
Seorang wanita paruh baya sedang duduk di teras rumahnya. Dia terus menatap ke arah gerbang seperti menunggu kedatangan seseorang.
Tatapannya yang kosong seakan tak ada semangat hidup di dirinya untuk dapat bangkit dan bergairah lagi.
Tepukkan di bahunya bahkan tak ia toleh sedikitpun.
"Mom, masuk yuk! Hari sudah senja." Suaminya mengajak untuk masuk ke dalam rumah.
Namun, ia seolah tak terpengaruh dengan ajakan suaminya itu.
Awalnya, dia biasa saja. Tapi, setelah ia mendengar kabar mengejutkan dari putra sulungnya, ia pun menjadi seperti ini.
"Dad, Sherly dan Zidane tak pergi ke Paris. Mereka mengalihkan semua aset miliknya ke tanganku. Entah sekarang mereka dimana, aku juga gak tahu?" Kata-kata Aldrian saat memberi kabar tentang putri tercinta dan menantunya.
"Mungkin mereka melakukannya dengan suatu tujuan, Al. Kita tidak boleh beritahu mommy kalau mereka ti ...!"
"Jadi, dimana Sherly dan Zidane sekarang?" Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Mommy!"
"Kalian berencana akan menyembunyikan ini dari mommy? Tega sekali kalian ini." Suaranya bergetar.
"Dia putri dan menantu mommy. Apa mommy tidak berhak mengetahui keberadaan mereka?" Lanjutnya dengan menahan tangis.
"Tidak, mommy. Kami hanya ...!"
"Hehh. Jika mommy tak kesini, mungkin mommy gak akan pernah tahu tentang mereka. Daddy dan kamu sama saja, tidak mengerti perasaan mommy."
"Mom ... mommy." Teriakan keduanya tak di hiraukan.
Nyonya Fransisca pergi dengan terburu-buru meninggalkan ruangan presdir dan keluar dari gedung pencakar langit yang bertuliskan Grisheld Grup.
"Ya tuhan. Al, gimana ini? Kejar mommy mu sana dan jelaskan padanya. Daddy ada rapat sekarang!" Perintah tuan Hadi.
"Lho kok aku, dad? Kenapa bukan daddy saja yang mengejar mommy dan menjelaskan apa maksud dari ucapan daddy barusan. Biar aku yang menggantikan daddy rapat bersama dewan direksi." Aldrian tak mau kalah.
"Ish kau ini. Dia hanya mendengar ucapan manismu, Al. Sedangkan sama daddy, mommy sekarang gampang tersinggung." Ujar tuan Hadi lagi.
"Hemh, daddy ini. Ya sudah, aku pergi." Aldrian berlalu dengan sedikit berlari keluar ruangannya.
Tampak dari kejauhan sang ibu negara sedang mencari taksi. Putra sulungnya pun mengejar dan menarik pelan tangan si mommy.
"Mom, maafin Al sama daddy ya. Bukan maksud kami untuk menyembunyikan itu dari mommy. Kami hanya ingin mommy tak banyak fikiran, cuma itu saja. Please, mom!" Bujuk Aldrian dengan menggenggam erat tangan si mommy.
Sang mommy tampak cuek dan tak mau mendengar ucapan putra sulungnya. Dia bersikeras untuk menghentikan taksi yang lewat.
"Mommy tak mau mendengarkan ucapan Al?" Mommy tetap tak berbalik dan menatap putranya.
"Baiklah, terserah mommy saja. Aku tak kan bilang kepada mommy apa yang di pesankan Zidane untuk kita." Ia pun berbalik dan melangkah pergi.
Nyonya Fransisca kemudian menoleh ke arah putranya mendengar perkataannya tadi bahwa ada pesan dari menantunya.
"Kak, tunggu! Apa pesan yang Zidane katakan?" Bibir Aldrian menyunggingkan senyum karena bisa memancing mommy nya.
Sejujurnya, Zidane tak mengatakan apapun kecuali memindahkan semua aset perusahan DEG(Diamond Emperor Grup)nya kepada Aldrian.
Al hanya berbohong supaya mommy mau mengerti dan tak berpikiran yang tidak-tidak.
"Maafkan aku mommy, aku terpaksa berbohong." Batin Al dengan berbalik menatap mommy.
"Aku akan mengantarkan mommy pulang. Kita bicarakan di rumah saja. Mommy butuh istirahat, bukan?" Bujuk Aldrian lagi.
"Baiklah." Ucap nyonya Fransisca pasrah.
Keduanya pun masuk kedalam mobil dan pulang ke kediaman Grisheld.
Sesampainya di rumah, Al menceritakan bahwa Sherly dan Zidane berpesan bahwa mereka ingin pergi ke suatu tempat dan hanya mereka berdua saja tanpa di ketahui siapapun.
