
Sebulan sudah pernikahan pasangan si Machan dan King ice. Mereka tinggal di rumah kediaman Zidane di kawasan elit.
Rumah bertingkat dengan nuansa coklat dan kalem menjadi hunian mereka. Halaman yang tidak terlalu luas dan belum di pasang pagar besi. karena, rumah ini masih terbilang baru. Jadi, rumah ini bisa di bilang belum selesai.
"Sayang, ayo cepat! Katanya mau lari pagi." Zidane membangunkan Sherly dengan mengusap pipi istrinya.
"Emmhh, aku masih ngantuk. Sebentar lagi deh!" Suara serak ciri khas bangun tidur terdengar.
"Come on, baby. Nanti kita kesiangan." Si tampan terus menggoyangkan tubuh sang istri membuatnya mendengus kesal.
"Ish, kamu itu mengganggu terus. Kesel deh!" Dengan malas, Sherly bangun dan duduk di atas kasur masih dengan memejamkan matanya.
Zidane yang melihat tingkah istrinya itu menjadi tersenyum. "Hei Machan, mau bangun atau aku melahapmu lagi, hehh?"
Bisikan di telinga Sherly membuat dia sontak membuka matanya. "Aku bangun, oke!" Ia pun berlari kedalam kamar mandi dengan menggulung selimut di tubuhnya.
Zidane tergelak. "Kenapa memakai selimut, sayang? Cuma aku di kamar ini yang melihat tubuhmu." Teriak Zidane.
"Berisik, lu." Ketus Sherly dari dalam kamar mandi.
"Melahap gue pagi-pagi gini. Dari semalam saja gue dibikin gempor, sekarang udah pengen lagi. Dasar king ice. Gak tahu apa kalau gue kelelahan. Huuuch!" Gerutuan Sherly hanya di tanggapi senyuman Zidane.
"Cepatlah sayang, jangan menggerutu terus. Nanti kesiangan." Ujar Zidane dengan mengetuk pintu kamar mandi.
Sherly keluar dengan jubah mandinya. "Iya ... iya, sabar napa pap. Aku juga udah mandi singkat ini."
"Kok pake ini sih? Biasanya kan pake handuk pendek itu!" Tunjuk Zidane ke arah jemuran handuk. "Aku jadi gak bisa ...,?" Ucapnya dengan nada menggoda.
"Woi, masih pagi. Gak usah pikiran mesum. Katanya mau lari?" Kata Sherly sambil memilih baju di lemari.
"Bentaran doang kan bisa, honey." Bujuk Zidane.
"Idih, kamu itu kenapa sih sekarang jadi kek gitu. Ngeri aku lihatnya. Mending kaya dulu aja, dingin dingin sangar." Cibir Sherly kepada suaminya.
"Kenapa?kamu gak suka?" Zidane bertanya sambil menyilangkan tangan di dada.
Sherly yang melihat suaminya dengan mode on garang pun menjadi kikuk. "Ah sayang, kita bahas itu nanti saja ya. Aku kan cape semalaman melayanimu terus, kita sekarang olah raga dulu, oke!" Di kecupnya kedua pipi Zidane oleh istrinya.
Zidane tersenyum kecil namun tak ia tampakan di depan istrinya. Ia sengaja pura-pura marah dan berlalu begitu saja.
"Sayang, aku janji nanti malam aku yang mulai deh!" Perkataan istrinya membuat ia senang dalam hati.
Namun ia terus bersikap cuek. "Cepetan, aku tunggu di bawah!" Ia pun berlalu keluar kamar dan menutup pintunya.
"Haish, kenapa si king ice jadi ambekan ya?" Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sementara Zidane tersenyum puas dengan ucapan istrinya. "Awas kalau bohong. Habis kamu." Di langkahkan kakinya menuruni tangga menuju ke arah luar.
Ia pun melakukan pemanasan terlebih dahulu sambil menunggu istrinya.
Tak lama kemudian Sherly turun dengan baju santai.
Zidane menatap heran ke arah istrinya. "Hei neng, kita mau lari, bukan jalan-jalan!"
