Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Siapa dia?


__ADS_3

"Tidak, tolong jangan lakukan itu! Tidak ... kumohon ... tidaaaaaaakkkk!"


Wajahnya pucat pasi dengan keringat yang bercucuran. Tubuhnya bergetar hebat dan terus meronta ingin melepaskan diri dari seseorang yang di takutinya saat ini.


Seorang pria berlari menghampirinya karena mendengar teriakan Sherly.


Brakkk


Terdengar nyaring sekali karena pintu di tendang kaki panjang dan kuat. Mengakibatkan pintu sedikit rusak.


Persetan dengan pintunya. Yang terpenting adalah menyelamatkan wanita yang di cintainya.


Di goyangkan lengan Sherly sambil menepuk-nepuk pipinya denga perlahan.


"Dek ... dek ... bangun! Kamu gak apa-apa?" Suara seseorang menyelamatkan Sherly dari mimpi buruk yang hampir membuat dirinya tak bisa menatap keluarganya, terutama Zidane sebagai suaminya.


Lama sekali Sherly terbangun. Namun dia tak menyerah. Dia terus menepuk pelan pipi Sherly dengan terus memanggil nama adiknya sambil membacakan dua kalimat syahadat yang kemudian di tiupkan di ubun-ubun adiknya.


Dia pasti mimpi buruk!


"Dek ... dek ... Sherly ... Sherly!"


"Hah ... hah. Kakak!" Sherly terbangun dan langsung memeluk Aldrian dengan erat.


Tangan Alrian terulur untuk mengusap kepala sang adik dengan lembut. Kecupan dari sang kakak pun mendarat di keningnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak-teriak dengan kencang dan wajahmu terlihat pucat." Aldrian berusaha bertanya dengan melonggarkan sedikit pelukkannya.


Bukannya menjawab, Sherly malah menangis tersedu sambil mempererat pelukkannya. "Hiks ... hiks ... huhuhuuuu!"


Aldrian mendekap tubuh adiknya dengan lembut. Kemudian sang ayah di susul kakak iparnya pun masuk kedalam kamar Sherly.


"Ada apa ini, Al. Kenapa adikmu menangis?" Aldrian hanya mengedikkan kedua bahunya.


Lama sekali Sherly menangis dan mereka pun tak bertanya lagi.


Sang daddy duduk di samping putrinya sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Beliau enggan untuk bertanya, namun penasaran dengan apa yang terjadi kepada putrinya.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis dan berteriak histeris seperti itu? Katakanlah! Biar daddy, kak Al, dan kak Aisyah tahu! Pinta sang ayah.


Sherly masih menangis dengan tersedu. "Heugh ... daddy, aku takut. Dia mau menyakitiku!"


"Menyakitimu? Siapa yang akan menyakitimu, dek? Biar kakak patahkan tangan dan kakinya!" Ujar Aldrian menggebu.


Sherly tak langsung menjawab. Dia berbalik menghadap ayahnya. "Dad, apa kemarin Hendri benar-benar sudah di makamkan?"


Ketiga orang tersebut mengernyitkan dahinya tak mengerti apa yang di tanyakan Sherly.


Aldrian menarik kedua bahu adiknya sampai menghadap ke arahnya. "Maksud kamu apa bertanya seperti itu? Tentu saja dia sudah di kuburkan waktu itu juga. Kakak menyaksikan pemakamannya!"


"Tapi tadi dia muncul, kak. Dia masuk kedalam mimpi aku. Aku tahu jika ilmunya sangat tinggi, apalagi sekarang. Dia bisa menembus alam mimpi dan menciptakan ilusi. Kakak tahu itu, bukan!"

__ADS_1


"Itu hanya mimpi, sayang. Percayalah kepada daddy, ya!" Kata daddy lembut.


"Iya, dek. Bagaimanapun, orang mati gak bisa hidup lagi. Mungkin itu setan atau jin yang menyerupai Hendri dan dia mengganggumu di saat kamu lengah. Berdo'alah sebelum tidur. Supaya setan tak mengganggu kita!" Timpal kak Aisyah.


"Tapi ...!"


"Sudahlah, sayang. Jika kamu takut tidur sendirian, biarlah Aisyah menemanimu disini." Aisyah mengiyakan perkataan mertuanya.


"Aku ingin di temani daddy di sini. Biar kak Aisyah tidur dengan Reihan. Kasihan nanti jika dia nyariin mamanya gak ada!"


Mereka pun setuju dengan permintaan si putri bungsu Grisheld itu.


Sherly memang gadis manja sedari kecil. Tak heran jika Zidane selalu memanjakan istrinya itu. Karena, keluarganya sangat memanjakan putri cerewet mereka itu.


"Dad, apa aku bisa secepatnya hamil lagi?" Sherly bertanya di sela-sela belaian tangan sang daddy.


"Tentu dong, sayang. Kamu masih muda dan Zidane pun masih sanggup melakukannya!" Kata tuan Hadi terkekeh.


"Dad ... aku serius!"


"Daddy dua rius. Sayang, manusia hanya mengikuti takdir yang tuhan berikan untuk kita. Semua ujian hidup itu harus kita jalani dengan ikhlas, dan penuh kesabaran. Insyaallah, kita pasti bisa melewati semuanya. Tuhan tidak memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya. Jadi, kita sebagai umatnya harus selalu bersabar dan bertaqwa kepadanya!" Jelas tuan Hadi.


