
"Apa lu bilang? Diana? Diana yang mana?" Zyan menanggapi datar pertanyaan Rena dengan mengedikkan kedua bahunya.
"Mungkin anak sastra itu kali, Ren. Dia kan yang waktu itu pernah ngasih bunga buat Zyan lewat si Bagus anak culun." Ujar Ashanti.
Zyan tak perduli dengan siapa Diana dan ia pun tak pernah mengingat ada gadis yang memberikannya bunga, yang seharusnya seorang pemuda lah yang memberikan bunga.
"Ckkk, gue yakin tuh bocah mo gangguin lu doank Zy!" Andra mengangkat kedua kaki yang kemudian di selonjorkan di meja.
Dengan gerak cepat, Zyan mendendang kaki saudara sepupunya tersebut. "Singkirkan kaki lu dari meja. Gue gak suka tempat makan di buat naruh kaki."
"Aaawww, lu gila apa Zy? Kaki gue sakit dodol." Andra meringis kesakitan.
"Hahaha. Lagian elu sih, Ndra. Udah tahu Zyan kagak suka kalo ada kaki numpang di meja. Mana kaki lu kotor lagi bekas tadi lari-larian nyeker." Ledek kedua gadis.
Andra mendelik sebal dengan perkataan kedua gadis sahabatnya.
Melihat saudara sepupunya ingin melanjutkan pertengkaran, dengan cepat Zyan berkata tanpa menoleh.
"Dia minta bertemu!" Ketiganya menoleh tak mengerti. "Gadis itu minta ketemuan sama gue di cafe sebrang kampus dulu." Lanjut Zyan melihat ekspresi tak mengerti dari ketiganya.
"Oooohhh, terus?" Tanya ketiganya setelah mengerti maksud perkataan Zyan.
"Apa elu mau nemuin dia kesana?" Ada nada cemburu dari pertanyaan Rena.
Ashanti melirik sahabatnya yang bertanya namun memalingkan wajahnya. "Gue yakin elu gak bakal nemuin dia kan, Zy?" Dia tahu kalau Rena mempunyai perasaan yang lebih buat Zyan walaupun tak akur.
"Gue gak suka cewek yang terlalu agresif sama cowok. Mending gue nemuin ketiga anak Tante hantu di asrama. Mami sama papi juga mau kesana buat nengokin tuh bocah!"
Perkataan Zyan membuat Rena tersenyum dan menoleh ke arahnya. "Gue ikut elu ya, Zy? Gue juga mau nengokin tuh F3 bersaudara!" Berharap di iya kan oleh Zyan.
Hanya lirikan mata yang tertuju pada Rena. Kemudian, Zyan berdiri dan melangkah pergi.
"Yang mo ikut ke asrama masuk ke mobil gue, yang gak mau tinggal di basecamp aja." Ujarnya.
Sontak ketiganya berlari mengejar langkah Zyan yang sudah keluar. "Kita ikut!"
Senyum Zyan terukir walaupun sedikit sekali. Tapi, dia tak memperlihatkan pada ketiga sahabatnya.
"Cepat!" Ucapnya ketus. "Lu yang nyetir!" Di lemparkannya kunci mobil ke arah Andra yang langsung di tangkapnya.
"Oke!" Andra berjalan memutar ke arah kemudi.
Keempatnya pergi meninggalkan basecamp menuju asrama tempat ketiga anak Tante hantu Laila di titipkan.
Di perjalanan, Zyan segera menghubungi orang tuanya dan memberitahu bahwa mereka menyusul ke asrama tersebut.
"Pap, aku sama anak-anak langsung ke sana aja. Kalian tunggu kami ya!" Kata Zyan di telepon.
__ADS_1
"Baiklah, nak. Papi sama mami nunggu kalian di gerbang asrama saja ya." Kata Zidane.
Mereka pun bergegas memacu kendaraan menuju asrama.
•••••••••
Seorang gadis cantik sedang duduk di salah satu kursi cafe yang cukup hits di kalangan anak muda.
Banyak pemuda yang melirik ke arah si gadis cantik tersebut, sampai pacar mereka marah karena melihatnya. Namun, dengan angkuhnya ia bertumpang kaki sambil melipat kedua tangan di dada.
"Cih, pemuda mata keranjang. Gue gak suka pemuda miskin dan jelek seperti mereka!" Lirihnya berucap jijik.
Wajah tampan Zyan selalu terbayang di mata, sampai gadis itu tersenyum sendiri. Ia sangat tak sabar ingin bertemu dengan pemuda tampan tersebut.
"Zyan ... Zyan ... Zyan ...! Kenapa selalu membuat hati gue bergetar sih?" Memangku dagu sambil tersenyum ceria.
Orang yang melihat gadis itu tersenyum sendiri pun jadi merasa aneh. Bahkan, ada yang merasa ngeri dan takut.
"Cantik cantik gila!"
"Huuuh, ku kira dia istimewa. Ternyata, dia luar biasa ... tak warasnya!"
"Haish, gadis cantik sayang banget kalo gila."
Celotehan bisik-bisik para pemuda yang melihatnya menjadi agak mengerutkan dahi. Wajah mereka langsung melengos dan tak memandang ke arah Diana lagi.
Namun, Diana tetap tak perduli dengan apa yang di pikirkan atau bisikan mereka. Yang dia pikirkan saat ini adalah si tampan dari negeri dongeng. Hihihi.
Waktu berlalu dengan cepat. Banyak orang bergantian keluar masuk cafe sampai menjelang sore. Tapi, dimanakah si tampan sekarang? Kenapa dia tak kunjung datang juga? Apa jangan-jangan ...???
