Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Pulang ke rumah


__ADS_3

Satu tahun yang lalu


Di malam keberangkatan Sherly, Zidane, Indra, dan Andin ke Paris. Rian mengikuti keempatnya ke bandara.


"Dasar teman kurang asyem. Sudah berangkat gak ajak-ajak, mereka gak pamitan sama gue lagi." Gerutu kesal Rian yang terus berjalan mencari keberadaan mereka.


Saat Rian fokus mencari mereka, dari kejauhan dia melihat Hendri seperti sedang mencari seseorang.


Dia pun penasaran dengan Hendri yang terlihat mencurigakan.


"Untuk apa si paman jahat itu ada disini? Dia juga seperti maling yang takut ketahuan mencuri."


Rian langsung bersembunyi di balik tembok dan mendengar percakapan Hendri dengan anak buahnya.


"Cari mereka dan bawa kehadapan saya. Jika perlu, seret keduanya. Tapi ingat, jangan sakiti Sherly. Kalian paham!"


"Baik, bos!"


Rian mendengar jelas percakapan Hendri dan anak buahnya itu. Ia pun menjadi cemas terhadap sahabatnya dan juga istri sahabatnya itu.


"Gue harus memperingatkan Zidane kalau om Hendri mengikuti dan akan mencelakai mereka."


Rian bergegas untuk mencari Zidane diantara kerumunan banyak orang namun tak menemukannya sama sekali.


"Aduh Zidane, kalian dimana sih?" Rian terus berlari mencari mereka.


"Ah, itu Andin dan Indra. Tapi, dimana Zidane dan Sherly?" Pandangannya terus di edarkan untuk mencari keberadaan Zidane dan istrinya.


Ia pun berjalan kembali untuk mencari keberadaan sahabatnya. Seketika, matanya tertuju kepada dua orang yang tengah mengobrol dengan dua orang asing.


"Itu Zidane dan Sherly. Tapi, dia sedang mengobrol dengan siapa?" Rian diam mendengarkan tawaran yang Zidane berikan kepada kedua orang asing tersebut.


Terdengar Zidane menawarkan kepada keduanya untuk pergi menggantikan mereka ke Prancis dan memberikan sepucuk surat kepada seseorang jika sudah berada di pesawat dan keduanya pun setuju.


Kedua orang asing itu pergi dan meninggalkan mereka untuk menaiki pesawat. Sedangkan Zidane dan Sherly diam di tempat itu dan sesekali mengintip ke luar.


"Jadi, mereka memberikan paspor kepada orang itu. Tapi, kenapa? Apa mereka sudah tahu tentang om Hendri?"


Rian tetap diam memperhatikan dalam persembunyian.


Setelah pesawat menuju Prancis berangkat, tak lama setelahnya terlihat dari kejauhan seseorang datang menghampiri.


"Geri? Jadi, mereka sudah merencanakan ini dengan cepat? Ya tuhan, bahkan dia tak melibatkan gue di dalamnya."


Rian terus mengikuti mereka sampai mereka berangkat menuju Yogyakarta.


Sejak itu, Rian memantau terus pergerakan Zidane semuanya. Mulai dari hidup sederhana, tinggal di rumah kontrakan, menjadi driver taxi online, dan semua yang mereka lakukan di rumah kontrakan sederhana itu, Rian mengetahuinya secara detil.


"Kenapa dia berbuat seperti ini? Apa yang ingin dia sembunyikan sebenarnya sampai mengganti identitas diri segala. Dari CEO DEG menjadi supir taksi. Ya tuhan, Zidane. Rahasia apa di balik kehidupan kalian? Dan apa yang diincar om Hendri dari kalian? Kenapa dia ingin mencelakai kalian berdua?"


Semua pertanyaan itu mengganggu pikiran Rian. Selama setahun lebih Rian mengumpulkan informasi dari semuanya. Namun, dia tak menemukan apapun.


