Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Berakhir


__ADS_3

Malam semakin larut, namun di sekitar tampak terang. Itu karena cahaya bulan yang menyinari dengan terang.


Bulan purnama adalah malam yang dinantikan para makhluk ghaib untuk melakukan sesuatu. Biasanya dimalam purnama, para makhluk ghaib semakin aktif dan kekuatannya pun meningkat.


Lolongan anjing hutan terdengar dari sekitar gunung.


Aaauuuuuuuu ....


Suaranya yang nyaring, membuat bulu kuduk merinding bahkan, bisa sampai terkencing.


Tubuh jangkung Zyan di baringkan diatas sebuah batu datar, dengan tangan satu terulur bertujuan supaya bisa mengambil darahnya dan meneteskan di pola yang sudah di gambar oleh Prita.


Prita duduk bersila di depan lukisan Hendri. Ia bersujud dan membacakan mantra pemanggil, kemudian mengambil sebilah pisau tajam.


Pisau tersebut ia siram dengan air kembang tujuh rupa yang sebelumnya di bacakan mantra olehnya, setelah diambil dari rendaman darah ular sanca.


Prita berdiri kemudian mendekati Zyan yang tengah bersiap di atas batu besar tersebut.


"Kau siap, anak tampan?"


Zyan tampak ragu, apakah keputusannya ini benar atau salah. Yang pasti, ia tak dapat melakukan apapun selain menuruti keinginan Prita supaya bisa menyelamatkan kedua orangtuanya.


Dengan menganggukan kepalanya sedikit, Prita sudah tersenyum karena itu dianggap setuju.


Pisau tajam diarahkan ke tangan Zyan, kemudian ...


Sreettt .... "Ssttt ... akh!" Ringisan keluar dari bibir si tampan.


Teeeessss


Darah segar keluar dari tangan Zyan yang tergores pisau dan menetes ke pola yang di buat Prita.


Tetesan darah itu semakin banyak keluar dari luka goresan, dan mengalir di pola itu membentuk gambar kepala ular sampai mengeluarkan cahaya kehijauan.


Prita sangat senang dengan apa yang di dapatnya saat ini. Berarti, usahanya tidak sia-sia. Namun setengah jam berlalu, tapi tak ada apapun yang terjadi. Itu membuat Hendri marah.


"Prita, apa yang terjadi? Kenapa tak ada reaksi apapun dari darah anak itu?" Cerca Hendri.


"Aku juga gak tahu, kenapa gak ada reaksi apapun saat darah itu sudah membentuk pola yang ku buat! Tapi kamu melihatnya kan, kalau pola sudah terbentuk dan mengeluarkan cahaya hijau?" Pembelaan diri dari Prita.


Mereka tampak berpikir keras. Kenapa tak ada reaksi apapun dari darah keturunan manusia bertanda khusus?


Apa jangan-jangan ... rumor yang beredar di kalangan dukun sakti itu bohong, jika anak bertanda khusus itu padahal tidak sakti sama sekali dan tidak bisa membangkitkan arwah penasaran.


Hendri pun memberikan ide gila kepada Prita. "Jika kita ingin tahu apa yang terjadi, jalan satu-satunya yaitu ... membunuhnya!"


Zyan terkejut dengan usul yang di sarankan setan itu. Apa salah dirinya yang tak bisa membangkitkan Hendri kembali? Manusia memang tak bisa membangkitkan orang yang sudah mati.


Zyan berusaha bangkit namun tak bisa. Tangan dan kaki yang terikat, menyusahkan untuk ia kabur.


"Kau benar. Seharusnya pisau ini bukan di pakai untuk menggores luka di tangan, tapi untuk menusuk jantung anak ini!"


Prita bersiap menghunuskan pisau tepat di dada kiri Zyan.


"Tidak!" Prita menoleh ke belakang.


Diana sudah berdiri dengan Sherly dan Zidane yang masih pingsan. "Jangan mom, dad, aku mohon! Biarkan Zyan hidup untuk menemaniku. Mom and dad bisa menguji itu kepada kedua orang tua Zyan. Mereka lebih kuat bukan!"


"Jangan! Biarkan orangtuaku pergi dari sini. sebagai gantinya, ambil nyawaku sekarang juga. Tapi tolong, bebaskan keduanya!" Ujar Zyan menghentikan.


