Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Maluku Dimana????


__ADS_3

Flashback


Waktu itu Sherly mendapat pesanan baju untuk kaum muda seperti dirinya.Mereka ingin rancangan itu di lihat banyak orang.


Maka dari itu, kak Aisyah memita Sherly untuk mengiklankan rancangannya itu di media suara atau pun cetak.


Awalnya Sherly bersemangat, ia akan meminta bantuan dari And the gengs untuk jadi model iklan nya.Namun tak ada satu pun dari mereka yang menyanggupi permintaannya itu, dikarena kan mereka di hadapkan pada kesibukan masing-masing.


Sherly bingung harus berbuat apa, siapa lagi yang bisa membantunya.Ia berjalan gontai dan tak bersemangat.


Gadis itu membuka kontak panggilan di ponselnya, tanpa sengaja ia melihat panggilan keluar paling terakhir yaitu KING ICE.


Pucuk di cinta, ulam pun tiba.Mungkin itu lah peribahasa yang di pakai Sherly sekarang. Disaat tak ada satu pun yang bisa menolong, tiba-tiba nama king ice muncul di hadapannya.


Ting..💡


Bagaikan sebuah lampu menyala di kepalanya, otak cerdas menerima rangsangan dari pikirannya.Ia pun tersenyum senang."Hahaha..dia harus bantu gue, harus pokoknya"


Di jalankan mobilnya menuju perusahan Diamond Grup, yaitu perusahan milik Zidane Prasetyo.


Dengan informasi dari kak Aldrian, gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam perusahan terbesar itu.


"Permisi, saya mau bertemu dengan si king ice!"Kata Sherly sambil membuka kaca matanya.


"Maaf, disini tidak ada nama yang anda sebutkan tadi."Tutur resepsionis itu.


Plak, Nania memukul lengan Sherly pelan.


"Dikira semua orang tahu nama panggilan kamu kepada si ganteng?Namanya dodol, sebutin namanya"Nania gemas dengan tingkah Sherly.


"Oh ya ampun, gue lupa!"Gumamnya.


"Hehehee...sorry mbak, maksud saya Zidane!" Dia malah cengengesan.


Diperhatikan gadis di depan mereka oleh kedua mbak cantik dan seksi itu.


Siapa dia?berani benar menyebut nama CEO dengan panggilan nama langsung!


Gadis muda ini siapa?apa dia pacar tuan muda Zidane.Tadi dia panggil apa?king..king apa sih?


Mereka saling berpandangan dan menatap Sherly lagi.


Nania terkekeh dengan kedua wanita itu.


"Kalau kamu bilang bahwa kamu istrinya si ganteng, apa mereka bakal percaya?"


"Boleh di coba tuh!"Bisik Sherly.


"Ekhem, saya istrinya Zidane.Pemimpin perusahan ini"Tutur Sherly dengan lantang.


"Pffttt..hahahaaa!"Mereka menertawakan Sherly dengan kencang.


"Aku istri yang pertama, dan dia yang kedua. Lalu, kamu istri ke berapa?"Ledek salah satunya.


"Dia bilang istrinya pimpinan perusahaan ini, apa kamu percaya.hahahaa"


"Satpam, usir gadis lugu ini.perlakukan dia dengan baik, karena dia istri presdir kita. Hahaha"Mereka terus menertawakannya dan memanggil satpam.


"Hahahaaa...ternyata mereka memang gak percaya padamu, galak!"Nania ikut menertawakan Sherly.


Dua orang satpam datang menghampiri.


"Ayo nyonya, kita pulang.hahahaa"Mereka ikut menertawakannya.


"Hei, stop.Jangan berani menyentuh gue!" Sherly membentaknya dengan tangan di depan.


"Ayo nyonya muda, silahkan keluar.ikuti kedua satpam itu!"Cibir kedua resepsionis itu kepada Sherly.


Satpam itu pun menarik tangan Sherly dan menyeretnya keluar.


"Lepasin gue, sakit tangan gue"Ia terus meronta namun kedua satpam itu tak menggubrisnya.


Semua orang memperhatikan gadis itu dan menertawakannya.Sampai aura dingin menyelimuti ruangan itu.


"Ada keributan apa ini?"Suara dingin itu menghentikan satpam untuk menarik tangan Sherly.


Semuanya langsung menunduk saat melihat si pemilik suara.


