Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Tak dapat di temukan


__ADS_3

Memulai hidup dari awal memang sedikit kesulitan buat Sherly yang sudah biasa bergelimang harta.


Dengan hanya tinggal di rumah kontrakan, dia harus bisa membagi uang untuk pengeluaran sebulan dan uang untuk kontrakan.


Zidane memang sengaja menguji istrinya untuk belajar hidup prihatin. Dia melakukan semua demi menyembunyikan istrinya dari orang jahat seperti Hendri.


Kini Zidane berprofesi sebagai supir taksi online. Dia meminjam mobil dari Geri yang padahal mobilnya sendiri.


Zidane pulang dengan sumringah. Ia menghampiri istrinya yang sedang bergelut dengan perabotan di dapur.


"Sayang, lihatlah. Aku dapat uang lebih hari ini. Ada penumpang yang memberiku bonus karena sudah menolongnya untuk membawakan barang."


"Wah, sayang. Hari ini lumayan juga ya pendapatanmu. Tapi, kita harus bayar sewa mobil sama si Jawir." Kata Sherly.


"Tenang, untuk bayar sewa mobil kan ada dua hari lagi. Jadi, uang hari ini untukmu semua." Jelas Zidane membuat Sherly tersenyum.


"Terima kasih, ya." Dia pun memeluk suaminya.


"Maafkan aku, sayang. Sebenarnya aku tak tega jika harus melihatmu menderita. Tapi, demi menghilangkan semua jejak kita, aku melakukan pengorbanan ini." Batin Zidane.


"Oh iya, sayang. Uang ini boleh kamu belikan alat make-up mu. Bukankah kamu kehabisan bedak dan pelembabnya?" Sherly melirik suaminya karena ucapannya.


"Tidak, aku gak butuh itu semua. Aku butuh uang ini untuk membeli bahan-bahan kue." Jawaban Sherly membuat hati suaminya terenyuh.


Ya allah, maafkan aku! Bukannya aku menyiksa istriku. Tapi, aku ingin mengajarkan dia rasanya hidup sederhana.


"Terserah kamu saja deh. Tapi kalau ada sisanya, kamu boleh membeli apapun itu." Sherly mengangguk dengan perkataan suaminya itu.


"Ya sudah, aku akan simpan uang ini untuk belanja bahan kue besok. Kamu antar aku ke pasar ya." Pinta Sherly kepada suaminya.


"Baiklah. Aku akan mengantarmu besok. Apa kamu sudah masak? Perutku sangat lapar sekali." Rengek Zidane.


"Oh ya ampun. Maafkan aku, sayang. Aku siapkan sekarang ya?" Dia pun berlari ke arah dapur untuk menyiapkan makanan.


"Ganteng. Kenapa kamu tidak jujur saja sama si Machan? Apa kamu sengaja melakukannya?" Tanya Nania setelah Sherly pergi.


"Menurutmu?" Dia malah balik bertanya.


"Ish kau ini. Kenapa begitu saja tidak mengerti? Dia itu sengaja membuat identitas dirinya lenyap supaya tak di kejar si paman jahat, iya kan?" Tebakan Alea tepat.


"Pinter kamu!" Pujian Zidane membuat Alea bangga.


"Hem, sombong!" Cibir Nania sambil mendorong tubuh Alea.


"Hei, kau iri karena kepintaranku?" Alea balik mendorong tubuh Nania.


"Kenapa harus iri? Aku juga pintar, iya kan ganteng?" Nania tak mau kalah.


"Stop! Kalian berantem mulu entar gue tendang keluar. Ayo kita makan, mumpung masih hangat!" Sherly menghentikan pertikaian mereka.


Sedangkan Zidane tertawa melihat kedua hantu itu yang terdiam seketika mendengar omelan istrinya.


"Baiklah!" Ucap keduanya mengikuti pasangan suami istri itu.


Mereka berjalan menuju meja makan yang berada di dapur.

__ADS_1


"Wah, ini sepertinya enak!" Keduanya langsung mencomot makanan yang ada di piring.


Tuk ... tuk ...


"Aduh!" Keduanya mengelus tangan mereka yang terkena pukulan centong sayur yang di lakukan Sherly.


"Woi, gue tuan rumahnya. Sebelum laki gue ngambil, elu berdua kagak boleh ngambil duluan. Awas lu!" Ancamnya dengan mengacungkan centong sayur ke arah mereka.


Dia pun menyendok nasi yang ditaruh di atas piring Zidane, kemudian sayur beserta ikan goreng dan tempe gorengnya.


"Ini buatmu, sayang." Zidane langsung menerimanya dengan tersenyum.


"Kalian boleh mengambil juga!" Kata Sherly kepada kedua hantu wanita itu.


Mereka langsung berebutan untyk mengambil makanan di meja.


"Wah, ini benar-benar enak. Kau sekarang pintar memasak!" Puji Alea dengan mengacungkan jempolnya.


"Benar. Ini sangat enak!" Nania ikut mengacungkan jempolnya.


"Kalau begitu, ayo habiskan!" Perkataan Sherly membuat keduanya senang.


"Dengan senang hati, nyonya." Mereka menambah makanan sampai habis tak tersisa.


Namun, Sherly terlihat tak berselera. Dia hanya menatap mereka yang sedang asyik makan dengan lahap.


"Sayang, kenapa kamu tak makan?" Pertanyaan Zidane menarik perhatian kedua sahabat hantunya.


