
Hari demi hari, Geri perlahan menerima nasib buruknya dengan sabar.ia menjadi semakin lebih dewasa dengan adanya kejadian ini.
And the gank selalu menemani sahabatnya itu, mereka tak pernah meninggalkan Geri sendirian walau dalam keadaan apapun.
Mereka bergantian untuk bisa sekedar menemani Geri di rumah sakit.
Geri terduduk di kursi roda."Guys, gue sudah ikhlas dengan semua ini."
"Elu jangan menyerah Ger, elu harus optimis.yakin bakal sembuh!"Dika menepuk bahu Geri.
"Gue sangat yakin Dik, tapi apalah daya, kaki gue masih sulit di gerakkan."Geri tertunduk lesu.
"Dokter Rian akan selalu mengusahakan yang terbaik.elu pasti cepet sembuh"Kata Sherly yang di angguki ketiga kawannya.
"Gue bingung, sudah sebulan gue disini, gimana dengan pembayarannya.gue gak sanggup!"Geri mendongakkan kepalanya dan bersandar di sandaran kursi roda.
"Biaya rumah sakit kan mahal, guys.di tambah lagi dengan gue yang gak kerja, pasti ma'e sama bapak'e bingung buat bayarnya"Tutur Geri.
"Elu kok gitu sih Ger?elu gak nganggap kita sahabat?"Indra menyentuh tangan Geri.
"Apa elu masih marah sama gue tentang kejadian yang menimpa lo ini?"Ia merasa bersalah sampai tertunduk.
"Bukan gitu Ndra, gue bingung dengan semua biaya yang harus di bayar buat pengobatan gue.Elu kan tahu sendiri kalau orang tua gue cuma penjual nasi warteg, dan adek gue sekolah SMA yang otomatis butuh biaya gede.sedangkan gue..."Ia sangat sedih dengan keadaannya ini.
"Elu tenang Ger, orang yang nabrak lu itu udah ketangkap kok.dia sudah bertanggung jawab dan ngasih ganti rugi buat bayar rumah sakit.Iya kan guys?"Sherly berbohong dengan memberikan kode oleh matanya.
"Kapan?"Pertanyaan polos keluar dari bibir Iren.
"Yang kemaren itu lho yank, iya kan Sher, Dik?" Indra mengiyakan perkataan Sherly.
"Itu yang kemaren gue temuin lewat cctv.Elu lupa sih Ren,"Dika mencoba membuat Iren mengerti.
"Oh, ah iya Ger, dia sudah ke tangkap dan semua biaya sudah di bayar kok.lu tenang saja Ger!hehee"Iren cengengesan karna ia tak mengerti maksud dari para sahabatnya.
"Beneran?"Geri bertanya.
"Beneran kok, kita gak bohong.tanya saja sama dokter Rian dan si King ice.Mereka juga tahu!"Sherly melibatkan kedua pria tampan itu.
Geri benar-benar percaya, ia tak bertanya lagi tentang kebenarannya.
"Terus, kapan gue bisa pulang ke rumah, guys?"Geri terlihat sudah jenuh berada di rumah sakit.
"Sabar dong Ger, elu kan tinggal nunggu operasi satu kali lagi.baru bisa pulang."Kata mereka.
"Operasi?kalau gue gak sembuh atau malah pergi untuk selamanya, gimana guys?" Perkataannya malah membuat para sahabatnya semakin sedih dan saling berpandangan.
Dika dan Indra menepuk bahu Geri dan meyakinkannya."Pasrahin semuanya sama yang di atas Ger, jangan lah menyimpulkan apapun sesuai pemikiran lu.Elu berdo'a dan yakin bakal sembuh, pasti sembuh Ger.Asal ada semangat di diri lo!"
Geri tersenyum dan memegang kedua tangan yang berada di bahunya.
"Thanks ya guys, kalian selalu mendampingi gue di saat suka dan duka."
"Sudah ah jangan sedih-sedihan lagi.Kita harus tetap semangat dalam menghadapi semua ujian ini."Ucap mereka.
Semuanya tersenyum ke arah Geri walau tanpa Geri bisa melihatnya.
"Oh iya Sher, tolongin gue dong!"Iren berkata pada Sherly.
"Tolongin apaan sih?"Tanya Sherly.
"Gue mau ke kantor nih, sekarang ada rapat dewan direksi.File yang gue kerjain semalam ketinggalan di rumah, tolong ambilin ya?"Iren berkata dengan wajah imutnya supaya di iyain oleh Sherly.
