
Malam hari itu, seorang suster bernama suster Ani bertugas untuk menggantikan temannya yang sedang sakit.
Ia mendapat tugas untuk menjaga pasien yang sedang koma karena kecelakaan. pasien itu tinggal di kamar perawatan yang terdapat di lantai tiga.
Entah apa yang terjadi, pasien koma itu tersadar membuat suster senang.ia pun akan memeriksa pasien dan memberitahukan kabar itu pada dokter.
Namun, mental pasien terganggu.ia seperti di rasuki makhluk halus.ia melompat kesana kemari seperti kera, dan membuat suster Ani terkejut bukan main.ia mencoba menenangkan pasien dengan bermaksud menyuntikkan obat penenang kepadanya.
Tapi, ia sepertinya tak mau kalah sama orang lain.pasien itu terus bertingkah dan Segala macam barang yang ada di sana, di lemparkan pasien itu ke arah suster Ani membuat suster itu takut dan mundur.
Dengan cepat, suster Ani keluar dari ruangan itu.tapi, pasien itu mengejarnya keluar.
Suster Ani berteriak meminta tolong pada orang lain.tapi apalah daya, karena itu sudah larut malam, tak ada satu pun yang mendengarnya.
Ia berlari menuju ke bawah lantai.namun, pasien itu melompat dan mendorong tubuh suster Ani dan ia pun terjatuh dengan berguling di tangga ke bawah dalam posisi telungkup.
Seorang satpam menemukan suster malang itu sudah dalam keadaan tak bernyawa dan luka di wajah serta kakinya pun patah.
Pasien yang tadi mengejar suster itu, entah kemana lagi.karna ia pun hilang dari ruangannya.
Setahun sudah suster Ani meninggal, banyak kejadian aneh yang di lihat orang-orang.
Saat malam tiba, di lorong sepi rumah sakit itu.ada yang melihat seorang suster sedang berjalan dengan mengesot serta membawa suntikan dan menghampirinya.membuat orang itu lari terbirit-birit.
Kadang, seorang pasien merasa ada yang menusukkan jarum suntik ke lengannya membuat ia pingsan seketika.ada pula pasien yang dalam keadaan baik, setelah di suntik suster ngesot itu, ia pun meninggal dunia.
Malam hari saat Zidane di kamar.
Saat Zidane tertidur pulas karena efek samping dari obat yang ia konsumsi, seseorang masuk tanpa sepengetahuannya.
Seorang suster masuk dengan membawa suntikan.entah atas izin dari dokter atau inisiatif dia sendiri, suntikan itu akan ia tancapkan di lengan Zidane.
Namun, Nania dengan cepat menepis tangannya dan membuat suntikan itu terlempar jauh dari jangkauannya.
"Hei, kenapa kau menghalangi pekerjaanku?"Suster itu melotor ke arah Nania.
"Kenapa kamu mau nyuntik si ganteng?atas izin siapa?"Nania bertolak pinggang ke arah suster yang terduduk di bawah.
"Aku ingin menjadikan dia suamiku.apa salah?"Suster itu keukeuh dengan pendiriannya.
"Enak saja kamu mau jadiin dia suami, aku saja tidak bisa.kenapa kamu maksa?"Nania berteriak membuat Zidane terbangun.
"Ada apa sih ribut mulu Nan?aku ngantuk banget tahu!"Zidane mengucek matanya dan berbicara dengan serak khas bangun tidur.
"Waaahh..tampan!"Matanya berbinar menatap Zidane yang baru bangun.
"Ya tuhan, suster sedang apa di bawah.apa Nania mendorongmu sampai terjatuh?"Ia langsung bangun dan terduduk karena melihat suster itu di bawah ranjang.
"Dia bukan suster biasa, ganteng"Ucap Nania santai.
"Oh ya, maksud kamu gimana Nan?"Tanya Zidane bingung.
"Aduh ganteng, dia itu sejenis ku."Jelas Nania.
"Kamu suka ngeledekin si gadis galak supaya memakai matanya dengan baik, kamu sendiri gak liat kalau dia itu demit"Ledek Nania lagi.
