Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe Tak bisa di dekati


__ADS_3

Seorang gadis cantik yang anggun dan selalu mengenakan pakaian seksi. Ia berjalan berlenggak -lenggok dengan angkuh karena keluarganya terbilang kaya.


Dengan di dampingi kedua temannya, gadis cantik itu memasuki universitas ternama tempatnya menimba ilmu.


Semua mata lelaki tertuju kepadanya karena kecantikan dan keseksiannya. Dia sangat sombong dan juga judes kalau berhadapan dengan pemuda yang biasa saja.


Saat ketiganya berjalan melewati lorong dengan aksi centilnya, tiba-tiba dari arah berlawanan mereka melihat dua pemuda tampan yang berjalan menuju ke arahnya. Ketampanan keduanya membuat setiap gadis terpesona.


Tentu kesempatan itu tak di sia-siakan olehnya untuk mencari perhatian si tampan. Ia sengaja membuat dirinya bertabrakan dengan si tampan.


Brukkk


"Aduh!" Gadis itu terjatuh tepat di depan si tampan berharap di pegangi olehnya.


Namun apa yang terjadi, keduanya malah menghindar dengan mundur. Sehingga, bukannya di tangkap oleh si tampan dan jatuh di pelukkannya. Melainkan jatuh di bawah kaki kedua pemuda tampan tersebut.


"Hei, hati-hati!" Ucap salah satunya.


"Aduh, pinggangku sakit!" Rengeknya sambil memegangi pinggang.


Tapi, pemuda tampan itu bersikap cuek dan memilih melemparkan tatapan tajam.


"Lihatlah sekitarmu jika berjalan. Jangan sampai merugikan dirimu atau orang lain!" Ia pun pergi meninggalkan gadis yang sedang tersungkur di lantai tadi.


Kesal sekali hati si gadis karena ternyata dia di cuekin, bukan di perhatiin.


"Iihh, kenapa dia dingin banget sih?" Rengeknya sambil berdiri di bantu kedua temannya.


"Dia memang gitu, Di. Sombong dan dingin." Sahut temannya.


"Tapi gue suka." Kekehnya dengan senyum manis. "Andaikan bisa dekat dengannya!" Matanya berbinar membayangkan si tampan yang dingin itu.


"Susah itu mah. Dia orangnya sulit untuk di dekati." Kata temannya.


"Meri, Jeni, kalian itu sahabat gue bukan sih? Kenapa gak memberikan semangat sama sekali sama sahabat. Teman macam apa kalian?" Gerutunya kesal.


Kedua temannya saling berpandangan dan kemudian cengengesan. "Ah, hehehe. Bukan gitu, Diana. Tapi ...!"


"Tapi apa? Apa dia udah punya pacar?" Tanya nya kesal.


"Mungkin iya." Diana langsung menoleh. "Tapi gue juga belum yakin sih!" Mata Diana mendelik sebal.


"Siapa cewek itu?"


"Ikutin mereka aja biar kita tahu siapa cewek yang deket dengannya!" Usul keduanya yang langsung di setujui.


"Oke!" Ketiganya pun diam-diam mengikuti kedua pemuda tampan tadi.


Langkah ketiganya hampir dekat dengan si tampan, tiba-tiba dari arah lain terlihat dua orang gadis sebaya dengannya berlari menerjang ke arah kedua pemuda tersebut sambil berteriak.


"Zyan ... Andra ... kita lulus audisi." Melompat ke arah pelukkan kedua pemuda tampan tersebut.


Semua orang menyaksikan aksi keduanya dengan rasa cemas. Pasalnya, Zyan itu terkenal dingin dan arogan.


"Berani bener dia meluk si raja es di depan umum."


"Pasti tuh cewek bakal di semprot olehnya!"

__ADS_1


"Yaelah, dia gak pada takut apa ya!"


Celotehan burung camar berkicau ria menyaksikan aksi kedua gadis yang berani melakukan hal itu kepada si raja es.


Namun, mereka tak menyangka jika apa yang terjadi selanjutnya adalah ...


Zyan tersenyum manis dengan memutar tubuh gadis itu. "Selamat untukmu, Maharena!"


Hal yang sama di lakukan Andra kepada gadis yang menerjang kepelukannya. "Gue seneng kalo lu seneng, Ashanti."


Pemandangan yang langka di lihat mereka adalah senyum manis yang terukir di bibir dari kedua pemuda tampan yang jadi idola kampus.


