Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe Alamat palsu


__ADS_3

Zyan, Andra, Rena, dan Asyanti sedang dalam perjalanan.


Keempat And the genk junior itu terpaksa pergi untuk menyelidiki kasus kematian Laila. Hantu yang datang meminta pertolongan Zidane dan Sherly.


Entah kenapa mereka yang menggantikan kedua orang tua si tampan. Tapi, itulah yang terjadi sekarang.


Walaupun awalnya keempat anak itu tak mau pergi, tapi berkat ke gigihan sang mami sengklek akhirnya mereka menyetujuinya.


"Kalian bisa mendapatkan tiket berlibur ke korea beserta fasilitas hotel terbaik di sana, asalkaaaaann ... mau menyelidiki kasus kematian tante hantu ini!"


Itulah bujuk rayu yang di tawarkan si mami sengklek.


Entahlah apa alasan dia menyuruh keempat junior untuk pergi? Tapi ... tapi ... tapi ... itu membuat keempatnya semakin akrab.


Sedangkan Zidane tak tahu dengan apa yang di perbuat istrinya, karena dia sedang ada pekerjaan.


"Kalau udah sampai disana, ku harap kalian tidak membuat keributan atau hal yang mencolok!"


Peringatan Zyan tertuju kepada ketiganya tanpa kecuali.


"Baik, bos!" Hanya itu yang keluar dari mulut ketiganya.


"Tante, dimana alamat rumahmu yang dulu? Kenapa kita dari tadi berjalan memutar terus?" Gerutu kesal Zyan.


Si tante hantu cuma nyengir menanggapi gerutuan kesal tuan muda tampan tersebut.


"Heheheee, maaf tampan! Tante lupa jalan pulang ke rumah."


Zyan menepuk keningnya pelan. Dia menyuruh Andra untuk menghentikan laju mobilnya.


"Haish, tante. Aku udah bilang kalo tante harus mengingat-ingat dulu alamat rumah sebelum pergi!"


Ketiga sahabatnya tercengang dengan bentakkan suara Zyan yang meninggi.


"E-elo marah, Zy?" Rena mulai bertanya.


"Tidak! Aku sedang nyanyi." Jawab Zyan datar.


Dodolnya mereka yang tak tahu situasi. Mereka cuma membulatkan mulutnya. "Ooohhhh!"


"Tampan. Di depan ada gang kecil setelah pohon beringin besar, nah lewat situ aja!" Kata si tante hantu.


Zyan menoleh dari kaca spion depan. "Yakin itu jalannya?"


"Entahlah. Mungkin juga benar!" Lagi-lagi jawaban si tante membuat Zyan kesal.


Helaan napas kekesalan terdengar dari mulut Zyan. Tanpa bertanya lagi, dia menyuruh Andra kembali melajukan mobilnya.


"Jalan!" Perintah Zyan langsung di turuti sang supir yaitu sepupunya sendiri.


"Emm, Zy. Sebenarnya kita mau cari alamat rumah tante hantu kemana sih? Dari tadi gak nyampe-nyampe deh!" Asyanti kini membuka suara.


"Iya Zy, gue bingung sekaligus kecapean juga nih! Kalau terlalu cape, gue jadi oon tar gak bisa mikir lagi." Timpal Rena.


"Cih, dari dulu sampe sekarang kamu kan memang tetep oon dan dodol Ren. Gak usah alasan karena kecapean!" Cibir Zyan.


Mendengar cibiran si tampan, Rena menjadi kesal di buatnya. Dia sampai berteriak di dalam mobil membuat Andra menghentikan laju kendaraan dan memilih menutup telinganya.


"Zyaaaaaaaaaaann!"


Si pemilik nama pun sampai melompat keluar mobil setelah kendaraan mereka terhenti.


"Cewek gila! Telingaku bisa lepas dari tempatnya." Gerutu kesal Zyan setelah dia melarikan diri dari auman si cerewet.


Begitu juga Andra dan Asyanti yang ikut melompat keluar mobil.


