
Dika menghentikan motor vespa di depan rumahnya.
Dia mengajak Iren masuk ke dalam rumahnya."Yuk, masuk!"Ajaknya.
Iren tampak ragu."Ta..tapi gue?"
Dika menarik tangan Iren pelan."Ini udah malem Ren, nih lihat.jam dua belas malem" Dika menunjukkan angka pada jam tangan.
"Yuk masuk, gak enak dilihatin tetangga!" Ajak Dika lagi dan melangkah.
"I..iya Dik."Iren mengikuti langkah Dika.
Tok tok tok.
Dika mengetuk pintu rumahnya."Nyak, babeh, Romi, aye balik nih!"
Lama tak ada yang menjawab, ia pun mengetuk lagi dengan keras sambil berteriak."Nyak, babeh, Romi, buka pintunye"
"Ssttt, Dika.elu mau semua orang tahu kalau elu bawa cewek kerumah, tengah malem lagi!"Protes Iren.
"Oh iya, gue lupa!"Ia berbisik.
Karena tak mendapat jawaban dari orang dalam rumah, akhirnya ia memutar otaknya dan ia pun menemukan ide.
"Ahhaa, Kita tidur di belakang saja yuk!"Dika menarik tangan Iren dan membawanya ke belakang tokonya babeh.
Disana, ada sebuah tempat buat ngadem, seperti saung-saungan kecil semacam pos ronda.Ia pun mengajak Iren ke sana.
"Tidur disini gak apa-apa kan?"Tanya nya.
"Gak apa Dik, walaupun disini dingin, yang penting gue selamat dan gak ada bahaya" Tutur Iren.
Dika tersadar dengan perkataan Iren, ia pun berlari mengambil kain di jemuran.
"Mau kemana, Dik?"Tanya Iren saat melihat Dika berlari.
Ia tak menjawab, dan buru-buru berlari dan kembali membawa sebuah kain.
"Nih, buat selimutan lu!"Dika menyerahkan kain itu pada Iren.
"Eh, dapet nyolong dimana lu?"Iren menatap kain di tangan Dika.
"Ckk, gue ngambil di jemuran enyak gue, sudah pake saja!"Ia melemparkan kain itu ke wajah Iren.
"Songong lu,"Cibir Iren.
Dika pun duduk di tempat itu, dan ia berbaring di sana.
"Aaahhh, nyamannya"Ia sengaja berkata seperti itu supaya Iren mengikutinya untuk tidur dan tak mengingat kejadian tadi.
Iren duduk di pojokkan, ia menyelimuti tubuhnya dengan kain yang di berikan Dika.
"Dik, gimana kelanjutan elu sama Sherly?" Iren bertanya sambil memejamkan matanya.
Dika pun berbalik tengkurap dengan wajah menghadap Iren yang duduk di pojokkan.
"Hemh, emang ada apa gue sama dia?"Dia malah balik bertanya.
"Ckk, gue tahu kalau elu mencintai dia. Kenapa elu gak jujur saja sih sama Sherly" Iren berdecak memberi nasehat padanya.
Dika malah menunduk dan menenggelamkan wajahnya di tumpukkan kedua tangannya."Gue gak tahu Ren, sudah berkali-kali gue menyatakannya, tapi dia selalu menganggap itu sebuah lelucon!"
"Elu jangan pantang menyerah dong, Dik. Justru elu harus lebih bersemangat untuk mendapatkan cintanya Sherly."Nasihat Iren.
"Gak ada harapan buat gue bisa mendapatkan cintanya, Ren.Dulu si Hendri yang selalu mengganggunya, sekarang si Zidane.Haaaahh, gue cape!"Helaan napas Dika yang panjang karena lelah.
Iren menatap simpati pada sahabatnya itu."Hemh, Dimana Mahardika yang gue kenal dulu.Yang selalu optimis dalam segala"
__ADS_1
Dika tersenyum."Gue udah nyerah, Ren."
"Haish, Dika..Dika!"
▪▪▪▪
Di tempat kost itu.
Si pria mesum yang sudah di hadiahkan bogem mentah dari Dika, ia terhunyung-hunyung berjalan dengan sempoyongan dan kesakitan.
Wajah bengkak dengan luka di sudut bibir dan seluruh tubuh yang pasti kesakitan.
"Sial, apa pemuda itu pacarnya?apa mereka akan melaporkan semuanya pada polisi?Haduh, sial..sial, bukannya dapet enak, malah masuk penjara.huuh"Ia menggerutu kesal karena tak melihat wajah si pria baik yang memberinya hadiah.
Ia terus berjalan menuju rumahnya.
Namun saat di pertengahan jalan menuju ke rumahnya, tanpa sengaja ia melihat seorang gadis menaiki tangga ke atas tempat jemuran.
Kaki jenjang menampakkan paha putih, bersih, dan mulusnya.
Gadis itu cuma terlihat dari belakang saja.
"Waaah, siapa gadis cantik itu?"Dia menatap kaki jenjang yang putih mulus.
Walau sudah di beri hadiah perkenalan oleh Dika, pria itu tetap tidak kapok.Ia mengikuti langkah kaki gadis cantik itu ke atas.
Sesampainya di atas, ia melihat gadis itu duduk bersandar di dekat pilar lantai dua.
"Hai cantik, lagi ngapain nih?"Pria mesum itu mendekati gadis yang tengah duduk membelakanginya.
~Hening tak di jawab olehnya~
"Sombong benar sih neng, abang kan cuma sekedar nyapa saja!"Ia terus maju dan mendekat ke arah gadis itu.
Gadis itu tetap tak bergeming, ia tetap duduk dan membelakanginya.Seolah tak terganggu dengan cibiran pria itj, ia tetap diam tak bergerak.