Rasanya mereka ingin mengabadikan pemandangan langka tersebut. Namun apalah daya, mereka tak sampai hati untuk melakukannya karena takut.


"Hebat si Rena sama si Ash, dia bisa membuat keduanya tersenyum!"


"Wajarlah. Mereka kan sahabatan dari kecil."


"Apa benar?" Mereka melirik orang yang bertanya.


"Kau tak tahu, Diana?" Ia menggelengkan kepalanya. "Bahkan yang aku denger, orang tua merekapun bersahabat!" Diana hanya membulatkan mulutnya. "Oohhh!"


"Jadi, si Rena bukan pacarnya Zyan dong!" Merekapun menggelengkan kepala bukan mengiyakan tapi mereka tak tahu. "Entahlah."


"Zyan, gue akan berusaha meluluhkan hati lu dengan kecantikan gue ini. Gue yakin kalau suatu saat nanti, lu akan jatuh kedalam pelukan gue." Batin Diana tersenyum. "Gue, Diana Prakoso. Sudah memilih Zyan Prasetyo untuk jadi pendamping gue di masa depan. Gue akan bikin lu tak menolak semua keinginan gue. Dengan ilmu yang di berikan kedua orang tua gue, gue yakin jika gue bisa!"


Mulai sejak itu, Diana bertekad untuk mendekati Zyan. Tapi, nasib baik tak di dapat juga oleh gadis itu. Zyan seperti tak terpengaruh oleh apa yang di lakukan dirinya.


Sampai mereka lulus pun, Diana tetap tak bisa mendekati Zyan walau dengan cara apapun.


∆∆∆∆∆


"Sejak lama dan daddy mengenal ayah pemuda itu sejak kecil." Tutur ibunya.


Diana tampak penasaran. "Sejak kecil daddy sudah kenal ayahnya Zyan? Kok bisa? Bukankah keluarga Zyan baru pindah ke indo saat Zyan masuk SMP?"


Ayahnya pun tersenyum meledek. "Itu karena mereka takut denganku dan memilih menyembunyikan putranya. Hahaha ... Zidane, ternyata dia orang yang penakut."


"Menyembunyikan putranya? Maksudnya gimana sih?" Rasa penasaran terus menyerang.


Ayahnya pun mulai bercerita tentang masa lalu mereka dan Diana diam menyimak setiap kata-kata yang keluar dari mulut sang ayah.


Sesuatu yang membuat dirinya terhenyak dan tak percaya adalah penuturan ayahnya di akhir cerita.


"Jadi, daddy itu paman kandung dari ayahnya Zyan?" Ayahnya mengangguk dengan pertanyaan sang putri. "Lalu, dia membunuh daddy karena daddy menculik istrinya dan mau membunuh putranya yang masih berbentuk janin, dan itu adalah Zyan?" Lanjut Diana bertanya.


"Ya, itu benar. Sayangnya putranya itu hidup namun daddy harus mati dan menjadi siluman penasaran penghuni lukisan yang tak bisa keluar untuk membalaskan dendam karena roh daddy di kunci oleh ayah pemuda itu." Jelas ayahnya.


"Tapi, bukankah daddy bisa keluar sekarang?"


"Daddy bisa keluar jika ibumu melakukan ritual pemanggilan, namun tak bisa keluar jarak jauh karena harus tetap berada di dekat lukisan ini."


"Jadi sekarang, apa yang ingin daddy lakukan kepada mereka?" Tanya Diana.


"Kami ingin membalaskan dendam kepada mereka, terutama ibunya." Ucap ibunya cepat.


Diana melirik ibunya dengan ekspresi tak biasa. "Sepertinya mommy lebih semangat! Kenapa mommy ingin membalas dendam kepada ibunya?"

__ADS_1


"Ibunya telah membuat mommy kehilangan segalanya!" Berkata sambil melirik ayah dari putrinya tersebut.


"Terutama cintaku, Zidane Prasetyo."


"Berhenti menatap ke arahku dengan tatapan itu, Prita! Kamu tahu apa yang terjadi. Jangan menyalahkan Sherly karena kesalahanmu atau kesalahanku dulu!" Ujarnya dengan wajah garang.


"Sherly memang bersalah dalam semuanya. Dia telah menghancurkan hidupku. Dia merenggut segalanya dariku, bahkan cintamu juga!" Tutur Prita.


