Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe 2


__ADS_3

pekerjaan di kantor seakan tidak ada habisnya. Berkas-berkas di meja Zidane terus mnumpuk bagaikan gunung setiap hari.


Sudah satu bulan mereka melakukan kerja lembur, tapi pekerjaan melelahkan itu seperti enggan untuk terselesaikan.


Ada-ada saja masalah dari pihak pemasar, atau pihak konsumen yang tak puas akan rancangan yang di keluarkan DIAMOND EMPEROR GRUP kali ini.


Mereka seperti sengaja di buat tak puas oleh sebuah oknum nakal yang mengerjai perusahaan itu. Mungkin juga adalah lawan bisnis mereka di internasional.


Titik terang mulai terungkap. Zidane menemukan oknum-oknum nakal yang mempermainkan pasar internasional yang mengelola barang distribusi yang di keluarkan perusahaannya.


Malam ini malam terakhir untuk mereka kerja lembur, bukan malam terakhir untuk mencurahkan rasa rindu di dada. Esok mereka kita akan berjumpa di saat bahagia, di malam pesta kemenangan perusahaan. Itu janji Zidane kepada seluruh karyawannya.


"Ndra, Joan, ayo kita selesaikan ini semua. Aku yakin, dengan ini kita bisa mengalahkan mereka dan memenangkan pertarungan ini!" Kata Zidane yakin.


Keduanya mengangguk pasti. "Hemm. Kita juga yakin semua yang kita lakukan tak akan mengecewakan. Hasil tidak akan mengecewakan usaha, bukan!"


"Benar. Aku ingin tahu setelah ini siapa yang berani melawan perusahaan besarku. Jika masih ada yang berani bermain nakal, kita telan habis mereka." Ucap Zidane lantang.


"Joan, kamu persiapkan segalanya yang di butuhkan kita saat mereka tertangkap!" Joan pun mengangguk sambil memberi hormat. "Siap!"


"Indra, kamu persiapkan bazar di kota-kota terdekat. Biarkan mereka tahu produk yang kita keluarkan ini berbeda dengan produk dari perusahaan lain. Walaupun itu perusahaan mertuaku, Grisheld Grup." Indra pun melakukan hal yang sama seperti Joan.


Kenapa Indra bisa bekerja di perusahaan Zidane? Itu karena Zidane memintanya untuk bergabung dalam bisnis keluarganya.


Zidane ingin Indra belajar mengelola perusahaan karena dia ingin memberikan cabang perusahaan yang ada di negara lain untuk di kelola Indra.


Indra sudah menjadi bagian keluarga Prasetyo setelah dirinya menikah dengan Andin Prasetyo. Adik sepupu Zidane.


Walaupun sifat Zidane yang dingin, angkuh, dan sombong. Namun Zidane tetap memperhatikan semua keluarganya, termasuk mensukseskan mereka.


Begitu juga dengan dokter Steven Riandi dan keluarga barunya.


Zidane sangat senang membully Rian untuk hal apapun. Tapi, di balik tingkahnya yang membuat Rian selalu kesal, Zidane membantu kesuksesan Rian dengan cara membangunkan sebuah rumah sakit beratas namakan Rian sendiri.


Kasih sayang Zidane tak pernah di tunjukan langsung. Karena, dia tak mau di sanjung atau di puja hanya karena sebuah kekayaan.


Zidane ingin di hormati semua orang termasuk keluarganya dengan apa adanya.


"Haaaa, kelar juga akhirnya." Indra dan Joan meregangkan tangan secara bersamaan.


Mereka senang karena semuanya sudah selesai di kerjakan.


"Udah jam sebelas malam. Yuk, pulang!" Ajak Zidane kepada keduanya.


"Baik!" Keduanya mengikuti Zidane untuk keluar ruangan sang bos itu.


Ketiganya menuju parkiran untuk mengambil kendaraan masing-masing.


"Berkendaralah dengan hati-hati. Besok kalian harus masih menyelesaikan tugas akhir!" Kata Zidane.


"Siap, bos!" Keduanya memberi hormat.


Sebelum masuk kedalam mobilnya, Zidane sempat memanggil Joan untuk memberikan sesuatu.


"Joan!"


Pemilik nama langsung menoleh dan berdiri tegap di hadapan sang bos.

__ADS_1


"Berikan ini kepada istri dan anakmu. Ini oleh-oleh dari istriku. Aku lupa untuk memberikannya padamu!" Sebuah papper bag di serahkan kepada asistennya itu.


"Apa ini, bos?" Tanya Joan penasaran.


"Buka saja nanti setelah di rumah."


Zidane langsung menyalakan mesin mobilnya.


"Eh, Indra gak di kasih bos!" Joan melirik Indra yang hanya diam melihat ke arahnya.


"Tidak! Dia tak perlu hadiah apapun. Semua barang sudah dia miliki."


Joan menjadi tak enak kepada Indra. Namun sebaliknya, Indra hanya tersenyum menanggapi perkataan Zidane.


"Ya, gue memang memiliki segala barang mewah. Itu semua pemberianmu kan, kakak ipar!"


Zidane melirik sekilas mendengar suara hati Indra. Di lemparkannya sebuah papper bag yang sama kepada Indra.


"Pulanglah. Berikan bingkisan ini kepada Andin dan Andra. Mereka pasti senang!"


Tanpa menunggu perkataan Indra, mobil Zidane sudah meluncur keluar parkiran.


"Astagfirullah, kakak ipar gue!"