Al juga memberi pengertian bahwa Zidane saat ini sedang mengobati Sherly yang sering berubah menjadi makhluk buas dan itu harus dilakukan tanpa di ketahui orang lain.
"Mereka akan kembali setelah beberapa waktu, mom. Percaya sama Al, mereka hanya menginginkan itu. Bukan untuk menghindar dari kita." Jelas Aldrian mengakhiri ceritanya.
Nyonya Fransisca mengangguk mengerti akan perkataan putranya.
__ADS_1
"Baiklah, mommy percaya sama kamu Al." Ucap sang ibu negara.
Hari demi hari, minggu ke minggu, bulan bertemu bulan, bahkan kini sudah setahun. Namun, tak ada kabar dari putri tercintaya.
"Apa yang dikatakan Al itu bohong? Kenapa sampai sekarang mereka tak kembali?" Perasaan cemas menghinggapi sang mommy.
Walaupun Sherly sudah memiliki suami dan dia sudah menjadi tanggung jawab suaminya, namanya seorang ibu pasti batinnya sedih dan sangat merindukan putrinya.
Setiap hari di teras rumah besar ini, nyonya Fransisca hanya menunggu kepulangan putri dan menantunya. Berharap mereka datang dan memeluk tubuhnya seperti dulu saat bersama.
Sampai kini, perasaan mommy sangat hancur setelah ada kabar dari orang suruhannya yang menyelidiki keberadaan putri dan menantunya diam-diam. Keduanya tak ditemukan dimanapun dan itu membuat jiwa mommy terguncang.
"Sherly ... Sherly." Dia terus memanggil nama putrinya dengan berteriak histeris.
Tuan Hadi merasa bersalah karena menyembunyikan kabar ini dari istrinya. "Kenapa waktu itu kita tak mengatakan sejujurnya saja kepada mommy?" Ucapnya dalam hati.
βͺβͺβͺβͺ
"Mommy!" Sherly bangun dari tidurnya dengan berteriak.
Keringat membasahi seluruh tubuhnya dan perasaannya gelisah.
Zidane berlari menghampiri istrinya yang tertidur di sofa ruang tengah.
"Ada apa sayang? Kenapa kau berteriak?" Tangannya mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"King ice, mommy memanggilku. Mommy sepertinya sangat merindukanku." Ucapnya dengan nada gelisah.
Zidane mengerti akan perasaan istrinya. Ia langsung memeluk dengan mengelus kepalanya.
"Mommy pasti merindukanmu, sayang. Tapi, kita tak bisa kembali untuk sekarang. Hendri bisa saja muncul di sana kalau mengetahui kita pulang. Jadi, kamu harus bersabar ya?" Tutur Zidane lembut memberi pengertian pada istrinya.
"Tapi ...!"
"Machan ku sayang, dengarkan aku! Aku hanya ingin menjauhkanmu dari kejahatan pamanku yang ingin memanfaatkan kekuatanmu, sayang. Jadi selama aku bernafas, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi bahaya sedikitpun."
Sherly menatap haru wajah suami tampannya. Begitu besar cinta dan kasih sayang di mata Zidane untuk istrinya sehingga ia tak mau jika Sherly mengalami kejadian buruk lagi.
Jika ini terjadi lagi, sulit untuk menghentikan amarah yang akan keluar dari makhluk ghaib yang ada dalam diri Sherly.
"Kemana dua hantu genit itu? Sudah tiga hari mereka tak terlihat dirumah?" Zidane mengalihkan pembicaraannya.
"Aku juga tidak tahu. Sejak kejadian itu, mereka tak mau muncul disini. Apa mereka takut kamu marahi?" Kata Sherly terkekeh.
"Kenapa mereka takut aku marah?Memangnya aku ini tukang marah?" Zidane bertanya dengan merengek.
Sherly tergelak melihat ekspresi wajah suaminya. "Kau ini kan dari dulu galak, sayang. Hahaha!"
"Oh ya? Apa aku ini galak? Bukankah yang galak itu kamu sampai Nania menamaimu si galak, heh?" Tangan Zidane menyentuh tubuh Sherly dan meggelitiknya.
"Ampun, aku gak akan bilang lagi kamu galak, oke! Hahaha ... sudah dong, hahaha." Ia meronta melepaskan diri namun tak sedikitpun Zidane melepaskannya.
Dia mempererat dengan memeluk tubuh istrinya sambil menyilangkan kaki supaya istrinya tak bisa kabur.
"Sudah dong, aku geli." Rengek Sherly dengan air mata yang meleleh karena terus tertawa.
"Sudah menyerah?" Sherly mengangguk dengan pertanyaan suaminya.
"Ayo kita mandi, biar fresh!" Ajak Zidane sambil menarik tangan istrinya supaya bangun dari sofa.
"Ah, aku malas. Nanti saja mandinya." Ucapnya.