"Ckk, gue yang kena nih, bukan si Indra?" Sherly berdecak mencibirnya.
"Indra mau nganterin gue ke kantor. Soalnya takut terlambat.kalau kesiangan, bisa habis gue di omelin kak Al"Iren beralasan.
"Hemh, ya sudah lah.gue pergi."Sherly bangun dari duduknya.
"Eh Ger, elu gak apa-apa kan jika kita tinggalin?"Ia bertanya pada Geri yang terdiam sambil mengangguk.
"Tenang saja, masih ada si Dika!"Lanjut Sherly.
"Di pikir gue anak kecil.sudah sana, kalian pada pergi, Si Entong bakal jagain gue dengan baik."Tutur Geri menenangkan hati para sahabatnya.
__ADS_1
"Oke deh, kita pergi ya?"Ketiganya pun berpamitan dan tinggalah Dika yang menjaga Geri.
"Gue pergi naik apa?"Tanya Sherly saat di luar rumah sakit.Ia bingung karena tak membawa kendaraan.
"Naik taksi saja ya, nih kuncinya!" Iren menyerahkan kunci kamar kepada Sherly.
"Gue kira, naik taksi saja ya, nih duitnya!" Sherly menirukan gaya bicara Iren dan mencibirnya.
Iren dan Indra cengengesan, dasar pasangan yang kompak.huuuh, pikir Sherly.
"Kita duluan ya Sher?bye.."Pasangan itu melambaikan tangan ke arah Sherly yang sedang kesal.
"Jangan lupa bawa filenya secepat mungkin ke kantor.kak Al tunggu lho!"Lanjutnya sebelum menghilang dari pandangan Sherly.
"Kalau tahu gini, tadi gue bawa si sweaty aja."
"Huh dasar, pasangan serasi.Giliran nyuruh orang saja, kompakkan!"Sherly menghentakkan kakinya dan berjalan tanpa menoleh.
Brugh..
"Aduh"Ia terjatuh setelah menabrak seseorang di depannya.
Sherly mendongakkan wajahnya dan menatap orang yang sedang berdiri di depannya itu.
Bukannya menolong, orang itu malah mencibirnya.
"Kalau jalan lihat ke depan, mata tuh di pake jangan buat pajangan!"Nada dingin dan datar dari orang itu.
"Huhh, kebiasaan banget nih orang.kalau sudah nabrak itu, tolongin kek, bukan mencibirnya.tahu!"Ledek Sherly.
"Hehh, siapa yang nabrak siapa yang di tabrak?"Dengan angkuhnya dia berjalan tanpa menolong Sherly.
"Iiihhh, sebel.dasar king ice.menyebalkan!" Gadis itu berteriak karena Zidane tak menolongnya.
"Untung ganteng!"Kata-kata itu malah lebih pelan ia ucapkan karena malu.
Tapi, si king ice malah lebih tajam pendengarannya setelah mendengar gumaman Sherly di banding teriakannya. Mungkin dia sengaja.
Zidane tersenyum dan berbalik serta menghampiri Sherly yang masih terduduk di lantai sedang menepuk-nepuk roknya yang kotor.
"Apa?"Ia berubah menjadi galak.
Zidane terlalu malas untuk berkata, ia langsung menarik tangan Sherly sambil berpaling wajah membuatnya berdiri seketika.
"Hei..hei..hei.."Sherly terkejut karena tangannya di tarik paksa.
"Elu jadi cowok gak ada lembut-lembutnya sih?"Ia menggerutu kesal.
"Aduuuhhh, tangan gue sakit"Ia memegang pergelangan tangannya dan merengek manja.
Zidane malah malas meladeni rengekan gadis itu, ia pun berjalan kembali melanjutkan tujuannya untuk menemui Rian.
"Hei, tanggung jawab dong!"Sherly berteriak membuat semua orang menoleh.
Mereka berpikir yang tidak-tidak dengan perkataan Sherly.
"Apa dia menghamili gadis itu?"
"Wah, cuma tampang doang yang tampan. Ternyata dia seorang yang brengs*k"
"Ganteng-ganteng kok bajing luncat ka astana?"
Banyak lagi bisikan cemooh terhadap Zidane, mereka menyangka jika dirinya telah merampas sesuatu yang berharga dari seorang gadis sehingga ia harus bertanggung jawab padanya.
