Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Sosok lain dari Sherly


__ADS_3


"Sayang!" Panggil Zidane saat sampai di butiq kakak iparnya.


Sherly menoleh ke arah sumber suara. "Hai, sini deh!" Ucapnya singkat.


Zidane langsung menghampiri istrinya kemudian mengecup kepala sang istri di depan para pegawai kakak iparnya.


"Waaaahh, sosweet!"


"Gila, suami mbak Sherly ternyata ganteng maksimal."


"Iiihhh, jadi iri deh!"


"Jadi pengen punya suami yang kek begitu. Kalau ada yang mirip, tolong bungkus satu ya."


Yang pasti bukan celotehan burung yang berkicau di dahan pohon, melainkan para karyawan kakak iparnya yang sedang asyik bergosip.


"Bantuan apa sih yang kamu perlukan sampai suami tampanmu yang harus turun tangan?" Zidane menatap istrinya yang sedang asyik menata busana untuk di pamerkan.


"Cih, tampan katanya? Gak usah narsis deh." Ucap Sherly terkekeh.


"Memang aku tampan, sayang. Coba saja tanya karyawanmu. Apa saya tampan?" Tanya Zidane kepada para gadis jomblo yang menatapnya dengan kagum.


"Banget, tuan muda!" Ucap mereka kompak.


Zidane tersenyum bangga dengan perkataan mereka.


"Baiklah suami tampanku, sekarang pakai ini!" Di berikannya satu set pakaian kepada suaminya yang menatap heran.


"Apa ini?" Di bolak balikan pakaian-pakaian itu depan dan belakang.


"Ganti pakaianmu sama ini, sayang!" Senyuman Sherly di umbar semanis mungkin kepada suaminya.


"Maksud kamu?"


"Kita akan ada pemotretan. Karena model yang aku pakai sedang sakit, jadi kamu yang harus gantiinnya." Perkataan Sherly seketika membuat Zidane membelalakan mata. "Apa?"


"Ayo lah sayang. Hemhh!" Puppy eyes Sherly tak bisa membuat Zidane berkata tidak untuk istrinya itu.


"Haahh!" Helaan napas panjang terdengar dari mulut Zidane.


Tanpa berkata-kata, dia pun mengikuti kemana arah istrinya melangkah.


"Kenapa pakaian seperti ini sih, sayang!" Zidane terus protes dan istrinya terus membujuk dan sedikit ancaman.


"Ayo lah, sayang. Kalau kamu tidak mau ya sudah. Aku akan menyuruh Indra, Geri, atau Rian dan kamu tidak boleh masuk kamar nanti malam!" Ancamannya selalu berhasil membungkam Zidane sehingga ia menuruti perkataannya.


Mau tak mau ia pun menuruti istrinya dan berganti pakaian sesuai yang istrinya minta.







Zidane yang kesal karena di ancam istrinya, dia tampil tanpa ekspresi. Malah sesekali dia terlihat cemberut. Namun, kalau orang ganteng walaupun lagi cemberut tetep saja terlihat tampan maksimal.


"Semua ini untuk di pajang di majalah, sayang. Harusnya kamu lebih berekspresi lagi dong!" Sherly melihat fhoto-fhoto mereka dari kamera fhotografer.


"Huuh!" Zidane tak mau berkata apapun lagi karena kesal sama istrinya.


Kenapa seorang presdir Diamond Emperor Grup harus bergaya seperti anak abg labil? Dasar si Machan. Gak tahu apa kalau suaminya ini terkenal di mancanegara? Apa kata rekan bisnisku kalau melihat gambar-gambar yang seperti ini? Huuuuhh, kesel deh!


Namun Zidane tak bisa mengungkapkan kekesalannya kepada istri tercintanya itu. Bisa-bisa, dia di cakar dengan kuku panjang si Machan. Hahahaa.


"Sudah selesai kan, sayang?" Rengekan Zidane yang manja membuat kak Aisyah tergelak.


"Iya, sudah selesai." Jawab Sherly.


"Hahaha. Sudah sana dek, bawa bayi besarmu itu pulang. Kita sudah beres semuanya." Kata kak Aisyah yang menertawakan adik iparnya.


"Tahu ih, dia kaya bayi saja. Apalagi kalau ndusel-ndusel kaya gini. Beuh, terlihat jelas ya kak!" Kata Sherly dengan terkekeh begitu juga kak Aisyah dan karyawannya.


