Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Sosok di kamar Geri.


__ADS_3

Sherly and the gank yang sedang melawan Ratu kecantikan and the gank pun beraksi sangat lihay.Mereka mengerahkan seluruh kekuatan untuk melawan kepiawaian si mis kun dan kawan-kawan.


Sherly yang lupa dengan peliharaan barunya, napasnya sampai tersengal karena kelelahan.


"Hah..hah..Sher, keluarin dong kekuatan lu itu."Napas pasangan I&I itu pun sama tersengalnya seperti Sherly.mereka berdua sampai terduduk selonjoran karena kelelahan.


"Hah..hah..hah..kekuatan..apaaah?"Sherly lupa dengan cincin peninggalan Sang penguasa alam ghaib.


"Raja Bratayudha, Sher!"Teriak keduanya.


Sherly baru teringat setelah mereka menyebutkan sang penguasa.


"Oh iya, kucing kecil gue!"Ia menepuk jidatnya kekencengan sehingga menimbulkan suara..plak.


"Elu sih, untung kita ingetin!"Seru I&I.


Sherly pun mengusap perlahan cincinnya dan keluar lah cahaya putih dan biru dari cincinnya.


"Haaarrrmmmmhh..."Harimau putih yang besar itu keluar dari cincin bermata biru milik Sherly.


"Whoa..dia punya yang begituan!"


"Hehh, kau memanggil bantuan untuk menghadapi kami.gadis galak?"Si miss kun itu meledek Sherly.


"Gadis galak, hehh?Kok gue jadi inget si hantu genit ya?"Sherly teringat Nania yang suka memanghilnya gadis galak.


Tiba-tiba...


"Hai, manggil aku?"Nania sudah berada di depan Sherly dan melambaikan tangannya.


"Whoaa, si genit.kok elu di sini sih?"Sherly terkejut dengan kehadiran Nania yang tiba-tiba.


"Jika kamu mikirin aku, otomatis aku akan datang."Nania mengangkat dua jari di depan sambil mengedipkan mata.


"Julukan yang gue kasih ternyata cocok, elu emang genit.dikit-dikit ngedip.kaya lampu sent!"Cibir Sherly.


"Hei, kok kamu gitu sih?Aku kan datang kesini mau bantuin kamu."Kata Nania.


"Oh gitu, ya sudah.yuk bantu!"Sherly menarik tangan Nania yang tak terlihat siapa pun.


"Elu ngomong sama hantu teman lu?"Iren bertanya yang cuma di angguki Sherly.


"Ya sudah, Ay, kita istirahat.Dia sudah ada anak buahnya!"Iren menarik tangan Indra dan membawanya ke pinggir untuk beristirahat.


"Dia sudah ada yang bantuin?"Indra menatap Iren dengan penasaran.


"Heemh, biarin saja.aku sudah capek tahu, Ay"Iren bersandar di bahu Indra dengan manja.


"Ouch, kasihan pacarnya aku"Indra mengelus punggung Iren dengan cara melingkarkan tangannya ke belakang.


Mereka berdua menonton gratis pertarungan antara Sherly dan anak buahnya, melawan si miss kun and the gank.


Tanpa bantuan Nania, Harimau putih itu bisa menaklukkan miss kun and the gank dan memakan roh jahatnya.


"Harphh.."Semua roh jahat di telan habis oleh harimau putih milik Sherly.


"Yeeeeaaaahhhh,"Sherly dan Nania berjingkrak-jingkrakan karena senang dengan


"Wah, hebat dia."Nania menatap kagum pada makhluk peliharaan Sherly.


"Iya dong, kucing kecilku memang hebat" Sherly mengelus kepala harimau putih itu.


"Kucing kecil dia kata?apa kabar anak kucing yang baru berojol?"Kata Nania.


"Itu sih beda lagi!"Dengan santainya Sherly mengelus kepala si kucing kecilnya.


Siluman hewan yang ganas itu menjadi jinak saat berada di tangan Sherly.Dia terlihat manja kepada Sherly yang cuma sekedar mengelus-elus kepalanya.


Semua para miss kun kalah hanya dengan sekali ngaep dari si kucing kecilnya Sherly. Termasuk sosok yang berada di tubuh Dika.


Tubuh Dika seperti tak bertenaga, ia lemas dan terjatuh dari atas pohon. Namun, dengan cepat Sherly dan kedua pasangan I&I itu pun menghampiri dan menangkap tubuh Dika yang pingsan seketika.


Dika yang pingsan pun di bawa ke rumah warga untuk di berikan pertolongan.


"Ekmh, gue di mana?"Suara serak-serak batuk Dika sudah kembali normal, tandanya itu memang benar Dika yang asli.


"Elu di tempat yang sesuai, Dik!"Ledekan Indra membuat Dika langsung berdiri.


"Maksud lo?"Dika menatap Indra dengan tajam.

