Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Bersembunyi


__ADS_3

Hai hai haiiiii ...! Ada yang kangen otor manis ini gak? Berharap ada yang kangen aku.😁😁😁


Gak apa deh kalo gak kangen. Tapi, kalian gak bosen kan sama ceritaku ini. Ku harap sih gitu.πŸ˜„πŸ˜„


Tak bosan-bosan aku minta maaf kepada para readers karena keterlambatan updatenya.πŸ™πŸ™


Walaupun masih dalam masa perawatan dan kini dalam tahap proses penyembuhan, aku berusaha melanjutkannya supaya klean tak lupa alurnya ya.


Kita lanjutkan cerita ya gengs. Yuk lanjut!




Mobil Hendri melaju kencang meninggalkan mobil Zidane jauh di belakang sampai tak terlihat. Dia sengaja ingin supaya Zidane tak dapat menemukan jejaknya dan segera menuntaskan keinginannya.



Sementara Zidane kebingungan. Jalan mana yang harus diambil olehnya karena Hendri melaju dengan cepat di jalur bercabang ini.



Zidane memukul stir dengan keras. "Sial\*n. Kemana dia pergi?"



Nania juga tak melihat kemana arah laju mobil Hendri pergi meninggalkan mereka di jalan persimpangan ini. Mungkin dia tahu jika di jalur ini ada jalan bercabang dan itu di manfaatkan olehnya untuk menghindar dari pengejaran Zidane.



Dering ponsel Zidane berbunyi pertanda panggilan masuk.



"Katakan!" Ucapnya singkat.



"....."



"Baiklah. Aku menunggu disini."



Panggilan di putus olehnya setelah mengatakan akan menuggu dan itu membuat Zidane menyesal karena orang yang menelpon tadi malah lama sekali datangnya.



"Hah, Nania. Aku menyesal telah mengatakan akan menunggu disini. Ternyata mereka tak segera datang." Zidane terlihat frustasi dengan mengusap wajahnya berkali-kali.



"Sabar dong, ganteng. Mungkin keputusanmu dengan menuggu mereka itu sudah benar. Kita akan pergi kemana coba dengan jalan di depan kita ini. Kiri atau kanan?" Nania berusaha menenangkan.



Zidane melirik sekilas kepada hantu wanita di sampingnya itu. Ia pun mengetuk-ngetuk stir dengan perasaan kesal.



Tak lama kemudian, dua mobil datang dan mereka turun untuk menemui Zidane.



"Zidane, kamu tidak apa-apa?" Tanya kak Al kepada adik iparnya.



"Tidak, kak. Tapi, Sherly masih di tangan Hendri." Ucapnya sedih.



"Tidak apa-apa Zidane, kamu bersabarlah. Kita sudah tahu lokasi keberadaan Hendri dengan bantuan kapten Deni. Ayo, kita segera berangkat!"



Mereka pun bergegas menancap gas dan melajukan kendaraannya menuju lokasi yang sudah di ketahui kapten Deni.



Kapten Deni sebelumnya sudah mendapat laporan dari Aldrian. Awalnya, Deni tak percaya dengan perkataan Aldrian tentang Hendri, rekan kerjanya. Karena Hendri terkenal orang yang baik, perhatian, bertanggung jawab, serta bekerja dengan profesional.



Namun, Aldrian terus meyakinkan Deni supaya menyelidiki Hendri terlebih dahulu jika ingin membuktikan kejahatannya yaitu dengan menculik adik Aldrian.



Deni pun menaruh GPS di mobil Hendri supaya memudahkannya memantau pergerakan Hendri dan membuktikan akan perkataan sahabatnya itu, Aldrian.



Kapten Deni memang sahabat Aldrian. Mereka berteman di bangku sekolah menengah atas. Sedari dulu, hubungan mereka sangat baik. Maka dari itu, Aldrian tidak susah untuk meminta bantuan sahabatnya tersebut.