"Apa aku juga termasuk umatnya?" Sang daddy hanya tersenyum menanggapi pertanyaan putrinya.


"Semua makhluk hidup di dunia adalah ciptaan tuhan. Tuhan tak membeda-bedakan jenis, keyakinan, atau sifat manusia. Tergantung bagaimana kita bersikap. Tuhan maha penyayang. Dia akan selalu melindungi dan menyayangi semua umat di dunia, selama kita di jalan kebenaran."


"Dad, kenapa daddy tak menyuruh mommy dan aku memeluk agama daddy?"


"Sayang, kita tak boleh memaksakan keyakinan kepada orang lain. Sekalipun itu istri atau anak kita. Jika mereka sudah memiliki keyakinan, maka biarkan dia memeluknya. Kecuali, dia dengan suka rela ingin berpindah keyakinan. Seorang suami berkewajiban mendidik dan mengajarkan istri dan anak-anaknya ke jalan yang benar!" Jelas tuan Hadi.


Sherly pun senang dengan jawaban sang ayah. Dia puas karena ayahnya selalu menjawab dengan sangat bijak.


"Dad, apa Zidane juga berpikir seperti daddy?"


"Tentu saja. Dia pria baik yang cocok untukmu, sayang. Daddy percaya da yakin kalau Zidane bisa membahagiakanmu dunia akhirat. Dia bisa membimbingmu ke jalan yang benar. Tinggal kamu menurut padanya!"


"Iya, dad."


Hening seketika. Tak ada obrolan yang keluar dari keduanya. Tua Hadi melihat putrinya sudah menguap terus menerus, pertanda dia sudah mulai mengantuk.


Sang ayah terus membelai kepala putrinya dengan lembut dan penuh cinta.


Tak lama kemudian, rasa kantuknya menyerang dan dia pun tertidur dengan nyenyak.


Tuan Hadi berdiri dan menyelimuti putrinya supaya tak kedinginan. Kecupan di keningpun ia daratkan dengan lembut.


Di tatapnya fhoto berbingkai di nakas samping tempat tidur Sherly.


Seketika senyum tuan Hadi mengembang menatap fhoto yang di pegangnya. Fhoto dirinya bersama si putri manja saat Sherly berumur tiga tahun.


"Dasar putri manja yang nakal. Kamu adalah harta terindah yang daddy punya dan penyemangat hidup daddy. Bahagia selalu, sayang."

__ADS_1


Tuan Hadi melangkahkan kakinya keluar kamar Sherly setelah putrinya itu tertidur nyenyak. Beliau pun berjalan menuju kamarnya.


Karena waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, beliau langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.




"Jadi, Hendri masih hidup?"


Pertanyaan Rian membuat pasangan suami istri itu menoleh ke arahnya.


"Dia sudah mati. Karena dulunya dia memelihara jin, jadi makhluk peliharaannya itu mampu menirukan semua penampilan tuannya dan masuk kedalam mimpimu, sayang." Jelas Zidane.


Sherly bergidik ngeri saat mengingat kejadian yang dialaminya dalam mimpi itu.


Zidane memeluk istrinya untuk meneangkan hatinya supaya tak ketakutan lagi. Karena, ekspresi wajah Sherly begitu terlihat cemas dan takut.


"Sayang, gak akan ada yang menyakitimu selama aku masih ada. Jadi, kamu jangan pernah takut untuk hal apapun ya!"


Sang istri pun membalas pelukkan suaminya dengan tersenyum senang.


"Jika kamu selalu bersamaku, apalagi yang ku takutkan? Aku malah takut untuk kehilanganmu. Apalagi, pelakor dimana-mana!" Sherly cemberut saat mengatakannya.


Rian malah tergelak menertawakan istri sahabatnya itu.


"Hahaha. Kakak ipar, kau sangat lucu. Jangankan untuk merebut, tuh pelakor udah di tampol duluan jika dia mendekat. Kamu ini ada-ada saja!"


"Hei bodoh. Waktu itu saja dia gak melakukan itusama mantan pacarnya. Mungkin juga kan jika dia melakukan itu dengan sengaja!"


Kini giliran Zidane yang tertawa. "Hahaha. Cemburu bilang dong, sayang!"


"Hish, kamu ini. Wajarlah jika istri cemburu lihatin suaminya di godain wanita lain. Ya sudah, aku gak bakal cemburu!" Di hentakkannya kaki itu sambil melangkah pergi dengan cemberut. "Huuh, bikin sebel aja."


Zidane berusaha menahan istrinya untuk tidak pergi. "Sayang, mau kemana?"


"Pulang." Jawab Sherly singkat.


"Kok gak ajak aku, sih!"


"Kamu udah bisa jalan. Jalan aja sendiri." Ketus Sherly lagi.


"Sayang, maafin aku!"


"Hemh." Cuma kata itu yang keluar dari mulut Sherly.


Melihat pasangan suami istri itu, Rian jadi tertawa kecil. "Dasar lu, bucin. Udah tahu istrinya tukang ngambek, masih aja suka ngegoda. Huuuuhhh, dasar bos dingin!"


Zidane mengejar Sherly yang sudah melangkah duluan keluar dan diikuti Rian dari belakang. Mereka tak tahu jika seseorang sedang memperhatikan ketiganya dari jarak dekat namun tak terlihat.


"Huuh, ternyata dia udah sembuh. Aku malah lebih gampang untuk melakukan sesuatu kepadanya!"

__ADS_1


__ADS_2