Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Hantu menyeramkan


__ADS_3

"Kakak ipar, si tampan ini wajahnya mirip aku ya! Ganteng pake banget." Rian mengelus wajah bayi mungil yang baru lahir beberapa hari minggu itu.


Tiba-tiba ...


Plakkk


"Woi, sakit be ... eh, tuan muda. Hehehee!"


Tangan yang tadinya terulur untuk membalas memukul orang yang menggeplaknya, kini ia pakai untuk menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dia sama sekali tak mirip dengamu! Di lebih mirip denganku. Memangnya kamu ikut menanam saham gitu." Ucap Zidane kesal.


Dia selalusaja menyiksaku.


"Tidak. Aku kan hanya bercanda." Rian terus mengelus kepalanya.


"Jangan berbicara seenak perutmu. Dia gak akan mirip dengan wajah jelekmu. Gak sudi aku jika putraku mirip sedikitpun denganmu!" Kata Zidane sambil menunjuk wajah Rian.


Yaelah si tampan ini, okelah dia gak akan mirip dengan wajahku yang kurang tampan ini. Huuh, si tuan muda ini.


Rian hanya bisa menggerutu kesal dalam hati. Dia tak mampu meluapkan kekesalannya kepada si tuan muda.


Sedangkan Sherly dan Mila hanya tersenyum melihat kedua pria di hadapan mereka itu.


"Sayang, ayo kita pindah ke kamar. Nanti putra kita ketularan jeleknya!"


Zidane menggendong putranya dan beranjak pergi meninggalkan ruang tengah. Dengan menarik tangan istrinya, dan meninggalkan Rian dan Mila yang duduk anteng di sofa.


Sepeninggalan pasangan suami istri itu, Mila dan Rian saling lirik dan suasana menjadi canggung.


Keduanya mengingat kejadian kemarin saat Mila menyatakan cinta kepada Rian.


"Steven, maukah kamu menerima cintaku!"


Rian termenung dengan pernyataan cinta Mila. Bukannya dirinya yang menyatakan cinta, malah dia yang mendapat pernyataan cinta dari seorang gadis.


"Maaf, aku ke kamar dulu!" Rian pun beranjak dari duduknya menuju kamar.


Sedangkan Mila hanya menatap punggung Rian sampai menghilang dengan seiring tertutupnya pintu kamar Rian.


"Huuh, kok malah aku yang menyatakan cinta kepadanya. Aduh, Mila. Kenapa kamu agresif sekali. Pasti dokter Steven gak suka sama gadis agresif sepertimu!"


Mila berspekulasi sendiri. Dia mengira kalau Rian tak menyukainya.


Namun di dalam kamar, Rian merutuki tingkah bodohnya itu.


"Kenapa kamu bisa sebodoh itu sih, Rian. Bukannya kamu yang harus berani menyatakan cinta, malah kamu yang di tembak. Huuh, pengecut sekali!"


Jantungnya tak berhenti berdebar saat dia harus berdekatan dengan Mila. Padahal, dulu Rian seorang playboy cap toke. Semua gadis pasti dia gombalin. Tapi kenapa dengan Mila? Rasa minder merayapi seluruh tubuhnya jika dia harus berdekatan dengan Mila.


Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya jika mereka sedang berduaan.




Jam berdenting menandakan pukul dua belas malam. Keadaan sekitar sudah sangat senyap tanpa ada suara apapun.


Pertanda mereka terlelap dalam tidur masing-masing.


Saat semua dalam keadaan sepi dan senyap, tiba-tiba sebuah suara mengganggu tidur seseorang.


Jendela di lantai atas terbuka lebar seperti di dobrak.


Brakkk


"Apa itu?" Mila terbangun dan keluar dari kamarnya.


Kakinya melangkah keluar kamar ingin mengetahui apa yang terjadi.


Namun, saat dia tepat berdiri di depan kamar si pemilik villa, ia di kejutkan sesuatu.


Sebuah tangan mencengkram kuat lehernya sehingga ia sulit bernafas.


"Tolong!" Teriakan Mila terdengar dari balik pintu kamar Sherly.


Rian yang kebetulan keluar dari kamarnya menuju lantai dua, langsung bergegas menghampiri setelah mendengar teriakan dari Mila.

__ADS_1


"Ada apa?"


Seketika Rian terpaku melihat apa yang ada di depan matanya.


Tampak sosok hantu wanita memakai pakaian putih, wajah yang menyeramkan, dengan kuku yang panjang, dan juga rambut yang berantakan. Sedang mencekik leher dokter Mila.


