Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Yang di temukan Geri


__ADS_3

Aldrian, Geri, dan kapten Deni. Mereka menyusuri lorong bangunan dan meneliti setiap ruangan yang terdapat di sana.


Kreyekkk


Sesuatu tak sengaja terinjak kaki Geri membuat kedua pria di depannya menoleh ke belakang.


"Maaf, hehehe." Geri cengengesan menatap keduanya.


"Hati-hati kalau berjalan, Geri!" Bisik Aldrian.


"Iya kak. Aku gak sengaja, soalnya disini gelap banget." Kata Geri.


Mereka pun melanjutkan pencarian keseluruh lorong bangunan tua ini untuk mencari dimana Sherly berada.


"Den, bangunan ini berlantai berapa sih?" Tanya kak Al penasaran.


"Hanya sepuluh lantai saja. Tapi, karena kondisinya yang sudah tua dan ditambah bangunan ini kurang kokoh karena bahannya yang sengaja di hemat oleh pemborong, bangunan ini sangat berbahaya." Jelas Deni.


"Demi uang mereka melakukan penipuan. Ini kan membahayakan banyak orang jika di resmikan." Celoteh Geri.


"Iya, begitulah manusia. Gak ada puasnya jika bersangkutan dengan uang." Ucap Aldrian dan Deni bersamaan.


"Yuk, kita lanjutin perjalanannya!" Ketiganya berjalan lagi menyusuri lorong gelap bangunan tua tersebut. Namun, baru mereka saja melangkah, tiba-tiba ...


"Awas, ada yang datang!" Kapten Deni menarik tangan Aldrian dan Geri untuk bersembunyi.


Keduanya pun pasrah mengikuti tarikan dari tangan Deni untuk bersembunyi.


Makhluk halus berwujud hantu lelaki pincang dengan darah yang menetes di sekujur tubuhnya berjalan ke arah mereka. Bau amis menyeruak menusuk hidung saat hantu lelaki itu melewati mereka dan itu sontak membuat ketiganya menutup hidung bersamaan.


Geri merasa ingin muntah karena bau busuk dari makhluk lain yang datang ke sana. Keduanya seperti sedang bercengkrama dan sesekali menoleh ke kiri dan kanan membuat ketiga manusia yang bersembunyi di balik tembok menjadi lebih waspada.


Aduh, perut gue udah gak tahan nih. Bau banget tuh setan. Dia kena kutukan bau busuk apa ya, sampai udah jadi hantu aja masih bau banget.


Geri terus menahan gejolak di perutnya yang merasakan tak enak karena bau busuk dari hantu tersebut.


Ayolah pergi dari sini, setan! Aku udah gak tahan.


Aldrian menutup mulut dan hidungnya dengan kuat karena sudah tak tahan.


Keduanya saling pandang dan menggelengkan kepala dengan wajah yang sudah pucat. Berbeda dengan Deni, dia seorang komandan polisi yang sudah biasa menangani kasus kematian atau mayat yang sudah membusuk. Dia terlihat biasa walaupun hanya menutup hidung saja.


Aldrian dan Geri bernapas lega saat kedua hantu itu pergi dari tempat mereka bersembunyi. Namun, perut mereka sudah tak bisa menahan lebih lama lagi karena merasa mual sedari tadi.


Uweeeekkk

__ADS_1


Aldrian dan Geri memuntahkan semua makanan yang di cerna mereka tadi siang. Rasanya sangat melegakan setelah mereka mengeluarkan isi perutnya.


"Aku udah gak bisa menahannya dari tadi, kak. Jika saja kedua hantu itu tak pergi, mungkin aku sudah pingsan saat ini juga." Kata Geri dengan wajah yang berkeringat.


"Kamu benar, Ger. Kakak juga udah gak kuat jika tuh setan gak pergi." Ucap Aldrian dengan lesu.


"Kalian harus kuat. Karena, kita akan menemukan banyak sekali penampakan hantu disini. Bukan cuma dua, tapi berpuluh-puluh hantu gentayangan ada disini. Jadi, saya harap kalian bisa lebih tahan kedepannya."


Deni melangkah meninggalkan keduanya yang masih dengan wajah pucatnya.


Aldrian dan Geri saling pandang mendengar perkataan Deni tentang puluhan hantu di tempat ini. "Ya tuhan, kuatkan hambamu ini."


Keduanya buru-buru berjalan mengekor di belakang Deni dengan sedikit berlari karena sudah tertinggal jauh.


"Den, kita kearah mana lagi?" Aldrian bertanya saat mereka sudah berjalan sejajar.


"Kita ikutin saja lorong ini." Tunjuk Deni ke arah kanan.


Aldrian dan Deni berjalan ke arah kanan. Namun, Geri tertinggal di belakang dan dia tidak tahu kedua pria di depannya pergi kearah mana.


"Eh, kemana kak Al sama kapten Deni?" Geri kebingungan menoleh kiri dan kanan yang ternyata tak ada siapapun. "Kak Al ... kapten Deni." Teriak Geri pelan namun tak ada jawaban dari keduanya. "Haish, matilah gue. Kemana tuh orang dua pergi ya? Mana disini sepi lagi." Nyali Geri menciut seketika.


Dia berpikir akan turun lagi dan menunggu di luar bangunan ini saja. Mungkin menunggu di dalam mobil adalah pilihan yang tepat. Tapi, dia berpikir lagi. "Jika kembali ke jalan yang tadi dan bertemu dua hantu itu, tamatlah riwayat gue."


