak memakai sehelai benangpun, tampak kotor bercampur debu dan air yang menjijikan bekas kelima pria penculiknya.
Siapa dalang di balik penculikannya? Siapa yang harus bertanggung jawab dengan nasib sialnya? Siapa yang harus di salahkan dan di balaskan dendam olehnya?
Tangan Avril terkepal dan hatinya pun bertekad dengan kuat.
"Aku akan membalaskan dendamku padamu, Sherly. Benar kata mereka, jika yang harus bertanggung jawab dengan apa yang menimpa diriku itu adalah kamu. Sherly Grisheld Prayoga."
Langkah kaki Avril mengarah ke lantai dua gedung tua tersebut. Tanpa busana, ia tetap berjalan melangkahkan kakinya dan berhenti di sebuah jendela yang terbuka dan rusak.
Ia menangis sejadi-jadinya mengingat apa yang terjadi kepadanya beberapa waktu lalu. Tangannya terus menggosok-gosokkan tubuh yang di sentuh oleh kelima pria penculiknya.
"Aku tak rela. Andaikan Zidane yang menyentuhku, aku akan dengan suka rela memberikannya. Tapi ...!" Avril pun menangis kembali.
"Hiks ... hiks ... huhuhuuu. Zidane ... Aku akan tetap mencintaimu selamanya. Aku akan menunggumu di syurga!"
Kakinya menaiki jendela lantai dua yang terbuka lebar.
"Sherly ... kau akan mati di tanganku. Tunggu pembalasanku!"
Teriaknya sebelum akhirnya ia mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari lantai dua.
"Aaaaahhhhh."
Brukkk
Tubuhnya terjatuh dan darahpun keluar setelah membentur bebatuan di bawahnya.
Ilalang yang tumbuh tinggi di sekitaran gedung tua tersebut, menutupi jasadnya dan menghalangi orang untuk menemukannya.
Jasad Avril di temukan warga sekitar setelah dua hari berikutnya. Bau busuk yang menyeruak membuat warga bisa mengendus kematian Avril.
Akhirnya, mayat Avril di bawa ke RSCM untuk di lakukan autopsi dan menguak kematiannya.
Sedih rasanya menjadi Avril. Keinginannya menjadi istri seorang Zidane, kini harus kandas sudah.
Ia pun mati dengan tragis dan mendapatkan perlakuan yang tidak senonoh dari penculiknya.
Sungguh malang bukan? Tapi, itulah nasibnya. Apapun yang di lakukannya semasa hidup, mungkin itulah yang akan di terimanya kelak nanti.
Jika berkenan, tolong maafkanlah wanita seperti Avril itu. Walaupun ia jahat, tapi kematiannya sangat mengenaskan dan sungguh kasihan.
__ADS_1