Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Pencarian


__ADS_3

Sherly dan Zidane akhirnya kembali jakarta atas permintaan Aldrian.


Sebelumnya mereka menghubungi Geri untuk memberitahukan keberangkatan ke jakarta lagi.


Awalnya Geri tak setuju jika mereka kembali ke jakarta. Namun, Aldrian memberitahu kondisi ibunya kepada Geri.


Geri tak bisa menahan mereka untuk tinggal di sini. Karena itu bukan haknya.


"Ger, kita balik ke jakarta lagi ya. Elu gak apa-apa kan kita tinggal disini?" Tanya Sherly di ujung telpon.


"Kenapa elu khawatirin gue yang disini sendirian? Ini kampung halaman kakek gue, gue pasti baik-baik saja lah, Sher." Jawaban Geri menenangkan hati Sherly.


"Tapi, gue bakalan kangen sama lu. Apa elu ikut kita lagi untuk balik ke jakarta biar lu gak sendirian?" Nada bicara Sherly seolah tak ingin berpisah dengan sahabatnya itu.


"Gue juga bakalan kangen sama lu. Tapi, gue harus ngurus semua perusahaan kakek gue disini. Elu tahu sendiri kan, Sher. Kalau cucunya cuma gue doang yang waras, sedangkan yang lain pada gila. Gila harta maksudnya. Hehehe!" Sherly terkekeh mendengar ucapan Geri.


"Ya sudah. Kapan-kapan elu harus balik ke jakarta buat nengokin gue. Awas kalau kagak!" Ancam Sherly.


Geri hanya tertawa mendengar ancaman sahabatnya itu.


"Oke bos. Gue usahain dateng nanti, sekalian bawa bini buat di kenalin sama lu pada." Kata Geri sambil tertawa.


"Gue tunggu kedatangan lu sama istri lu." Ucap Sherly sebelum panggilan telpon itu di putus mereka.


Geri pasrah dan tak ikut campur urusan mereka. Tapi, Geri lupa kalau Sherly sedang hamil. Ia belum memberitahukan kabar itu kepada suami ataupun keluarganya.


Pesawat menuju Jakarta sudah lepas landas dari pukul sepuluh pagi itu. Mereka tak menyisakan barang mereka sedikitpun kecuali semua perabotan rumah.


Kunci rumah di berikan kepada pemiliknya dan mereka pun memberikan semua isi rumah yang mereka beli sendiri kepada si pemilik rumah. Betapa senangnya si pemilik rumah tersebut karena kebaikan keduanya.


Tak lama mereka pergi, datanglah seseorang yang mencari mereka ke rumah kontrakan itu.


"Permisi, apa ini rumahnya Zidane?" Tanya tamu itu langsung.


Si pemilik rumah kontrakan menoleh ke arahnya. Ia menilik si tamu yang ada di hadapannya.


Wajahnya mirip dengan mas Tyo. Apa dia saudaranya?


"Maaf, anda siapa ya?" Tanya balik si pemilik rumah kepadanya.


Saya harus bersikap baik kepada orang ini supaya dia memberitahukan keberadaan Zidane dan Sherly.


"Emm, perkenalkan. Saya kapten Hendri. Saya sedang mencari keponakan saya. Katanya mereka tinggal disini." Kata Hendri dengan sopan.


"Keponakan? Siapa keponakan anda, kapten?" Tanya si pemilik rumah.


"Zidane, Namanya Zidane Prasetyo." Kata Hendri sambil memperlihatkan fhoto Zidane dan Sherly di layar ponselnya.



"Ini sih mas Tyo sama mbak Isel?" Hendri menautkan kedua alisnya mendengar orang itu menyebutkan nama Zidane dan Sherly.


"Ya, mereka yang saya maksud." Kata Hendri cepat.


"Oooh ... Jadi, mas Tyo itu keponakan anda, kapten?" Hendri mengangguk dengan tersenyum manis.


Jadi dia memakai nama kecilnya untuk mengelabui anak buah saya? Hemh, dasar bocah nakal.


"Jadi, apa betul ini tempat tinggal keponakan saya bu?" Tanya Hendri lagi.


"Betul, tuan." Hendri sangat senang dengan jawaban si ibu.


Akhirnya saya mendapatkan kalian. Kita lihat saja, apa kalian masih bisa menghindar? Hahaha.

__ADS_1


Hendri sudah terlihat senang. Namun, perkataan si ibu selanjutnya membuat dia marah besar.


"Tapi, baru saja mereka mengemas barang dan pergi dari sini." Tutur pemilik rumah.


"Apa??" Si pemilik sampai terkejut mendengar teriakan orang yang ada di hadapannya ini.


"Kemana mereka pergi?" Raut wajah Hendri berubah menjadi galak membuat si ibu ketakutan.


Kurang ajar. Saya pikir telah menemukannya, ternyata mereka sudah pergi. Apa pergerakan saya di ketahui mereka?


"Sa-saya juga tidak tahu, tuan. Soalnya, me-mereka di jemput seseorang." Jawab si ibu dengan gagap.


"Siapa?" Tanya Hendri singkat.


"Ti-tidak tahu, tuan. Saya tidak melihat jelas orangnya seperti apa." Jawab si ibu.


Hendri kembali menggeser layar ponselnya dan memperlihatkan fhoto seseorang.



"Apa ini orangnya?" Tanya Hendri dengan memperlihatkan fhoto Aldrian.


Si ibu memperhatikan dengan seksama fhoto seorang pria tampan di layar ponsel Hendri.


Sepertinya ini orangnya. Tapi, di lihat dari penampilan orang di hadapanku ini, mungkin dia orang jahat. Tapi dia bilang pamannya mas Tyo. Haish, bagaimana ini?


