
Seperti hari-hari sebelumnya, bu Laila berjalan menyusuri gang-gang sempit kontrakan untuk menjajakan barang dagangannya, yaitu pecel sayur.
Di atas kepala sebuah nampan, dan bakul di gendongnya di belakang. Bu Laila terus menawarkan makanan kepada setiap orang yang di temui-nya di jalan.
Bukan hanya pecel saja, gorengan seperti tahu isi, tempe mendoan, bakwan, dan juga pisang goreng ia bawa. Kerupuk hasil buatannya sendiri juga ada.
Intinya, dia wanita super yang serba bisa dan sangat rajin bekerja.
Semenjak suaminya meninggalkan-nya untuk wanita lain dalam keadaannya terpuruk, semenjak itulah ia tak mau berdiam diri karena ada tiga anak yang harus di cukupi kebutuhannya.
Laila di tinggalkan suaminya saat dirinya habis melahirkan. Suaminya memilih wanita lain dengan alasan jika anak yang di lahir kan Laila tidak mirip dengannya.
Maka dia beranggapan jika anak itu adalah hasil perselingkuhan Laila dengan pria lain.
Sungguh kejam
Padahal, Laila tak pernah keluar rumah hanya untuk mengantar anak keduanya ke sekolah saja.
Dia selalu di rumah saat suaminya berangkat kerja, sampai suaminya pulang ke rumah.
Bahkan, Laila tak kenal dengan tetangga di samping rumahnya saking dia tak pernah bergaul dengan tetangga.
Ke warung saja, dia menyuruh anak pertamanya untuk berbelanja.
Entah bagaimana hidup Laila sebelumnya, karena selama ini dia tak pernah keluar rumah.
Burhan nama suaminya. Di kenal orang sebagai duda beranak dua yang tampan dan kaya.
Semua tetangga mengira jika Burhan adalah seorang duda yang memiliki dua anak. Karena, tetangga tak pernah melihat istri atau ibu dari anak-anak Burhan.
Padahal, Laila tak pernah di izinkan keluar rumah oleh Burhan dengan alasan tak mau jika kecantikan istrinya itu di ketahui atau di lihat banyak orang.
Cih, berlebihan sekaleee
Seorang janda cantik dan seksi teman sekantor Burhan, tertarik karena ketampanan dan kerajinan pria itu. Sehingga mulai merayu Burhan karena mengira jika pria tampan itu memang seorang duda.
Burhan jarang pulang ke rumah. Setiap hari, bahkan setiap minggu. Hanya sesekali jika dirinya menginginkan kehangatan istrinya jika selingkuhannya tak bisa memberikan.
Senyum palsu yang di tunjukan Burhan di depan Laila, membuat istrinya tak perah curiga. Bahkan, tak pernah menyangka jika suaminya bermain di belakang.
Suatu hari, Laila sakit dan saat di periksa ke dokter ternyata positif hamil.
Burhan marah besar saat itu. Dia tak mengakui jika anak yang di kandung Laila adalah hasil dari perbuatannya. Sehingga, malam dimana istrinya memperlihatkan hasil pemeriksaan, malam itu juga Burhan pergi dari rumah.
Sebenarnya, Burhan sedang kesulitan ekonomi karena selingkuhannya hanya memeras uangnya untuk poya-poya. Dan kebetulan juga, selingkuhannya itu tengah hamil.
Burhan tak pernah pulang ke rumah sampai Laila melahirkan. Dia hanya memperkuat tuduhannya dengan bilang bahwa anak ketiga mereka itu memiliki wajah yang berbeda dengan wajah sang ayah.
Dengan amarah yang besar, Burhan pergi dari rumah dan tak pernah kembali lagi sampai Laila meninggal.
Kematian Laila sendiri belum bisa di ungkapkan. Karena polisi menutup kasus kematiannya rapat-rapat.
Hari itu, Laila pergi berjualan seperti biasa. Di pertengahan jalan, sebuah sepeda motor melaju dengan kencang ke arah Laila dan menabraknya sampai ia terpental sejauh beberapa meter.
Tak ada satupun yang menolong Laila, karena kondisi jalanan yang sangat sepi.
__ADS_1
Mayat Laila di kuburkan di dekat pohon besar yang ada di pinggir jalan sepi tersebut.
Entah siapa orang yang menabraknya itu, karena setelah menguburkan jasad Laila, dia pun menghubungi tuannya yang di panggil dengan sebutan bos besar.
Sampai saat ini, Laila sendiri belum tahu siapa pembunuhnya. Karena belum ada bukti yang bisa dia temukan walaupun setelah menjadi hantu.
Ketiga anak Laila di bawa ke panti asuhan oleh ayahnya. Burhan dengan teganya membiarkan anak-anaknya tersebut hidup di panti asuhan setelah seminggu ibunya tak di temukan.