"Kenapa?suka-suka aku dong!" Sherly cuek sambil melangkah ke garasi.
"Naik mobil apa motor?" Dia menoleh ke arah suaminya.
"Jalan kaki." Singkat jawaban Zidane.
"Lho kok, emang kita larinya dari sini. Gak di taman aja gitu?" Tanya Sherly yang di jawab dengan gelengan kepala suaminya.
"Cih, menyebalkan. Kan cape tahu harus jalan dari sini ke taman." Ia cemberut
"Siapa bilang jalan sampai sana? Orang kita larinya muterin komplek perumahan saja. Dari komplek A sini muter ke belang sampai komplek D aja. Biar kamu gak terlalu cape." Penuturan Zidane membuat mata istrinya terbelalak.
"Gila ... dari komplek A ke B aja udah jauh, ini harus ke D. Ya ampun, gempor aku, pap." Sherly menggerutu kesal.
"Biar melatih daya tahan tubuh kamu, honey." Zidane terkekeh.
"Eh, bentar deh! Dari tadi aku dengar kamu panggil aku, pap? Panggilan baru apalagi itu?" Tanya nya penasaran.
"Papa!" Jawab Sherly singkat.
Zidane langsung tersenyum mendengar panggilan barunya itu. "Ekhem, kamu sudah siap kalau kita punya anak?"
"Ya harus siap dong. Kita kan sudah menikah, masa iya gak bakal siap kalau punya anak!" Jawaban yang membuat suaminya girang.
"Aaaah, karena aku senang pagi ini. Kita jalan-jalan saja deh. Terserah nyonya Zidane mau kemana. Tuan Zidane akan mengikuti semua keinginan nyonya." Melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
Sherly menjadi bersemangat. "Yes, ini yang gue mau. Hehehee,"
"Oke, let's go!" Di tarik tangan suami tampannya itu menuju ke arah jalanan.
Zidane mengikutinya tanpa berkata apapun. Dia tersenyum dengan tingkah sang istri. Mereka terus berjalan di pinggiran jalan.
Setelah berjalan agak lama, Sherly pun kecapean dan mengeluh sepenjang jalan.
"Berhenti dulu napa, aku cape." Berkata pada suaminya yang langsung menengok ke arahnya.
Zidane pun jongkok sambil menatap istrinya. "Mau aku gendong?" Pertanyaannya di sambut dengan gelengan kepala.
__ADS_1
Sherly pu berjalan lagi dan mendahului suaminya. "Gue yang ngajakin dia jalan-jalan, masa gue yang nyerah."
Zidane terus mendengarkan suara hati istrinya itu.
Diam-diam ia mengabadikan gambar istrinya di ponsel miliknya.
"Hei, kamu memotretku ya? Dasar nitizen, gak tahu orang lagi ngapain saja mesti di fhoto." Berkata sambil bertolak pinggang.
"Aku suka, makanya aku fhoto." Jawab Zidane.
Sherly tak perduli dengan perkataan suaminya. Ia terus melangkahkan kakinya.
Mereka terus berjalan meyusuri jalan raya melewati kedai-kedai yang ada di pinggiran.
"Sayang, aku mau beli ini ya?" Menunjukan buah konyal yang ada di kedai buah-buahan.
Zidane merasa aneh. "Memang kamu suka ini? Memangnya kamu tahu ini buah dalamnya kaya apa?" Zidane terus bertanya.
"Enggak tahu. Aku cuma lihatin bentuknya yang lucu. Bulat-bulat masih dengan tangkainya. Emang ini apa?" Tanya Sherly balik.
Zidane memalingkan wajahnya ke arah lain sebelum berkata pada istrinya.
"Dalemnya kaya gini." Di belahnya buah konyal itu dan di tunjukan isinya kepada si nyonya muda.
"Iih, kok semuanya biji. Gak mau ah. Entar tuh biji tumbuh lagi di perut aku. Syerem ah," Dia bergidik sambil menggelengkan kepalanya.
Si pedagang sampai tertawa kecil dan mentupnya dengan telapak tangan saat mendengar perkataan calon pembelinya.
