Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Tamu tak diundang


__ADS_3

Ponsel Hendri berdering saat ia sedang membentak kedua hantu genit teman Zidane dan Sherly. Ia langsung menjawab panggilan yang ternyata bukan panggilan alam.


Ternyata itu adalah anak buahnya yang di tugaskan menyelidiki keberadaan Zidane dan Sherly.


"Katakan!" Ucapnya singkat.


"Bos, kami sudah menemukan mereka. Saat ini mereka ada di dalam negri, tepatnya di Yogyakarta." Kata anak buahnya.


"Bagus." Hendri terlihat sangat senang.


"Apa kami perlu menyelidikanya terlebih dahulu atau langsung mendatanginya?" Tanya mereka.


"Tidak. Saya yang akan turun tangan sendiri." Tolaknya cepat. Dia tak mau siapa pun yang menyentuh Sherly.


Hanya saya se*n***diri yang boleh menyentuh gadis bintang. Haa, saya sudah tidak sabar. Tunggu kedatangan saya!


Lirikan tajam Hendri kepada kedua hantu cantik yang terikat oleh belenggu ghaib miliknya.


Untung saya kembali ke sini dan menemukan mereka. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan pernah menemukan dia dimanapun lagi. Hahaha. Memang sangat beruntung saya.


"Kalian tinggalah di sini. Saya akan menjemput si gadis bintang dan mempertemukan kalian lagi. Baik bukan saya ini?" Seringai jahat Hendri membuat keduanya kesal.


"Cih, baik dari mananya? Kau itu makhluk paling jahat, sangat jahat lebih dari iblis."


Cibiran kedua hantu itu hanya di tertawakan Hendri. "Hahaha."


"Terserah apa kata kalian. Jika kalian tak mau mengakui saya baik, ya sudah!"


Hendri melenggang pergi dari hadapan kedua hantu yang terikat oleh rantai ghaibnya.


"Sialansi Hendri. Ingin sekali ku bunuh dia. Ya tuhan, berilah aku kekuatan untuk melenyapkan manusia terkutuk itu."


Nania sangat kesal dengan sikap dan sifat Hendri, sampai ia mengepalkan tangannya.


"Percuma, Nan. Dia sudah bergabung dengan jin dan iblis. Jadi, dia tak mudah di kalahkan." Jelas Alea.


"Tapi, anak si Machan sama si King Ice bisa melenyapkannya." Lanjut Alea.


"Benarkah? Kok bisa?" Nania menatap Alea dengan serius.


"Iya. Dia akan mendapatkan kekuatan dari orang tuanya. Jadi, cuma dia yang bisa melenyapkan manusia terkutuk itu."


Nania mengangguk mengerti dengan penjelasan Alea.


"Sekarang, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Nania lirih.


"Aku takut jika kita terkurung disini selamanya. Kau tahu kan, jika Hendri selalu menyerap energi baik itu manusia ataupun hantu seperti kita." Raut wajah sendu Nania tak bisa di sembunyikan.


"Kau benar, Nan. Sekarang kita harus bersabar dulu, siapa tahu ada yang membebaskan kita." Harapan yang semu.


Sementara itu, mobil Hendri meluncur ke tempat yang di sebutkan anak buahnya. Ia sangat senang karena sebentar lagi bisa bertemu dengan si gadis bintang.


"Tunggulah kedatangan saya, gadis bintang! Kau akan senang dengan kedatangan saya."


Seringai wajah Hendri menakutkan bagi siapa saja yang melihat. Dia sangat senang dengan kabar dari anak buahnya, namun itu membuat Sherly dan Zidane dalam bahaya.


🍁🍁🍁🍁


Pagi sekali ponsel Zidane berbunyi dengan berulang sehingga membangunkan si pemilik ponsel serta istrinya.


Sebuah kepala menyembul dari balik selimut dan dengan tangan terulur ia meraih ponselnya di atas nakas.


Dilihatnya layar ponsel yang masih berdering dan memperlihatkan si penelpon.


"Avril." Gumam Zidane dengan melirik sang istri yang tidur di sampingnya.


"Hemm, ponselmu berbunyi sayang. Siapa sih yang menelponmu jam segini?" Suara serak ciri khas bangun tidur.


