
Brakk
Pintu di tendang dengan sangat kencang menimbulkan suara yang keras.
Si pria mesum itu pun terlonjak kaget saat pintu yang ia kunci terbuka dengan paksa.
Si pelaku penendang pintu itu tanpa berkata, ia langsung memerikan ucapan selamat pada pria mesum itu.
Bak.
Bugh.
Cring.
Pow.
Booom.
Dugh.
Prett.
Criit.
Ngik.
Ding.
Dang.
Dutttt.
Semua jurus ia keluarkan untuk memberi salam tempel pada pria mesum yang didaratkan di sekujur tubuh si pria mesum dengan maju mundur syantik..
"Ampun..tolong ampuni aku, tuan!"Pria itu menyatukan kedua tangannya dan memohon pengampunan orang yang ada di hadapannya.
"Kalau kau masih melakukannya pada semua gadis disini, akan ku pastikan tempat kost ini tutup selamanya!"Nada dingin yang terdengar sangat menakutkan baginya.
Ia pun bersujud di kaki ibunya, eh di kaki orang itu."Tidak, aku tidak akan melakukannya lagi.aku berjanji"Ia menundukkan wajahnya yang sudah di kasih stempel hadiah perkenalan dari orang itu.
"Pergi"Teriak si pemberi hadiah dengan nada dingin.
Tanpa berkata-kata lagi, si pria mesum itu langsung lari terbirit-birit tunggang langgang seperti di kejar orang.
Ya iya lah orang, kan dia orang bukan setan.
Orang itu mendekati Iren yang sedang menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Huhuuuuu"
Tangannya terulur dan menyentuh bahu Iren, membuat Iren terlonjak dan mundur.
"Tolong jangan sentuh aku, hiks..aku mohon. Huhuuuu"
"Renita!"Suara seorang lelaki yang tak asing bagi Iren.
Gadis itu pun mendongakkan kepalanya dan menatap lelaki yang sedang berjongkok di depannya.
Tanpa berkata-kata, Iren pun langsung berhambur ke pelukkan lelaki di depannya.
"Dikaaaaaa"Iren memeluk tubuh Dika dengan sangat erat.
"Tenang..tenang gue disini, oke!"Di elusnya kepala Iren yang sedang menangis tersedu di pelukkannya.
"Gue takut Dik, dia..dia.., huhuhuuuuu"Iren semakin menangis.
Dika langsung membuka jaketnya, ditutupnya tubuh Iren yang sedikit terlihat.
"Kita pergi, yuk!"Dika memapah Iren yang sedang menangis dengan pilu.
"Gue takut Dik,"Tangan Iren masih gemetar karena insiden ini.
Dengan lembut, Dika mengelus lengan Iren dan merangkulnya."Gue gak akan ngebiarin lu kenapa-napa!"
Iren mengangguk perlahan, seluruh tubuhnya masih gemetaran dan ia pun seperti susah untuk melangkahkan kakinya.
Dika yang melihat Iren masih dengan ketakutannya, ia pun menjadi tak tega.
Dika berjongkok dan berkata."Naiklah"
"A..apa maksud lu?"Iren tak mengerti dengan sikap Dika.
"Lu gak pake sendal, Ren.ayo, gue gendong sampai depan."Dika beralasan, dia gak mau Iren menjadi murung karena ketakutannya.
Iren menatap kakinya yang nyeker karena sendal yang ia pakai tak tahu kemana.Dia pun naik di punggung Dika.
Mereka berjalan ke depan dan mengambil motor Dika yang terparkir disana.
__ADS_1
Di turunkannya perlahan tubuh Iren di atas motor vespanya.
"Lu gak gengsi kan naik motor vespa?"Tanya Dika terkekeh.
Iren pun perlahan tersenyum."Apaan sih lu, Dik?"
"Takutnya elu gengsi.Gue cuma bawa vespa, sedangkan cowok lu bawa mobil"Ia terkekeh.
Iren diam menunduk.
Dika yang melihat perubahan di wajah Iren pun menjadi tak enak."Sorry Ren, gue..."
"Terima kasih, Dika.kalau bukan karena lu, gue gak tahu apa yang terjadi sama gue. hiks"Ia menangis lagi membuat Dika tak tahu harus gimana.
Tangannya terulur, dengan lembut Dika mengusap air mata Iren."Lupain semuanya, yang penting sekarang lu gak kenapa-napa, oke!"Ia tersenyum.
"Apa gue bilang saja sama Indra kalau..."Ia membuka handphonenya dan bersiap menelpon seseorang.
"Enggak Dik, gue gak mau Indra jadi merasa bersalah."Cegah Iren dengan cepat.
"Tolong rahasiakan ini darinya, ya.gue gak mau nanti dia menjadi khawatir sama gue."