"To-long aku, Steven!" Mila berusaha berbicara walaupun lirih.


Melihat Mila yang keesakitan karena cekikkan makhluk itu, Rian menjadi berani dan berusaha menolong Mila saat itu juga.


Tanpa rasa takutnya, Rian menarik makhluk menyeramkan itu dan berusaha melepaskan cengkramannya dari leher Mila.


"Lepaskan dia, makhluk terkutuk!" Ucap Rian geram.


Seringai menakutkan terlihat dari wajah seram itu. Walaupun sudah terlepas, namun makhluk itu masih berdiri di hadapan keduanya.


"Dasar manusia bodoh. Kau mau melawan kekuatanku, hehh!"


Suara serak dan dingin dari makhluk itu membuat bulu kuduk meremang seketika.


Mila merapatkan tubuhnya ke tubuh Rian karena merasa ketakutan. Sedangkan Rian, dia hanya mampu menelan ludah melihat seringai menyeramkan di hadapan mereka.


"Jangan mendekat!" Tangan Rian terulur ke depan sebagai perlawanan.


Namun makhluk halus itu terus maju mendekati keduanya.


Rambut yang panjang terurai dengan berantakan itu, tersibak terkena hembusan angin menampakkan wajah pucatnya dengan beberapa luka sayatan.


Untuk sesaat Rian terdiam memperhatikan makhluk di hadapannya itu.


Sepertinya aku mengenali wajah hantu ini.


Grepp


"Akh!"


Terlambat.


Rian yang sedang mengingat wajah hantu wanita di hadapannya itu, harus memekik kesakitan karena cengkraman kuku panjang di lehernya kini.


Rian dan Mila yang tak mengerti maksud pertanyaan hantu itu, hanya menggelengkan kepala kebingungan.


"Dimana kalian sembunyikan dia?" Tanya hantu itu lagi.


"Si-siapa maksudmu, se-setan?" Rian mencoba berbicara.


"Wanita jal*ng dan bayinya itu?" Perkataan hantu itu tetap tak di mengerti Rian.


Wanita jal*ng dan bayinya? Siapa yang di maksud?


"Cepat katakan!" Bentak hantu itu.


"Siapa yang kau maksud wanita jal*ng itu? Apa kau sedang mengatai dirimu sendiri?"


Tiba-tiba sesosok hantu wanita cantik muncul dan melepaskan cengkraman tangan hantu itu di leher Rian.


"Ukhuk ... ukhuk!" Cengkraman kuku panjang itu seketika lepas dari leher Rian.


Sehingga, dengan mudah Rian berlari setelah terlepas dari cengkraman hantu itu dan tak lupa menarik tangan Mila.


Hantu menyeramkan itu pun menoleh ke arah sampingnya."Siapa kau? Kenapa kau mengganggu urusanku?"


Hantu cantik itu tersenyum miring. "Kau tanya siapa aku? Hahaha ... seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Siapa kamu dan ada perlu apa datang kemari mengganggu penghuni villa ini?"


Suara hantu cantik itu tak kalah dinginnya dari es di kutub utara.


Sedangkan hantu wanita seram hanya menganggap remeh hantu wanita yang dianggapnya musuh mulai saat ini.


"Walaupun kita sama-sama hantu, kau tak kan bisa mengalahkanku." Cibirnya.


Hantu cantik itu pun tak mau kalah. Dia langsung menampakkan wujud aslinya yang menyeramkan.


"Kau bilang aku tak akan bisa mengalahkanmu? Hahaha ... lucu sekali." Dia menertawakan hantu di depannya yang sombong itu. "Aku sudah mati puluhan tahun yang lalu. Dan kau ... kau baru mati dua hari yang lalu. Apa kau yakin akan bisa mengalahkanku, hehh?"


"Tidak. Kita sama walaupun mati tahun yang berbeda, dan waktu yang jauh berbeda. Tapi, aku yakin kau tak kan bisa menindasku!" Jawab si hantu seram.


Karena hantu seram itu tak takut padanya, hantu cantik itupun mengeluarkan kekuatan yang di milikinya yang kemudian mengarahkan kepada hantu seram itu.

__ADS_1


Seketika nyali hantu itu menciut. Dia memang baru meninggal dua hari yang lalu. Itu pun karena di bunuh oleh sahabatnya sendiri.


Penampilan menyeramkan dari hantu wanita cantik tadi, kini membuat hantu itu mundur dan merasa takut. Padahal sama-sama hantu.


