
Sebuah suara yang berasal entah dari kiri atau kanan, terus menyuruh mereka untuk meninggalkan Zyan.
Zyan sendiri sedang tertawa tak jelas, seperti tak biasanya. Ia bersikap seolah bukan dirinya yang biasa.
Setan apa yang merasukinya?
"Stop Zy, jangan tertawa terus! Kita sedang dalam keadaan bimbang, lu malah tertawa kek gitu."
Bukannya berhenti, dia semakin tergelak sampai berguling di tanah.
"Kenapa dia?" Ketiganya terheran melihat kelakuan Zyan saat ini.
Suara misterius itu kembali memanggil. "Cepat kemari dan tinggalkan dia, dodol!"
Rena dan Ash merapatkan tubuhnya ke arah Andra. "Gue takut, Ndra." Bisik keduanya lirih.
"Si-siapa kamu? Ja-jangan ganggu kita ya!" Ucap Andra gugup.
"Lu kenapa gugup? Yang lantang dong!" Kata kedua gadis.
"Gue juga takut, dodol. Kalau si Zyan kagak stres saat ini, mungkin dia yang ngobrol sama hantu!" Bisik Andra.
"Gue gak stres, bedul. Makanya kalian kemari!" Perkataannya membuat ketiga anak muda semakin berpelukkan.
"Kok dia yang ngomong!" Mata Andra melirik Zyan yang sedang tertawa terbahak sambil guling-gulingan.
Hadeuh, tau tuh anak lagi ngapain!
Setelah melirik Zyan, Andra melanjutkan ucapannya. "Gue kan tadi ngomongin..." Sepertinya dia menyadari sesuatu. "Zyan ... Zyan ... lu dimana?"
Sontak membuat kedua gadis memukul lengannya. "Lu gila ya, Ndra! Zyan sedang guling-gulingan tuh."
"Iya. Gak tau tuh anak, sejak kapan dia jadi gila!"
Andra tak menghiraukan ucapan kedua gadis itu. Ia melangkah maju untuk meyakinkan sesuatu.
"Lu mau kemana, Ndra?" Namun Andra tak menghiraukan.
"Lu jangan tinggalin kita dong!" Keduanya merapat kembali menghimpit tubuh Andra. "Kita kan takut. Disini gelap banget!" Lanjut keduanya.
"Si Zyan gimana? Dia masih ketawa aja tuh!" Kata Rena menunjuk ke belakang.
"Biarin aja dia, yuk pergi!" Ajak Andra kepada keduanya.
"Tapi ..."
"Udah, buruan kita pergi dari sini!" Andra berkata dengan tegas. "Zyan ... lu dimana?" Panggilnya.
"Lu ngomong ap ...!"
"Arahin senter lu ke kanan, Ndra!" Andra pun mengikuti petunjuknya. "Gue ada di atas sini!" al, senter menyorot ke atas.
Apa yang terjadi???? Taraaaaa ... Zyan sedang terikat diatas dengan tubuh menempel di langit-langit seperti cicak di dinding yang diam-diam merayap, tapi tak datang seekor nyamuk karena kalau datang bisa menggigit tubuhnya.
"Sedang apa lu disitu, Zyan?" Mata Andra terbelalak.
"Gak usah banyak tanya. Tolongin aja gue sekarang juga!"
"Kok lu bisa ada disitu sih, Zy!" Seru Andra lagi sambil mencari sesuatu buat menyelamatkan Zyan.
"Ntar gue ceritain. Sekarang, gimana caranya supaya gue bisa turun?"
Andra pun berpikir keras. Berbeda dengannya, kedua gadis malah semakin ketakutan sampai mereka mencegah Andra untuk mendekatinya.
"Lu gila ya, Ndra. Jelas si Zyan ada di sana, lu malah mau nyamperin peniru yang sedang nemplok di langit-langit! Gimana kalo itu setan yang ngikutin kita dan mau mencelakai?"
Andra tetap tak menghiraukan. Ia berusaha menolong Zyan bagaimana pun caranya.
"Gue harus apa, Zy?"