"Eh, kakak ipar, kenapa kakak disini?" Perkataan Rian mendapat tatapan dari semua orang yang berada disana.


Kakak ipar?ya tuhan, mati lah kita.ternyata gadis itu memang benar istri tuan muda.


Kedua wanita itu saling pandang.


Melihat tangan Sherly yang di tarik secara paksa membuat Zidane marah."Lepaskan tangannya!"Singkat Zidane.


Satpam pun langsung melepaskan tangan gadis cantik itu.


Zidane langsung menghampiri dan melihat pergelangan tangan Sherly yang merah karena tarikan paksa satpam itu.


Pandandangannya lurus menatap mata gadis di hadapannya."Besok kalian tidak usah masuk lagi, ambil gaji kalian berdua di bagian keuangan."Ia melirik sekilas pada satpam kemudian menarik tangan Sherly dan membawanya masuk dalam lift khusus presdir.


Satpam itu pun terkejut dengan perkataan bosnya."Apa salahku, kenapa aku di pecat langsung?aku kan cuma di suruh oleh kedua wanita itu.huhuuu"Ia meratapi nasibnya.


Ya tuhan, habis lah kita.Kedua wanita itu pun menunduk takut.


"Rian, ikut denganku untuk memeriksa tangannya!"Katanya sebelum melangkah masuk.


"Satu lagi, kalian berdua juga ambil gaji kalian dan besok tidak usah masuk!"Lanjut Zidane lagi.

__ADS_1


Mereka pun langsung mendongakkan kepalanya dan saling pandang.


"Ini berlaku bagi semua, jika kakak ipar datang kemari, tolong perlakukan dia dengan baik.Ingat-ingat lah wajah cantiknya, mengerti!"Rian memperingatkan mereka sambil tersenyum.


"Dasar tuan muda, bilangnya tak perduli, tapi apapun di lakukan jika ada yang menyakiti gadis itu.hehh, dasar."Rian berlari dan mengekor di belakang untuk masuk dalam lift.


Zidane berhenti dan berbalik."Kau naik tangga ke atas, jangan naik lift"


"Hei, kau jangan mempermalukanku di depan seluruh karyawanmu."Protes Rian.


Namun Zidane tak perduli, ia cuek dan menekan tombolnya kemudian masuk berdua dengan Sherly.


"Kau juga"Ia berkata pada Nania.


"Hahh, aku juga?hei, apa salahku?"Nania tak bisa melanjutkan perkataannya karena pintu lift sudah tertutup rapat.


"Huuh, dasar posesif"Gerutunya, ia pun melayang ke arah tangga mengikuti Rian.


Di dalam lift Sherly terlihat canggung, ia tak mengira jika Zidane akan melakukan itu.


"Emh, thanks ya, elu udah bant..."


Zidane mendekat ke arahnya dan mengurung Sherly di dinding lift membuat ia semakin gugup.


"Aa..apa yang....?"Tanya Sherly saat wajah Zidane maju dan mendekat ke arahnya membuat ia memejamkan mata sambil melipat bibirnya.


"Lawan lah mereka yang menyakitimu, jangan biarkan mereka mempermalukanmu" Bisik Zidane di telinga Sherly.


Sherly membuka matanya karena ternyata Zidane cuma mau mengatakan itu.


Huhh, gue kira dia mau nyium gue.haish, malunya.Dasar Sherly, bikin malu saja.


Zidane tersenyum dengan suara hati Sherly.


"Kenapa kamu memejamkan mata?apa kamu menunggu bibirku menyentuh bibirmu?"Ledeknya.


Sherly langsung mendorong tubuh Zidane namun ia tak cukup tenaga karena kedua pergelangan tangannya sakit bekas tarikan paksa itu.Alhasil, tubuhnya malah terjatuh ke pelukkan Zidane.


Zidane terkekeh"Segitu inginnya kamu memelukku?"


"Ti..tidak, gue gak bermaks...hmmp..." Bibirnya langsung di bungkam oleh bibir Zidane, dan pemuda itu menarik tengkuk Sherly dan semakin memperdalam ciumannya.


Zidane sedikit menggigit bibir gadis itu sehingga terbukalah mulutnya dan Zidane tak menyia-nyiakan itu, ia terus menelusuri lebih dalam.


Mereka terbawa suasana sampai pintu lift yang terbuka pun tak mereka sadari.


Mereka yang berada di lantai itu pun menyaksikan keromantisan bos dan seorang gadis cantik itu.