Zidane menatap Sherly kesal, ini yang selalu terjadi jika dirinya berusan dengan gadis berisik ini.
"Hahh,"Helaan napas panjang dari mulut Zidane.Dengan kesalnya, ia menarik tangan Sherly dan membawanya ke tempat sepi.
"Apa mau mu?"Bertanya langsung pada intinya.
"Hehehe...yes, berhasil!"Batin Sherly kegirangan.Ia menyembunyikan elspresi wajah senangnya.
"Anterin gue ke tempat kostnya Iren dong, lalu ke kantor kak Al.boleh kan?"Ia bersikap manja dan menampakkan puppy eyes nya.
__ADS_1
"Haish, dasar menyusahkan!"Zidane berjalan menuju mobilnya diikuti Sherly di belakang.
"Naiklah!"Ia berbicara sambil membuka pintu untuk dirinya kemudian duduk di kursi kemudi.
"Bukain dong pintunya, gitu aja gak ngerti!"Sherly lupa kalau dirinya sedang berada dengan si king ice.
"Kalau kamu tidak mau ya sudah, aku tidak memaksa!"Ia berbicara tanpa menoleh ke samping.
Dinyalakannya mesin mobil pertanda ia memaksa Sherly untuk naik ke mobil.
"Ih, menyebalkan."Sherly menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam mobil si king ice membuat si pemilik mobil tersenyum tapi tak ia perlihatkan.
Mobil pun meluncur dengan cepat di jalanan beraspal.
"Dimana?"Tanya Zidane singkat.
"Hahh, apanya?"Sherly yang otaknya lagi jongkok menjadi tidak nyambung.
"Ckk, alamatnya!"Zidane kesal di buatnya.
"Oohh, alamat?bilang dong dari ta....di" Nyalinya menciut setelah melihat tatapan dingin dari Zidane.
"Terus saja, nanti di depan sana belok kiri lalu belok kanan"Tutur Sherly.
"Huhh, serem juga lihat wajahnya yang seperti itu."
Zidane tersenyum saat melihat wajah ketakutan Sherly, dia menyembunyikan senyumnya dengan di tutupi tangan.
Mereka pun sampai di tempat tujuan, yaitu rumah kost nya Iren.
Zidane bediri di depan gerbang kost dengan menatap ke arah Sherly yang sedang berjalan ke atas.Ia bersandar di pagar tembok dengan santainya.
Sedangkan Sherly berjalan ke atas untuk mengambil file di kamar Iren.
Rumah kost yang tampak sepi penghuni, seperti ada sesuatu yang aneh terjadi di sana.
Setelah mengambil file, ia bergegas pergi dari sana.Namun, sesuatu membuatnya berbalik lagi.
"Tolong"Suara seseorang meminta tolong dengan lirih.
Sherly mendengar samar, suara yang tak jelas dimana keberadaannya.
"Tolong"Suara itu kembali terdengar membuat Sherly menoleh ke kiri, ia pun berjalan ke arah kiri.
"Tolong"Suaranya terdengar dari arah kanan membuat Sherly bingung dengan keberadaannya.
Ia berjalan mengikuti instingnya sampai ke lantai atas.
"Tempat ini sepi sekali, ada yang minta tolong tapi gak ada yang nolongin!"Gumam Sherly yang terus berjalan ke lantai atas.
Rumah kost dengan tiga lantai, dua di atas dan satu di bawah.namun sangat sepi seperti tak berpenghuni.
Suara itu semakin jelas terdengar dari balik tembok yang sedikit basah.
"Kok temboknya lembab gitu sih?"Sherly semakin mendekat dan tangannya terulur ke tembok basah itu.
Saat tangannya akan menyentuh tembok, tiba-tiba pundaknya di sentuh dari belakang membuat dirinya terhenyak.
"Hemmh?"Ia terkejut tak berani menoleh ke belakang.
▪▪▪▪
**Hayoo, siapa itu?ada yang tahu gak?
Penasaran?sama, otor juga.
Ikutin terus cerita otor biar gak penasaran.
Di lanjut ritualnya gengs, sertakan like, komen dan vote cerita otor biar diriku selalu rajin up nya.
__ADS_1
Favoritkan cerita otor di rak bukumu, juga follow akun otor biar selalu mengikuti cerita dari otor ini.
Hatur tengkiyuuuuhhh😘😘😘😘**