"Sudah sana, kakak gak kuat lihatin suami kamu yang kaya begitu. Buruan pulang." Di dorongnya tubuh adik iparnya oleh kak Aisyah.


"Iya bawel." Dan mereka pun keluar dari butiq kakaknya itu menuju parkiran untuk pulang.


"Sayang!" Kak Al datang menghampiri.


Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Al."


"Apa kalian mau pulang?" Tanya kak Al kepada adiknya dan adik iparnya itu.


"Iya kak. Kami akan pulang." JawabSherly.


"Ada apa?" Tanya Sherly balik.


"Gini dek, tadi kakak bertemu dengan seseorang. Ada kasus pembunuhan di sebuah kantor redaksi, dan dia ingin meminta bantuan kepadamu." Tutur kak Al dengan melirik Zidane.


"Siapa? Apa itu kak Deni?" Tanya Sherly yang di angguki kak Al. Padahal dia tahu kalau itu pasti Hendri. Soalnya, tadi Hendri yang datang untuk menemuinya.


Zidane yang mendapat tatapan dari kakak iparnya menjadi mengerti. " Ya sudah sayang, kau boleh pergi. Ajak teman untuk menemanimu."

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu saja yang menemaninya?" Zidane melirik kak Al karena perkataannya.


"Aku sudah meninggalkan rapat penting, kak. Karena untuk membantu adik tercintamu itu, aku harus terburu-buru meninggalkan kantor." Kata Zidane.


"Baiklah, biar kakak saja yang menemaninya." Jelas Aldrian.


"Itu lebih baik!" Singkat Zidane.


"Ya sudah, aku ke kantor lagi ya sayang!" Di kecupnya kening Sherly dengan lembut.


"Hati-hati di sana. Kalau ada apa-apa, segera telpon aku!" Lanjutnya lagi.


Sherly mengangguk sambil tersenyum. "Iya, kamu juga hati-hati sayang!"


Zidane pun melajukan mobilnya di jalan raya setelah melambaikan tangannya ke arah istri dan kakak iparnya.


"Ayo, dek!" Mereka berangkat dengan mobil kak Al menuju tempat yang sudah diminta Hendri.


Tanpa curiga, kak Al menuruti permintaan Hendri untuk mengantarkan Sherly ke tempat itu.


Sesampainya di sana, tempat itu begitu sepi seperti sudah tak terpakai lagi.


"Kakak tidak salah alamat, kan?" Aldrian menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan adiknya itu.


"Kenapa sepi?" Mereka pun saling bertatapan kemudian mengedarkan pandangan ke area perkantoran itu.


"Kakak juga tidak tahu, dek. Ini sesuai alamatnya kok!" Di bukanya pesan yang dikirimkan Hendri ke ponselnya.


"Tuh lihat, alamatnya benar kan!" kak Al menunjukan ponselnya kepada Sherly.


"Iya, ini memang alamatnya. Tapi, kenapa sepi ya kak!"


Kebingungan mereka terjawab setelah kedatangan dua orang berbadan besar dengan wajah yang seram seperti preman.


"Sedang apa kalian disini?" Suara yang sangar terdengar dari keduanya.


"Kami sedang mencari seseorang, pak. Apa kalian melihat seseorang disini?" Kak Al bersikap biasa saja dan tak menampakkan kecemasan di raut wajahnya.


"Tidak ada siapa pun kecuali kami dan sekarang kalian." Jelas si preman.


"Oh gitu ya. Baiklah, kami permisi." Aldrian menarik adiknya untuk masuk ke mobil kembali.


Namun, preman itu menarik tangan Sherly dengan kencang sampai terlepas dari genggaman kak Al.


"Hei." Aldrian menoleh ke arah mereka yang menarik paksa tangan adiknya.


"Lepaskan dia!" Teriak kak Al.


"Lepaskan dia? Bhahaha, kamu bercanda?" Mereka tertawa terbahak-bahak.


"Ada wanita cantik datang kemari, kenapa harus dianggurin." Kata mereka dengan senyuman nakal.


Justru mereka memanggil teman-temannya yang bersembunyi di dalam gudang tua di samping bangunan perkantoran itu.


"Kurang ajar!" Geram kak Al saat melihat beberapa orang yang bertubuh sama besar mengepungnya.


