Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kerasukan


__ADS_3

Pencarian kuntilanak merah pun di mulai malam ini juga.


Keempat sahabat Geri itu di temani para warga, mulai keliling untuk mencari si mis kun.


"Dimana sih tuh setan, kok gak ketemu-ketemu?"Indra dan Dika mengeluh karena kelelahan.


Mereka mencari sepanjang jalan yang di tunjukkan warga, tempat makhluk itu sering muncul.


"Biasanya di sini kuntilanak merah itu kelihatan.mas, mbak."Kata salah satu warga.


"Pohon beringin?jadi, tuh si ratu kecantikan suka nongkrong di tempat beginian?"Indra memperhatikan pohon besar dekat danau itu.


"Wah, dia milih tempat paling bagus Ndra.disini emang adem, bisa lihatin pemandangan indah dari atas sini," Dika yang sudah manjat pohon besar tempat si mis kun nongkrong.dia malah senang bisa nongkrong di atas.


Semua warga malah bergidig ngeri saat melihat Dika di atas pohon. Mereka takut jika makhluk itu tiba-tiba datang dan membahayakan nyawanya.


"Hati-hati lho Dik, kalau yang punya rumah marah, gimana lu?"Iren memperingatkan Dika.


"Aah, bodo amat.kalau dia marah, gue sentil saja kupingnya"Ucapan Dika sompral.


"Masa dia gak mau kontrakin tempatnya ke gue!"Lanjutnya lagi.


"Hush, Dik.elu kalau ngomong yang bener?elu mau tukeran sama dia, elu tinggal disini sedangkan dia tinggal di tempat lu?"Kata Indra.


"Eh, ogah bener.amit-amit dah."Dika mengetuk kepalanya pake tangan.


"Makanya lu, kalau ngomong itu di jaga.kalau dia beneran ada gimana?****** dah lu!sekarang turun lu, buruan"Pinta Indra.


"Adem bro, diatas sini!"Kata Dika sambil berdiri dan endag-endagan.


"Turun lu Dik, sebelum yang punya dateng!"Iren terus meminta Dika turun.namun Dika seperti tak perduli, ia malah semakin bersemangat untuk bergelayutan di atas pohon itu.


Sedangkan Sherly tak berada disitu, ia terlihat sedang mengobrol dengan beberapa saksi mata yang pernah melihat langsung makhluk halus itu.


Malam semakin larut, sebagian warga pulang karena merasa takut dan juga mengantuk.


Penantian itu pun menjadi sia-sia, tak ada tanda-tanda kedatangan makhluk itu.


Sampai mereka di kejutkan bunyi dahan yang patah dan roboh.


Krekkkeekk..brugh..


"Aaww, sakit dodol!"Dika meringis memegangi bokongnya karena dirinya jatuh ke bawah dengan sangat keras.


Dahan tempat si mis kun patah karena Dika yang pecicilan, ia terlalu bersemangat menghentakkan kakinya di dahan itu sampai patah. Akibatnya, dia pun terjatuh dan bokongnya mencium tanah.


"Apaan tuh?"Semuanya menengok ke arah pohon beringin itu.


Terlihat Dika yang sedang meringis memegangi bokongnya yang sakit.


"Rasain lu, Dik.bangor banget sih jadi anak.hahahaa"Indra menertawakan Dika yang kesakitan.


"Sialan lu, temennya kesakitan malah ngetawain.dasar, teman kurang asem lu!"Cibir Dika pada Indra.


"Hahaha..di bilangin ngeyel, ya tanggung sendiri akibatnya!"Kata Iren.


"Pasangan kurang esem lu, kompak benar kalau ngebully orang!"Dika mencibir keduanya.


"Elu gak apa-apa Dik?"Sherly berlari ke arah Dika dan mengulurkan tangannya.


"Sakit lah, pant*t gue kayaknya cedera deh!"Dika penuh drama sambil menyambut uluran tangan Sherly.


"Mana, coba gue lihat!"Pinta Sherly.


"Hemm, ini.sakit banget beib!"Dika dengan manja membalikkan badannya ke arah Sherly dan ia juga mengarahkan bokongnya.


Plakk


Pukulan keras mendarat di bokong Dika karena ulah si bos.


"Awseeeemmm..sakit banget dodol, elu mau bikin gue mati?"Dika memegangi bokongnya.


"Lagian, bandel banget sih lu!masih untung pant*t lu gak kenapa-napa. Coba kalau elu jatuhnya kepala duluan, atau tangan.gimana coba?" Sherly marah kepada Dika.