Prita bingung saat ini. Zidane adalah pria yang dicintainya, gak mungkin baginya untuk membunuh Zidane.


Sherly ... tidak ...! dia wanita yang di cintai Hendri. Jika dia membunuh Sherly, Hendri akan membunuhnya saat itu juga.


Zyan ... aaaahh, kenapa Diana mencintai anak itu. Putra keturunan Sherly, wanita yang sangat Prita benci walaupun suami dari Sherly sangat ia cintai.


"Diana, berkorbanlah sedikit untuk ayahmu. Setelah dia kembali hidup, kamu bisa mendapatkan pria mana pun yang kamu inginkan!"


Diana tak percaya jika kedua orangtuanya itu tak mau sedikit berbaik hati kepadanya. Mereka justru mementingkan diri sendiri daripada keinginan putrinya.


"Mom, please help me! Don't touch Zyan!" Diana memohon. "Gak ada yang ku inginkan di dunia ini selain Zyan. Jadi ku mohon, lepaskan dia demi aku!" Matanya berkaca penuh pengharapan.


Prita menjadi bimbang, namun ia harus memantapkan hati. Dia memutuskan untuk mengambil keputusan yang tepat demi masa depan.


"Bawa mereka kemari!" Para roh penasaran langsung membawa Zidane dan Sherly mendekat.


Diana senang dengan keputusan yang diambil ibunya. "Thank so much, mom!" Senyum manis terukir di bibirnya.


"Baiklah, kita akan menumbalkan mereka berdua!" Ucap Prita lantang.


Maafkan aku, Zidane! Untuk saat ini aku hanya bisa berbuat ini. Aku akan menyelesaikan ini dengan benar supaya cinta kita menang. Kamu harus bersabar dulu.


"Jangan! Tolong jangan lakukan itu!" Teriak Zyan. "Wake up, pap ... mam ... please!"


Prita melirik Zyan dengan seringai yang menakutkan. Ia mengelus pipi Zidane kemudian dada bidangnya.


Matanya menatap Sherly dengan penuh kebencian. Sepertinya dia ingin langsung melenyapkan Sherly saat itu juga.


Pisau tajam mulai mengarah ke arah Zidane membuat Diana dan Hendri senang. Namun tak di sangka, pisau itu malah di arahkan keada Sherly.


"Matilah kamu ... Sherly!" Di tancapkan~nya pisau itu di dada Sherly sebelah kiri.


Braaakkkk


"Tidaaaaaaakk!" Zyan berteriak kencang.


Jleeeebbbb


Disaat yang bersamaan, cahaya putih terang memancar menyilaukan mata membuat mereka menutup mata.


"Aaaakkkhhh!" Teriakan kesakitan terdengar menyayat hati.


Darah segar mulai merembes keluar dari luka yang terkena tusukan. Mulut menganga menahan rasa sakit yang teramat sangat, hasil dari tusukan pisau tajam itu.


"Tidak ... mami!" Zyan terisak. Dia tak berdaya saat ini. "Mamiiii ..." Suaranya semakin terdengar lirih.


Diana senang melihat darah yang menetes turun memenuhi pola yang di buat Prita. Berbeda dengan Hendri, dia sangat marah karena Prita menusuk wanita yang di cintainya.


"Wanita bodoh. Kenapa kau menusuk jantung Sherly ... bukan Zidane!"


Namun mereka tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


Tubuh Prita terkulai lemah dengan tangan yang memegangi perut, kemudian ambruk begitu saja dengan darah segar yang terus menetes.

__ADS_1


"Mommy!" Pekik Diana seraya berlari mendekat.


"Akkkhhh ... aakkhhh!" Prita tak dapat berkata apapun, hanya meringis kesakitan dengan luka dalam di perut.


"Prita ... Prita!" Hendri berteriak memanggil. "Apa yang terjadi padamu?" Tanya Hendri dari dalam lukisan.


Zidane berdiri, kemudian membantu Sherly untuk bangun.


"Ayo sayang!"


Mereka terkejut karena ternyata Sherly tak kenapa-kenapa, melainkan Prita yang terluka.


"Papi ... mami ...!" Zyan merasa lega karena ternyata kedua orang tuanya baik-baik saja. "Syukurlah!"


