
Seseorang datang dan masuk kedalam kamar perawatan Sherly.Ia pun terduduk di samping ranjang sambil menatap sedih kepada gadis yang terbaring sudah lebih dari dua bulan.
"Hai Sher, maafin gue ya.gue baru sempet nengokin lu."Ucapnya dengan lirih.
"Kapan sih lu bangun?gue kangen tahu"Ia menggenggam erat tangannya dengan mata berkaca.
Tetesan air mata membasahi pipinya.Ia tak kuasa menahan kesedihan di hati.
"Gue pengen bercerita sama lu, Sher.Saat ini gue lagi bingung..sangat bingung.Apa yang harus gue lakuin, Sher.hiks..hiks!"
Orang itu menunduk di hadapan sahabatnya yang berbaring tak sadarkan diri.
"Kita udah putus, Sher.sebenarnya gue gak rela.Sakit banget saat gue mutusin ini.Tapi, ini keputusan yang harus gue ambil demi kebaikan kita.Hiks..hiks!"Ia terus terisak.
"Gue mau saat bangun nanti, elu gak marah sama gue karena gak ngasih tahu ini semua." Air matanya terus berjatuhan.
"Rasanya sakit banget, Sher.Gue gak sanggup. Huhuuuuu"
Tangisan kesedihan yang menyayat hati tak dapat ia bendung lagi.semuanya ia curahkan di hadapan sahabatnya.
"Kenapa elu gak bangun sih, Sher.Gue gak ada temen buat curhat.Elu tega sama gue.. tega banget!"Ia terus menangisinya.
"Besok gue mau pulang, kita gak akan ketemu lagi selamanya.Karena gue gak akan balik lagi kesini."Berusaha berbicara walau dengan tersedat.
"Maafin gue..maaf"Ia pun melangkah pergi keluar dan tak menoleh lagi ke arah sahabatnya yang terbaring di ranjang perawatan itu.
πΊπΊπΊπΊ
Sore itu, Indra datang ke kantor Diamond Grisheld Grup (DGG) untuk menemui sang kekasih karena ia bekerja di perusahaan besar itu.
Indra memarkirkan mobilnya di parkiran gedung megah itu.Dengan santainya ia melenggang masuk kedalam gedung pencakar langit yang luasnya mencapai ratusan hektar.
Ia masuk dengan di sambut dua security yang berjaga di depan pintu.
"Sore mas, minta kartu pengenalnya!"Pinta satpam kepadanya.
Indra pun mengeluarkan kartu identitasnya.
"Ini pak"Ia menyodorkannya dan langsung di terima satpam.
"Jajang juhana?"Satpam membaca kartu pengenalnya.
"Ssstttt, jangan nyebut nama itu pak."Ia menempelkan jari di bibirnya.
Dengan tangan terulur, ia memperkenalkan dirinya dengan bangga."Hai, nama saya Indra"Senyum manis di bibir pemuda berwajah tampan itu terukir indah.
Kedua satpam saling berpandangan lalu menoleh ke arah pemuda itu.
"Gak salah, mas.Disini tertulis Jajang Juhana, kenapa jadi Indra?Panggilan Indra nya dari sebelah mana?"Mereka bingung tak mengerti.
Senyum Indra pun hilang dengan ucapan kedua satpam."Ya elah pak, itu panggilan gaul saya.panggilan di rumah lain lagi tahu!" Tutur Indra.
"Apa?"Mereka berdua penasaran.
"Si Jalu!"Ucap Indra singkat.
"Si Jalu?Nama apa itu?"Keduanya saling pandang lagi sambil menahan tawanya.
"Cih, dia ngeledekin nama gue."Indra berdecih dengan ekspresi mengejek dari mereka.
"Udah ah, saya boleh masuk kan?"Indra menyambar kartu pengenalnya dan melenggang masuk ke dalam.
"Hei, tunggu dulu, mas!"Kedua satpam mengejarnya.
"Mas mau ketemu siapa?"Mereka bertanya.
"Ketemu seseorang yang spesial pake telor" Jawab Indra asal.Ia tak memperdulikan teriakan mereka.
"Mas..mas!"Panggil keduanya.
Namun mereka terhenti saat beberapa orang yang keluar dari lift khusus Presdir.
"Selamat sore pak!"Keduanya menunduk pada orang itu.