Zidane mengusap wajahnya sambil tersenyum. "Sayang, kamu makan jambu biji pasti sama bijinya kan?" Sherly mengangguk dengan pertanyaan suaminya.
"Lah itu gak tumbuh di perut kamu." Kata Zidane gemash.
"Kalau punyaku tertanam di sana, pasti tumbuh di rahim kamu." Bisikan Zidane di telinga istrinya mendapat pukulan kecil di dada bidangnya sampai ia tertawa puas. "Hahaha,"
"Iih, kamu dari tadi ngomongnya gitu terus!" Rengekan Sherly hanya ditanggapi tawa suaminya.
"Ya sudah, jangan beli itu. Aku beli lengkeng aja pak sekilo dan anggur juga. Emm, jeruk dan apel juga sekilo. Durian 3 biji." Berkata pada si pemilik kedai yang langsung di layaninya.
"Banyak amat belinya."
"Biarin."
"Itu gak di beli?" Tunjuk Zidane ke arah alpukat dan mangga.
"Tumben?"
"Kenapa?"
"Enggak, aneh aja. Biasanya kan kamu paling seneng jus alpukat dan jus mangga. Kenapa sekarang gak mau?" Zidane terheran.
"Suka-suka aku lah. Aku yang makan ini." Ketus istrinya.
Zidane diam tak berkata apapun. Soalnya, tak ada gunanya melawan si nyonya.
"Tuh bayar dan bawa barangnya!" Perintah nyonya pada tuannya dan ia pun melenggang pergi.
Pemilik kedai tersenyum melihat Zidane yang tak berdaya di perintah sama Sherly.
"Pengantin baru ya, mas?" Pertanyaannya di angguki Zidane.
"Pantesan. Nurut banget sama istrinya." Ia terkekeh.
Zidane menatapnya dengan tatapan dinginnya membuat si pemilik kedai diam seketika.
"Menghargai istri sangat bagus untuk hubungan pernikahan. Hargai istrimu, maka dia akan menyayangi dan menghormatimu. Turuti kemauannya. Jangan bisanya cuma ngebentak dan marah saja." Tutur Zidane kemudian pergi setelah membayar belanjaannya.
Si pemilik kedai terdiam. "Bagaimana dia tahu kalau istriku tak menghargai, menyayangi, dan menghormatiku. Dia juga tahu kalau aku suka ngebentak dan memarahi istriku." Batin si pemilik kedai menatap punggung Zidane dan perlahan menjauh.
"Haish, pemilik Diamond Emperor berjalan di pinggir jalan sambil nenteng belanjaan. Apa kata orang nanti kalau lihatin aku kaya gini" Zidane terus berjalan dengan belanjaan di kedua tangannya.
"Sayang, tunggu dong!" Teriaknya.
Sherly menengok ke belakang. "Kamu jalannya lelet sih!" Ucapnya tanpa rasa bersalah sambil tersenyum.
"Hei, nyonya muda. Ada apa di tanganmu?" Zidane berkata dengan serius.
Sherly langsung membolak balikan tangannya dan memperhatikan tangannya.
"Gak ada apa-apa, kok!"
"Ada, nih!" Di gantungkannya kantong kresek berisikan anggun dan lengkeng di tangan Sherly. Kemudian Zidane berjalan dengan menenteng kantong berisikan apel dan jeruk juga Durian.
"Hei, kau curang." Sherly mengejar suaminya yang berlari duluan dengan tertawa.
Mereka pun pulang ke rumah dengan kejar-kejaran sambil tertawa.
Rumah kecil di tengah hutan.
__ADS_1
"Aw ... aw, sakit. Aku mohon, lepaskan aku!" Seorang wanita terus menyatukan kedua tangannya meminta pengampunan dari seorang pria di hadapannya yang terus mencambuknya.
"Aku ingin tahu rahasia di balik tanda bintang dan bulan itu. Cepat katakan kepadaku atau kau akan berakhir dengan tragis di tanganku." Wajah tampan namun kejam. Itulah yang tampak di wajah seorang kapten Hendri.