Indra menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sedangkan Joan hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Sabar ya, Ndra. Dia memang seperti itu. Kalau kamu igin tahu, Rian lebih menyedihkan nasibnya dibandingkan sama kamu!" Ucap Joan terkekeh sambil menepuk bahu Indra.


"Kamu bener, Ndra. Rian sampe pusing di buatnya. Hahaha!"


Mereka tertawa menceritakan kesialan Rian yang selalu di bully oleh Zidane. Tapi, mereka sangat mengagumi sosok Zidane, karena dia sangat baik dan perduli kepada mereka semua.


¤¤¤


Mobil Zidane melaju di jalan beraspal. Awalnya tak ada yang aneh, namun di tengah jalan mobilnya berhenti mendadak.


Pepohonan rindang di pinggir jalan besar itu seakan bergerak sendiri. Jika itu bukan Zidane, mungkin dia akan ketakutan.


Tapi, Zidane bersikap biasa saja karena hal itu sudah biasa untuknya.


"Jangan mengganggu perjalananku! Jika kalian masih tetap mengganggu, aku tak yakin untuk bersikap baik kepada kalian!"


Mesin mobil pun menyala kembali dan Zidane langsung pergi dari tempat itu.


Namun ada yang Zidane tak sadari, sesosok hantu wanita melayang mengikuti kemana arah dirinya pulang.


Hantu wanita itu kagum dengan keberanian si pria tampan. Dia ingin berbincang-bincang dengan si tampan.


"Sudah tampan, dia berani. Iihh, aku penasaran kepadanya!"


Hantu wanita itu terus melayang mengikuti mobil Zidane sampai memasuki gerbang rumah besar.


Melihat si tampan di sambut oleh seorang wanita cantik yang membukakan pintu, hantu wanita itu cemberut dan merasa kesal.


"Ternyata dia punya istri cantik. Aku jadi iri deh sama wanita itu!"

__ADS_1


Dia langsung melayang ke lantai atas melewati balkon.


Hantu wanita itu mencari kamar si tampan yang membuatnya terpesona.


Walaupun sudah tak muda lagi, tapi pesona Zidane tetap terpancar menarik perhatian semua kaum hawa. Meski itu hantu sekalipun.


Sherly sudah tak merasa aneh dengan suaminya. Memang dia tahu banget jika suaminya itu memiliki aura ketampanan yang bisa menarik semua wanita.


Dengan hati-hati, hantu wanita itu menyelinap dan duduk di jendela kamar Sherly.


Dia memperhatikan semua yang di lakukan pasangan suami istri itu dengan seksama. Sampai kejadian yang membuat dia tertawa dan akhirnya ketahuan oleh pemilik rumah.


▪▪▪▪


"Jadi, untuk apa kamu mengikutiku sampai kemari?" Sikap dingin Zidane membuatnya membeku seketika.


Hantu wanita itu menjadi takut melihat tatapan tajam Zidane.


"A-aku hanya kagum kepadamu saja, mas!" Sherly melotot mendengar panggilan yang begitu mesra dari si hantu.


"Woi, panggil dia tuan dan gue nyonya!" Ucap kesal Sherly.


"Kenapa aku harus panggil tuan? Dia kan gak beda jauh usianya denganku. Lagipula, dia gak keberatan kan!" Lirikan mata si hantu tertuju kepada Zidane.


"Gak usah lirik-lirik! Dia milik gue, bukan milik bersama." Ketus Sherly lagi.


"Yaelah, lirik dikit kagak boleh. Dasar pelit!" Rajuk si hantu.


Sebelum Sherly menyambar lagi karena kesal dengan omongan si hantu, dengan cepat Zidane melerainya.


"Nama kamu siapa, dan ada perlu apa mengikutiku kemari?"


Suara lembut walaupun dingin itu terdengar merdu di telinga si hantu wanita. Bagaikan angin sepoi yang meniup ke arah wajahnya, dia senyum-senyum membayangkan jika dia dan pria tampan ini sedang berada di taman bunga main perosotan.


...Cih, berlebihan...


Karena tak di jawab, Zidane pun kesal sampai membentaknya.


"Kalau gak mau jawab ya sudah, pergi sana!" Usir Zidane.


Seketika lamunannya terbuyarkan. Taman bunga yang di bayangkan si hantu, berubah jadi taman duri yang seketika menusuk bokongnya saat main perosotan. Ishhh ...


Rasain lu, pake ngelamun segala.


Karena takut di usir si tampan, dengan cepat dan tanpa jeda si hantu menjawab. "Namaku Laila, umurku empat puluh lima tahun, dan aku tinggal di pohon beringin jalan mawar deket gang bengkok. Aku kesini sengaja ngikutin kamu untuk meminta bantuanmu. Bisa, kan?"


Sherly dan Zidane hanya melongo mendengar ucapan si hantu yang seperti kereta patas.


"Kenapa? Terpesona ya sama kecantikan aku. Kalian tak menyangka kan jika usiaku masih muda?" Ucapnya bangga.


Sombong sekali. Usia empat puluh lima di bilang muda, gimana sama otor yang masih abegehhh. Hihihiii


"Cih, terpesona katanya! Aku cuma heran sama mulutmu. Apa mungkin di dalamnya ada kereta jurusan surabaya? Cepet banget ngomongnya!"


Si hantu Laila hanya nyengir memperlihatkan giginya yang sudah menghitam seperti habis makan arang dari pembakaran sate.


Apa mungkin dia malakin tukang sate seperti miskun di film-film, namun dia hanya mengambil arangnya saja bukan satenya? Heheheee.

__ADS_1


__ADS_2