__ADS_1


"Ditempat para manusia tinggal, bukan di tempat setan.emang elu mau tinggal di tempat itu?"Pertanyaan Indra cuma di balas dengan "Oh" saja oleh Dika.


"Kita balik yuk, kasusnya udah selesai nih!" Ajak Sherly pada mereka.


"Heemh, gue capek nih, pengen bobo syantik!"Iren dengan ada manjanya.


"Ya sudah, yuk kita balik.lagian ini sudah subuh. Sudah semalaman kita terjaga di sini!"Indra pun mengiyakan ajakan kedua gadis.


Mereka pun berpamitan kepada semua warga komplek perumahan, setelah semua warga berterima kasih kepada mereka.


Dika yang masih lemah, ia tak bisa kembali menyetir mobil, di gantikan oleh Indra dan Iren duduk di sampingnya.


Sedangkan Sherly dan Nania, duduk di belakang dengan di senderi kepala Dika di bahunya.


Di perjalanan pulang, Nania mengungkapkan tujuan kedatangannya pada Sherly.


"Eh galak, kita tidak bisa pulang.kita harus ke rumah sakit!"Kata Nania kepada Sherly.


"Kenapa?"Pertanyaan Sherly membuat ketiga sahabatnya menoleh.


"Apanya?"Mereka terheran dan menatap Sherly.


"Ah, hehehe...gue bukan bicara sama kalian."Sherly cengengesan.


"Abaikan gue Ndra, elu fokus nyetir saja!" Ia menyuruh Indra kembali menatap jalan.


"Pasti teman hantunya lagi, abaikan dia Ay"Iren yakin dengan perkataannya.


"Emberan, pantes dari tadi gue merinding." Dika malah semakin mendekati Sherly.


"Heleh, tuh hantu di samping gue.Kenapa elu makin ndesel sih?"Sherly mendorong kepala Dika yang menempel di lehernya.


"Modus lu, Dik.!"Cibir kedua orang di jok depan.


"Tahu ih, ni cowok suka sama kamu kali, galak?"Kata Nania.


"Jangan sok tahu lu, udeh diem aje sih!" Perkataan Sherly di tunjukan kepada Nania.


"Gue kan dari tadi diem!"Dika tak terima.


"Di bilangin, bukan sama elu juga!"Kata Sherly yang di mengerti Dika.Sedangkan Nania menertawakannya.


"Elu mau ngomong apa barusan?"Sherly sengaja menoleh ke samping kirinya yang terlihat kosong.


"Dasar lu, hantu pelupa!"Cibir Sherly.


"Aha!"Nania menjentikkan jarinya seperti ada sinar terang menerangi otaknya.alach, bahasanya...


"Kita tanya si ganteng saja!"Usul dia.


Kita kira dia sudah ingat, eh tahunya ngusulin buat nanya sama orang lain. Hadeuh, emang dasar hantu pelupa.


Plakk...


"Woi, gue kira elu ingat, tahunya nyuruh tanya sama orang.emang dia tahu apa alasannya?"Sherly memukul lengan Nania.


"Aduh, kebiasaan deh suka kekerasan mulu!siapa tahu kan dia inget alasannya.orang aku dateng kesini disuruh dia"Nania mengelus lengan kanan yang di pukul Sherly.


"Lagian, hantu kok pikun?"Cibiran Sherly cuma di dengarkan oleh para sahabatnya.


"Ya sudah, gue telpon dia deh!"Ia membuka handphonnya dan menggeser tombol hijau saat menemukan namanya.


"Tuuuutt..tuuuttt."Panggilan telpon tersambung, namun tak ada jawaban.


"Dia gak angkat, sibuk di kantor kali!"Sherly mengulang panggilannya.


"Ini masih jam empat subuh say, mana ada kantor yang buka.dodol lu!Lagian nih ya, kan dia CEO nya, gak mungkin lah dia ga bisa angkat telpon."Cibir Nania.


"Habisnya sih, dia gak angk...eh bentar, dia angkat nih!"Sherly menghentikan perkataannya.


"Hallo king ice, elu kenapa nyuruh si genit buat nemuin gue?"Sherly langsung berbicara saat sambungan telpon itu tersambung.


"Hallo, maaf, ini siapa ya?"Suara manja dari seorang wanita yang menjawab panggilan di sebrang sana.


"Cewek, suara cewek?siapa dia?"Sherly menatap layar benda pipihnya itu.


"Maaf, bukannya ini handphone nya.....?"


Saat Sherly akan bertanya, suara dari seorang lelaki menghampiri dan berbicara manja kepada wanita itu.

__ADS_1


"Sayang, siapa yang menelpon?"


"Tidak tahu, mungkin dia mencari mu, kali!"


"Sudah lah, tutup saja.aku tidak sedang menanti seseorang kok, cuma kamu yang aku tunggu!"Ucap lelaki itu dengan mesra.