Si ibu nampak bingung dengan jawaban yang harus di berikan kepada orang di hadapannya.


"Cepat katakan. Apa orang ini yang menjemput mereka?" Bentak Hendri membuatnya terkejut.


"Bukan, tuan. Sa-saya tidak melihat orang itu karena dia sudah masuk kedalam mobil terlebih dahulu. Jadi, saya tidak lihat." Jawab si ibu dengan cepat.


Ya, sebaiknya seperti itu. Dia orang jahat, tidak mungkin memiliki hubungan keluarga dengan mas Tyo.


Si ibu terus menunduk dan tak memandag ke arah Hendri.


"Bu-bukan seperti itu, tuan. Saya memang benar-benar tidak melihatnya." Kata si ibu pemilik kontrakan.


Hendri menatapnya dengan tajam kemudian mengulurkan tangannya ke arah kepala si ibu dan menyentuhnya dengan mata terpejam.


Entah apa yang dia bacakan karena seketika mata si ibu melotot dan keluar asap dari kepalanya.


Tiba-tiba si ibu tergeletak di lantai teras rumah itu dan tak bernyawa.


Hendri menyeringai melihat jasad yang terbujur kaku di hadapannya.


"Itulah akibatnya jika kau berbohong kepada saya. Hahaha!"


Ia pun berlalu meninggalkan jasad si ibu pemilik kontrakan seolah tak terjadi apa-apa.


Memasuki mobil dengan santai yang kemudian ia jalankan kembali keluar dari komplek perumahan menuju jalan raya.


Hendri memukul stir dengan kesal.


"Sial, mereka mungkin sudah mengetahui pergerakan saya. Tapi, saya akan selangkah lebih maju dari mereka."


"Ini tak bisa di biarkan. Saya harus meminta bantuan kepada yang tepat. Para cecunguk itu tak bisa membantu saya, tapi dia bisa membantu."


Hendri menghentikan mobilnya di pinggir jalan raya. Matanya terpejam dan bibirnya seolah sedang membacakan mantra.


Tiba-tiba ...


Wuuuiiissshhh

__ADS_1


Sosok hitam dan tinggi besar berdiri di hadapan mobilnya. Sosok itu menunduk memberi hormat kepadanya.


"Hamba siap melakukan perintah tuanku." Ucap makhluk itu.


"Cari mereka di rumah besarnya. Jika mereka tak ada, kau ganggu lagi wanita tua itu. Kalau perlu, bunuh dia. Supaya mereka berdua hadir di rumah itu!" Perintah Hendri yang langsung di turuti makhluk hitam itu.


Swiiiissshhh


Makhluk hitam besar itu sudah hilang dari pandangan Hendri.


"Nikmati hari-hari kebersamaan kalian, bocah nakal." Hendri kembali melajukan mobilnya.


Sementara di tempat lain.


"Kakak tahu darimana tempat tinggal kami?" Aldrian menoleh sikilas ke arah adiknya.


"Apa jika kakak beritahu orangnya, kamu gak akan marah?" Tanya kak Al balik.


Sherly diam sejenak memperhatikan kakaknya sebelum dia berbicara.


"Geri. Dia yang memberitahu kakak, benar kan?"


"Ckk, apa cuma dia sahabat baik kamu, hehh?" Sherly nampak mengerutkan dahinya.


Geri kan yang tinggal bareng mereka selama ini. Pasti dia yang ngasih tahu kak Al tempat tinggal mereka. Tapi, kak Al bilang bukan dia. Lalu siapa?


"Indra. Ya, pasti dia. Kemarin aku habis telponan sama dia." Kak Al menggelengkan kepala.


Geri bukan, Indra juga bukan. Lalu, siapa yang memberitahu kakak?


"Dokter Steven Riandi." Nama yang tak terpikir oleh Sherly ataupun Zidane.


"Rian?" Kak Al mengangguk pasti.


"Tapi, kami tak pernah menghubungi dia." Keduanya nampak bingung.


"Kakak gak sengaja ketemu dia di rumah sakit waktu periksa keadaan mommy. Dia bertanya tentang mommy dan kakak menjelaskannya bahwa mommy depresi akibat merindukanmu. Lalu, dia memberitahu kakak alamat kalian ini." Jelas kak Al.


Sherly dan Zidane sangat sedih dengan keadaan mommy. Mereka tak mengira jika keadaan mommy nya akan seperti ini.


"Maafin kita, kak!"


"Untuk apa?"


"Semuanya." Ucap keduanya.


Aldrian tersenyum dan mengelus kepala adiknya dengan lembut.


"Jangan seperti ini, dek. Ini semua sudah menjadi jalan hidup kita. Kakak tahu jika kalian menghindar dari bahaya yang mengancam rumah tangga dan hidup kalian."


"Kakak!"


"Hemm?"


"Kami tidak pernah memberitahu Rian bahwa kami berada disini." Kata Sherly.


Kak Al menoleh ke arah adiknya. "Tapi, dia tahu jelas dengan keadaan kalian disana. Apa kalian yakin tidak pernah memberitahu Rian tentang keberadaan kalian disana?"


Keduanya menggelengkan kepala.


"Lalu, darimana dia bisa tahu jelas dengan keadaan kalian dan lokasi tempat tinggal kalian? Apa ada yang mengikuti kalian selama setahun ini?"


Mereka pun tampak berpikir.

__ADS_1


Tak ada satupun diantara mereka yang memberitahu keluarga atau teman mereka.


Lalu, kenapa Rian mengetahui jelas semua tentang mereka? Apa Rian selama ini menyuruh mata-mata untuk mengikuti mereka?


__ADS_2