
Nania bertarung dengan jin peliharaan Hendri dan membawanya keluar bangunan tua itu. Mereka bertarung dengan sengit dan tak ada yang terkalahkan sampai Nania terpental karena tendangan dari jin tersebut.
"Argh." Nania memegangi perutnya.
"Huhuhahahaaaa, kau ini hantu kecil. Berani-beraninya melawanku yang tidak setara denganmu!" Ucap jin itu sombong.
"Cih, kau itu hanya besar badannya saja. Tapi, otakmu itu kecil." Ledek Nania kepada jin tersebut.
Jin yang merasa terhina oleh perkataan dari Nania pun menjadi sangat marah. Dia langsung mendekat ke arah Nania dengan melayang secepat kilat. Namun, dia tidak tahu apa yang di rencanakan Nania.
Saat jin itu menerjang ke arah Nania, tiba-tiba hantu wanita ini mengeluarkan sebuah botol kecil yang sudah di beri segel oleh Zidane yang kemudian di berikan kepada Nania untuk mengurung jin peliharaan Hendri.
Wuuussshhh ... Sluuuppp
"Tidak ... tidak!"
Jin itu berusaha berbalik untuk menyelamatkan diri supaya tak masuk kedalam botol yang di pegang Nania untuk mengurung dirinya disana.
Nania dengan susah payah memegangi botol itu supaya tidak jatuh dan jin itu tak keluar lagi untuk menyerangnya ataupun Zidane.
"Haaahh. Masuk juga dia." Nania bernapas lega saat tubuh jin itu masuk dengan sempurna kedalam botol yang di pegang olehnya. "Astaga, berat juga nih botol. Aku sampai kesusahan mengangkatnya. Aduh, harus hati-hati ini. Takutnya, ini botol pecah dan dia pun lepas lagi dong!"
Dengan hati-hati, Nania memegangi botol itu dan membawanya kepada Zidane.
Sementara Geri, dia sedang mengendap untuk melepaskan ikatan di tangan dan kaki Sherly. Geri masih berusaha melepasnya karena ikatan yang di buat Hendri bukan ikatan biasa.
"Ya ampun, Sher. Gue harus bukainnya gimana ini?" Tanya Geri yang kesulitan membuka tali pengikat Sherly.
"Elu coba pake sesuatu yang lain, Ger. Nah itu, pake kapak itu buat mutisin rantainya. Siapa tahu tali yang ini putus kalo rantainya putus." Pinta Sherly yang sudah di lepaskan kain penutup mulutnya.
"Tapi, gue takut kena tangan lu Sher." Geri tampak ragu.
"Coba dulu, dodol. Gue udah kesakitan nih. Ikatan ini semakin membuat gue sesak!" Rengekan Sherly meluluhkan hati Geri.
Dia lupa kalau tidak boleh menggunakan senjata tajam untuk melepaskan ikatan Sherly.
Dengan bergegas, Geri mengambil kapak yang tergeletak di pojok ruangan ini. Dia mulai mengayunkan kapak itu ke arah rantai yang mengikat tangan Sherly.
Nania yang baru saja datang langsung menghentikan tangan Geri yang sedang mengayunkan kapak ke atas.
"Geri berhenti! Kamu gila apa? Kenapa kamu gegabah seperti ini sih, Ger?" Nania sangat marah.
"Lho, kan ini bisa membuat rantainya putus dan otomatis tali yang mengikat tangan dan kaki Sherly juga putus." Ujar Geri.
"Sadar, Geri. Kamu harus lebih teliti. Ini tali bukan tali biasa yang mudah di putuskan oleh apapun, dan juga rantai ini. Lihatlah ke atas!" Sherly dan Geri mendongakkan kepalanya ke atas.
"Jika rantai ini putus, otomatis benda itu akan turun tepat menusuk perutmu sebelum kamu bisa melepas ikatan tanganmu, galak." Jelas Nania.
"Tapi, di atas tidak ada apa-apa Nan." Geri dan Sherly bingung.
Nania begitu terkejut dengan pertanyaan kedua manusia di hadapannya. "Oh ya ampun, apa kalian tidak melihat benda itu?"
"Benda apa?" Keduanya kompak.