"Apa yang kalian inginkan?" Mereka cuma tertawa mendengar pertanyaan Aldrian.


"Tentu kami menginginkan nyawa kalian. Hahaha!" Tawa mereka membuat Sherly dan Aldrian kesal.


Di pelintirkan tangan yang menggenggam tangannya itu dengan kuat dan Sherly pun menendang orang itu.


"Ciyaaat!" Tendangan maut melayang ke udara mengenai tubuh mereka.


Blugh.


Orang berbadan besar itu tersungkur ke tanah karena tendangan Sherly.


"Kurang ajar kau." Mereka pun langsung mengepung kak Al dan Sherly.


Bagh ... bugh


Perlawanan di lakukan keduanya untuk melawan preman yang berjumlah delapan orang itu.


"Aaaakkh!" Jeritan si preman karena terkena pukulan Aldrian dan adiknya.


"Masih berani lu?" Tantang Sherly dengan menggerakkan tangannya.


Mereka saling pandang sambil memegang dada dan perut, juga wajah yang terkena pukulan kakak beradik itu.


Saat mereka sedang fokus pada semua preman di depannya, tanpa di sadari seseorang datang dan melihat mereka sedang melawan preman suruhannya. Dan tiba-tiba ...


Clebb


Sebuah tembakan suntikan mendarat di punggung Aldrian yang di lakukan oleh orang itu.


Aldrian terkulai lemas seketika karena obat bius yang langsung bereaksi dari suntikan yang di tembakan ke punggungnya.


"Kakak!" Teriak Sherly saat melihat kakaknya tiba-tiba terjatuh lemah tak berdaya.


"Kakak kenapa?" Dia memangku kepala kakanya dengan hati-hati.


Diliriknya punggung kak Al yang terdapat suntikan bius yang sengaja di tembakkan ke arahnya. "Shit." Ia pun mencabut suntikan itu.


"Kakak? Aku kira itu Zidane," Orang itu langsung memperjelas penglihatannya dan melihat ke arah lelaki yang tergeletak dan ternyata bukan orang yang di carinya.


"Sialan, dia berbohong!" Geramnya sambil mengepalkan tangan.


"Kalau begitu, aku bunuh saja keduanya." Ia langsung mengambil pistol di tasnya kemudian mengarahkannya ke arah kepala Sherly yang sedang menunduk.

__ADS_1


Saat pelatuk pistol itu akan di tembakkan, tiba-tiba seseorang menghadang tembakan yang di arahkan ke arah Sherly oleh tubuhnya.


Dor ... dor


Dua tembakkan tepat mengenai tubuh lelaki itu yang berniat untuk melindungi Sherly.


Gubragh


Tubuhnya terjatuh seketika dengan darah mengucur dari balik punggungnya.


Sherly langsung menoleh ke arah orang yang tersenyum ke arahnya sebelum dia terjatuh di tanah halaman gudang tua itu.


"Kak Hendri!" Pekik Sherly melihat orang yang melindunginya dari tembakan seseorang.


"Apa dia sebodoh itu sampai berani menghadang peluru untuk melindungi wanita sialan itu." Gerutunya dengan kesal di persembunyiannya.


Sherly mengedarkan pandangannya kesana kemari dan tatapannya terhenti setelah melihat seorang gadis yang pernah ia temui saat di acara pernikahannya sendiri.


Bukankah itu gadis yang tidak di sukai si King Ice? Sedang apa dia disini?


Mata Sherly tertuju ke arah tangannya yang sedang memegang sebuah pistol dan itu membuat Sherly marah dan mengeluarkan aura yang kuat dari dirinya.


"Wanita bodoh. Kau berani mempermainkanku, hehh?" Sherly berdiri dengan mata yang tajam menatap ke arah gadis itu.


Nyali Prita langsung menciut setelah melihat tatapan tajam Sherly. Tatapan mata itu berubah menajam seperti bukan dirinya.


"Siapa sebenarnya Sherly? Kenapa auranya begitu menakutkan?" Prita mundur perlahan, begitu juga para preman yang terduduk di sana.


"Kenapa kau menyerang kami? Apa kita punya masalah?" Suara Sherly berubah terdengar datar dan dingin.


Kenapa dia terlihat seperti bukan dirinya? Apa dia bukan manusia biasa?


"A-aku," Prita tak bisa berkata apapun setelah melihat kemarahan yang terlihat jelas di wajah Sherly.