Zidane dan Sherly membantu putranya untuk melepaskan tali yang mengikat.


"Kamu gak apa-apa kan, sayang?" Zyan hanya menggelengkan kepalanya. Kemudian ketiganya berpelukan.


"Mommy, tolong jangan tinggalin aku! Huhuhuuuu." Diana menangis tersedu.


Zidane, Sherly, dan Zyan hanya menjadi penonton saja. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan, karena itu adalah kesalahan Prita sendiri.


Flashback


Zidane yang di bawa Prita menggunakan helikopter dengan di tutup kepala serta diikat kedua tangannya. Saat itu, ia disuruh minum air yang telah di campur obat bius di dalamnya.


Di depan Prita, Zidane meminum air itu namun ia tahan di mulutnya. Ia langsung pingsan supaya tahu kemanakah ia akan di bawa.


Helikopter terbang tinggi di atas kota menuju sebuah hutan melewati pegunungan.


Rindangnya pepohonan, menyulitkan mereka untuk mendarat di area hutan. Mereka pun turun menggunakan tangga tali yang diulurkan ke bawah.


Tubuh Zidane diikat, kemudian diturunkan perlahan. Para penjaga yang sudah menunggu kedatangan sang bos besar pun langsung datang membantu.


Di hutan larangan itu, Prita menempatkan sepuluh penjaga. Mereka bertugas sesuai perintah sang bos besar.


Setelah tubuh Zidane mendarat dengan sempurna, mereka langsung menggotongnya menggunakan blangkar menuju tempat yang sudah di siapkan bosnya.


Sepanjang perjalanan saat penjaganya lengah, barulah Zidane memuntahkan air campuran obat bius itu.


Zidane tetap terjaga karena kesadarannya tak hilang. Ia memperhatikan sekitaran yang ternyata itu adalah tempat dimana Zidane pernah bertarung dengan Hendri sampai mengurung arwahnya di tempat itu.


Padahal, menurut Zidane pertarungan antara dirinya dan Hendri itu terjadi dua puluh tahun yang lalu dalam mimpi. Tapi setelah melihat sebuah lukisan bergambar pria terduduk di samping sumur tua dekat pohon besar, barulah ia sadar kalau mimpinya itu adalah nyata.


Walaupun hari sudah gelap, tapi Zidane masih ingat dan hapal betul area hutan larangan tersebut.


Mata Zidane membelalak saat melihat tiga orang yang terkurung di sangkar besi.


"Mami ... bibi ... mamang!"


Namun ia tak dapat melakukan apa-apa. Saat ini, ia harus berpura-pura pingsan untuk mengawasi situasi selanjutnya.


Zidane di masukan kedalam sangkar besi bersama sang istri. sangkar itu di gantung kembali di atas pohon, bertujuan untuk mengancam seseorang.


Benar dugaan Zidane, empat anak muda keluar dari sebuah gua yang tertutup rerumputan dengan sedikit bebatuan.


"Zyan ... Andra ... Rena ... Ashanti ... apa yang mereka lakukan disini?" Lagi-lagi Zidane hanya diam untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.


Para penjaga di suruh pergi dari tempat itu, bertujuan agar mereka tak melihat apa yang terjadi.


Darah Zyan keluar menetes dan membentuk kepala ular, itu sebenarnya sudah berhasil. Namun Zidane menekan kekuatan putranya sebelum darahnya mencapai tempat lukisan Hendri di taruh.


Kekuatan Zyan tak bisa terhisap oleh Hendri, sehingga dia tak bisa keluar dari lukisan pengurung itu.


Prita dan Hendri yang geram karena usahanya gagal, akhirnya berniat membunuh Zyan namun putrinya datang menghentikan. Karena, Diana mencintai Zyan walaupun sebenarnya Zyan tak mengenal seorang Diana.


Prita memutuskan untuk menikam jantung Zidane, namun malah memutuskan membunuh Sherly. Tapi, dengan cepat Zidane bertindak. Ia mencium bibir istrinya sehingga cahaya putih terang keluar dari tanda khusus yang dimiliki masing-masing.


Karena terkejut, Prita menarik kembali tangannya namun terbentur dahan pohon yang patah dan terjatuh. Sehingga, pisau tersebut malah menusuk perutnya sendiri.