"Selamat sore.Ada apa kalian berlarian?"Orang itu bertanya setelah menjawab sapaan kedua satpam.
"Ini pak, si mas nya masuk tanpa izin.ditanyain malah berlari masuk tak menghiraukan teriakan kami."Ucap salah satunya.
"Pemuda ini menerobos masuk ke perusahaan besar ini!"Nada bicaranya menjadi dingin.
"Baiklah, biar saya yang menghukum dia." Ia pun maju dan menghampiri Indra yang cuma diam tak bergerak.
Di jewernya kuping Indra sampai si empunya mengaduh kesakitan.
"Aaduuuuhhh, sakit om.maaf, gak lagi-lagi deh!"Indra memegangi tangan si penjewer.
"Makanya, kalau masuk kesini itu bicara yang baik jangan asal nyelonong aja.Kamu kan bisa bilang kalau mau ketemu presdir disini!" Tangannya tetap menempel di telinga Indra.
"Kalau mereka gak percaya gimana?tadi aja mereka menertawakan nama aku!"Ia merengek layaknya anak kecil.
"Memangnya apa yang mereka tertawakan?" Pertanyaannya membuat kedua satpam terkekeh.
Indra pun melirik mereka denhan kesal. "Emm, gak usah di bahas deh om!"Ia menjadi kikuk.
"Oh iya, om Hadi sudah mau pulang ya?"Ia pun mengalihkan pembicaraannya.
"Iya, om mau pulang.Kamu mau jemput Iren kan?Sana, dia masih di atas!"Kata pak Hadi atau daddy nya Sherly.
"Ya udah om, Indra ke atas mau jemput Iren" Pamitnya pada pak Hadi.
__ADS_1
"Ya sudah sana.Oh iya, kalau dia kesini lagi, biarin dia masuk ya.Dia tamu istimewa disini" Ucap pak Hadi kepada kedua satpam juga semua karyawan yang berada di lantai bawah.
"Baik pak!"Mereka menunduk dan berbicara sopan.
"Ya sudah, sana ke atas.keburu dia pergi sama orang"Ledek pak Hadi terkekeh.
"Aah, om gitu deh.Makasih om."Indra berlari masuk ke dalam lift setelah berpamitan pada pria paruh baya itu.
Sesampainya di atas, ia melihat Iren yang masih sibuk dengan pekerjaannya.Ia pun mengendap untuk mengejutkan sang kekasih.
Semua karyawan yang berada di sana cuma meliriknya dan diam tak berbicara apapun.
Indra langsung menutup mata Iren dari belakang dan tak berbicara apapun membuat Iren terkejut.
"Si..siapa ini?"Ia meraba-raba tangan yang menutup matanya.
"Hei, aku tanya ini siapa kok diem mulu sih?" Iren memukul tangan itu dan mencubitnya sehingga si empunya pun mengaduh.
"Aduh, aaaww, sakit tahu!"Indra melepaskan tangannya dari mata Iren.
Iren pun menoleh ke arah belakang yang ternyata sang kekasih yang berbuat jahil padanya.
"Kamu apa-apaan sih?"Ketus Iren.
"Hai sayang, aku kan kesini mau ngasih surprise untukmu.Malah kena cubitan maut kamu.Sakit tahu.Fiuuhh"Indra meniup-niup tangannya yang terkena cubitan Iren.
"Lagian, kamu aja yang iseng ngerjain aku. Aku kan jadi takut jika itu orang jahat"Elak Iren.
"Ada apa kamu kesini?"Tanya nya lagi.
"Aku mau jemput ayang ku tercinta.Malam ini aku mau ajakin kamu ke suatu tempat spesial.ayo, kita pergi sekarang.keburu macet!" Ajak Indra dengan menarik tangan Iren yang di tepis olehnya.
"Aku gak bisa, hari ini aku sibuk"Jawabnya singkat.
"Sayang, ayo lah.aku sudah lama menunggu waktu yang tepat!"Indra memohon dengan menggenggam tangan Iren.
"Maaf, aku sibuk"Jawab Iren.
Maafin aku Ay, ini harus aku lakuin.
"Aku minta izin kak Al ya, supaya kamu diizinin pulang sekarang?"Indra melangkah menuju ruangan presdir DGG namun di cegah oleh Iren dengan cepat.