"Aku tidak tahu rahasianya. Itu kakak dan kakak ipar yang mengetahuinya. Sumpah, aku gak bohong mas!" Istrinya terus berkata namun Hendri tak mempercayainya.
"Sialan. Ular phyton, makan dia!" Perintahnya kepada peliharaannya untuk memakan istrinya.
"Jangan, jangan lakukan itu mas. Kumohon!" Menjerit seketika saat ular besar dan panjang itu mendekat ke arahnya.
Hendri seperti tak perduli. Ia menyeringai dengan senyum jahatnya.
Namun, sebelum ular itu menyentuh tubuh Herna. Ular besar itu tersentak dan terlempar ke arah Hendri yang sedang berpaling ke arah lain, sehingga dia menoleh kembali.
"Sssssssshhh." Ular itu terkapar di depan Hendri.
Terlihatlah dua sosok hantu wanita dan hantu seorang anak yang di yakini bahwa Hendri sangat mengenalnya.
"Kalian?" Hendri menatapnya kesal.
"Cih, anak nakal ini juga ikut bersama kalian?" Ketusnya setelah melihat anaknya.
"Papa, kenapa papa lakukan ini? Dia itu istri papa dan ibu dari anakmu, pa!" Agam menghampiri ayahnya itu.
"Istri, anak, saya tak perduli sama kalian. Saya menginginkan keabadian di dunia dan akhirat. Jadi, saya tidak membutuhkan kalian lagi." Memang perkataan Hendri ini sangat menyakitkan. Kenapa dia berkata seperti itu.
Sedangkan sang istri menatap heran kepada suaminya. Karena ia tak bisa melihat keberadaan makhluk tak kasat mata di hadapannya.
"Kalian cuma hantu kecil dan teman dari si bocah nakal itu. Kalian itu payah seperti bocah nakal sialan itu!" Kata Hendri mencibir Nania dan Alea.
"Siapa bilang kami hantu kecil? Kami itu sudah besar tahu!" Nania berkata dengan kesal.
"Kami juga tidak payah. Apalagi si ganteng. Dia bisa saja mengalahkanmu, dasar orang jahat." Lanjut Nania lagi dengan emosi.
"Sudahlah Nan, biarkan dia mengoceh apapun. Yang penting kita sudah tahu kalau ibunya anak ini ada di sini."Tutur Alea.
"Kau benar. Dek, ayo ajak ibumu pergi!" Berbicara kepada Agam.
"Tapi tante, mama gak bisa melihat kita." Sontak keduanya menoleh ke arah Herna yang hanya diam memperhatikan sekitar dengan terheran.
"Hahaha ...!Kalian ini memang bodoh. Dia itu manusia biasa yang payah dan tidak mempunyai kemampuan khusus seperti si gadis bintang. Tapi, saya bisa memanfaatkannya untuk tumbal kepada sang penguasa kegelapan." Menujuk istrinya.
"Kau pasti dulu mencintainya bukan? Kenapa sekarang kau membenci dan ingin menumbalkannya?" Pertanyaan kedua hantu wanita itu di sambut gelak tawa Hendri.
"Saya mencintainya? Kalian lucu sekali. Hahaha!" Dia tertawa terbahak-bahak.
"Saya menikahinya karena perintah kakak. Kakak adalah seorang ustadz terkenal dan mempunyai kemampuan khusus. Dia bilang jika saya menikahinya, saya akan hidup bahagia dunia dan akhirat. Ternyata, kakakku itu hanya berbohong untuk menjauhkanku dari ilmu hitam." Nada amarah kebencian terdengar.
Ia pun menerawang ke masa lalunya.
Hendri seorang anak berusia delapan tahun. Waktu itu, ia bertemu dengan seorang dukun sakti yang bisa membaca masa depan. Katanya.
Hendri tadinya tidak percaya kepada dukun sakti itu. Ia terus menolak atas perkataan dukun sakti. Namun, tidak di sangka si dukun itu memberika sesuatu kepada Hendri sampai ia bisa melihat makhluk tak kasat mata.