"Kakak, maafkan aku! Aku hanya ingin mencari seseorang. Dia yang membuat aku seperti ini!" Tuturnya kemudian.


"Siapa?" Tanya hantu itu yang berubah kembali menjadi cantik.


"Sherly."


Hantu cantik itu terkejut mendengar nama yang di sebutkan. "Apa? Mengapa dia bisa menjadi alasan kematianmu?"


Seketika hantu cantik berubah sinis. Dia geram namun penasaran dengan jawaban si hantu seram itu.


"Karena dia merebut cintaku. Dia yang membuat aku sulit mendapatkan lelaki pujaanku!" Tutur hantu seram itu.


Hantu cantik itu pun terdiam. Dia sejenak berpikir, kira-kira siapa lelaki yang di maksud? Apakah dia ...!


"Apa yang kau maksud itu ...!"


"Nania! Sedang apa kamu bersamanya?"


Kedua hantu itu pun menoleh ke arah sumber suara.


"Zidane!" Ucap keduanya bersamaan.


Keduanya saling berpandangan. "Kau mengenalnya?" Tanya mereka bersamaan.


Zidane mendekat dan menarik tangan Nania.


"Kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu muncul bersama dengannya? Apa kamu sengaja membawa dia kesini untuk menyakiti istri dan putraku, hehh?"


Nania tampak bingung dengan pertanyaan Zidane yang memberondongnya itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tak membawanya kemari, ganteng. Saat aku datang, dia sedang mencekik si dokter gila sahabatmu itu. Aku yang melelaskannya." Jelas Nania.


Hantu seram itu tampak terkejut. Ternyata, Zidane mengenali hantu cantik yang menghalangi niatnya tadi.


"Kalian saling kenal?" Tanyanya penasaran.


Zidane meliriknya sekilas namun tak berniat menjawab pertanyaannya.


"Usir dia dari sini! Dia bisa menyakiti istri dan anakku!" Perintah Zidane di tunjukkan pada Nania.


Dengan cepat, Nania menarik tangan hantu seram itu.


"Lepaskan aku, kak. Aku harus berbicara dengannya. Aku ingin menyampaikan keinginanku yang terakhir!"


Hantu seram itu meronta ingin melepaskan diri dari genggaman tangan Nania.


Namun, si hantu cantik tak begitu saja menuruti permintaan dan perkataan si hantu seram. Dia terus menariknya sampai keluar Villa.


"Jangan membuatku marah! Jika tidak, kau akan tahu akibatnya." Ancam Nania kepadanya. "Satu lagi. Kau harus pergi dari sini, dan jangan mencoba masuk ke dalam Villa ini. Jika kau masih mencobanya, kau akan di makan sama dia!" Tujuk Nania ke arah pintu gerbang.


Mata si hantu seram pun mengikuti arah tunjukan tangan Nania. Dia sampai bergidik takut melihat sosok besar dan hitam yang sedang berdiri di sana.


Jin yang dulu di pelihara Hendri dan sudah di bebaskan oleh Nania. Kini jin itu menurut dan mengikuti perintah Zidane atas permintaan Nania. Walaupun Zidane sendiri tak mau memelihara jin, namun jin itu tetap meminta untuk bisa melindungi Zidane dan keluarganya karena Nania.


"Apa dia temanmu?" Tanya jin itu saat mendekati kedua hantu itu.


Nania melirik sekilas ke arah si hantu seram. Dia melihat ketakutan di diri si hantu itu.


"Dia akan menjadi teman jika tak mengganggu penghuni villa ini. Tapi jika dia berbuat onar, kau bisa memakannya!"


Penjelasan Nania membuat jin itu senang, namun tidak dengan si hantu seram.


"Jangan, kak! Aku tak kan berbuat onar lagi kepada mereka. Aku janji!" Ucapnya ketakutan.


Setidaknya untuk sekarang. Aku tak kak berbuat hal yang mengancam keberadaanku di sini sebelum membalas dendam kepada wanita jal*ng itu. Akan ku pastikan dia kehilangan segalanya.


Orang jahat tetaplah jahat meski sudah menjadi hantu. Dia tetap bertekad untuk menyingkirkan Sherly walaupun kini mereka berbeda alam.


Kira-kira, siapa orang jahat yang berubah menjadi hantu seram itu?


Hemh, penasaran juga nih🤔🤔


Lanjut besok ya gengs.

__ADS_1


__ADS_2