Apa itu pacar si bos?


Rian yang baru sampai pun menoleh dengan napas yang terengah"Hah..hah..bisa-bisanya mereka berciuman dalam lift sampai semua orang tak di hiraukan"Cibiran Rian membuat mereka tersadar.


Zidane langsung melepaskan pagutannya dan melipat bibirnya ke dalam, sedangkan Sherly menundukkan wajahnya yang merona karena malu.


"Ekhem"Zidane berdehem dan melangkahkan kakinya keluar lift menuju ruangannya.


Sedangkan Sherly terlihat malu, ia terus menunduk dan berjalan mengekor di belakang."Haish, malu nya!"


"Bibir kamu sedikit bengkak, galak.Apa dia senakal itu kalau kalian cuma berdua saja?" Ledek Nania sambil terkekeh.


"Diem lah, gak usah ngeledekin gue!"Sherly berbisik pada Nania.


Ternyata si tuan muda itu nakal sekali, dingin-dingin garong.ahihii..


Dokter Rian cekikikan di belakang.


Mereka masuk ke dalam ruangan Zidane.


Zidane langsung duduk di kursi kebesarannya, ia pun bersikap seperti biasa.


"Kemarilah!"Entah perintahnya itu pada siapa.


Melihat mereka cuma menatap ke arahnya, ia pun mengusap singkat wajahnya.


"Kemarilah!"Kata dia lagi.


Mereka saling pandang."Siapa?"Tanya mereka serempak.


"Kamu, gadis berisik."Di tunjuknya sofa kemudian Sherly pertanda ia menyuruhnya duduk.


Sherly yang mengerti akan itu pun langsung duduk.


"Katakan!"Kata Zidane singkat lagi sambil berdiri dan menghampiri Sherly di sofa.


"Aaaa..apa?"Gadis itu gugup.


tangan Zidane melambai ke arah Rian dan menyuruhnya memeriksa tangan Sherly.


"Baiklah!"Rian sudah mengerti dan ia berjongkok di hadapan Sherly.


Rian memeriksa pergelangan tangan Sherly dan mengusapkan obat pereda nyeri.Ia terus menggenggam tangan Sherly walau pun sudah selesai, membuat mereka menatapnya.


"Apa kamu mau jadi istriku?"Candaannya langsung mendapat pukulan di kepala.


"Plak..aduh, kenapa kau memukulku?"Ia mengaduh karena pukulan yang di lakukan si tuan muda.


"Aku menyuruh kamu untuk memeriksa tangannya, bukan melamarnya!"Ketus Zidane.


Rian pun mengusap kepalanya sambil tersenyum."Aku tahu, kau sedang cemburu, tuan muda.katakan lah!"

__ADS_1


"Aku kan bercanda.Lagian posisi kaya gini itu enak buat ngungkapin perasaan sih!"Elak Rian sambil terkekeh.


"Tangannya tidak apa-apa, dia cuma..."


"Keluar!"Lagi-lagi dia bericara singkat.


"Hahh?"Rian menatapnya.


"Keluar!"Zidane memperlambat nada bicaranya sambil melirik Rian dan Nania sekilas, dan mereka pun mengerti.


"Oke..oke, aku mengerti bro.semoga sukses kakak ipar, jangan banyak bergerak biar dia tak menjadi marah."Perkataan Rian tak di mengerti mereka.


"Aku tutup pintunya dan aku akan bilang tidak boleh ada yang masuk kesini.oke!"Ia Segera keluar dari ruangan Zidane.


"Keduanya saling menatap kemudian meliruk pintu yang tertutup sempurna.


"Apa yang dikatakan dokter gila itu?"Mereka saling pandang.


"Sudah, lupain dia.katakan apa mau mu?"Ia langsung bertanya pada Sherly.


"Ah iya, gue kesini mau minta bantuan lu untuk menjadi model iklan gue yang akan di...."Belum Sherly mengatakannya, ia sudah memotong terlebih dahulu.


"Aku tidak bisa!"Tolak Zidane.


Sherly langsung menggenggam tangan Zidane sambil memohon."Please, king ice.gue gak ada model buat iklan baju rancangan gue, sedangkan acaranya besok.ayo dong, bantuin gue!"Ia merengek seperti anak kecil dan memohon padanya.


Sementara Zidane terlihat cuek, membuat Sherly tak punya pilihan.