Sampai dia bertemu dengan Aldrian, kakak Sherly.


Kak Al menceritakan semua tentang kejadian yang menimpa Sherly. Mulai dari Sherly yang berubah menjadi sosok mengerikan saat dia marah setelah insiden penembakan waktu di gudang tua yang melibatkan dirinya dan Hendri.


Dari sejak itu, Sherly sering berubah menjadi seperti sosok ghaib.


Kini, Rian mengerti akan maksud Zidane yang menyembunyikan ini semua dari orang lain.


Memang, Rian tahu jika Zidane bisa melihat makhluk halus sejak kecil. Tapi, dia tidak menyangka jika dirinya menjadi incaran pamannya sendiri. Bahkan, sekarang istrinya pun ikut menjadi incaran Hendri.


"Kasihan sekali mereka. Temen macam apa gue ini? Kenapa gue tak mengerti akan keadaan mereka." Rasa sesal menghinggapi Rian.


"Gue gak tahu alasan apa yang membuat Zidane memberikan aset perusahaan sama gue. Ternyata, dia ingin bersembunyi dari om Hendri."


Rian sangat menyesal dengan dirinya yang tak mampu mengerti akan keadaan sahabatnya.


Suatu hari Rian melihat keluarga Grisheld di rumah sakit tempat dirinya bekerja.


Nyonya Fransisca terlihat sangat menyedihkan. Keadaannya semakin hari semakin bertambah parah.


Dia sering berteriak sendiri, bahkan menyakiti tubuhnya sendiri.


Rian merasa prihatin kepada kondisi kesehatan nyonya Fransisca. Dia penasaran dan bertanya kepada Aldrian tentang kondisi ibu mertua sahabatnya itu.


Aldrian menceritakan kejadian yang menimpa ibunya itu. Rasa rindu yang teramat kepada putri bungsunya membuat nyonya Fransisca depresi.


Dia berteriak memanggil nama putrinya. Terkadang, dia menjerit histeris dengan melambaikan tangan seperti sesuatu mendekatinya. Tiba-tiba, nyonya Fransisca membenturkan kepalanya ke tembok berulang-ulang dan melukai dirinya sendiri.


Sungguh malang nasibnya. Rian tak mampu mendengarkan kisah ibu mertua sahabatnya lebih dari itu lagi. Dia pun memberitahukan alamat tempat tinggal Zidane dan Sherly kepada Aldrian.


"Tuan muda Grisheld, saya tidak tahu apa ini akan membuat mereka marah kepada saya atau tidak. Tapi, mendengar ceritamu tentang nyonya Grisheld, saya merasa prihatin." Ucapnya sendu.


"Saya tahu alamat mereka." Lanjutnya.

__ADS_1


Aldrian menatap Rian dengan raut wajah yang sangat gembira.


"Benarkah? Kau tahu dimana mereka berada, dokter Rian?"


Rian mengangguk pasti. "Tapi, jangan katakan kepada Zidane kalau saya yang memberitahumu, tuan muda Grisheld."


Aldrian tersenyum ke arah Rian. "Aldrian saja, dokter." Ucapnya.


"Tidak tuan muda Grisheld, kau lebih tua dari saya." Kata Rian.


"Kalau begitu, panggil kak Al saja. Sama seperti yang lain." Ucapan Aldrian diangguki Rian dengan tersenyum.


"Baiklah kak Al, panggil saya cukup Rian saja."


Mereka pun berjabat tangan sambil tersenyum.


⚘⚘⚘⚘⚘


Mereka bertiga berangkat dari yogyakarta menuju jakarta dengan menggunakan maskapai penerbangan garuda indonesia.


Berangkat dari jam 10.20 sampai di jakarta jam 11.30. Ketiganya langsung menuju ke rumah sakit setelah sampai di bandara.


Seseorang sudah menunggu di pintu keluar. Dia adalah asisten pribadi Aldrian yang sudah di hubungi olehnya terlebih dahulu.