__ADS_1


"Geri saja masih di rumah sakit, elu mau ikutan berbaring kaya dia?" Lanjutnya dengan nada marah.


"Sorry beib, gue cuma iseng saja tadi. Habisnya di atas emang adem, suer dah"Kata Dika yang tak merasa bersalah, ia mengangkat dua jari tangannya.


"Gue minta, kalian bisa jaga sikap." Tutur Sherly.


"Makhluk ini tidak gampang di tangani lho, dia tahu kalau kita berkumpul disini.maka dari itu, dia tak datang kesini."Lanjut Sherly.


Mereka mengangguk mengerti.pantas saja makhluk itu tak datang?rupanya karena banyak orang di sini.


"Ya sudah pak, bu, kalian kembali saja ke rumah masing-masing.Kami juga akan....." Perkataan Sherly tak bisa tersampaikan karena teriakan dari seorang warga.


"Bapak-bapak, ibu-ibu, mbak dan mas nya, tolong kami!"Ketiga orang berlari sambil berteriak meminta pertolongan warga lain serta Sherly and the gengs.


"Hah..hah..hah..tolong..tolong kami!" Napas mereka ngos-ngosan sepertinya mereka berlari dengan kencang.


"Ada apa pak, bu?kenapa kalian berlarian seperti itu?seperti di kejar setan saja,"Kata warga lain.


"Memang benar pak, bu, kami di kejar setan."Ketiganya mengatur napasnya yang kesusahan untuk bicara.


"Coba katakan, apa yang sebenarnya terjadi?"Tanya warga lain.


"Begini pak, bu"Sibapak pun menceritakan kejadian yang menimpanya dan keluarga....


Saat ia sedang berkumpul keluarga di ruang tengah rumahnya, tiba-tiba terdengar teriakan anak gadisnya dari kamar atas.


Dengan cepat ia dan istrinya berlari ke atas dan menghampiri putrinya. Namun saat mereka di atas, putrinya hanya terdiam dan menunduk. Ia pun menegur dan menepuk pelan pundaknya.


"Ada apa nak, kamu tadi berteriak?"Ia bertanya pada putrinya.


Namun putrinya tetap diam, dan tak bergerak sedikitpun.


Istrinya pun mendekatinya untuk bertanya.


"Kamu kenapa sayang?"Sang ibu mendongakkan wajah anaknya dengan cara memegang dagunya.


Saat wajah si anak terangkat, wajah itu bukan wajah anaknya. Wajah yang pucat pasi dan menyeramkan, dengan darah keluar dari sudut bibirnya.


"Hihihiiiiiii"Tawa cekikikan menggema di seluruh kamarnya.


Ayah dan ibunya pun terheran, mereka ingin maju dan bertanya pada putrinya, tapi, mereka pun takut karena wajah putrinya yang berubah menjadi wajah orang lain.


"Si..siapa kamu?kenapa ada di dalam tubuh putriku?"Mereka bertanya walau dengan ketakutan.


Bukannya menjawab, ia malah mendekat dengan tangan terulur seperti ingin mencekik mereka dan tawa ciri khasnya.


"Hihihihihiiii...hiiiihihiiiiii"


Sosok itu terus mendekat ke arah pasutri sampai tubuh mereka terbentur ke tembok.


"Jangan, tolong jangan mendekat!"Mereka menyilangkan tangan di depan sebagai alat perlindungan mereka.


"Aku akan memakan kalian berdua, Hihihihiii..."Suaranya yang serak terdengar sangat menakutkan.


"Akh.."Leher keduanya di cekik dengan kedua tangan makhluk yang berada di dalam tubuh anaknya.


Mereka berusaha melepaskan diri, namun cengkraman itu terlalu kuat sehingga mereka tak dapat melepaskannya.


Namun, tiba-tiba saja anaknya terjatuh dan pingsan seketika.sepertinya makhluk itu sudah keluar dari tubuhnya.


Tapi, mereka pun takut dan tidak berani mendekatinya untuk beberapa menit.


Terlihat wajah putrinya kembali dengan normal, dan putrinya itu berdiri dan memandang kedua orang tuanya. Ia pun menangis tersedu dan langsung memeluk ayah dan ibunya.


Mereka pun jadi takut untuk tinggal di rumah. Akhirnya, mereka memutuskan keluar dari rumah dan berlari kemari untuk meminta bantuan dari semua orang.


"Jadi, begitu ceritanya?"Sherly mengangguk dengan cerita orang itu.


"Tapi, kenapa makhluk itu tiba-tiba keluar dari tubuh putrimu dengan begitu saja?aneh, biasanya mereka akan bertindak di luar batas."Tutur Sherly.


