
Zidane melajukan mobilnya sore itu. Ia tak memberitahukan kepada ayah mertuanya kalau Sherly di kurung oleh si Hendri, yaitu pamannya sendiri. Zidane hanya memberitahu kepada kakak iparnya saja, kak Aldrian.
"Kak, si Machan di kurung oleh Hendri lagi. Aku sedang berusaha mencarinya." Perkataan jujur dari Zidane.
Betapa terkejutnya kak Al saat mendengar ucapan Zidane yang memberitahukan jika adiknya di culik lagi oleh si penjahat itu.
Ia sampai menggebrak meja dengan kencang dan amarahnya pun meluap.
Brakkk
"Apa? Jadi, pamanmu itu masih belum menyerah untuk mendapatkan adikku?" Wajah kak Al sampai merah menahan amarahnya.
"Maafin aku, kak. Aku gak bisa menjaganya!" Zidane tertunduk lesu. "Andai saja waktu itu aku pulang dari mesjid lebih cepat, mungkin dia gak akan pergi sendirian." Lanjutnya.
Zidane sangat menyesal dan ia merasa bersalah atas hilangnya istri tercintanya.
Kak Aldrian menatap dengan lekat wajah adik iparnya ini. Dia tak bisa menyalahkan Zidane untuk hilangnya Sherly, karena kak Al tahu adiknya itu selalu pergi jika di mintai tolong oleh sahabatnya dan tak mau menunggu yang lain.
"Tidak, Zidane. Ini semua bukan salah kamu, melainkan takdir dan ujian untuk rumah tangga kalian. Kakak tahu kamu seperti apa, tapi kakak lebih tahu sifat Sherly yang sesungguhnya. Jadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri ya." Tutur kak Al.
Zidane mendongakan kepala menatap kakak iparnya. Dia memang orang yang bijaksana. Tak menyalahkan orang lain untuk hal yang sudah terjadi. Haish, dimana kamu Machan?
Wajah Zidane tak terlihat bersemangat setelah kemarin dia hampir berhasil memancing sosok besar dan hitam peliharaan Hendri. Namun, dia tak di beri kesempatan untuk bertanya karena makhluk itu tiba-tiba lenyap begitu saja.
Andai kemarin itu aku bisa menangkapnya, mungkin si Machan sudah kembali.
Aldrian nampak berpikir. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi sekarang ini karena, dia tahu jika urusannya berkaitan dengan Hendri, pasti sangat sulit sekali untuk menemukannya.
Aldrian tahu jika Hendri bukan orang sembarangan. Dia punya obsesi tinggi pada adiknya, terlebih Zidane telah memberitahukan semuanya tentang tanda bintang di punggung adiknya.
Pertarungan kemarin
"Hai bocah kecil. Apa kau datang kemari untuk mengantarkan nyawamu padaku?" Kata si besar itu meremehkan.
"Aku kesini hanya untuk bermain dan jalan-jalan, bukan untuk mengganggumu. Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini?" Zidane balik bertanya.
"Aku disini sengaja menunggu kedatanganmu, bocah ingusan." Zidane dan Nania tersenyum mendengar ucapan si besar itu.
"Apa kau ada perlu kepadaku sampai kau rela menungguku disini?" Kata Zidane sengaja memancingnya.
"Hahaha ... aku memang ada urusan sama kamu. Tuanku menginginkan aku membunuhmu sekarang juga." Ucap si besar.
"Oooooohh, ingin membunuhku." Ucapnya datar. "Tapi, sebelum kau membunuhku, apa bisa aku bertemu dengan tuanmu? Aku penasaran, siluman mana yang menginginkan kematianku?" Lanjut Zidane.
"Dia bukan siluman, melainkan manusia seperti kamu. Namun, dia sangat kuat. Tidak lemah sepertimu!" Jawab si besar.
__ADS_1
"Apa? Kau di perbudak oleh manusia? ckckkk, haish. Ternyata kau ini bodoh juga ya. Cuma badanmu saja yang besar, tapi kamu tak punya kepintaran." Ledek Nania.
"Hei hantu kecil. Kau juga di perbudak oleh manusia." Nania tergelak mendengar ucapan si besar di hadapannya itu.
"Aku? Di perbudak manusia? Hahaha. Kau salah paham kepadaku, besar. Kami itu bersahabat. Lihatlah, bahkan dia saja mau menggenggam tanganku dan memperlakukanku dengan baik. Tidak sepertimu yang selalu di suruh-suruh oleh tuanmu itu."
Tangan Nania sengaja menggenggam erat tangan Zidane dan memperlihatkannya kepada makhluk besar di hadapannya.
Benar kata hantu kecil ini. Aku selalu disuruh-suruh oleh tuan Hendri. Kalau aku melakukan kesalahan, dia pasti menghukumku. Dia tak memperlakukanku dengan baik, padahal aku lebih kuat dari yang lain.
Zidane tersenyum mendengar isi hati si makhluk besar di hadapannya. Ia senang karena Nania bisa mempengaruhinya.
Bagus. Umpan sudah dimakan, tinggal menunggu ditarik saja.
Nania tampak bingung karena Zidane tersenyum senang. Ia tak mengerti maksud dari senyum manis yang terukir di bibir Zidane.
Apa dia senang karena aku menggenggam tangannya? Seharusnya kan aku yang senang karena bisa menyentuh tangannya. Jika ada si galak, aku akan di habisi saat ini juga.
Zidane langsung menoleh ke arah tangan yang di genggam Nania karena mendengar perkataan hati Nania. Dia sampai mengerutkan dahi serta langsung melepaskan tangannya dan pura-pura mengusap wajahnya. Ia tak ingin membuat Nania curiga dan benar saja, Nania hanya meliriknya sekilas.