Dalam perjalanan, ketiganya saling berpegangan tangan. Perasaan mereka campur aduk saat ini.


"Kak, aku takut." Tangan Aldrian langsung mengusap kepala adik tercintanya dengan lembut.


"Jangan takut. Kita berdo'a, semoga mommy tidak apa-apa." Ucapnya dengan tersenyum.


Zidane mengusap pundak istrinya lembut. "Jika kita sudah bertemu mommy, apapun yang terjadi sama mommy, kau harus berjanji kepadaku satu hal. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Apalagi membuat amarahmu meluap." Sherly menatap serius suaminya.


"Berjanjilah kepadaku!" Ucapnya lagi.


Sherly dan Aldrian tidak mengerti perkataan Zidane barusan. Tapi, Sherly mengangguk dengan cepat.


"Ya, aku berjanji."


Perjalanan bandara ke rumah sakit cukup lama memakan dua jam waktu perjalanan karena lalu lintas cukup ramai dan macet.


Telpon selular Aldrian berdering. Itu panghilan dari ayahnya, yaitu tuan Hadi.


"Ya, dadd?"


".....!"


"......,"


Raut wajah Aldrian tampak cemas dan syok. Ia tak bisa menyembunyikan kepanikannya.


"Ka-kami sedang di jalan, dadd."


"....."


"Baiklah, kami langsung pulang." Ucapnya lagi sebelum menutup panggilan telpon itu.


Kedua adiknya menatap dengan penasaran tentu dengan semua pertanyaan di pikiran mereka.


"Apa yang terjadi kepada mommy, kak?" Tanya Sherly dengan terisak.


"Ti-tidak apa-apa, dek." Jawabnya dengan gugup.


"Danu, kita tidak jadi ke rumah sakit. Putar arah untuk pulang ke rumah utama!" Perintahnya pada sang asisten yang langsung di turutinya.


"Baik, tuan muda."


Mobil melesat setelah berputar arah menuju kediaman Grisheld. Dengan cepat Danu mengemudikan kendaraan itu setelah mendengar perintah tuannya.


Dengan mendengar nada bicaranya saja, Danu mengerti kalau keadaannya tidak baik-baik saja. Dia tak perlu bertanya lagi kepada tuannya.


"Kak, ada apa? Apa mommy sudah di bawa pulang ke rumah?" Aldrian hanya menoleh sekilas pada adiknya sebelum berkata.


"Zidane, berjanjilah untuk menenangkan dia." Lirikan matanya tertuju pada adik iparnya.


Zidane mengerti maksud kakak iparnya. Berarti sang ibu mertua dalam kondisi kritis.


"Aku janji, kak." Ucap Zidane.


Sherly menoleh ke arah kedua lelaki tampan di sampingnya.


"Kenapa kakak berbicara sama dia? Sedangkan aku yang bertanya sama kakak." Aldrian hanya tersenyum dan mengecup kening adiknya.


"Jangan pernah melawan perkataan suamimu. Ingat, dia syurgamu kelak." Perkataan kak Al tak di mengerti adiknya.


Sherly hanya menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


Apa sih maksud kakak dengan ngomong seperti itu?


Namun pertanyaan itu tak sampai keluar dari bibir tipisnya.


Mobil mereka memasuki gerbang utama kediaman Grisheld. Di sambut dengan dua satpam yang berjaga di pintu gerbang.


Sherly mengedarkan pandangannya. Dia melihat sekeliling halaman rumahnya yang luas.


Setahun lebih gue ninggalin rumah. Semuanya tampak sama.


Rasa haru di hatinya saat menginjakkan kakinya lagi di rumah besar ini. Rumah keluarga Grisheld. Tempat dia berbagi segalanya dengan keluarganya.


Sherly tersenyum sebentar sebelum pandangannya tertuju ke arah pintu yang terbuka lebar.