"Elu tahu kan, kemaren dia kayak gimana saat Geri kecelakaan, dan sekarang jika dia tahu apa yang menimpa gue ini, pasti dia akan melakukan sesuatu di luar pemikiran kita"Jelas Iren.
Dika mengangguk paham."Ya sudah, pulang ke rumah gue saja ya?"Ajak Dika.
Iren pun mengangguk, namun ia menatap Dika lagi."Tapi, gimana kalau enyak dan babeh tanya?Apa yang harus gue jawab?"
Dika pun tersenyum, "Kenapa elu mikirin tentang enyak dan babeh gue?mereka kan sudah kenal elu dari bayi, jadi gak usah khawatir tentang pertanyaan mereka.oke!" Dika meyakinkannya.
Iren mengangguk dan tersenyum.
"Jadi, kita pulang sekarang?"Tanya Dika.
"Iya, ayo kita pulang!"Iren mengiyakannya.
Dinyalakannya mesin vespanya dan ia pun mulai melajukannya di jalan beraspal menuju rumahnya Dika.
"Dika, makasih ya.disaat gue membutuhkan seseorang untuk menolong gue, tuhan malah ngirim lu kesini buat bantuin gue!"Tanpa sengaja, tangan Iren melingkar di perut Dika dan kepalanya bersandar di punggung pemuda itu.
Dika terkejut dengan tingkah Iren, namun ia menganggap semua itu hanyalah perlakuan terhadap sesama sahabat.
"Elu harus berterima kasih pada Indra, dia yang nyuruh gue buat dateng kesini!"Ia tak mau ada sesuatu yang lain dari persahaban mereka.
"Terima kasih juga karna elu bawa motor vespa, bukan motor gede itu"Kata Iren lagi.
Iren pun menepuk bahunya dari belakang.
"Gue bisa duduk miring kaya gini kalau pake vespa, coba kalau pake motor gede, enak di elu dong!"Ia pun mulai tersenyum.
"Hahahaaa"Mereka tertawa sepanjang jalan menuju rumah Dika.
Masih untung mereka gak ada yang lihatin tertawa mulu karena ini malem, coba kalau siang, di sangka gila kali.
Sebelum Dika menolong Iren
Dika yang bosen di rumah terus karena tak ada kegiatan setelah bergantian jaga dengan keluarganya Geri untuk menunggu di rumah sakit.Ia pun memutuskan untuk dateng ke bengkel Indra dan sekedar melihat-lihat saja dan menghilangkan ke bosanannya.
"Hai Ndra, sibuk lu?"Dika menghentikan vespanya tepat di hadapan Indra yang sedang mondar mandir kaya setrikaan.
Indra langsung menoleh ke arah sumber suara yang selalu ia dengarkan.
"Kebetulan elu kesini, bro.bantuin gue!"Ia menarik lengan sahabatnya itu.
"Whoa..whoa..santei mamen.elu minta tolong kaya mau ngajak ribut dah!"Ia terseret oleh tarikan Indra karena kakinya belum napak di lantai bengkel dan vespanya pun belum ia standarkan.
"Sorry, heheeee"Indra melepaskan tarikan di lengan Dika.
"Sudah bisa mgomong?"Tanya nya setelah Dika menstandarkan vespanya dan ia pun melepaskan helmnya.
"Tolongin apa sih? kalau di suruh memodif mobil atau motor, gue gak bisa.Tapi kalau suruh ngitung duit, gue paling pinter.hehee" Ia nyengir mengatakannya.
"Urusan duit gue gak usah minta bantuan lu, gue bisa sendiri."Indra menepuk kepala Dika.
"Wasyem lu, maen geplak aje, kebiasaan."Ia mengusap kepalanya.
"Emang apaan sih yang elu mau minta dari gue?Harta, tahta, wanita, gue kagak punya itu semua.Yang ku punya hanyalah hati yang setia, tulus padamu!"Dia malah bernyanyi di depan para karyawan Indra yang sedang melongo mendengar suara merdutnya, eh merdunya.ckk, gak usah protes lah.hihiii
"Mentang-mentang vokalis, nyanyi mulu kerjanya!"Cibir Indra.
"Secara, gue gitu lho!"Dika menepuk dada dengan kencengnya."Ukhuk..ukhuk.."Batuk juga kan lu.
"Hemm, sombong lu"Indra mencibir lagi.
"Langsung aja deh pada intinya"Indra menatap Dika dengan serius.
"Dari tadi gue telpon Iren gak diangkat-angkat, gue khawatir takut dia kenapa-napa."Kata Indra.
__ADS_1
"Mungkin tuh anak lagi di kamar mandi kali, atau bisa juga ketiduran."Kata Dika.
"Gue telpon dia dari sore, dodol.bukan cuma sekali, tapi dua ratus ribu kali"Berlebihan banget emang si Indra.
"Makanya gue khawatir terjadi sesuatu sama dia!"Lanjutnya.