"Jadi, dia itu hantu?"Zidane langsung turun dari ranjang ke arah berlawanan.
"Ayo sini, suntik dulu.biar kamu bisa nemenin aku"Suster itu terus mendekati Zidane dengan mengesot ke arahnya.
"Whoaa..jangan deket-deket.aku paling benci sama suntikan!"Zidane terus mundur sambil berteriak.
Tapi, suster itu tak mendengarkan teriakan Zidane, dan ia malah semakin mendekat.
"Nania, please.bantu aku"Ia meminta bantuan si hantu genit itu.
Dengan cepat, Nania mendekat ke arah mereka.tapi, suster itu menghalangi dengan kekuatannya.sehingga, Nania terpental karena hempasan tangan suster itu.
"Haaaaaa...."Nania tertiup bagaikan sebuah lembaran kertas.
"Gila"Zidane terkejut dengan kekuatan hantu suster ngesot itu.
__ADS_1
"Hihihiiii...gimana tampan?apa kamu masih gak mau ikut bersama ku?"Suster itu tertawa cekikikan dan mendekat lagi ke arah Zidane.
"Ja..jangan mendekat, atau..."
"Atau..apa?"Suster itu menampakkan seringai wajah yang menyeramkan.
"Maaf kalau aku kasar sama wanita.tapi, dia kan hantu.boleh lah di kasih pelajaran sedikit"
Saat ia terus mendekat ke arah Zidane dengan mengacungkan suntikan itu, Zidane yang kesal langsung menepis tangannya dan membuat suntikan itu menancap di hidung suster itu.
"Aduh.."Suster ngesot itu mengaduh karena suntikan yang menancap di hidungnya.
"Makanya, kalau di bilangin itu yang nurut. jangan ngeyel!"Zidane melompatinya tubuh si sungsot karena langkahnya terhalangi tubuh makhluk itu.
"Maaf lagi"Ia langsung keluar dari ruangan itu tanpa bilang siapa pun.
Zidane terus berlari dan sampai di jalan raya, ia pun menghentikan taxi dan pulang ke rumahnya setelah menemukan Nania.
▪▪▪
"Kesel deh, mau ngasih surprise malah gue yang di bikin terkejut dengan dia tak ada di sana.huhh..dasar king ice" Batin Sherly yang lagi dongkol.
"Kalau ketemu, gue bejek-bejek dia"Ia yang kesal terus memelintir tasnya dan di perhatikan keempat sahabatnya.
"Aha...gue ke rumahnya aja deh!"Ide cemerlang muncul di pikirannya.
"Elu kenapa Sher?dari tadi kok ngelamun terus!"Mereka bertanya dan mengejutkan Sherly yang sedang melamun.
Namun, yang di tanya malah tak mendengarkan.
"Woi, bos.elu ngelamunin apaan?"Teriak Iren.
"Elu pasti mikirin si king..siapa itu..lion king ya?eh bukan, tapi king..."Iren mencoba mengingat julukan Sherly kepada Zidane.
"Hahh,"Sherly terhenyak dengan Iren.langsung berpaling ke arah mereka.
"King khong Ren,"Ucap Geri terkekeh.
"Ish, kalian itu ya!"Sherly cemberut.
"Eh Dik, turunin gue disini"Pintanya pada Dika, karea Dika lah yang menyetir.
"Hemh, mau kemana lu?kita anterin ya?" Dika tak mau berhenti.
"Stop Dika, gue mau turun"Sherly merajuk dengan mengetuk-ngetuk dashboard.
"Ih elu ya, kita gak mau elu hilang lagi"Dika keukeuh dengan pediriannya tak mau berhenti.
"Ya udah, gue lompat aja"Sherly langsung membuka sabuk pengaman dan ia pun bersiap membuka pintu mobil.
Dengan cepat Dika mengerem sehingga menimbulkan decitan keras karena suara ban mobil yang tergesek aspal.
Ciiiiitttttt...
"Whhoooooaaaaa"Mereka yang di belakang berteriak histeris.
"Elu gila apa?"Dika langsung menarik tangan Sherly dan membentaknya.