Di dalam sana sudah banyak orang yang duduk. Terdengar samar-samar suara orang mengaji. Walaupun Sherly non muslim, tapi dia tahu kalau orang-orang di dalam sedang membaca surat Yasin.


Deg


Jantungnya tak beraturan. Seketika tubuhnya terasa lemas dan tangannya pun gemetaran.


Zidane langsung menggandeng istrinya. Ia tahu jika ini akan membuat Sherly terpukul.


"Sayang, kamu sudah berjanji kepadaku!" Ucapan Zidane tak di dengar Sherly.


Pikirannya hanya tertuju kepada sang mommy.


Perasaan apa ini? Gue sangat takut untuk masuk kedalam.


Hatinya tak sejalan dengan kakinya. Hatinya berkata tak mau masuk untuk melihat sesuatu di dalam, namun kakinya begitu cepat melangkah karena ingin segera masuk.


Semakin ia melangkah mendekat, semakin jelas terdengar isak tangis seseorang. Yaitu kakak iparnya, kak Aisyah.


Dia berhenti sejenak dengan tangan yang terus gemetaran.


Zidane dan Aldrian menoleh ke arahnya.


"Kamu kuat." Ucap keduanya serempak.


Wajahnya mendongak menatap kedua pria di hadapannya. Ia semakin yakin kalau sesuatu terjadi di dalam.


Kakinya melangkah masuk dengan tangan menggandeng lengan kedua pria di sampingnya.


Saat mereka masuk, semua mata tertuju kepadanya termasuk ayah, kakak ipar, dan juga keponakannya. Disana juga ada Dika dan Iren.


"Sherly." Suara lirih ayahnya membuat air mata Sherly meluncur tiba-tiba.


Dia berjalan untuk menghampiri. Namun, matanya menangkap sesuatu yang lain.


Sebuah peti dengan di tutupi kain putih dan juga berhiaskan bunga. Nampak jelas di matanya. Langkahnya pun teralih menuju peti tersebut.


"Dek." Panggil kak Aldrian mencoba mencegahnya. Namun, tangan Zidane dengan cepat menarik tangan kak Al.


"Biarkan dia menemuinya untuk yang terakhir kalinya, kak." Aldrian langsung diam di tempat.


Sherly terus berjalan dengan perasaan yang sulit di gambarkan. Tangannya gemetar dan langkah kakinya terasa berat sekali.


Saat dirinya sudah di depan peti, matanya membelalak melihat seseorang yang dicintainya sudah terbujur kaku di peti itu.


"Mommy!" Jeritan histerisnya membuat semua orang meneteskan air mata.


Hancur sudah hatinya kini. Rasa takut yang sedari tadi di rasakan ternyata jadi kenyataan. Inilah jawaban pembicaraan kak Al dan Zidane yang tak di mengertinya sedari tadi.


"Mommy!" Rasanya dada Sherly sangat sesak dan ia sulit untuk bernapas.


Seketika, kepalanya seperti berputar dan tubuhnya tak bertenaga. Ia pun terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Sherly." Semua panik melihat si putri bungsu yang tiba-tiba pingsan.


Dika yang lebih dekat dengannya langsung menangkap tubuh Sherly dan membawanya duduk.


"Beib ... beib." Panggil Dika dan Iren.


"Sayang, hei bangun." Tuan Hadi, Aldrian, Zidane, juga kak Aisyah mendekat dan menepuk pelan pipinya.


"Zidane, bawa dia ke kamar!" Kata tuan Hadi kepada menantunya.


"Baik, dadd." Zidane langsung membopong tubuh istrinya dan membawa ke atas di ikuti kak Aisyah dan Iren.


**Bersambung ...


Huaaa, otor ikut nangis di episode ini.😢😢 Mungkin otor orangnya laperan kali ya? 🤔


Eh, baperan maksud otor😁😁**


Lanjut besok ya gengs. Jangan bosen sama cerita otor ini.

__ADS_1


Terima kasih.😘😘😘😘


__ADS_2