Ketiga mobil itu berhenti di sebuah bangunan bertingkat yang lokasinya jauh dari perkotaan. Bangunan tua seperti rumah sakit yang tak selesai itu terlihat menyeramkan. Semua tampak gelap tanpa adanya cahaya lampu di sekitarnya.



"Ini mobil Hendri." Tunjuk Indra.


__ADS_1


"Ya. Ini mobilnya. Mari, kita cari orang itu!" Ajak Deni kepada mereka.



"Tapi, kita harus tetap waspada. Dia bisa saja berbuat nekad kepada istriku." Kata Zidane khawatir.



"Tentu. Kita akan secara diam-diam menemukan dia. Disini tempatnya gelap, dan juga kondisi lantai yang pasti keropos dan tak kuat. Bangunan ini tak layak pakai sehingga tidak di lanjutkan pembangunannya. Maka, kita harus tetap berhati-hati dalam melangkah." Nasihat kapten Deni.



Mereka pun mengangguk dan berjalan masuk ke area bangunan tua tersebut.



"Indra, kamu ikut Zidane bersama Dika. Aldrian dan Geri akan ikut aku." Kata kapten Deni. "Kita harus berpencar untuk mencarinya." Lanjut Deni.



"Baik." Mereka pun berjalan memisahkan diri dari ketiganya.



Tempat ini sangat gelap dan membuat mereka kesulitan untuk melihat keadaan sekitarnya.



"Ndra, gelap banget ya. Gue merinding nih! Mana ini rumah sakit lagi." Bisik Dika.



"Elu jangan malu-maluin gue dong, Dik. Kita harus berani. Lagipula, ini belum dijadiin rumah sakit. Baru mau di jadiin, dodol." Kata Indra menepuk lengan Dika.



"Tetep aja serem. Kalau ada penampakan gimana? Gue bisa pingsan ini mah." Oceh Dika.



"Udah diem. Kita harus segera menemukan si bos. Kalau tidak, bukan cuma pingsan doang. Elu bisa pergi selamanya karena dicekik kak Al. Elu mau?" Indra menakut-nakuti Dika. "Pilih mana? Di cekik hantu apa di cekik kak Al?" Kata Indra lagi.



"Haish, pilihan lu gak ada yang bikin gue bernapas." Idra terkekeh mendengar perkataan Dika.



Sementara Zidane tetap fokus memperhatikan sekeliling bangunan. Namun, sesuatu terdengar di telinganya dan segera ia bertindak.



"Ada yang datang." Zidane menarik tangan kedua sahabat istrinya untuk bersembunyi.




Sesosok makhluk tak kasat mata berkeliling di area itu karena ini memang tempatnya. Sosok itu terus melayang melewati ruangan tempat ketiga manusia itu bersembunyi.



Mereka bisa melihatnya karena para makhluk itu menampakkan wujud mereka di tempatnya. Membuat Indra dan Dika semakin ketakutan melihat penampakan makhluk itu.



"Ndra, ka-kaki gue." Dika seperti ketakutan.



"Ssstttt, elu jangan berisik Dika! Tuh setan masih disini." Bisik Indra.



"Ta-tapi, Ndra. Ini kaki gue." Tunjuk Dika lagi.



"Elu bisa hempasin kaki lu yang kenceng, pasti deh tuh kaki gak keram lagi." Kata Indra yang menyangka jika kaki Dika keram.



"Bu-bukan itu maksud gue." Dika semakin ketakutan.



Namun Indra tak menghiraukannya. Dia tetap memejamkan mata karena takut untuk melihat penampakan yang melewati mereka tadi.



Sedangkan Zidane tak menghiraukan keduanya. Dia tetap fokus kepada makhluk yang melewati mereka. Berjaga, takutnya makhluk itu menyadari kehadiran mereka di sana.



Setelah makhluk itu pergi jauh dari tempat itu, Zidane menepuk bahu Indra untuk mengikuti langkahnya keluar dari persembunyian mereka.