"Bukan siapa-siapa, sayang. Bangun yuk, sudah subuh. Aku harus ke mesjid!" Zidane berdiri dan menuju kamar mandi.


Sherly menatap suaminya yang sudah berjalan ke kamar mandi. Ia pun terduduk di tepian ranjang.

__ADS_1


Kriiing ... kriing


Yang pasti bukan suara ada sepeda roda tiga apalagi ku dapat dari ibu karena rajin membantu. Itu suara dering ponsel Zidane yang berbunyi kembali mengusik ketenangan mata Sherly yang akan terpejam kembali. Karena dirinya masih mengantuk.


"Jeng jeng, anda mendapat surprise di pagi hari!" Ucapnya kesal karena ponsel itu terus saja berbunyi.


Tangannya terulur mengambil ponsel yang tadi di letakkan kembali oleh Zidane di atas nakas.


"Nomor baru, siapa ini?"


Ia penasaran dan akan menjawab panggilan masuk itu.


"Ha ...!" Ponselnya berhenti berdering dan itu cukup membuat Sherly kesal.


"Kaaan, gue dapet surprise." Di tatapnya ponsel Zidane yang sudah berhenti berdering.


Tak lama kemudian ponsel itu berdering kembali dan cukup membuat hati Sherly dongkol.


"Rese nih orang, giliran mau di jawab malah mati. Giliran mau di taruh, dia bunyi lagi. Apa orang yang nelpon suami gue orangnya menyebalkan?"


Sherly menjadi malas karena si penelpon yang selalu mengganggunya. Dia tidak tahu kalau orang itu yang akan membuatnya jauh dari suaminya.


Zidane keluar dengan handuk yang melingkar di pinggang.


"Sayang, apa ada yang menelpon?" Zidane bertanya karena melihat ponselnya di tangan istrinya.


"Dari tadi yang menghubungi nomor yang sama. Namun setiap kali aku mau menjawabnya, dimatiin." Jelasnya sebel.


"Hemm, cuekin saja sayang. Kalau memang dia ada perlu denganku, dia pasti mengirim pesan lewat sms atau chat."


Zidane melangkahkan kakinya menuju lemari dan mengambil baju koko serta sarung dan pecinya.


"Aku ke mesjid dulu ya, sayang!" Di ciumnya kening Sherly dengan lembut sebelum ia melangkah keluar untuk pergi ke mesjid.


Sherly merasakan kecupan bibir suaminya di kening sampai ia memejamkan mata.


"Hati-hati!" Ucapnya sambil tersenyum.


Walaupun Sherly sedang hamil, namun dia tidak seperti wanita hamil kebanyakan. Yang harus mengalami berbagai hal mulai dari mual di pagi hari atau merasakan bau yang tak enak.


Itu sebabnya dia tak curiga sedikitpun kalau dirinya kini berbadan dua. Di tambah lagi dengan Geri yang tak mengatakan apapun kepada mereka.


"Masak apa ya hari ini?" Dia membuka kulkas dan melihat isinya.


"Hemh, bahan makanan sudah mulai habis. Gue kudu beli dulu nanti." Tangannya menutup kembali pintu kulkas setelah mengambil beberapa bahan makanan yang ada.


Memang dia sekarang lebih cekatan dan bisa memasak walau pun kadang sedikit keasinan, kemanisan, atau malah hambar gak ada rasa.


Namun Zidane tak pernah mengeluh atau mematahkan hati istrinya. Dia selalu memberitahu dengan cara yang lembut, membuat Sherly mengerti dan ia bisa lebih memperhatikan lagi.


Tak lama Zidane sudah pulang dari mesjid. Ia berdiri di belakang istrinya dan memeluk sang istri yang tengah asyik memasak.


"Masak apa, sayang?"


Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Sherly malah menyodorkan setengah sendok makanan yang di masaknya ke arah mulut suaminya.


"Pas tidak?" Ia sangat berharap dari jawaban suaminya.


Zidane menerima suapan itu dan ia mulai merasakan makanan yang sedang di masak istrinya.


"Hemh ... clap clap, Kurang sedikit gula." Jawabnya yang kemudian di turuti istrinya untuk memasukan gula.