Karena merasa di abaikan, pria itu pun sengaja mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah gadis itu.
"Neng ikut abang dangdutan, yuk"Seperti pandangan Rei keponakan Sherly tentang buaya darat.
Itulah si pria mesum kira-kiranya.
Namun, si gadis tetap tak bergeming dengan sentuhan pria itu.
Cess..dinginnya.
Tangan si mesum itu menyentuh kulit si gadis yang sedang duduk.
"Wah..wah, neng kedinginan ya?biar abang hangatkan, yuk!"Dengan tak tahu malunya, ia berkata seperti itu.
"Sini dong neng, nengok dikit kek sama abang"Lanjutnya.
Dengan nada dingin dan datar, gadis itu berkata."Beneran, kamu mau lihat?"
Pria mesum itu pun bersemangat karena merasa di tanggapi.ia pun mengiyakannya dengan pasti."Iya neng, iya"
"Tapi jangan kaget ya?"Masih dengan nada datar dan dingin.
"Oke, kenapa harus kaget, pasti kamu sangat cantik.Lihatlah, kulitmu saja putih, bersih, dan mulus gini"Ia menyentuh dan mengelus kulit lengan si gadis.
Dengan perlahan tapi pasti, gadis itu menoleh ke belakang.
Nampak wajah putih pucat pasi dengan luka di dada yang masih mengeluarkan darah dan pisau yang masih menancap.Ia berdiri dan menghampiri pria mesum itu.
"Kamu???"
Betapa terkejutnya si pria mesum dengan sosok gadis di depannya, ia terpundur ke belakang sampai terjungkal karena kakinya tersandung sesuatu di belakangnya.
__ADS_1
"Jangan mendekat..jangan mendekat!"Ia mundur terus sambil terduduk.
"Bukan kah kamu ingin mengajakku bersenang-senang?kenapa sekarang takut?" Sosok gadis itu terus mendekat ke arah nya yang terus mundur.
"Tidak, aku mohon.jangan mendekat!"Dia menyatukan kedua tangan di depan.
"Apa kamu tidak tahu, perasaan seperti itulah saat kau ingin melecehkanku dulu." Suara serak penuh kebencian.
"Kau tidak tahu, betapa sedihnya orang tuaku yang tak pernah mendapatkan kabar dari ku, mereka sudah mencariku kemanapun namun tak dapat menemukanku ataupun jasadku.Kau kejam"
Sosok gadis itu berteriak.
"Maaf, maafkan aku.ku mohon!"Pria mesum itu terus memohon ampun darinya.
"Hehh, gampang sekali kau minta maaf setelah merenggut nyawaku?"Matanya melotot seperti akan keluar.
"Itu tidak di sengaja, kau yang mengambil pisaunya.Kau sendiri yang memaksaku untuk melepaskan pisau itu."Pembelaan dirinya.
"Jika aku tidak mengambil pisau, apa aku akan selamat dari kelaparan mu itu?"Ia berteriak dengan menyeramkan.
"Kau harus merasakan apa yang aku rasakan, tua bangka!"Lanjut sosok itu.
"Tidak..tidak!"Pria itu langsung berdiri dan berlari menuruni tangga.
Saat ia sedang berlari, tiba-tiba lampu mati sehingga ia menghentikan langkahnya.
Ia meraba pintu kamar kost dan mengetuk pintunya.Namun, tidak ada jawaban.
Pintu itu ternyata tak di kunci, sehingga dia bisa masuk dan bersembunyi di sana.
Tapi, dia tidak tahu di dalam kamar itu seperti apa karena keadaan yang gelap, membuat ia susah untuk melihat keadaan sekitar.
Tiba-tiba terdengar suara bernada menakutkan.
"Kamu kesini juga rupanya?"Suara serak dan lirih terdengar di kamar itu.
Ia pun menoleh ke arah suara yang terlihat hanya bayangannya saja.
"Si..siapa kamu?"Ia terlihat gugup dengan keadaan seperti itu.
Clik..lampu menyala..
Nampak sosok itu sedang duduk di bangku dalam kamar itu.
Si pria mesum itu pun terlonjak kaget sampai terjatuh ke lantai.Ia berbalik mencoba membuka pintu kamar namun tak bisa di bukanya.
Ceklek..ceklek..ceklek..
Pintu di buka paksa olehnya tapi tak berhasil.
"Tolong, lepaskan aku!"Ia terus meminta pengampunannya.
"Semudah itu kau ucapkan kata maaf, dasar tua bangka!"Teriakan serak membuat semua takut mendengarnya.
"Aku mohon padamu, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama."Ia berbalik dan memohon lagi.
"Pada pemuda itu kau berjanji tidak akan melakukanya lagi, tapi ternyata setelah melihat gadis lewat di depanmu, janji yang kau buat pun di ingkari."Serak dan lirih suaranya.
"Aku tidak akan mengampunimu, supaya kau jera dengan perbuatanmu."Ia mendekat dan mencek*k leher si pria mesum yang sedang memohon padanya.
"Jangan, to..loooong"Ia berusaha melepaskannya namun cengkraman itu semakin kuat.
"Kkkkkkk"Akhirnya, ia tergeletak sambil memegang lehernya sendiri.
Sosok gadis itu pun tersenyum setelah menuntaskan pembalasannya.
Ia menghilang dari ruangan bekas kamarnya dulu, meninggalkan jasad si pria mesum itu.
__ADS_1
Sampai siang hari, baru dia di temukan oleh orang-orang dan terkapar di bawah pilar bangunan rumah kost tempat ia menyimpan jasad gadis malang itu.
Entah bagaimana pria itu bisa berada di sana, yang pasti ini karena ulah hantu wanita dalam tembok yang membalas dendam padanya.