"Sudahlah. Aku tak perduli. Aku akan membawa kalian kepada tuanku sekarang juga supaya aku bebas dari tugas ini." Kata si besar kepada mereka.
Zidane dan Nania mengangguk dengan senyuman yang tak luntur dari bibirnya. Namun keduanya berpura-pura sedih.
"Apa kau benar-benar akan menyerahkan kami pada tuanmu dan melenyapkan kami?" Tanya Zidane dengan sedih.
"Tentu saja akan aku lakukan supaya aku bisa meminta hadiah kepada tuanku." Ucap si besar. "Lagipula, apa kau tak ingin bertemu dengan istrimu yang cantik dan manis itu untuk terakhir kalinya? Dia akan melakukan pengeluaran janin nanti malam saat bulan purnama." Perkataan si makhluk besar otomatis memancing emosi Zidane.
"Tahan, ganteng. Bukannya kita memang sengaja memancing dia untuk menemukan dimana si galak berada?" Nania mencegah Zidane yang sedang emosi.
Dengan mengusap dadanya, Zidane berusaha setenang mungkin agar tidak terpancing oleh makhluk itu.
Benar dugaan mereka. Makhluk besar itu tak mengetahui rencana keduanya sehingga Zidane dan Nania dibawa ke tempat dimana Sherly di sekap.
"Kalian harus menurut jika ingin bertemu dengannya untuk yang terakhir kali." Kata makhluk besar dan hitam itu.
Keduanya pun mengangguk menurut sambil tersenyum senang.
Sementara di tempat lain
Sherly mengerjapkan matanya secara perlahan dan ia mulai mengedarkan pandangannya.
Dirinya tergeletak di sebuah ranjang dengan ujung ranjang atas bawah memakai besi. Ruangan yang gelap dan terlihat aneh dengan lukisan-lukisan yang menyeramkan.
Gambar seperti jin atau sebangsanya, patung-patung aneh dengan bentuk yang menyeramkan, serta bau obat menyeruak menusuk hidung membuat ia tak tahan dan ingin muntah.
"Dimana ini? Kenapa tangan dan kaki gue diikat seperti ini?"
Sherly mencoba melepaskan dengan cara menariknya namun sangat sulit karena tali yang mengikatnya bukan tali tambang, melainkan terbuat dari rantai yang kuat.
__ADS_1
"Kita di tempat si jahat, galak." Sherly melirik Alea yang sama terikat oleh tali ghaib.
"Astaga. Semakin sulit saja untuk lepas dari sini sih." Ia melirik kiri kanan tangan yang di rantai.
"Iya. Kita tak bisa lepas dari sini kecuali ada yang membebaskan kita dari sini. Mudah-mudahan si genit bisa secepatnya menemukan si ganteng. Kalau tidak, kita tak tahu apa yang akan terjadi."
"Tapi, kenapa aku malah dirantai seperti ini. Tangan dan kaki dirantai di ujung ranjang." Sherly tetap berusaha menariknya namun itu malah menyakiti dirinya. "Aaawww, sakit!" Pekiknya karena pergelangan tangan yang sedikit sobek.
Alea menghentikan tingkah Sherly yang terus menarik tangan dan kakinya dari rantai itu. "Berhenti menariknya, galak. Kau akan terluka nanti."
"Tapi kita harus pergi dari sini secepatnya sebelum penjahat itu datang lagi." Sherly tetap berusaha.
"Jangan bodoh kamu. Bagaimana jika kau terluka nanti?" Alea tetap mengingatkan.
Saat Sherly akan menjawab lagi, tiba-tiba suara pria mengejutkan mereka.
"Benar kata temanmu, sayang. Jangan menyakiti dirimu sendiri. Menyerahlah!"
Sherly dan Alea tersentak sampai menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.
"Cih, menyerah kepadamu? Tak sudi kami harus menyerah kepada orang jahat sepertimu." Hendri tertawa mendengar ucapan mereka.
"Hahaha. Jangan seperti itu, sayang! Kau mematahkan hatiku lagi." Ucapnya sambil tergelak.
Hendri berjalan menghampiri Sherly yang sedang terbaring dengan tangan dan kaki yang terikat rantai.
Tangannya terulur menyentuh perut Sherly. "Hallo sayangku. Apa kau baik-baik saja di dalam sana?"
"Singkirkan tangan kotormu dari perutku, penjahat!" Sherly berteriak dengan lantang.
Hendri hanya melirik sambil tersenyum. "Kendalikan emosimu, sayang. Tak baik untyk kesehatannya."
"Jangan sok perhatian deh sama gue. Jijik gue dengernya!" Ketus Sherly.
"Sekarang yang harus lu lakuin, lepasin tangan dan kaki gue!" Pintanya pada Hendri.
"Melepaskan tangan dan kakimu? Jika saya melepaskannya, apa kamu akan menuruti semua keinginan saya dengan suka rela?" Tanya Hendri.
Sherly bingung dengan pertanyaan Hendri. Keinginan apa yang harus diturutinya dengan suka rela.
"Apa yang lu inginkan dari gue?" Tanya Sherly lantang.
"Keinginan saya adalah ...!"
"Apa????"
"Bagaimana? Apa kau setuju?" Tanya Hendri lagi.
******
__ADS_1
***Apa yang diinginkan Hendri dari Sherly supaya dirinya di lepaskan dari ikatan ini?
Kira-kira, Sherly akan setuju atau menolaknya***?