Sherly langsung menutup sambungan telpon itu, ia merasa risih saat mendengar kata mesra dari pasangan yang sedang di mabuk cinta.fiiiyyuuuuhhh..


"Dia ngomong apa?"Tanya Nania.


"Dia sedang bermesraan sama ceweknya" Ketus Sherly.


"Siapa?"Bukan Nania yang bertanya.namun Dika yang penasaran karena mendengar obrolan Sherly dengan temannya, makhluk tak kasat mata.


"Apa?"Sherly menatap Dika.


"Ckk, siapa yang bermesraan sama cewek?" Dika kesal karena Sherly malah bertanya.


"Bukan urusan lu!"Sherly mendorong kening Dika karena dia terus menatap Sherly.


"Cewek?setiap hari aku bersama dia, tapi gak pernah ada satu cewek pun yang dateng ke rumah atau dia temui!kamu salah kali!?" Nania memalingkan wajahnya menatap Sherly.


"Tahu ah,"Sherly cuek.ia memasukkan kembali Androidnya ke tas.


Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat karena sudah semalaman terjaga.


🍁🍁🍁


Empat jam tiga puluh menit sebelumnya.


Di Rumah sakit..


Batu permata merah yang di temukan polisi di saku celana Geri, bersinar terang. Batu itu bergerak sendiri dan melayang di dalam kamar perawatan Geri.


Saat dokter Rian datang untuk memeriksa keadaan Geri, tanpa sengaja ia melihat cahaya yang terang dari arah kamar Geri.


Dokter Rian pun berlari dengan cepat untuk memastikan apa yang sebenarnya ada di dalam kamar pasiennya.


"Cahaya apa itu?"Dokter Rian tertegun melihat sinar merah yang terang di atas melayang berada dalam kamar pasiennya.


Sinar itu berubah menjadi sebuah sosok perempuan berbaju merah dengan wajah yang cantik jelita.


Perempuan cantik itu berdiri di samping Geri yang terbaring di ranjang pasien dengan mata terpejam.


"Kamu disini rupanya?"Wanita itu mengelus kepala Geri.


"Ouch, kasihan kamu tampan. Kamu harus jadi tumbal karena kekecewaan tuanku.!" Lanjut wanita itu.


"Tuanku?siapa tuan wanita itu?"Dokter Rian bersembunyi dan mendengarkan ucapan wanita itu.


"Hemh, sayang sekali kamu harus mati karena kesalahan salah satu temanmu. Dia tidak perduli sama kalian, makanya dia berbuat itu.!"Wanita itu menyeringai menampakkan gigi taring dari kedua sudut bibirnya.


Dokter Rian berdiri terpaku di tempatnya, ia melihat wanita itu seperti ingin menggigit leher Geri.


"Ya tuhan, apa yang harus gue lakuin?gue gak mau lihat pasien gue mati di tangan makhluk halus, tapi di sisi lain gue takut" Dokter Rian tampak bingung, ia tak berani bergerak sedikit pun.


"Zidane, yang mulia tuan muda Zidane!"Ia teringat sahabatnya yang katanya bikin kesal tapi dia tak berani melawan sedikit pun padanya.


Di gesernya layar ponsel dan ia pun segera menghubungi sahabat sekaligus atasannya.


"Ada apa?"Tanya seseorang yang di sebrang.


"Selalu dingin.huh!"Rian menggerutu dalam hati.


"Jangan menggerutu terus, katakan?"Dia langsung bertanya pada intinya.


"Hahh, dia tahu"Rian termenung dengan ucapannya.


"Mau bicara atau aku matikan ponselnya?" Tanya orang di sebrang sana.


"Eh, jangan dong!Aku menelpon kamu mau minta tolong, datang ke rumah sakit sekarang juga!"Ucap Rian dengan cepat.


"Mau apa?"Pertanyaan singkat lagi dari nya.


"Ya tuhan, kenapa sulit sekali sih bicara sama dia?kenapa kakak ipar mau menerima lelaki macam dia.dingin dan datar.huhh!" Rian bingung harus berkata apa.


"Emh, disini ada pasien teman kakak ipar. Sekarang aku sedang merawatnya.tapi, saat aku kemari untuk mengecek kondisinya, ada makhluk yang datt...."Penjelasan Rian tidak tersampaikan karena sambungan telpon yang sudah di tutup.


Tut tut tut tut..

__ADS_1


Bukan bunyi kereta api yang lewat, melainkan suara panggilan yang terputus karena di putus sebelah pihak.malahan, ia tak bilang lagi kalau mau menutupnya.


"Aish, dia selalu begitu.Kalau bukan karena dia sahabat gue, hemm, udah gue jitak!" Dokter Rian berbicara saat tak ada orangnya, kalau orangnya depan mata, nyalinya malah menciut.huuh, dasar pecundang.


__ADS_2