"Sedikit saja, sayang. Segini cukup."


Zidane menghentikan Sherly yang akan menaruh gula satu sendok makan. Ia menguranginya lagi dan memasukan satu sendok teh gula ke dalam sayur yang di masak istrinya.


"Kenapa kamu memasak sayur lodeh, sayang?" Tanya Zidane.


"Bahan di kulkas tinggal ini doang." Jawabnya sambil mengaduk sayur kuah santan itu.


"Aku lupa untuk mengisi kulkas. Maafin aku ya sayang." Zidane merasa bersalah karena itu.

__ADS_1


"Hei, sayang. Seharusnya kan aku yang bertanggung jawab untuk belanja dan mengisi kulkas, bukan kamu." Ujar Sherly.


"Tapi, aku dari kemarin sibuk terus dan tak mengantarmu kepasar."


"Baiklah, nanti kita belanja bareng-bareng ya." Zidane mengangguk dengan perkataan istrinya.


"Apa kamu mau makan sekarang atau ...!"


"Tidak sayang. Aku ingin joging dulu. Dan kamu pun harus ikut!" Kata Zidane menarik tangan istrinya.


"Hei, matiin dulu dong kompornya." Seketika Zidane berhenti dan nyengir ke arah istrinya.


Dia pun mematikan kompor lalu menarik tagan Sherly untuk berganti pakaian.


Tak lama kemudian mereka sudah siap dan keluar dari rumah untuk meregangkan otot yang kaku.


Tak lupa Zidane menuntus sebuah sepeda jika Sherly kelelahan. Dia tahu kalau Sherly tak sehat, makanya dia membawa sepeda.


"Sayang, kamu capek tidak? Yuk, naik sepeda saja!" Ajak Zidane.


"Ah tidak. Aku senang seperti ini. Disini udaranya masih sejuk dan membuatku lebih segar." Tolak Sherly dan dia malah berlari duluan.



"Aku gak mau kamu kecapean dan sakit lagi." Tutur Zidane. Ada raut wajah kesedihan karena dia sepertinya menyesal tak mengantar istrinya ke dokter.


"Lihatlah, aku baik-baik saja. Bahkan dengan kamu naik sepeda, aku bisa berlari lebih cepat." Ia pun benar-benar melakukannya dan lari lebih dulu.


Zidane pun menyusul dengan sepeda yang di kayuhnya perlahan.



"Sayang, kejar aku kalau kamu bisa." Ledek Sherly kepada suaminya.


Mereka saling mengejar dan melanjutkannya sampai pulang ke rumah.


"Segar bukan jika kita berolahraga pagi-pagi? Apalagi jika setiap hari." Sherly tersenyum dengan ucapan suaminya.


"Benar sayang. Rasanya sangat segar."


"Istirahat sebentar, lalu mandi." Ujar Zidane dan Sherly mengangguk.


Saat mereka sedang duduk di ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar yang cukup nyaring.


Tok tok tok


Ketukan di pintu terdengar nyaring mengganggu telinga si penghuni rumah.


Sherly dan Zidane yang sedang beristirahat sebentar setelah berolahraga menjadi menoleh ke arah pintu ruang tamu.


"Siapa sih yang pagi-pagi bertamu?" Gerutu Sherly kesal dengan berdiri.


Dia pun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu melewati ruang tengah, namun di cegah suaminya.


"Biar aku saja yang buka pintu." Sherly duduk kembali karena suaminya mencegah.


"Ya, sebentar!" Teriak Zidane karena suara ketukan terdengar sangat kencang dan berulang.


"Tak sabaran banget sih nih orang." Gerutu kesal terdengar.


"Apa dia itu tidak pernah bertamu ke rumah orang kali ya. Tidak sabaran banget ngetuk pintunya. Kalau pintunya rusak, dia harus menggantinya."


Zidane yang kesal membukakan pintu untuk tamunya.


"Siapa ya?"


Saat pintu terbuka, dia terkejut dengan tamu yang datang sampai matanya membulat dengan sempurna.


"Ka-kamu ...?"


**Jeng jeng jeng ....!

__ADS_1


Lanjut gaesssπŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡**


__ADS_2