"Jangan ganggu presdir, dia sedang sibuk!" Ia berusaha menahan Indra untuk masuk ke ruangan kak Aldrian.
"Hei, sayang.kenapa kamu jadi seperti ini?biasanya kamu semangat jika aku mengajakmu pergi dan memintakan izin sama kak Al, kenapa sekarang gak boleh?" Indra merasa heran dengan tingkah Iren.
Ia merasa ada yang aneh dalam diri sang kekasih.gak biasanya dia cuek serta tak senang melihat Indra.Ia juga paling senang jika Indra memintakan izin pulang.
"A..aku..aku harus beresin kerjaanku dulu. Baru bisa pulang"Iren menunduk saat mengatakannya.
Indra pun mendongakkan wajah Iren untuk menatapnya.
Iren berpaling saat mata mereka bertemu.
"Ini di kantor, Ndra.jangan bikin malu aku." Ucapnya singkat dengan berpaling.
"Hahh, Ndra?gak salah?"Indra melepaskan tangannya dari wajah Iren.
"Sejak kapan panggilan itu berubah?"Tanya nya lagi.
"Emm, ini di kantor.kita nanti jadi bahan tontonan.sebaiknya kamu pergi deh!"Iren menyuruh Indra pergi dari sana.
Namun, keluar lah si presdir tampan dan berwibawa dari ruangannya.
"Hai Ndra, mau jemput Iren ya?"Kak Al keluar bersama asisten Jun.
"Eh si bos, iya nih.boleh kan aku ajak dia pulang sekarang?"Indra meminta izin pada kak Aldrian.
"Boleh kok, ini memang sudah waktunya pulang.malahan sudah lewat!"Kak Al berkata dengan tersenyum.
"Ta..tapi pak, berkas ini belum saya selesaikan.Bukankah ini harus di selesaikan sekarang?"Iren mencari alasan.
"Jun, coba kamu cek berkas itu!"Tunjuk kak Al dan menyuruh asisten Jun memeriksanya.
Asisten Jun maju dan mengambil berkas di tangan Iren dan menelitinya.
"Ini berkas untuk minggu depan, masih ada waktu untuk menyelesaikannya!"
"Oh, bukan yang itu.Yang ini pasti!"Iren mengambil berkas dari asisten Jun dan memperlihatkan berkas lain.
Kak Aldrian menggelengkan kepala.
"Sudah jangan banyak alasan, sana pulang.Kasihan Indra nungguin dari tadi!"
Iren pun tak ada pilihan lain selain mengangguk tak berdaya.Ia pun membereskan barang-barangnya dan pulang dengan Indra.
Si Jalu tersenyum penuh kemenangan.Namun di hatinya serasa ada yang mengganjal.
Gue kok gak tenang gini ya.padahal Iren ada disini bareng gue.Tapi.....ah, mungkin cuma perasaan gue doang.
Indra berusaha menepis semua pikiran tak baiknya.Diliriknya Iren yang duduk diam di samping kursi kemudi.
"Kok diem terus sih, sayang.kamu gak seneng ya aku jemput?"Tangannya terulur mengelus kepala Iren namun gadis itu menghindar dari jangkawan tangan Indra.
Ia pun melirik sang kekasih yang berpura-pura melihat jendela.
Dulu gak ketemu seharian, Iren malah lengket gak mau di tinggal.Sekarang, gak ketemu semalam saja, dia jadi berubah.Ada apa sih sebenarnya sama dia?sumpah gue gak ngerti dah.
Hemh, bos.cepet lu sadar dong.gue tersiksa kaya gini.gue gak ngerti masalah cewek.
__ADS_1
"Ndra, kok kita kesini?ini kan bukan jalan pulang ke kosan gue?"Iren menoleh pada si supir pribadinya.
"Hemhh??"Ada yang aneh dengan cara bicara kekasihnya itu.Ia semakin penasaran dengan gadis pujaannya.
Ndra...gue...kenapa sih dia?cih..
Indra terlihat cuek tak menanggapinya.
Ia pun menyalakan radio dan ternyata sedang memutar lagu pop indo.
Bagaimana bila aku..bukan perawan seperti yang engkau mau..mungkin saja dulu ku pernah ternoda..apa bedanya bila aku mencinta...
Sepenggal lagu yang membuat Iren mengingat kejadian malam itu saat ia bersama Dika.