••••••
"Menyedihkan, bukan?" Laila menangis tersedu.
Zidane dan Sherly hanya menatapnya dengan rasa simpati, bukan Xl ataupun mentari. Karena mereka manusia biasa, bukan operator jaringan. Hihiii.
"Gue tahu elu sangat sedih. Tapi, apa gak sebaiknya lu selidiki siapa pembunuh sebenarnya, dengan mencari tahu lewat orang yang nabrak lu!" Tutur Sherly.
Zidane mengangguk setuju. "Benar kata istriku! Kenapa kamu gak nyari tahu kepada pembunuhmu itu? Biar lebih gampang gitu."
"Aku udah mencobanya, tampan. Sampai aku bunuh orang yang nabrak aku itu. Tapi, dia juga gak kenal hanya tahu namanya saja."
"Kamu tahu siapa namanya?" Tanya Zidane.
"Namanya Sari. Tapi, aku gak kenal yang bernama Sari!" Tutur Laila.
Mereka bertiga diam memikirkan masalah tersebut.
Jika Laila tak mengenal Sari, berarti Sari ini adalah suruhan lagi seseorang dong! Tapi, siapa kira-kira?
"Mm, begini aja deh. Elu nanti tunjukin ke kita rumah lu yang dulu. Siapa tahu ada petunjuk di sana. Barangkali ada orang yang mengintai lu sejak lama!" Usul Sherly.
Laila pun menyetujui usul pasangan suami istri itu. Dia keluar dan menunggu pagi menjelang di pohon mangga belakang rumah Zidane.
"Semoga kematianku segera terungkap, supaya aku bisa mati dengan tenang dan anak-anakku tahu yang sesungguhnya!"
Kakinya menjuntai ke bawah dengan gaun putih yang biasa di kenakan para hantu.
Mungkin juga dia jadi miskun karena matinya setelah melahirkan. Walaupun udah beberapa hari saja.
Mungkin!
▪▪▪▪
"Setaaaaaaann!"
Teriakan si mang Sidik menggemparkan seluruh isi rumah seakan mau rubuh.
Berlebihan
Semua orang berhamburan menghampiri dengan wajah yang masih kusut dan belum cuci muka.
"Ada apa ... ada apa?"
Yang di tanya malah menatap heran. Mungkin dia mau bilang kenapa semua orang berkerumun di halaman belakang?
"Ada apa ini pada dateng kemari?" Tanya si mamang dengan ekspresi kebingungan.
__ADS_1
Semua orang saling pandang dengan pertanyaan si tukang kebun.
"Seharusnya kita yang nanya kenapa dia teriak? Kok jadi dia yang tanya kenapa kita kemari!" Kata Zyan.
Ayah dan ibunya hanya menggelengkan kepala diikuti bi Murni.
"Tuan butuh sesuatu?" Zidane menggelengkan kepalanya.
"Mungkin nyonya butuh sesuatu?" Sherly pun ikut menggeleng.
Sebelum di tanya, Zyan langsung melengos pergi karena lirikan mata mang Sidik tertuju padanya.
"Ummm,"
"Pagi-pagi udah bikin kesel. Huuuh, kalau tau gak ada yang terjadi mending mandi!"
Si tuan muda melangkahkan kaki sambil menggerutu kesal. Sedangkan tukang kebun hanya menatap dengan jari telunjuk yang menggantung di udara.
Mata mang Sidik kembali menatap. Kini bi Murni yang jadi sasaran. Namun zidane, Sherly, bahkan bi Murni memilih pergi dari halaman belakang meninggalkan mang Sidik.
Kasihan
Mang Sidik menggaruk kepalanya yang gatal karena memang dia belum keramas memakai shampoo.
"Haduh, tanya siapa lagi?"
Saat mang Sidik kebingungan, sebuah suara membuatnya menoleh.
"Tanya aku aja, mang!"
Mang Sidik membalikan badan ke belakang dan ternyata ...
"Setaaaaann!"
Teriakannya mengundang keempat penghuni lain menoleh. Namun tak berapa lama, mereka kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Cih, drama!"
Sementara si mamang sudah pingsan di teras belakang karena melihat penampakan hantu Laila yang sedang menggelantung di pohon mangga.
"Hihihihiiiiiii!"
Hantu Laila menertawakan si mang Sidik yang tak di hiraukan oleh semua orang karena tak percaya kepadanya.
"Kasihannya si mamang. Huuuh, memang pantas juga sih dia tak di hiraukan. Orang dia nyebelin kalo ngomong!"
☆☆☆☆
Jalan-jalan ke pulau baru,
Pulangnya membawa kain.
Kalau kamu suka ceritaku,
Tolong like dan komen.
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungan semuanya