"Astagfirullah, kamu makan apa sih Ren? Suaranya nyaring bener!" Asyanti menggosok-gosok telinga karena merasa sakit.


"Jangan-jangan, toa mesjid di kampung sebelah ilang gara-gara ke telen nih bocah!"

__ADS_1


Andra tidak sadar kalau ucapan candaan dia memancing Rena untuk berteriak lagi.


"Juandraaaaa ... dasar cowok gila!"


ketiganya harus kembali menutup telinga mereka.


"Astaga neng, roh tante ampe melepaskan diri berkali-kali ini mah!"


Si hantu ikut protes walau tak di dengarkan oleh anak manusia tersebut.


Saat mereka masih dengan dramanya, tiba-tiba dari kejauhan terlihat tiga orang berlarian seperti di kejar-kejar seseorang.


Dan ternyata memang benar. Mereka di kejar seseorang berbadan besar dengan membawa sebuah tongkat pemukul di tangan.


"Kakak, tunggu aku!" Sang adik jatuh tersungkur ke tanah. "Huhuhuuu, sakit!" Dia pun menangis karena luka di lututnya yang di akibatkan goresan batu.


Kedua kakaknya pun berbalik dan menghampiri adiknya tersebut. Mereka memapah adiknya dan berusaha berjalan cepat.


"Ayo dek, kita harus segera kabur! Kalau tidak, preman itu akan membunuh kita."


Ketiganya berlarian dengan tergesa-gesa melewati Zyan and the genk.


Zyan tak sadar jika sedari tadi hantu tante Laila berusaha berbicara padanya, sampai datang dua preman lagi menangkap mereka.


Keempat junior malah melihat saja bagaimana para preman menyeret mereka.


"Ada apa dengan mereka? Kenapa preman itu menarik paksa mereka ya?"


Junior saling pandang dengan kejadian di hadapannya.


"Ah, bukan urusan kita juga. Toh urusan kita belum kelar kan nyari alamat si tante hantu!" Ujar Andra.


"Benar tuh. Kita gak mau dong terlibat urusan pajang dengan para preman di sini, iya kan!" Timpal Rena.


Zyan dan Asyanti hanya mengamati mereka yang ketakutan saat di tangkap. Ketiganya meronta sambil menangis meminta ampunan para preman.


"Tolong, pak. Jangan sakiti kami! Kami janji gak akan melaporkan apapun kepada polisi. Kami hanya ingin hidup bebas setelah ibu kami meninggal!" Lirih mereka memohon.


"Lepaskan mereka, penjahat!"


Namun apalah daya, suara atau bahkan pukulan hantu Laila tak bisa di dengar atau di rasakan preman itu.


Zyan merasa aneh karena melihat si tante hantu yang berusaha menghentikan para preman untuk membawa ketiga adik kakak tersebut.


Dengan instingnya, Zyan menghampiri para preman dan menegurnya.


"Lepaskan mereka!" Suara Zyan yang dingin dan datar mampu menghentikan aksi mereka seketika.


Melihat temannya mencari masalah dengan para preman, ketiga junior menepuk kening bersamaan.


"Aduh si Zyan, kerjaannya ikut campur mulu!"


Sementara, yang di omongin malah tetap tak mau menghindar dari para preman.


"Hei nak, jangan mencampuri urusan kami!" Kata salah satu preman.


"Sebaiknya kau lekas pergi dari sini. Jangan hiraukan kami!" Timpal yang lainnya.


"Aku akan pergi setelah membawa mereka!" Ucap Zyan santai.


Ketiga preman saling pandang mendengar ucapan pemuda di hadapannya, sebelum mereka tertawa. "Hahaha, dia lucu sekali."


"Hei nak, pulanglah! Cuci kaki dan minum susunya. Ibumu pasti mencarimu!"


"Benar. Kau tak kasihan kepada orang tuamu jika nanti mereka mencarimu!"


"Sebaiknya kau segera pergi dari sini!"