Sherly terbangun dari tidur sementaranya. Ia syok saat terbangun, ternyata berada di tempat seperti ini dengan suami dan putra semata kakinya.


∆∆∆∆


"Kau ... kau telah mencelakai ibuku!" Diana menunjuk Zidane. "Aku memang mencintai Zyan, tapi aku akan tetap membalaskan dendam ibuku padamu!"


Amarah Diana tak terbendung. Dia mengira jika ibunya terluka karena Zidane dan Sherly.


"Kemarilah nak, dekati aku dan terimalah kekuatanku untuk melenyapkan mereka!" Kata Hendri dan langsung di turuti Diana tanpa berpikir panjang.


Diana mendekat ke arah lukisan ayahnya, kemudian tangan Hendri menyentuh kepala putrinya, lalu ...


"Aaaarrrrggghhhhh!"


Tiba-tiba Diana menjadi sosok lain. Rambutnya berantakan dengan wajah yang menakutkan. Tubuhnya membesar lima kali lipat serta berwarna hitam legam. Matanya merah menyala dengan gigi taring panjang keluar dari mulutnya.


"Haaarrrgghhh!"


Sebenarnya Hendri bukan ingin membantu putrinya, melainkan untuk dirinya sendiri.


Jika makhluk yang merasuki tubuh putrinya bisa melukai Zidane, Sherly atau Zyan, maka ia akan bisa keluar dari penjara lukisan itu.


"Pap, mam, bagaimana ini?" Mereka tampak bingung. Pasalnya, makhluk itu merasuki orang yang masih hidup dan dia tak tahu kebenarannya.


"Kita harus lebih waspada terhadapnya, karena gadis itu sedang di kuasai emosi dan kebencian yang mendalam." Peringat Zidane.


"Apa kita harus melawan atau mengelak?"


"Jika situasinya memburuk, maka kalian harus melawan makhluk itu!" Sherly dan Zyan pun setuju.


Akhirnya, pertarungan antara Zidane,Sherly, dan Zyan melawan iblis yang menguasai tubuh Diana.


Bagh ... bugh ... krekkk ... sreekkk ... deblugh


Sherly dan Zyan jatuh tersungkur di tanah dengan luka di tangan dan perut yang terkena pukulan.


"Haaaarrrggghhh!" Tatapan lapar terlihat dari iblis saat melihat darah keluar dari ujung bibir Sherly. "Haaarrgghhh ... darah!" Suara serak terdengar menyeramkan.


"Akh!" Ringisan kecil keluar dari mulutnya.


"Mami tidak apa-apa?" Zidane membanti istrinya.


Zyan yang masih tersungkur di tanah, menjadi sasaran iblis itu karena Sherly di jaga suaminya.

__ADS_1


"Aaaakkkhhh!" Teriak Zyan saat gigi taring iblis itu menancam di lengannya. Sontak Zidane berlari dan menerjang ke arah iblis.


Blugh


Tubuh besar itu tak bergerak sedikitpun, malah Zidane yang terjatuh ke tanah.


"Papiiiii ... sakit sekali!" Teriak Zyan lagi.


Setelah menancapkan taringnya dan mengambil darah Zyan, iblis itu melangkah menghampiri lukisan Hendri.


Kemudian ....


Swuuuusshhh


"Tidaaaaakkk!" Tangan mereka menggantung di udara saat angin kencang meniup sekitaran.


"Huahahahahaaaaaa ... akhirnya aku bebas!" Hendri keluar dari penjara lukisannya.


Tubuh Diana terjatuh tak sadarkan diri.


"Ya tuhan, bagaimana ini?"


"Biar aku yang melawan iblis itu, kamu urus putra kita!"


Sherly berusaha berdiri dan langsung menuruti perintah Zidane untuk menolong Zyan. Sedangkan Zidane bersiap untuk melawan iblis Hendri.


Keduanya saling berkelahi mengeluarkan kemampuan masing-masing. Hendri yang sudah menjadi iblis, kekuatannya sangat luar biasa. Dia tak mudah di tumbangkan sekarang.


Zidane terus melawan Hendri tanpa pantang menyerah, walaupun Hendri lebih kuat sekarang karena sudah banyak memakan manusia.