"Waaaah, dua ratus ribunya buat gue aja, Ndra.sayang tuh cuma buat nelpon si Iren doang!"Dika terkekeh mengucapkannya.
Plakk
"Woi, gue serius dodol.lagian, itu kali bukan duit"Indra menggeplak lengan Dika.
"Asyem lu, mukulin gue mulu.emangnya kali berapa sih?"Dika mengusap lengannya yang di pukul Indra.
"Bercanda mulu ah, gue serius nih!"Indra merengek.
"Gue gak bisa pergi sekarang, disini lagi banyak kerjaan.para pelanggan minta mobilnya di ambil sekarang juga.makanya gue mau ngelembur"Tutur Indra.
"Elu bisa kan mampir ke tempat kostnya Iren, sebentar saja.Cuma mastiin dia gak kenapa-napa, abis itu elu balik deh!" Indra merengek dengan menggoyangkan tangan Dika.
"Iya lah..iya lah.elu yang punya pacar, gue yang repot sih.ckk"Akhirnya Dika mengalah pada permintaan sahabatnya.
"Yeeaah, terima kasih bang Entong nya aku. Eemmuuaach"Indra mencium pipi Dika dengan gembira.
"Iiih, najong lu.pipi gue sudah gak suci lagi dong"Dika mengusap pipinya yang di cium Indra.
"Masih perjaka tuh pipi, ckk.Sini gue cium lagi, lu"Indra memonyongkan bibirnya ke arah Dika.
"Woi, stop.gue bukan cowok apose" Tangan Dika menahan wajah Indra yang mendekat ke arahnya.
"Hahahaaa"Para karyawan menertawakan kelakuan kedua sahabat itu.
Setelah merasa lelah karena bercanda dengan Indra, Dika pun melajukan vespanya ke arah tempat kost Iren.
Sesampainya disana, ia melihat banyak nasi yang berceceran di tanah dan minuman yang tumpah di tanah.
"Siapa sih nih yang buang-buangin nasi goreng sama minuman disini?ngotorin saja" Dia melihat semua itu berserakkan di tanah.
"Tapi aneh, kenapa tumpahnya seperti ini ya?"Dia mengikuti jejak tumpahan nasi ke arah lantai bawah.
Saat ia mengikuti ceceran nasi itu, ia melihat suatu benda yang tak asing baginya.
"Ini kaya sendal si Iren deh?"Dika memungut sendal yang berinisial I&I bukan U&I karena itu untuk si kembar nakal.
"Tolong"Suara teriakan minta tolong dari arah kamar yang di ujung sana.
"Ada yang minta tolong, siapa ya?disini kan gak ada yang ngekost?"Dika memperhatikan tempat sepi itu.
Ia berjalan dan menemukan sendal satunya lagi yang sudah putus."Ini beneran punya si Iren, mungkin di buang karena sudah rusak kali!"Dika memperkirakan itu sendiri.
"Indra..tolong aku.huhuuu"Teriakannya kembali terdengar dan ia menangis.
"Kaya suara si Iren!"Ia mempercepat langkahnya menuju ke kamar ujung.
"Jangaaaan"Teriakan itu semakin kencang.
Tanpa aba-aba, Dika yang sudah biasa dengan ilmu bela dirinya langsung menendang pintu yang terkunci dari dalam.
Diliriknya gadis cantik yang sedang menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri dan penampilannya yang berantakan, membuat air di panci mendidih seketika.
Tanpa berkata-kata, Dika langsung memberikan hadiah perkenalan pada si pria mesum yang akan melakukan perbuatan tak baik pada pacar sahabatnya sekaligus sahabat kecilnya itu.
Sampai wajah pria mesum itu terlihat sangat indah dan pantas.
Pria itu memohon ampun di hadapannya, tapi ia tak perduli dengan itu.Diangkatnya kepalan tinju ke arah si pria mesum itu. Namun ia melirik Iren yang terus menangis dengan lirih.
Dika pun memilih menyelamatkan Iren secepat mungkin.Ia pun menyuruh pria itu pergi dari tempat itu tentunya dengan ancamannya.
Setelah pria itu pergi, di dekatinya Iren yang sedang menangis dan memeluk dirinya sendiri.Ia menyentuh bahu Iren namun gadis itu malah ketakutan.
Dika pun menyebutkan nama gadis dengan lantang membuat si pemilik nama mendongakkan kepalanya."Renita!"
"Dikaaaa"Gadis itu pun memeluk dirinya sambil menangis di pelukkannya.
Akhirnya, Dika bisa menyelamatkan Iren dari si pria mesum itu.
Huuchh, selamat.untung ada si Dika, kalau enggak, gimana coba?
▪▪▪▪▪
Akan ada kejutan lain dari otor untuk kisah mereka semua.jangan pernah ketinggalan cerita otor ya...
Beli kelapa di kupas bersih,
Yang sudah baca terima kasih.
Salam manis dari otor😘😘😘😘
__ADS_1