Tubuh Hendri sebenarnya kuat. Dia tahan terhadap tembakan atau benda tajam karena tubuhnya di lindungi aura jin yang sangat kuat. Namun walaupun begitu, ia akan mengeluarkan darah jika di awal. Kemudian luka itu akan sembuh sendiri.


Hendri berpura-pura tak berdaya di hadapan Sherly. Ia memilih diam dan memperhatikan gerak gerik gadis itu yang mengeluarkan aura kuat.


"Kau tak mau menjawab pertanyaanku, heh?" Sherly terus melangkah maju menuju gadis yang sedang ketakutan namun ia menyembungikan perasaan takut itu dengan tingkahnya yang sombong dan angkuh.


"Kalau aku tak menjawab pertanyaanmu, kau mau apa, hehh?"


"Baik, jika itu maumu!" Seketika tubuh Sherly mengeluarkan asap tebal dan dia menunduk, berjongkok serta menggeram seperti harimau.


"Hargmmhh!"


Prita dan para preman tersentak dengan penampilan Sherly yang seperti itu. Mereka seketika ketakutan.


Sherly melompat seperti kucing dengan mudahnya berpindah kesana kemari membuat mereka semakin takut.


Kukunya berubah panjang seperti kuku binatang buas."Kau berani bermain-main denganku?"


"Rasakan ini!" Sherly melompat ke arah mereka dan langsung mencakar para preman yang berbadan besar dengan sekali ayunan tangannya.


"Akkh!" Jeritan kesakitan dari para preman.


Dia terus melakukannya sampai mereka semua terkapar.


Sherly yang saat ini sedang gelap mata tak bisa di hentikan siapa pun.


Saat tangan Sherly akan menyentuh wajah Prita, sebuah tangan terulur dan memegang tangan yang berkuku panjang itu.


"Hentikan perbuatanmu itu, sayang. Ini bukan sifat gadisku. Sherly si Machan-ku tidak seperti ini. Buas dan bringas. Sherly kesayanganku adalah gadis yang baik hati dan penyayang." Ia pun menoleh ke arah sumber suara dengan tangan yang di genggamnya.


"Lihat aku baik-baik!" Zidane terus berkata dengan lembut.


Tatapan mata Sherly perlahan kembali meneduh dan kuku panjang itu pun menghilang dan kesadarannya pun kembali pulih.


"Haahh!" Sherly terkulai lemas dan terjatuh seketika setelah mendengar ucapan suaminya barusan. Dia pingsan setelah tenaganya habis.


Zidane langsung menangkap tubuh istrinya dan langsung mendekapnya. "Sayang!"


Zidane mengangkat tubuh Sherly langsung ke dalam mobilnya. Sementara Indra dan Geri mengangkat tubuh kak Al kemudian Hendri yang diangkatnya ke dalam mobil kak Al.


Mereka pun membawa ketiganya ke rumah sakit.


Hendri yang di angkat oleh kedua teman Sherly tak dapat melakukan apapun lagi. Dia pasrah mengikuti kemana dirinya dibawa.


Haish, gagal sudah membuat dia membuka segel bintang di punggungnya. Dasar bocah nakal. Kenapa dia datang di waktu yang menegangkan?


Flashback.


Hendri datang saat Sherly sedang di serang oleh anak buah Prita.


"Dasar gadis bodoh. Apa yang dia lakukan?" Hendri berlari menghadang peluru yang bertujan untuk membunuh Sherly. Dan akhirnya, peluru itu kemudian bersarang di punggung Hendri sehingga membuat dia terkulai lemah


Sedangkan Zidane yang merasa tak enak dengan hati dan perasaannya menjadi tak fokus di rapat penting itu.


Di telponnya Indra untuk mengikutinya ke suatu tepat. Tanpa berlama-lama, Indra datang di temani Geri karena mereka sedang di bengkel.


Ponsel Sherly di lacak dan ternyata dia berada di gedung tua daerah utara.


Dengan cepat Zidane melajukan mobilnya.


Saat dia melihat Sherly yang berubah seperti bukan dirinya, ia pun menjadi takut dengan apa yang di lihatnya itu.


Di dekatinya Sherly yang sudah melukai para preman dengan luka yang cukup parah.


Saat tangan Sherly akan menyentuh wajah Prita, dengan cepat Zidane menghentikannya.

__ADS_1


__ADS_2