"Ayo, Ndra, Dik, kita segera pergi!" Ajak Zidane.



"Zidane, Indra, tolongin gue!" Ucap Dika memelas.


__ADS_1


Zidane dan Indra langsung menoleh ke belakang karena mendengar permintaan tolong Dika yang memelas.



"Kenapa kamu, Dik?" Tanya Zidane terheran begitu juga dengan Indra.



"I-itu di bawah." Tunjuk Dika ke arah kakinya.



Keduanya pun sontak melihat apa yang di tunjuk Dika oleh jarinya. Dan itu membuat Zidane dan Indra terlonjak kaget.



"Astagfirullah!"



Sosok suster ngesot dengan wajah yang menyeramkan dengan luka-luka di sekujur tubuh yang pasti tak bisa mereka lihat karena disana sangat gelap. Mereka hanya mencium bau amis dari luka suster ngesot tersebut.



Tangannya memegang erat kaki Dika dan tak mau melepaskannya. "Bang, tolong gendong saya dong!" Suaranya menakutkan.



Ketiganya bergidik takut mendengar permintaan suster ngesot itu sampai bulu kuduk meremang. "Hiiiii."



"Ja-jangan minta tolong ke saya dong, sus! Sa-saya orangnya gak kuatan, kok." Ucap Dika ketakutan. "Dia aja tuh. Dia mah kuat dan tahan lama." Tunjuknya pada Indra.



"Kok gue? Elu jangan bikin gue marah ya, Dika. Kalau gue marah, elu bisa gue jodohin sama dia." Tangan Indra menggantung di atas seperti akan memukul Dika.



"Ya sudah, dia ... hehehe," Tangan Dika gak jadi menunjuk Zidane karena melihat tatapan tajamnya. "Belum juga gue tunjuk, dia sudah mau bunuh gue dengan mata tajamnya." Gumam Dika.



Zidane melirik suster ngesot kemudian beralih kepada Dika. "Dia menyukaimu, bukan kami!"



Dika semakin ketakutan dan gusar karena perkataan Zidane barusan. Entah dia bercanda atau serius, tapi itu cukup membuat Dika meringis ketakutan.



Dika berusaha membujuk Zidane. "Tolongin gue dong, Zidane. Kaki gue gak bisa bergerak sama sekali. Kalau Sherly tau gue di pegang-pegang hantu ini, dia pasti marah dan bantuin gue."



"Cih." Cuma itu yang keluar dari bibir Zidane namun dia tetap membantu Dika.



"Pergi dari sini atau aku akan bertindak!" Ancam Zidane pada makhluk yang sedang memegangi kaki Dika.



"Kalau aku tak mau?" Suster ngesot menantang Zidane.



"Baiklah!" Zidane mengeluarkan senjata andalannya dari balik jaket dan mengacungkan pada suster ngesot itu. "Bagaimana jika aku memaksa dengan ini."



"Ti-tidak." Suster itu berteriak sambil menggelengkan kepalanya.



"Kalau begitu, ayo pergi! Tunggu apa lagi?" Dika berusaha menghempaskan kaki yang di pegangi makhluk tersebut.



Suster ngesot perlahan melepaskan pegangan tangannya di kaki Dika walaupun sangat ragu. Namun, melihat tatapan dingin Zidane nyalinya menciut.



"Aku akan pergi. Tapi, kita akan bertemu lagi nanti."



Perkataan makhluk halus tersebut tak di mengerti ketiganya. Mereka hanya saling pandang kemudian saat menoleh lagi, makhluk itu sudah tak ada di hadapan mereka.



"Apa maksud si mbak susot?" Indra mengedikkan kedua bahunya dengan pertanyaan Dika.



**Dukung author dengan like, komen, dan juga vote. Jangan lupa ya**.



**Terima kasih😘😘**



**Salam manis dari otor termanis.

__ADS_1



Lien machan**.


__ADS_2