"Galak, apa kamu beneran gak bisa melihat benda yang berada di atas kamu?" Sherly menggelengkan kepalanya. "Berarti, itu benda ghaib yang sudah di beri mantra oleh Hendri. Tapi, kenapa kamu gak bisa melihatnya? Kamu kan punya kekuatan seperti si ganteng." Nania menjadi kebingungan sendiri.
"Cincin gue masih bersama si breng**k itu, Nan. Mungkin itu sebabnya gue jadi gak punya kekuatan." Ucap Sherly sedih.
Nania mengangguk mengerti, "Ya sudah. Geri, kamu jangan gegabah! Aku akan mencari teman-teman kamu yang lain. Siapa tahu bisa mengatasi masalah ini."
Hantu wanita itu pun menghilang untuk segera mencari keberadaan Aldrian, Deni, Indra, dan Dika.
"Zidane!" Suara yang begitu lembut memanggil namanya. Suara yang sangat ia hafal dan sangat di rindukan selama dua puluh tahun lebih.
Seketika ia menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. "Mama!"
Sosok cantik dan anggun sedang berdiri di samping pria paruh baya yang juga gagah dan tampan. Keduanya menatap Zidane dengan perasaan rindu yang teramat sangat.
"Tidak ... tidak, kalian sudah tidak ada disini. Papa bilang jika orang yang meniggal tidak akan bisa kembali, kecuali dia mati dengan tidak wajar atau mempunyai masalah yang belum selesai."
Zidane sangat ragu. Bagaimana tidak, selama ini dia tak pernah membayangkan akan bertemu dengan orang tuanya lagi, sekalipun dalam mimpi. Namun kini, di hadapannya telah berdiri dua orang yang Zidane sayangi juga hormati. Rasa rindu di hatinya membuat dia melemah.
"Zidane, sayangku. Ini mama sama papa, sayang. Kemarilah!" Keduanya merentangkan tangan berharap sambutan darinya.
__ADS_1
Zidane sangat merindukan mereka sampai air matanya menetes di pipi. "Mama, papa. Apa itu beneran kalian?"
"Ya, ini kami sayang. Kemarilah, datanglah kepelukan kami! Kami merindukanmu, sayang." Keduanya terus merentangkan tangan sambil memanggil Zidane.
"Ayo sayang, ikut kami! Kami ingin bersamamu selamanya. Kami merindukanmu, sayang." Zidane perlahan mendekat ke arah kedua paruh baya di hadapannya.
"Zidane sayang, percepat langkahmu. Kami sudah tidak sabar ingin memelukmu kedalam dekapan kami, nak." Kata mereka yang melihat langkah Zidane yang enggan mendekat.
"Mama, papa!" Zidane semakin menangis memanggil kedua orang tuanya.
Zidane mempercepat langkahnya untuk mendekat ke arah mereka dengan rasa yang sulit di gambarkan. Tak di pugkiri, Zidane sangat merindukan kedua orang tuanya. Dia kehilangan orang tua saat usianya masih kecil. Dimana anak seusianya masih mendekap di pelukan orang tua, Zidane malah harus kehilangan keduanya dalam kecelakaan yang tragis.
Sedangkan Hendri, dia tersenyum senang melihat Zidane yang lemah akan perasaannya. Dia mudah memanfaatkan kelemahan Zidane dengan menyerang hati dan pikirannya.
*Cih, mereka bilang dia begitu hebat dan sulit di taklukan. Ternyata, dengan memberikan sedikit kejutan saja dia langsung kalah oleh perasaannya sendiri*.
Hendri tetap memperhatikan Zidane dengan tidak melepas mantranya.
Zidane melangkah mendekat ke arah keduanya yang sedang merentangkan tangan. Mereka tersenyum berharap sambutan dari Zidane.
"Mama, papa!"
Geri dan Sherly yang mendengar Zidane memanggil mama dan papa langsung menoleh. Mereka melihat ke arah yang akan di tuju Zidane. Mereka melihat sosok menakutkan yang sedang merentangkan tangan keduanya untuk menyambut Zidane.
"Tidak, jangan mendekat ke arahnya, Zidane! Mereka bukan orang tuamu. Jangan mendekat!"
Namun, teriakan istri dan sahabatnya tak bisa menghentikan langkah Zidane karena pikirannya sudah di kuasai Hendri. Dia terlalu merindukan kedua orang tuanya sampai dirinya menjadi lemah.