"No no no! Kita mandi sekarang juga mumpung masih siang. Tak baik sering mandi malam, sayang. Ayo lah!" Tangannya terus menarik tangan Sherly supaya bangun namun istrinya malah sengaja tak mau bangun.
"Owh, kau tak memberiku pilihan sayang!" Zidane langsung menindih tubuh istrinya berharap istrinya mau bangkit.
Sherly sepertinya sangat malas sampai dia tak mau menanggapi apapun yang dilakukan suaminya.
Zidane mencium bibir Sherly dan membuka bajunya. Ia berharap Sherly akan protes dan bangun untuk bergegas mandi.
Lagi-lagi Sherly malah sengaja memeluk tubuh suaminya seperti menginginkannya.
Ada apa dengannya? Tumben dia gak protes dengan candaanku ini?
__ADS_1
"Apa kamu menginginkannya?" Sherly mengangguk dengan pertanyaan suaminya.
"Kita lakukan dikamar saja ya?" Lagi-lagi dia mengangguk.
Zidane membopong tubuh istrinya kekamar dan menutup kembali pintunya setelah masuk ke dalam.
Pertempuran melelahkan mereka terjadi di sore itu juga. Sampai keduanya kelelahan dan tergeletak lemas tak berdaya.
"Aku mencintaimu, sayang!" Di kecupnya kening Sherly dengan lembut.
"Semoga ini membuahkan hasil ya sayang?" Perut Sherly di elus oleh tangan Zidane.
Tiba-tiba saja, Sherly berlari ke kamar mandi saat tangan Zidane mengelus perutnya.
Tanpa menghiraukan apapun, dia berlari karena tak tahan dengan rasa yang aneh dari dalam perutnya.
Zidane yang melihat istrinya berlari dengan tubuh polosnya terheran. "Sayang, kamu kenapa?"
"Uweeeekk." Sherly memuntahkan isi perutnya.
Rasanya seperti di aduk-aduk dan membuatnya lemas.
"Ya tuhan, apa yang terjadi padaku? Kenapa ini sangat tak nyaman dan rasanya kepalaku sangat pusing?" Wajahnya terlihat pucat di pantulan cermin kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Zidane bertanya dengan mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya, aku gak apa-apa. Jangan khawatir!" Jawab Sherly masih dari dalam kamar mandi.
"Ya sudah, cepat buka pintunya. Kita mandi bareng ya? Sudah mau maghrib ini dan aku harus ke mesjid."
Sherly berusaha menahan rasa itu dan ia membuka pintu untuk suaminya supaya bisa mandi.
"Kamu gak Apa-apa, kan?" Sherly mengangguk.
"Lalu, kenapa kamu berlari seperti itu dan tadi aku denger kamu muntah. Apa kamu sakit, hem?" Sherly menggelengkan kepalanya kali ini.
Dia tak mau membuat Zidane khawatir dengan keadaannya.
"Ya sudah, ayo mandi! Aku janji hanya mandi saja. Karena ini sudah mau adzan maghrib." Kata Zidane.
Mereka benar-benar mandi bareng tanpa melakukan aksi apapun karena waktu sudah menunjukan waktu menjelang maghrib.
Zidane tak memaksakan keyakinan kepada istrinya. Ia tak mau Sherly terpaksa berpindah keyakinan karena paksaan.
Seperti ayah mertuanya yang bersikap kepada ibu mertua yang berbeda keyakinan. Seperti itu lah Zidane memperlakukan Sherly.
"Aku ke mesjid dulu ya, sayang?" Ucap Zidane mengulurkan tangan untuk di cium punggung tangannya oleh Sherly.
Sherly langsung mencium punggung tangan suaminya sambil berkata. "Hati-hati!"
Zidane berangkat ke mesjid saat mendengar adzan maghrib berkumandang.
Sedangkan Sherly hanya menatap kepergian suaminya dengan tersenyum.
"Dia sangat tampan memakai baju koko serta sarung yang melingkar di pinggang dan peci di kepalanya."
**Bersambung ....
Author menyapa:
Hai para readers, apa kalian sudah mengupgrade NT/MT nya? kalau belum, ayo upgrade ke versi baru ya supaya dukungan kalian terbaca sistem!
Berikan aku bunga atau secangkir kopi, dan kalau boleh hati juga aku gak nolah.ππ
Bagi para readers, tolong banget biasakan like jika sudah membaca ceritanya ya.
Kami para author berusaha sebaik mungkin mempersembahkan cerita yang menarik untuk semuanya. Terkadang, belain bergadang di waktu malam supaya membuat alur cerita yang tidak berantakan. Jika mood baik, update bisa 2 episode.
Untuk itu, tolong dukungannya supaya otor lebih semangat menulis.
Terima kasih yang selalu mendukungku.
__ADS_1
Salam manis dari otor yang manisnya tanpa bahan pemanis buatan.ππππ**