"Juandra!" Teriak Rena dan Ash. "Lu dengerin kita gak sih. Dia itu setan yang sedang menyamar. Jangan terpengaruh olehnya, Ndra!"
"Benar. Dia itu setan!" Kata Zyan yang berada di belakang mereka.
Rena dan Ash menoleh ke belakang. "Lu udah baikan, Zy?"
"Memangnya gue kenapa? Gue baik-baik aja kok!" Ucapnya datar. "Ayo cepat, kita harus pergi dari sini! Takutnya nanti ada teman-teman setan." Zyan melangkah pergi memilih jalan kiri.
Rena dan Ash mengikuti langkahnya, namun di hentikan Andra. "Jangan ikutin dia, guys! Dia bukan Zyan yang asli." Peringat Andra.
"Lu gila ya, Ndra. Dari tadi kan dia bareng kita, masa sekarang lu bilang dia bukan yang asli?" Kata Rena.
"Terus menurut lu, yang asli itu yang nemplok di situ kaya cicak?" Ash kesal dengan Andra.
"Dia memang yang asli. Gue yakin itu!" Andra keukeuh pada pendiriannya.
"Oke, kita selamatkan dia. Kalau dia yang palsu, lu harus tanggung jawab!" Kata Rena dan Ash.
"Jangan di selamatkan! Ayo kita pergi, gue udah takut nih!" Zyan menghentikannya.
__ADS_1
Andra, Rena dan Ashanti saling menatap. "Takut? Sejak kapan seorang Zyan mengenal rasa takut?"
Zyan menjadi gugup akan pertanyaan mereka. "Gu-gue ... itu ... emmmhh!"
"Turunin gue, cepat!" Teriak Zyan yang berada diatas.
Andra tersadar, kemudian ia mencari sebatang bambu yang tergeletak di tanah. "Gue coba pake ini saja!" Ia pun menarik tali yang terbuat dari sarang laba-laba.
Dengan kekuatan penuh, Andra pun akhirnya menyelamatkan Zyan.
Deblugh
"Elu gak apa kan, Zy?" Tanya Andra.
"Kyaaaa ... sakit badan gue!" Rengek Zyan sambil memegangi punggungnya yang terbentur.
"Sini gue bantu lu berdiri!" Uluran tangan Andra di sambut langsung oleh Zyan. Sedangkan kedua gadis masih mengamati gerak-gerik mereka.
"Rena ... Ashanti ... lu berdua gak mau bantuin gue?" Tanya Zyan.
"Gu-gue ...!"
Zyan yang satu lagi datang sambil berkata, "Hei, gue tungguin kalian malah pada disini aja. Yuk kita pergi!"
"Gue masih bingung, mana Zyan yang asli dan yang palsu!"
"Tentu gue yang asli." Ucap keduanya bersamaan membuat mereka bingung.
Tak ada perbedaan apapun dari keduanya. Yang bisa memastikannya adalah ...
"Apa tujuan kita kemari? Jawab secara bersamaan!" Perintah Andra.
"Tujuan kita kesini buat cari keluarga gue yang hilang!"
"Tujuan kita kesini buat nemenin gue main!"
Jelas sudah mana yang asli dan palsu. Segeralah ketiganya mendekati Zyan yang tadi di selamatkan Andra.
Segeralah Zyan mengusir siluman itu dengan sesuatu yang dimilikinya, yaitu do'a.
Siluman laba-laba tersebut kemudian menghilang setelah dibacakan do'a pengusir setan.
"Sekarang yakin bukan kalau Zyan yang ini asli dan itu palsu!" Ledek Andra. "Gue udah curiga sama dia karena banyak tertawa, sedangkan Zyan kan mukanya asem!" Ceplosnya.
Plakk
"Woi, sakit dodol!"
"Iya ... iya!" Tak ada gunanya berdebat dengan Zyan, dia selalu benar.
"Lalu, dia itu siapa? Kenapa dia meniru kan wajah Zyan?"
"Karena gue ganteng!"
Mereka mendelik mendengar perkataan Zyan yang terlalu percaya diri.
Zyan berdehem, lalu melanjutkan bicara. "Dia itu siluman laba-laba!" Ketiganya terbelalak sontak menjauh.