Mereka pun berpikir sejenak, namun, semuanya buyar setelah mendengar rengekkan dari Dika.


Dika merengek membuat semuanya menoleh ke arahnya. Cuma Sherly yang tak mau terpengaruh oleh rengekan Dika.

__ADS_1


"Tol..long..ngin guuu..eeee...ini sakk...kkiiitt se..kalliihh" Tangan Dika bertumpu di tanah, ia tertuduk seperti menahan beban berat.


"Hei, kenapa dia?ada apa dengan pemuda itu?"Mereka menoleh ke arah Dika.


Sedangkan Sherly tak mau menoleh, ia berpikir kalau Dika akan bercanda untuk mengerjai mereka.


"Hei Dik, elu jangan iseng ya?cepat berdiri!" Indra menarik tangan Dika tapi ia tak bisa bergerak.


"Gggaakk..biii..ssaaahh"Dika berusaha menyambut tangan Indra tapi tangannya tak bisa di gerakkin.


"Berat banget sih lu?"Indra mencoba menariknya namun tetap tak bisa.


"Yank, bantuin aku dong!"Pinta Indra kepada Iren.


Iren pun mencoba menarik tangan Dika. Namun, ia juga tak bisa menariknya.


"Dikkkaaaaa, elu jangan main-main dong!" Iren berteriak karena kesal.


Seketika, Sherly menoleh ke arah mereka karena teriakan Iren, dan betapa terkejutnya ia dengan pemandangan itu.


Diatas tubuh Dika sudah terduduk si mis kun yang sedang mengayunkan kaki sambil berdadah ria dan menekan punggung Dika. Ia pun terlihat begitu senang.


"Eehhh, elu ngapain disitu?"Pertanyaan Sherly membuat semua orang menoleh.


"Turun, lu!"Perintah Sherly pada makhluk yang sedang anteng ucang-ucangan..hehee.


"Apa sih lu, kenapa nyuruh turun, enggak ada yang manjat pohon lagi kecuali ini anak!"Iren menunjuk Dika.


"Dan sekarang nih anak lagi jongkok dan nunduk kaya gini!"Lanjut Iren.


"Gue ngomong sama dia, turun lo"Tunjuk Sherly ke arah atas punggung Dika.


Spontan Iren dan Indra melepaskan tangan mereka yang sedang memegangi lengan Dika.


"Wah..wah..wah..dia disini?"Iren menunjuk ke arah yang di tunjuk Sherly, dan Sherly mengangguk.


"Elu bandel sih Dik, jadi kan dia..."


"Hei, stop!jangan coba-coba elu lakuin itu ya?"Sherly menggerakkan tangannya.


"Awas lu kalau berani, hemm...gue tendang lu"Sherly menggerakkan kakinya.


Sherly melihat makhluk itu dengan sengaja menekan punggung Dika dan ia mencoba masuk ke dalam tubuh Dika.Ia juga tersenyum sambil meledek Sherly.


"Wah, ini cewek kenapa?stres kali ya?"


"Apa dia lihatin setannya?"


"Eh, si mbaknya gila apa?masa ngomong sendiri"


"Hantunya dateng kali!"


Banyak celotehan dari para warga yang sedang menyimak tingkah laku Sherly yang di rasa mereka aneh.


Tiba-tiba Dika berdiri dengan entengnya, tidak seperti saat Indra dan Iren menarik tubuhnya.


"No!"Teriak Sherly sambil berlari saat makhluk itu masuk ke tubuh Dika.


"Hihihiiiiiii"Dika tertawa seperti gaya si mis kun yang selama ini meneror komplek perumahan itu.


"Whooaaa.."Mereka pun menjerit histeris saat melihat Dika melompat ke atas pohon dengan sekali lompatan saja.


"Hihihiiiii"Dika cekikikkan sambil mengayunkan kakinya persis si mis kun.


"Haduh, telat"Sherly menepuk keningnya sedikit. Takut otaknya geser.hahahaaa....


"Ckk...Kerasukan akhirnya"Sherly menggelengkan kepalanya dan ia pun menatap ke arah makhluk itu.


"Apa?Kerasukkan!"Seru Iren dan Indra berbarengan.mereka pun medongakkan kepalanya ke atas pohon dan melihat Dika yang sedang memutar-mutar jari telunjuk di samping wajahnya seperti sedang melintirkan rambut dengan tawanya yang khas.


"Hihihiiiiiiiiii"Ia cekikikan dengan gaya centilnya.


"Dika...Dika..hadeuh, badung sih, lu!"

__ADS_1


__ADS_2