"Arrrggghhh!" Zidane berguling di tanah sampai membentur pepohonan.


"Papi!" Sherly dan Zyan menghampiri. "Pap, bangun!" Zidane berusaha berdiri sambil memegang dadanya.


"Uhukkk ...!" Darah keluar dari mulutnya. "A-aku akan mencobanya lagi!" Sherly menahannya untuk berdiri.


"Biar aku yang mencobanya!" Sherly menerjang ke arah Hendri yang bertubuh jauh lebih besar dan lebih tinggi darinya.


Cukup lama mereka bertarung sampai akhirnya Sherly terjatuh dengan luka.


"Sayang, jangan memaksakan diri untuk melawanku! Lebih baik kamu mendampingiku di alam ghaib!"


"Cuih, gak sudi gue harus mendampingi iblis sepertimu. Lebih baik gue mati!" Sherly menolak mentah permintaan Hendri.


"Kalau begitu, aku akan mengabulkannya!"


Hendri akan melakukan sesuatu kepada Sherly, Zyan pun berlari menghalangi pukulan yang di tujukan untuk ibunya.


Wuuussshhh ... buuuuukkk


"Arrghh!"


"Zyan!"


Tubuh jangkung Zyan tergeletak di tanah dengan luka di seluruh tubuh.


"Hahaha ... mana kekuatan bulan dan bintang yang luar biasa itu? Aku tak merasakan apapun selain kelemahan saja yang kalian tunjukan!" Ledek Hendri.


Ketiganya sudah mendapat luka masing-masing dan tak bisa melawan iblis Hendri.


Zidane dan Sherly secepatnya mendekat ke arah Zyan, kemudian mereka bertiga berpegangan tangan satu sama lain.


"Bagus. Kalian sudah siap untuk mati bersama.Hahaha!" Tawa Hendri menggelegar di seluruh hutan larangan.


Zidane memejamkan mata membacakan do'a di bantu Zyan.


Saat Hendri mendekat dan mengeluarkan kekuatan untuk memberi pukulan kepada ketiganya, Zyan memberikan senjata milik ayahnya yang ia bawa dari rumah, yaitu bambu wulung.


Dengan sisa tenaganya, Zidane berdiri dan menerjang Hendri. Kemudian, ia menancapkan senjatanya tepat di jantung Hendri.


Jleeeebbbb


"Aaaarrrrrrgggghhhhh!" Raungan kesakitan terdengar menggema dengan ambruknya tubuh besar Hendri.


Zidane dan Zyan membacakan do'a pengusir setan untuk melenyapkan iblis Hendri.


"Aaarrrggghhh ... panas ... panas! Kenapa bambu ini semakin panas!" Hendri meronta melepaskan senjata Zidane yang tertancap di dadanya.


Semakin di tarik, maka semakin membakar tubuhnya.


Iblis itu berteriak semakin lemah dan semakin lemah, kemudian menghilang bagaikan asap yang tertiup angin.


"Alhamdulillahhirobbilalamin!" Iblis Hendri lenyap untuk selamanya.


Mereka sangat senang walaupun ketiganya terluka cukup dalam.


Mereka juga pulang ke rumah setelah mengantarkan Diana ke rumahnya dengan petunjuk dari penjaga Prita yang di temui Zidane.


Sekarang tak ada yang perlu di khawatirkan, karena para penjahat sudah lenyap untuk selamanya.


Untuk sekarang dan seterusnya, mereka bisa tenang dan hidup bahagia. Berkumpul bersama keluarga dan para sahabatnya.




**Terima kasih kepada semua pembaca yang setia dengan ceritaku. Mungkin ceritaku terlalu monoton, tapi aku berharap semua terhibur dengan ceritaku ini ya.



Maaf atas keterlambatan update, dikarenakan otor yang selalu sakit-sakitan dan sibuk apalagi sehabis melahirkan. Jadi, otor sangat riweh.😄😄



otor udah lahiran???



Yupz, alhamdulillah aku udah lahiran dengan lancar dan selamat berkat do'a dari kalian semua.



Sekali lagi aku ucapkan hatur nuhun yang sebanyak-banyaknya.😘😘😘😘😘

__ADS_1



Sampai jumpa di ceritaku yang lainnya🤗🤗**


__ADS_2