"Maaf, mbak. Kami akan tutup!" Ucap pelayan.
Diana mendongakkan wajah. "Kok cepat sekali tutupnya! Gak seperti biasa." Berkata dengan nada kesal.
"Ini sudah waktunya kami tutup, mbak! Ini sudah jam sepuluh lewat. Seharusnya, kami tutup jam sepuluh pas." Ucap pelayan sopan.
Di liriknya jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Jam sepuluh malam. Perasaan baru sebentar gue tunggu." Keluh Diana.
Pelayan tersenyum menanggapi keluhan gadis cantik tersebut. "Nungguin pacarnya ya, mbak?" Diana tersipu malu. "Memang, kalo kita nungguin orang tersayang pasti waktu itu terasa baru sebentar. Padahal, mbak udah nunggu dari jam delapan pagi lho!" Kata pelayan itu membuat Diana memberengut kesal.
"Mbak benar! Kemana dia?"
Melihat ekspresi sedih gadis di hadapannya, pelayan itu berusaha menghiburnya karena tak enak hati. "Mungkin dianya lupa kali, mbak. Coba di hubungi lagi aja. Siapa tahu ada sesuatu hal yang tak bisa dia tinggalkan mungkin!"
"Iya mbak. Ya udah, aku pulang deh!"
Diana melangkah keluar dengan lesu. Wajah yang sumringah tadi hilang begitu saja setelah mendengar perkataan pelayan tadi.
__ADS_1
"Apa mungkin dia sedang bersama ... ah, pasti dia di rumahnya!" Diana tak berani berpikir macam-macam.
Panggilan pun di lakukan untuk menghubungi si tampan. Bibirnya tersenyum saat mendengar nada tunggu yang berarti ponsel Zyan aktif.
Namun tak lama kemudian, senyumnya menghilang begitu saja saat mendengar suara ...
"Hallo!" Suara wanita yang menjawab panggilan Diana.
Dadanya terasa sesak, tangannya gemetar, suaranya terasa tercekat di tenggorokan. Tapi, dia penasaran dengan siapa yang sedang bersama pemuda idamannya.
..."Ha-hallo! Mmma-maaf ganggu malam-malam. Mmm, Zy-Zyan nya ada?" Tanya Diana gugup....
"Zyan sudah tidur sekarang. Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya wanita di sebrang.
"Aaahhh, ti-tidak ada apa-apa kok! Cuma mau tanya aja, tadi pagi dia kemana ya? Bukannya sudah bikin janji mau ketemu sama seseorang!"
"Janji? Dia gak ngomong mau ada janji. Maaf, janji sama siapa ya kalo boleh tahu?"
"Mmmm, sama ... sama ...!" "Gue harus ngomong sama siapa ya? Apa gue bilang dia janji sama gue? Tapi ... gak, gak boleh! Gue harus tahu dulu ni cewek siapanya Zyan." Batin Diana.
"Sama siapa? Soalnya dia gak ngomong kalo ada janji. Kalo tahu ada janji, mungkin dia tadi siang di suruh pulang saja!"
"Aaaahhh, hehehe. Gak usah di pikirkan! Mungkin besok dia mengingatnya! Mmm, kalo boleh tahu, ini siapanya Zyan ya?" Berharap langsung di jawab dan tidak mengecewakan. "Ayo jawab! Bilang kalo elu bukan siapa-siapanya. Bilang kalo ...!"
"Ini ...!" Sebelum dia menjawab, sebuah suara mendahului berbicara sambil mengecup pipi.
"Siapa yang telpon malam-malam begini, sayang?" Suara serak khas orang bangun tidur membuat Diana membulatkan mata sambil menutup mulutnya. "Aku gak mau liatin kamu telponan malam-malam begini! Apa lagi sama pria lain. Kemari dan peluk aku lagi supaya aku bisa tidur pulas malam ini." Berkata dengan manja.
"Baiklah, tapi lepaskan dulu! Aku harus jawab dulu ini."
"Gak mau! Aku udah ngantuk dan pengen tidur lagi. Jadi, percepatan bicaranya!" Tetap berkata manja.
"Ini sama ..."
Tut tut tut
Sebelum Diana mendengar percakapan di sebrang, dia tak kuasa mendengar kenyataan pahit yang harus dia telan. Dengan secepat kilat, tombol merah pun di geser dan berakhirlah panggilan tersebut.
"Sayang ... sayang? Dia panggil sayang? Dan tadi ... peluk? Apa jangan-jangan ...!"
"Astaga, di-dia menghabiskan waktu bersama cewek lain dan melupakan janji ketemu sama gue." Kesal hati Diana mengetahui itu.
"Haaaaaaaaaaaaaa!" Teriakannya mungkin di dengar orang lain. Tapi, ia tak perduli. "Zyan, lu udah mainin perasaan gue!"
Di bantingnya ponsel seharga jutaan rupiah itu dijalanan karena kesal. Hatinya sangat sakit mendengar perkataan manis pemuda idamannya terhadap gadis lain.
"Zyan, Gue bakal rebut lu dari cewek itu. Itu janji gue!"
__ADS_1
Tekad Diana sudah bulat. Dengan amarah yang meledak, dia pulang ke rumah orang tuanya membawa kekesalah di hati. Sakit hati mengetahui jika pemuda idamannya ternyata sudah mempunyai gadis idaman, bahkan mereka tidur bersama di kamar dan kasur yang sama.
"Gue bakal bikin lu ngemis cinta gue. Walaupun gue serahin kesucian gue, gue gak perduli! Asalkan, seorang Zyan Prasetyo bertekuk lutut di bawah kaki gue."