Air matanya turun begitu saja tak bisa tertahan membuat Indra menoleh ke arahnya.Namun ia memalingkan wajahnya ke jendela.
Indra menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis?"
Iren menggelengkan kepalanya.Ia menyeka air mata yang jatuh di pipinya."Ayo jalan lagi!"
"Tapi kamu kena...??"
"Gue bilang jalan!"Teriak Iren.
Indra melajukan kembali mobilnya dan menuju tempat yang ia inginkan.
Maafin aku Ay, aku tak berdaya.hiks..hiks.
Iren menangis dalam diam dan tak lama tertidur.
Perjalanan yang cukup jauh di tempuh oleh mereka namun tak menyulutkan keletihan di wajah Indra karena ingin memberikan kejutan untuk sang kekasih.
Ia tersenyum setelah sampai di tempat itu.
Indra turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Iren.
Di tepuknya perlahan pipi si cantik dengan hati-hati."Sayang, ayo turun.kita sudah sampai nih!"
Iren terbangun dan menatap wajah tampan sang kekasih.Ada rasa sedih dan bersalah di hatinya.
"Kita dimana?"Ia pun bertanya.
"Turun dulu yuk, supaya kamu tahu!"Indra tersenyum ke arah si cantik dan menggandeng tangannya dengan mesra.
Iren mengikuti tarikan tangan si tampan sampai ke luar.
Pemandangan indah sebuah pantai terpampang nyata depan matanya.Deburan ombak saling kejar-kejaran sangat menyenangkan hati.
Iren terpana seketika melihat pemandangan alam itu.
Indra pun tersenyum."Apa kamu suka?"
"Iya, aku suka..sangat suka"Senyuman Iren seakan menyemangati Indra untuk melakukannya.
Indra berjongkok di depan Iren dan mengatakan sesuatu.
"Will you marry me?"Sebuah cincin berlian di buka dari kotak berukuran kecil yang di keluarkan dari kantong celana Indra.
Iren terkejut dengan hadiah dari Indra. Sampai ia tak bisa mengatakan apapun.
Mungkin kalau dulu aku akan jawab iya.Tapi sekarang...??
Karena Iren tak menjawab apapun.Indra berdiri dan menggenggam tangan Iren sampai membuat gadis itu terperanjat.
"Kenapa diem aja sih?aku serius tahu.Sudah lama aku menunggu kesempatan ini, dan sekarang aku sudah bisa mengumpulkan uang untuk memberikan mu barang mewah ini." Tutur Indra.
"Maaf ya, karena aku baru melamarmu sekarang.aku bukan bos kaya kak Al yang bisa langsung melamar gadisnya secara langsung. Aku harus mengumpulkannya dulu baru bisa" Lanjut Indra.
Bukan itu yang membuatku diam, Ay.Aku bingung harus bagaimana mengatakannya padamu.
Iren menatap sedih.
"Hei sayang, kenapa diam aja sih?Jawab dong pertanyaan aku.Kamu mau kan menikah denganku?"Tanya Indra lagi.
Aku tak berdaya Ay, maafin semua kesalahanku.Jika kau mengetahuinya suatu saat nanti, ku harap kau akan mengerti keputusanku ini.
Iren mengumpulkan keberaniannya. Sebetulnya ini sangat sulit untuknya.Namun, ia harus melakukannya demi kebaikan mereka.
Dengan perlahan ia melepaskan genggaman tangan Indra sambil berkata.
"Maaf, kita sebaiknya putus."Dengan beruarai air mata, Iren mengatakannya kemudian ia berlari pergi meninggalkan Indra yang mematung di tempatnya dengan tangan yang mengambang di udara.
Jeddeeeerrrr..
Petir menyambar dan turunlah hujan yang sangat lebat.
Indra mendengar jelas perkataan Iren saat mengatakan kata putus untuknya.Ia tak bisa berkata-kata lagi.
Ia pun terduduk di pasir pantai dengan pikiran yang entah kemana dan mencerna setiap perkataan Iren.
Bagaimana nasib mereka ya?hemh, otor bingung harus gimana.π€π€π€
Soalnya otor jadi nangis tahu nulis bagian ini.
Huaaaaa...ππππ
Like, komen, dan vote biar otor jadi tersenyum kembali dan melanjutkan cerita mereka.ππππ
__ADS_1
Fightingπͺπͺ***