Zyan bercerita ...
Saat Zyan turun dan menutup pintu besi, otomatis keadaan di bawah menjadi gelap. Sebelum Andra menyalakan senter di ponselnya, sebuah tangan menarik Zyan begitu cepat dan menyeretnya menjauh dari teman-temannya.
Tubuh Zyan di tahan diatas langit-langit dan kemudian, siluman itu merubah wajahnya menyerupai wajah Zyan namun sikap dan sifatnya berbeda.
Mereka melanjutkan kembali perjalannya untuk mencari keberadaan orang tua Zyan dan asisten rumah tangganya.
Surat yang di temukan Zyan dan kawan-kawan saat pulang ke rumah untuk mencari keluarganya.
Jika kamu ingin menemukan keluargamu, da**tanglah ke hutan larangan di kaki gunung gede. Carilah gubuk tua di dalam hutan, maka kamu akan menemukan mereka.
Zyan mengusap kasar wajahnya. Dengan perasaan gelisah, ia tetap fokus mencari ayah, ibu, serta kedua asisten rumah tangganya.
Banyak sekali kejadian yang menimpa mereka di dalam sana. Namun, mereka bisa melaluinya dengan sabar dan penuh keyakinan.
Lama berjalan menyusuri lorong bawah tanah sampai kaki terasa pegal, akhirnya tak sia-sia. Sebuah cahaya terlihat jelas membuat mereka kegirangan.
"Yeeeaah, akhirnya ada jalan keluar!" Sorak mereka.
Dengan bergegas, mereka berjalan secepat mungkin untuk bisa keluar lorong tersebut.
"Aaah, udara segar!" Menghirup udara di sekitar setelah mereka di luar sembari merentangkan kedua tangan.
"Akhirnya keluar juga!" Seru mereka girang.
"Tapi, tempat apa ini?" Menyapu area sekitar dengan mata.
Hutan belantara
Sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduk merinding. Seluruh area lahan itu isinya hanya pohon besar yang rindang, dengan banyak mayat di bawahnya.
__ADS_1
Mayat-mayat itu di perkirakan sudah tahunan bahkan puluh tahunan berada di sana. Karena, keadaan mayat yang sudah berubah menjadi tengkorak, bahkan ada juga yang baru membusuk.
Aura menyeramkan tercium pekat dari sini. Karena hanya dengan melihat keadaan para mayat tersebut, sudah pasti sangat angker di area itu.
"Gu-gue takut!" Kedua gadis bersembunyi di balik tubuh jangkung Zyan dan Andra.
Tiba-tiba, terdengar suara orang tertawa ...
"Hahaha ... ternyata kalian sampai juga!" Seorang perempuan memakai penutup wajah, berdiri di atas pohon besar yang berserakan mayat.
Semuanya menoleh ke arah sumber suara. "Elu siapa? Kenapa menjebak kami untuk datang kemari.
Perempuan melayang turun dan berdiri tepat di hadapan Zyan. "Tampan!" Satu kata yang keluar dengan tersenyum lebar.
Ekspresi datar Zyan terlihat. "Mau apa lu?"
Dia malah tertawa dengan keras. "Hahaha ... mirip sekali dengannya." Mereka tak mengerti apa yang di ucapkan wanita itu. "Aku sangat suka pria yang dingin sepertimu. Tapi sayang, kau harus membebaskan roh suamiku yang terkurung selama puluhan tahun!"
Semakin tak jelas aja yang di ucapkan wanita misterius itu.
"Apa maksudmu dengan membebaskan roh suamimu yang terkurung?" Tanya Zyan.
"Nanti juga kau akan mengerti, sayang. Jadi, bersiaplah untuk merasakan sedikit kesakitan!" Kata wanita itu.
"Kalau gue gak mau!"
Wanita itu tersenyum. "Tidak apa-apa. Nanti juga kau akan menyerahkan diri secara suka rela."
"Kenapa kau seyakin itu, wanita tua!" Teriak Andra.
"Karena mereka ada di tanganku!"
Dengan menggerakkan tangannya, munculah sebuah sangkar besar berisikan Zidane dan Sherly yang tengah pingsan. Di sangkar lain, ada mang Sidik dan bi Murni.