"Elu mau mati hehh?"Genggaman tangan itu semakin mengerat.
"Gue bilang berhenti ya berhenti dodol, elu maksa gue buat..."
Ceklek
"Turun"Dika langsung berpaling ke depan dan tak memandang Sherly.
"Gue minta ma...."
"Turun"Ia tetap tak mau memandang gadis itu.
Sherly turun dari mobil dan mobil Dika pun melaju dengan kencang, meninggalkan dirinya di tengah jalan.
__ADS_1
"Kenapa elu biarin dia peegi Dik?"Mereka bertanya dengan heran.
"Biarin aja lah, dia udah gede ini.lagian, kita cuma sahabatnya.jadi, tak ada alasan buat kita nyegah di pergi bukan?"Dengan santainya Dika menjawab.
"Gue tahu beib, elu mengkhawatirkan dia. tapi, apa salahnya sih elu hargai perasaan gue"Batin Dika yang kecewa.
Sherly pergi dengan menaiki taxi menuju mension Zidane.
Sesampainya di sana, rumahnya terlihat sepi.membuat Sherly enggan masu
"Kok sepi?apa tidak ada orang?"Ia mencari seseorang tapi tak ada.
Ting Nong..
Bel di tekan kuat oleh gadis itu secara berulang, membuat kebisingan di dalam mension itu.
Tak habis akal, ia pun memanjat pagar dan masuk ke dalam sana.ia mendongakkan kepala ke lantai atas, terlihat seperti bayangan seseorang sedang berada di sana.
"Eh, ada orang rupanya.kenapa pintunya gak di buka?"Ia melompati pagar rumah Zidane yang cukup tinggi itu.
Setelah sampai di depan pintu, ia pun menekan bel lagi dan mengetuk pintu lebih kencang.membuat si pemilik kesal.
"Sebentar"Zidane berteriak dan berlari menuruni tangga.
"Berisik banget sih?orang gak sabaran" Gerutu nya sambil membuka pintu.
Terlihat gadis yang suka bikin dia pusing, ada di depan rumahnya dengan tersenyum manis ke arahnya dengan menurunkan kaca matanya.
"Hai king ice, kenapa gak bilang sih kalau pulang?"Ia melangkah masuk dan mendorong pintu itu sampai terbuka lebar.
"Sedang apa kamu disini?"Zidane dengan ketus bertanya pada gadis itu.
"Gue kan mau nengokin elu!"Dengan santainya, ia melangkah menuju pantry.
"Glek..glek..srupp ahhh..seger nya"Ia meminum jus alpukat di gelas yang ada lemari es.
"Hei, kenapa kamu meminumnya?"Ia menarik gelas jus itu.
"Kenapa?gue haus, ya gue minum lah"Ia menarik kembali gelas jus itu.
"Tapi itu punya..."
"Gak boleh?"Ia menatap Zidane yang menggelengkan kepalanya.
"Pelit amat sih!"Sherly tetap meminumnya.
"Tapi itu gelasnya si dokter gila"Bentak Zidane membuat Sherly terbatuk.
"Ukhuk..ukhuk.."Sherly menepuk dadanya yang terasa sakit karena terkejut dengan perkataan Zidane.
"Apa?dokter gila?maksud elu.."
"Iya, si Rian"Ucapnya datar.
"Oh ya ampun, gue kira ini punya lu."Sherly membolak balikan gelas yang kosong itu.
"Aduh, gimana kalau dia marah?"
"Masalahnya bukan dia marah atau enggak. tapi, itu gelas udah nempel di bibir kamu" Batin Zidane.
"Aku gak biasa minum air dingin!"Zidane menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Oh ya ampun, gue lupa kalau dia trauma sama yang dingin-dingin"Sherly merasa bersalah.
"Gue..."Ia tak melanjutkan ucapannya dan memilih diam.
Saat mereka sedang terdiam, datanglah orang yang sedang di bicarakan.
__ADS_1
"Hai kakak ipar, apa kabar?"Rian melangkah menghampiri mereka dan tersenyum ceria.
"Hehh??"Mereka berdua menatap Rian dengan heran dan kemudian saling memandang.