"Aku gak tahu nih? Rasanya, perutku gak enak. Hanya dengan melihat kalian makan saja, rasanya sudah kenyang." Jawaban Sherly mengejutkan mereka sampai saling berpandangan.


"Apa kamu ingin sekali makan sesuatu dan seperti di rasa-rasa?" Sherly pun mengangguk lagi.


"Yah, aku sudah menduganya."


Brak


Alea menggebrak meja sampai makanan di piring Zidane terkena wajah tampannya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Zidane langsung berdiri.


"Oh, maaf ganteng. Aku tak sengaja." Alea cengengesan.


Tangannya mengusap wajah yang terkena makanan dan ia melangkah untuk membersihkannya di washtaple.


"Apa dia marah?" Bisik Alea takut.


"Tentu saja. Kau tak lihat jika di kepalanya tumbuh tanduk." Nania ikut berbisik.


"Ya tuhan. Semoga dia melupakan kejadian ini. Aku mau pergi, daaaahh!" Ia pun menghilang dari ruang makan dan diikuti Nania.


"Hei, jangan tinggalin aku!" Nania ikut menghilang.


"Hei, astaga. Kenapa mereka pergi begitu saja?" Sherly yang ingin mencegahnya namun tak bisa.


"Baiklah, tadi apa maksud ucap ...?"

__ADS_1


Zidane yang baru kembali mencari keberadaan Alea dan akan menanyakan maksud ucapannya tadi. "Kemana mereka?"


"Pergi." Jawab Sherly singkat.


"Kenapa?"


"Tak tahu!"


"Haish." Helaan nafas Zidane terasa berat karena penasaran dengan ucapan Alea yang menggantung.


"Aku mau mandi dulu ya, sayang. Nanti jika mereka kembali, suruh menungguku di sini!" Ujarnya sebelum melangkah ke kamar mandi.


"Makananmu gak di habiskan?" Zidane melambaikan tangan pertanda tidak mau.


"Hem, ya sudah!" Sherly langsung membereskan piring-piring dimeja makan dan langsung mencucinya.


▪▪▪▪


Di tempat lain


"Bodoh ... gob***. Bagaimana kalian tak bisa menemukan keberadaan mereka? Apa sesulit itu mencari mereka?" Suaranya meninggi saat memarahi anak buahnya.


"Maafkan kami bos. Kami benar-benar tidak menemukan tuan Zidane beserta istrinya. Kami sudah mencari di seluruh benua Eropa dan Amerika, namun tak ada satu pun tempat tanda-tanda mereka di kota besar di benua tersebut." Jelas anak buahnya.


"Tidak mungkin! Nama Zidane Prasetyo sangat terkenal di kalangan pebisnis. Dia di juluki si raja bisnis. Sangat tidak mungkin jika dia tak di temukan!" Hendri tetap tak percaya kepada anak buahnya.


"Tapi kami benar-benar tidak menemukannya, bos. Semua perusahaan atas nama tuan Zidane sekarang beralih ke tangan tuan Aldriansyah Grisheld Prayoga, nyonya Andin Agasti, dan juga tuan Steven Riandi." Jelas mereka lagi.


"Apa? Jadi dia mengalihkan aset perusahaan ke tangan orang terpercayanya supaya bisa mengelabui saya. Kurang ajar kau Zidane. Lihat saja, saya akan segera menemukanmu dan istri tercintamu itu." Urat di tangannya terlihat jelas karena kepalan tangan Hendri yang erat.


Anak buahnya saling pandang melihat amarah bosnya.


"Saya ingin kalian segera menemukan keduanya hidup atau mati dan dimanapun mereka berada. Bahkan, di lubang semut sekalipun." Lanjut Hendri dengan berbalik arah dan pergi dari tempat itu.


"Baik bos." Jawab mereka sebelum Hendri benar-benar menghilang di balik pintu kayu yang tertutup.


"Bagaimana ini? Kita harus mencari mereka kemana lagi?" Mereka sangat bingung karena tak menemukan jejak Zidane dan Sherly.


"Iya. Mereka hilang bagaikan di telan bumi." Tutur salah satunya.


"Apa mungkin mereka bersembunyi di pulau terpencil di negara ini?" Mereka pun tampak berpikir.


"Haaaa, aku sudah pusing mencari mereka. Tapi, bos akan marah jika kita tidak menemukan mereka." Terlihat wajah putus asa terlihat dari wajah mereka.


"Sudah setahun lebih kita mencari mereka namun tak satu kalipun diantara kita yang berjumpa dengan salah satunya. Bahkan, kita sudah mencari di segala penjuru dunia. Apa lagi yang harus kita lakukan?"


Anak buah Hendri terdiam memikirkan apa yang harus mereka lakukan lagi untuk mencari keberadaan Zidane dan juga Sherly yang tak di temukan dimana pun.


Inilah maksud dari Zidane menyembunyikan identitas diri mereka supaya tak dapat di temukan paman jahatnya.


Entah mereka akan menemukan keponakan si bosnya itu atau mereka tak kan pernah menemukannya?


Jika mereka menemukan keberadaan kedua pasangan suami istri itu, bisa di pastikan akan terjadi sesuatu kepada mereka.


Berdo'alah supaya mereka tak dapat di temukan oleh Hendri maupun anak buahnya.

__ADS_1


__ADS_2