"Ya tuhan. Kasih aku petunjukmu!" Dia terus berdo'a supaya di pertemukan dengan teman-temannya. "Kiri atau kanan?" Geri tampak ragu untuk menimang jalan yang benar. "Ah bodo amat. Hati gue mengatakan kanan, ya udah gue ikutin kata hati gue. Gue akan berjalan ke ... kiri aja!"


Entah dia ngikutin kata siapa. Karena dia bilang kata hatinya mengatakan ke kanan, tapi kakinya melangkah ke kiri. Apa mungkin dia mengikuti kata otor? Entahlah!


Langkah kaki Geri di percepat saat mendengar suara gaduh dari arah selatan. Dia mengendap saat menemukan sebuah ruangan dengan cahaya yang sedikit redup.


Praaaang


Suara benda seperti baskom aluminium yang terjatuh ke lantai karena di tendang, membuat Geri semakin waspada.


Kepalanya sedikit melongo ke atas jendela karena penasaran dengan suara gaduh tersebut. "Gak ada siapa-siapa disini," Gumam Geri saat melihat sekitar ruangan itu.


Ia pun berbalik dan akan melangkah kembali. Namun, lagi-lagi langkahnya terhenti dengan suara seseorang yang sedang memaki.


"Dasar breng**k, lepasin gue sekarang juga!"


Teriakan seseorang yang di dengar Geri di yakini adalah suara sahabatnya, yaitu Sherly.


Dengan naluri persahabatannya, Geri masuk melewati pintu besi yang ternyata di kunci. "Haish, kemana lagi ini jalan masuknya?" Dia nampak kebingungan.


Namun, saat matanya tak sengaja melihat jendela yang terbuka karena kacanya pecah, ia pun segera memutuskan untuk melewati jendela yang kacanya pecah itu.

__ADS_1


Srett


"Argh, sialan. Lengan gue kegores kaca lagi." Di peganginya lengan yang mengeluarkan darah tersebut.


Kalau luka gue gak di tutup, pasti darahnya bakal kecium makhluk halus dan mengundang mereka datang kemari. Hemh, gue harus segera menutup luka ini dan bergegas masuk.


Kreweeekk


Kaos Geri di sobek setelah dia melepaskan pakaian atasnya itu. Lukanya segera ia balut oleh sobekan baju kaosnya. Geri pun melompat ke dalam setelah berhasil menyingkirkan pecahan kaca yang menghalangi jalan masuknya.


Benar dengan pemikiran Geri. Tak lama setelah dia masuk dan bersembunyi di dalam sana, para makhluk halus berdatangan karena mencium bau darah yang menetes di lantai dari luka lengan Geri.


Ya tuhan, untung gue buru-buru menutupi luka ini. Jika tidak, habislah gue!


Dia tetap diam dalam persembunyiannya karena melihat beberapa hantu yang berdatangan dan saling berebut darah Geri yang menetes di lantai dan sedikit di pecahan kaca.


Setelah darahnya sudah habis tak tersisa, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dan mencari lagi sambil mengendus-endus penciumannya.


Mudah-mudahan luka gue gak kecium lagi sama tuh setan. Haish, sialnya gue. Kenapa gue malah terpisah bersama yang lain? Saat sudah menemukan Sherly, gue malah sendirian.


Geri tetap diam tak bergerak karena takut ada hantu yang tiba-tiba muncul lagi disana.


"Apa gue kirim pesan aja sama Zidane kalau gue menemukan Sherly disini?" Gumam Geri. "Tapi, kalau gue kirim pesan terus si Zidane menelpon, bakal ketahuan dong kalau gue disini dan si Hendri bakal lebih nekad? Enggak, gue gak boleh gegabah. Gue harus pastiin dulu jika dia gak ada yang jagain, barulah gue selamatin Sherly. Ya, itu ide bagus!"


Geri memutuskan untuk mengawasi keadaan sekitar dahulu sebelum dirinya bertindak. Dia gak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Karena, di tempat ini bukan manusia yang menjaganya, melainkan makhluk halus penghuni bangunan tua ini.


Geri berjalan sambil berjongkok mengendap ke arah ruangan yang di tutupi pintu kaca. Ia mengintip di lubang kunci pintu tersebut karena tak mungkin jika dia berdiri dan mengintip di kacanya. Itu bisa membuatnya ketahuan dan tertangkap oleh Hendri.


Walaupun kecil lubang pintu tersebut, tapi Geri bisa melihat sahabat kecilnya itu sedang berbaring di meja dengan tangan yang terikat dan kaki yang masih berusaha diikat oleh Hendri.


Sherly meronta dengan cara menendang ke arah Hendri. Namun, usaha yang di lakukan Sherly gagal karena, Hendri meminta bantuan kepada makhluk halus peliharaannya.


Geri melihat jelas apa yang di lakukan Hendri saat ini. Dia sedang menyalakan beberapa lilin yang di susun melingkar mengelilingi meja dimana Sherly terdapat diatasnya.


Hendri terlihat seperti sedang melakukan sebuah ritual pemujaan atau semacamnya. Karena, setelah menyalakan semua lilin, Hendri menyalakan dupa di depan sebuah patung dan poster bergambar seorang raja dan seekor macan.


Apa Hendri bersekutu dengan jin dan saat ini dia akan memanggilnya? Ya tuhan, gue harus gimana ini?


Geri merasa gelisah dengan apa yang dilihatnya sekarang. Saat dia akan berdiri dan masuk kedalam ruangan tersebut, sebuah tangan menekan bahunya dan membekap mulutnya.


"Hmph!"


Dukung author dengan like, komen, dan juga votenya. Jangan lupa hadiahnya juga ya gengs.


Terima kasih๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2