Gadis itu berdiri dan langsung mendorong tubuh Zidane ke sandaran sofa dan ia duduk di paha Zidane sambil menghadap padanya dan melingkarkan tangan ke leher Zidane.


"Aku mohon, ya?"Ia tersenyum.


Zidane gelagapan dengan tingkah Sherly, sampai pipinya merah."A..apa yang kamu lakukan?"Perasaannya tak karuan.


"Aku sedang memohon!"Ucap Sherly polos.


Ya tuhan, apa ini cara dia memohon kepada seseorang, bikin aku tak karuan saja.


Tanpa berkata, Zidane langsung membalikkan tubuhnya dan kini Sherly terkurung di bawahnya."Apa kamu sengaja menggoda ku supaya menerima permintaan mu?"Bisikkan Zidane sangat lirih dan wajahnya tepat di depan wajah gadis itu.


"Ti..tidak, aku cuma memohon supa lu ban...hmmp.."Lagi-lagi gadis itu tak dapat menyampaikan perkataannya karena Zidane sudah membungkamnya.


Mungkin dia memang dingin, tapi perasaannya jauh lebih hangat untuk gadis yang satu ini.Bibir Sherly bagaikan candu untuk Zidane, ia tak melepaskannya sedikit pun.


Tangannya terus mengusap telinga dan juga pipi Sherly.Ia terus melum** habis bibir Sherly sampai gadis itu memejamkan matanya.


Tanpa di sadari, Sherly mengalungkan tangannya ke leher Zidane membuat pemuda itu semakin bersemangat.


Ciuman mereka harus terhenti karena mendengar sesuatu.


"Krukuukk, keooookkk"Perut Sherly berbunyi cukup nyaring membuat keduanya melepaskan pagutan dan saling tatap.


Sherly yang tak sempat makan apa pun karena memikirkan ini, ia terburu-buru pergi mendatangi Zidane maksud hati supaya dirinya menjadi tenang.


"Apa ciumanku ini membuat mu lapar, nona Grisheld?"Bisik Zidane lirih.


Sherly mendongakkan kepalanya, ia pun malu dengan itu sampai mendorong tubuh Zidane lalu berdiri dan melangkah.


"Hei, kamu mau kemana?"Zidane menarik tangan Sherly dan membalikkan menghadap dirinya.


"Gu..gue mau balik lah"Dia ketus tapi terlihat gugup dan tak memandang Zidane.


Zidane pun tersenyum,"Oke, aku besok akan datang" Ucapnya dan Sherly langsung menatapnya.


"Setidaknya begitu lah sikap yang baik, pandang lah lawan bicaramu"Lanjutnya.


Sherly langsung melepaskan tangan Zidane lalu berbalik dan melangkah pergi.


"Terima kasih!"Ucapnya sebelum pergi.


Zidane tersenyum dan mengusap bibirnya saat pintu tertutup.


Sedangkan Sherly, perasaa gadis itu tak karuan.dia berlari sambil memikirkan kejadian di lift dan di ruangan Zidane.


Oh ya ampun, bisa-binya gue melakukan itu?Dan tadi..tadi..haahh, kenapa perut gue bunyi di saat menegangkan seperti itu.


Haish, maluku dimana????


Ia terus berlari sambil memukul perutnya.


Tanpa ia sadari, semua orang memperhatikannya.


Apa dia sedang hamil namun tak mau mengandung anak itu?


Disaat mereka berpikir keras tentang Sherly, presdir yang terhormat keluar dengan tersenyum sambil mengusap bibirnya.


Wah, pak presdir tersenyum, jarang-jarang lho dia begitu.apa aku abadikan saja lewat ponsel?Tapi, dia marah tidak, ya?


Mereka terus memperhatikannya.


Sherly pulang dengan tak karuan, sesampainya di rumah ia masuk ke kamar setelah makan bersama orang tuanya.


Sepanjang malam, kejadian itu berputar di otaknya dan ia teringat terus saat memejamkan mata.


Alhasil, dia tak bisa tidur karena memikir kan Zidane sampai tertidur saat subuh, dan ia pun akhirnya mendapat ceramah pagi hari oleh ibu negara.


Begitu lah mengapa Zidane sampai ada di butiq nya kak Aisyah, karena atas permohonan Sherly dan perasaan Zidane.


Bersambung..

__ADS_1


Masih berlanjut ya gengs...yukk intip!!!


__ADS_2