Awalnya, Hendri ketakutan. Tapi seiring waktu berjalan, Hendri malah terbiasa dan suka terhadap benda-benda ghaib.
Dukun itu berkata kepadanya. Jika ingin kekal abadi, dia harus memakan tali pusar bayi yang baru lahir di hari jum'at kliwon. Ia juga disuruh meminum darah seorang anak yang bertanda lahir bulan atau bintang.
Tapi ia bingung, dari mana ia mendapatkan anak bertanda khusus itu. Ia pun mencoba memakan tali ari dari bayi yang baru lahir di hari jum'at kliwon. Dan ternyata, benar adanya. Dia bisa terhindar dari serangan makhluk halus dan ia bisa menundukkan makhluk ghaib itu.
Bertahun tahun Hendri melakukan pemujaan dan mengasah kemampuannya untuk menaklukan para makhluk ghaib tanpa sepengetahuan dari keluarganya.
Sikapnya yang tak biasa dan sifatnya yang pendiam, membuat semuanya tidak menyadari apa yang di lakukan Hendri sampai ia menginjak masa
Tuan Hery Prasetyo, atau ayahnya Zidane adalah seorang ustadz ternama. Dia memiliki kemampuan bisa membaca masa depan seseorang dengan hasil dari shalat malamnya.
Saat itu, ia mengetahui jika adik kesayangannya itu bersekutu dengan setan. Maka dari itu, ia membujuk Hendri dengan mengatakan bahwa dia harus menikahi Herna suatu saat nanti.
Seorang gadis santriwati yang rajin beribadah dan solehah. Berharap Hendri bisa berubah jika kelak menikah dengannya.
Hendri tak perduli. Yang dipikirannya adalah mencari anak bertanda khusus.
Malam itu, ayah Zidane berlari masuk ke dalam rumah dengan kecemasannya.
Hendri mengikuti sampai di kamarnya dan ia pun menguping pembicaraan mereka.
Dari situ dia tahu bahwa keponakannya yang berusia tujuh tahun itu memiliki tanda khusus itu dan tentang si gadis bintang yang akan menjadi jodohnya.
Jika bulan dan bintang bersatu, kekuatannya akan mengalahkan penguasa kegelapan. Dia pun ingin memilikinya.
Kwcelakaan yang menimpa orang tua Zidane itu adalah hasil perbuatan Hendri. Ia melepas rem mobil ayah Zidane setelah ia mendatangkan sosok makhluk hitam jahat ke rumah mereka untuk memancing mereka pergi dari rumah.
Benar adanya. Mereka pun pergi meninggalkan rumah karena di kejar makhluk yang bukan cuma satu, melainkan berpuluh-puluh makhluk jahat.
Ayah Zidane memang bisa mengalahkan makhluk itu. Namun, ia tidak mau mencelakakan istri dan anaknya sehingga memilih pergi.
Sampai mereka digiring ke hutan menuju pegunungan dengan jalan berbatu sehingga memudahkan untuk menjadikan kecelakaan sebagai alasannya.
Kedua orang tua Zidane yang masuk ke jurang dengan mobilnya. Namun Zidane yang sudah keluar pun harus di kejar oleh makhluk halus suruhannya. Zidane selamat dengan tercebur ke laut sampai Hendri tak menemukannya beberapa tahun.
Akhirnya dia menikahi Herna karena ingat perkataan kakaknya bahwa gadis itu akan menjadikannya manusia sempurna.
Maksud dari ayah Zidane dengan manusia sempurna adalah seorang yang bertaqwa kepada tuhan dan berakhlak mulia.
Tapi Hendri salah mengartikannya. Dia mengira manusia sempurna ialah manusia yang terkuat diantara para manusia.
__ADS_1
Setelah mengetahui arti dari ucapan kakaknya bahwa kakaknya sengaja melakukan itu supaya dirinya berubah dan tak menganut ilmu hitam. Ia pun membenci istri dan anaknya sampai tega menumbalkan anaknya kepada iblis agar dirinya tetap awet muda dan banyak yang menghormatinya.