"Mama ... papa ...!"
"Kemarilah sayang. Mendekatlah!"
"Jangan, tolong jangan mendekat kepadanya, king ice. Aku mohon!" Teriakan Sherly pun tak di hiraukan olehnya karena dirinya telah dikuasai rasa rindu.
"Geri, lakukan sesuatu. Cegah dia supaya gak mendekat ke arah siluman itu, cepatlah!" Pinta Sherly kepada sahabatnya.
Geri malah kebingungan. Dia tak tahu apa yang harus di perbuat olehnya. Mungkin, jalan satu-satunya ialah menegur Zidane langsung dan menghentikan langkahnya supaya tidak mendekat ke arah dua siluman yang sedang memanggil-manggilnya.
"Oke, gue akan menghentikan dia!"
Geri pun berjalan mendekati Zidane. Namun sayangnya, langkah kaki Geri di sadari Hendri dan dengan cepat Hendri membawa sebuah benda yang secepat kilat dia ayunkan ke kepala Zidane.
**Bukkk**
__ADS_1
"Arrrrrgghhh!"
Sebuah hantaman tepat di kepala Zidane membuatnya kelimpungan sampai jatuh tersungkur di lantai yang berdebu. Dia berusaha bangkit, namun rasa sakit dari hantaman yang sangat keras tadi membuat Zidane pingsan seketika.
"Zidane!" Teriak Sherly dan Geri.
"Astaga, king ice. Bangun, sayang. Aku mohon!" Air mata Sherly berlinang ketika melihat suaminya tersungkur dan tak bisa bangun.
Geri berlari mendekat dan mencoba membangunkan Zidane.
"Zidane ... Zidane, bangun kamu. Cepat bangun!" Ia menepuk-nepuk pipi Zidane berharap sadar.
Hendri tertawa puas melihat Zidane tak bergerak sama sekali. Dia sampai memegangi perutnya karena terus tertawa dengan senang. "Hahahaaaa ... Ya tuhan, keponakanku tersayang. Kau begitu lemah sampai tak bisa membedakan siapa yang ada di hadapanmu saat ini."
"Hendri ... kurang ajar lu." Sherly meronta mencoba melepaskan ikatannya.
Namun, itu malah membuat pergelangan tangannya menjadi lecet dan terluka.
"Ayo sayang, lakukan terus supaya saya tidak melakukan penyiksaan kepadamu. Biarkan dirimu saja yag menyakiti diri sendiri dan mengantarkan saya ke keabadian."
Meja tempat Sherly sekarang berada ini sudah di siapkan lingkaran yang Hendri buat memutar membentuk sebuah formasi.
Jika darah Sherly menetes di formasi yang sudah Hendri buat walau setetes saja, darah itu akan mengalir dengan cepat dan membentuk sebuah mantra pembangkit dengan sendirinya.
Mantra itu akan Hendri bacakan saat sudah terbuka dengan sempurna dan dia bisa menyerap kekuatan makhluk yang dibangkitkan dengan tetesan darah Sherly. Apalagi, janin yang ada di dalam rahim Sherly.Karena, janin itu memiliki kekuatan dari Sherly dan Zidane.
Sherly semakin meronta ingin melepaskan diri dengan terus berusaha melepaskan tangan dan kakinya dari tali yang mengikatnya.
Seketika Geri teringat akan pesan Zidane yang megatakan jangan ada tetesandarah yang keluar dari bagian tubuh manapun dari Sherly. Karena, itu sangat berbahaya.
"Tidak. Jangan lakukan itu, Sher. Berbahaya!"
Namun Geri terlambat menyadari. Darah dari pergelangan tangan Sherly menetes perlahan dan akan terjun bebas ke bawah dan menyentuh lingkaran formasi yang Hendri buat.
Hendri semakin tertawa puas melihat darah yang menetes. Hahaha."
Sedangkan Geri semakin gelisah melihat tetesan darah yang akan menyentuh lingkaran itu sedikit lagi.
Dan ... "Tidak!"
**Tesss**
Darah dari pergelangan tangan Sherly menetes tepat di bawah.
**Dukung terus author dengan like, komen, dan votenya ya.
__ADS_1
Terima kasih๐๐๐**