Zyan hanya tersenyum miring menanggapinya. Dengan memasukkan kedua tangan di kantong celana, dia berjalan lebih mendekat.

__ADS_1


"Kalau aku gak mau pergi, bagaimana?" Tantang Zyan santai.


Merasa bocah ini tak takut kepada mereka, sebilah pisau di keluarkan dari kantong.


"Kalau kamu gak mau pergi? Jangan harap bisa kembali dengan selamat!" Ancam para preman.


Zyan yang melihat sebuah pisau mengarah padanya hanya tersenyum meremehkan. Dia tak merasa takut sama sekali oleh ancaman para preman.


Lain hal dengan temannya. Seketika mereka berlari menghampiri sambil menarik tangan Zyan menjauh dari preman.


"Whoaa, santai bang! Maaf, teman kami tak tahu dengan yang di perbuatnya. Maafin dia ya bang!" Ucap Andra.


"Iya bang, maafin dia ya!" Kata Asyanti dan Rena.


Melihat dua gadis cantik mendekat dan meminta maaf, air liur si preman menetes tanpa permisi.


"Waaahh, gadis cantik!" Di lepaskan genggaman tangan mereka di tangan kakak beradik tadi. "Cantik, kita bisa maafin teman kalian asalkan kalian menemani kami!" Kata para preman itu.


Rena dan Asyanti menjadi jijik melihat tatapan nakal ketiga preman di hadapannya. Keduanya mundur ke belakang Zyan dan Juandra.


"Gue mulai takut sekarang!" Ucap keduanya.


"Ayo cantik, temani abang bersenang-senang!" Tangan si preman mengulur ke depan untuk meraih tangan Rena dan Asyanti.


Namun mereka tak menyangka, jika aksi nakalnya membuat kedua pemuda di hadapannya marah besar.


Tangan yang terulur itu seketika terhenti karena ulah kedua pemuda tampan tersebut.


Grepp


Tanpa melihat ke arah mereka, tangan Zyan dan tangan Andra menangkap tangan para preman yang kekar itu.


"Jangan pernah kalian menyentuh mereka dengan tangan kotor kalian!"


Aura dingin mulai terasa saat Zyan berkata dengan nada datar.


Para preman pun saling pandang, kemudian menatap lurus ke arah pemuda tampan yang sedang memegangi tangan mereka.


"Ku peringatkan kepada kalian untuk lekas pergi dari sini dan meninggalkan dua gadis ini termasuk ketiga adik kakak itu!" Tunjuk Zyan. "Kalau kalian masih tak pergi dari sini, jangan menyesal jika kalian harus pulang dengan terpincang!" Ancam Zyan.


Para preman itu malah tertawa terbahak-bahak. "Hahaha. Anak kecil sepertimu berani mengancam kami?"


Tak menunggu perkataan lain lagi. Dengan satu tangan yang memegang tangan preman itu, Zyan menggerakkan seperti sedang mematahkan sebuah ranting pohon.


Kreeekkk


"Aaaaaakkkhhh!" Lengkingan jeritan terdengar dari mulut salah satu preman.


Melihat temannya kesakitan karena ulah Zyan, keduanya langsung bertindak untuk menyerang.


"Dasar anak kecil, berani kau menyakiti teman kami! Ciyaaattt."


Baku hantam tak bisa di hindari, mereka bertiga melawan Zyan yang di bantu Andra.


Bak ... buk ... srettt ... beuukk


Mereka terlibat perkelahian dengan ketiga preman hingga napas terakhir.


Cukup lama juga kelima orang itu bertarung mempertahankan diri supaya tak terluka. Namun, sebuah peperangan harus ada sang pemenang bukan? Maka dari itu, kita tunggu sang pemenangnya besok.


***Bersambung dulu ya gaesss ...


Beli salak ke cikini,


Tak lupa membawa selasih.


Ceritanya harus sampai sini,


Sekian dan terima kasih.

__ADS_1


Lanjut besok ya genk***.


__ADS_2