"Papi ... mami ... mamang ... bibi!" Mata mereka terbelalak.
"Bagaimana, sayang? Apa kau tetap pada pendirianmu? Atau, kau mau menyetujui permintaanku?" Senyum licik di wajah si wanita.
"Baiklah ... lakukan apapun terhadap gue, tapi bebaskan orang tua gue dan kedua asisten rumah tangga gue!" Zyan menyerah.
"Jangan terpancing olehnya, Zy! Kita gak tahu jika lu nurutin kemauannya, apa mereka akan di bebaskan."
"Benar. Lepaskan dulu mereka semua, baru gue nurutin perkataan lu!" Kata Zyan.
"Baik."
Sangkar berisikan mamang dan bibi pun turun dengan hanya satu gerakan dari wanita itu. Dia seperti penyihir yang bisa melakukan teknik apapun.
Mamang dan bibi langsung sadar setelah pintu sangkar terbuka lebar. "Dimana ini?"
Sebelum menjawab pertanyaan mamang dan bibi, si wanita itu menggerakkan kedua tangannya membuat Andra, Rena, Ashanti, mamang dan bibi hilang entah kemana.
Zyan yang sedari tadi memperhatikan, langsung tersadar. "Kemana mereka?"
"Tenang sayang, mereka sudah pulang ke rumah masing-masing! Sekarang, tinggal urusan kita saja. Baik bukan aku kepadamu!" Kata wanita itu lagi.
"Apa aku harus percaya dengan penyihir sepertimu?"
Mendengar sebutan baru, dia semakin tertawa. "Hahaha ... kamu memang putranya. Ternyata, kamu sama beraninya seperti ayahmu ya!" Ledeknya.
"Tentu, aku harus berani melawan orang sepertimu. Apalagi, kamu berniat mencelakai keluargaku!"
"Hahaha ... sangat menarik! Mari kita coba, seberapa beraninya kamu padaku?"
Sangkar berisikan Sherly dan Zidane melayang dan perlahan turun menuju sebuah altar seperti tempat pemujaan, karena pengaruh kekuatan Prita.
Sebenarnya, Prita menggunakan jasa para arwah gentayangan yang di perbudak olehnya.
Dupa menyala di depan sebuah lukisan seorang laki-laki sedang terduduk di sumur tua.
Jika diamati lebih teliti lagi, ternyata sumur tua itu berada tepat di samping pohon besar tempat pemakaman.
Pria yang berada di dalam lukisan itu terlihat hidup dan menatap ke arah Zyan.
"Coba kita lihat, apa kamu masih berani melawanku!"
Sebilah pedang panjang yang tajam, mengarah kepada kedua orang tua Zyan. Pedang itu bersiap menghunus Sherly, namun tertahan teriakan Zyan.
"Stop ... stop! Oke, aku akan melakukan apapun perintahmu. Tapi, lepaskan mereka sekarang juga!"
Prita tersenyum kegirangan. "Baiklah, itu hal yang mudah. Sekarang, kamu harus memberikan darahmu untuk membangkitkan suamiku."
"Kalau ternyata aku tak bisa membuat suamimu bangkit kembali?"
"Tak mungkin, karena kamu adalah pemilik tanda bulan dan bintang! Lagipula malam ini adalah malam bulan purnama, waktu yang sangat tepat untuk membangkitkan kembali Hendri." Kata Prita yakin. "Tapi, jika mengambil darahmu tetap tak berhasil, maka aku juga harus menggunakan darah orang tuamu! Hahaha ..."
"Kenapa dia tahu kalau gue memiliki tanda bulan dan bintang? Apa dia orang yang dimaksud papi saat itu?" Batin Zyan.
Berhati-hatilah kamu di masa depan! Jangan pernah menggunakan kekuatanmu sembarang tempat, karena akan ada yang membahayakan hidupmu. Bukan makhluk halus yang berbahaya, tetapi manusia yang bisa menggunakan makhluk halus untuk berbuat jahat. Siluman berkedok manusia yang menghalalkan segala cara.
__ADS_1
Inilah bentuk manusia itu.