"Sherly memang lebih unggul segalanya darimu, Prita."


"Stop, Hendri! Kau tak tahu jika selama ini aku tersiksa dengan semua ini karena ulah wanita sialan itu!" Suara Prita meninggi membuat putrinya terhenyak. "Kau tahu, Hendri. Ingin sekali aku membunuh wanita itu dengan jari-jari tanganku sendiri. Karena ulahnya, bahkan kau pun hanya menjadi arwah penasaran penunggu lukisan. Zidane lebih memilihnya di banding diriku, dan kau pun sama saja!" Lanjut Prita.


Hendri hanya menatap wajah marah Prita dengan datar. Dia sudah berubah menjadi sesosok makhluk yang tak kasat mata bagi orang lain, namun terlihat bagi Prita dan putrinya.


Diana adalah putri dari Hendri dan Prita. Sebenarnya saat Hendri meninggal, Prita sedang mengandung. Mereka berniat menikah saat itu, namun apalah daya karena kesalahan Hendri yang membuat Zidane marah sampai membunuhnya.


Diana di buka mata batinnya oleh Prita supaya dia bisa melihat sosok ayahnya. Tapi, dia menyembunyikan putrinya itu dari dunia supaya dia bisa melancarkan segala sesuatu untuk membuat mereka bertahan di dunia kelam.


Tampak Diana memikirkan sesuatu untuk membantu orangtuanya.


Di satu sisi, dia menjadi marah kepada orang tua pemuda tampan yang ia sukai. Di sisi lain, dia ingin membuat Zyan menjadi miliknya seutuhnya.


"Aku harus mencari cara supaya orang tuaku bisa balas dendam tanpa menyentuh Zyan."


"Mmmm, mom, dad, aku akan bantuin supaya kalian bisa membalas dendam kepada orang tuanya Zyan." Tentu kata-kata itu yang di tunggu keduanya. "Tapi, kalian harus berjanji tak menyentuh Zyan atas dasar apapun karena aku ingin dia jadi suamiku!" Keduanya saling melirik.


"Justru dia yang harus di singkirkan karena dia yang membahayakan keberadaanku di dunia manusia ini!" Hendri menatap putri manusianya.


"Haish Diana, kenapa dia bernasib sepertiku yang menyukai pemuda yang tak mungkin di dekati sih!" Prita pun hanya bisa menatap datar. "Putra musuhku seharusnya harus di bunuh, bukan di lindungi. Tapi, dia keturunan pria yang aku cintai. Pasti dia mirip Zidane segalanya di banding wanita jalan* itu."


"Bagaimana, mom, dad?" Tanya Diana membuyarkan lamunan orang tuanya.


"Heemh, apa?"


"Hish, mommy gimana sih." Rajuk Diana.


Dengan mengangguk, keduanya mengiyakan permintaan putrinya tersebut. "Baiklah!"


"Yeaaahhh, makasih mom, dad. Aku janji akan segera mencari cara supaya orang tua Zyan menyesal karena telah menyusahkan kalian berdua dan memisahkan aku dengan daddy!" Ucap Diana.


"Ya, itu memang harus kamu lakukan sayang!"


Ketiganya berkelana memikirkan siasat jahat yang masing-masing di susun dalam otak untuk menyiapkan pembalasan.


"Setelah putriku mendapatkan pemuda itu, aku akan membunuhnya dan Zidane sekaligus. Supaya Sherly bisa aku bawa ke alam ghaib dan menikah denganku di sana. Jadi, aku bisa menguasai alam bawah dengan bantuan wanita yang aku cintai itu. Hahaha!"


"Semoga putriku segera mendapatkan pemuda itu dan membuatnya bertekuk lutut, supaya Zidane tak bisa menolak lagi keinginan putranya. Pada saat itu, aku akan menyingkirkan Sherly dan membuat Zidane jadi milikku selamanya. Dan jika itu terjadi, akan ku buat Zidane memusnahkan Hendri dari dunia selamanya supaya dia tak bisa hidup lagi walau di alam ghaib."


"Kalau aku bisa mendapatkan Zyan untuk menjadi suamiku, akan ku buat dia menyingkirkan orang tuanya itu supaya orang tuaku puas dengan pembalasan dendam mereka. Pasti itu menyenangkan bukan? Di bunuh oleh putra sendiri demi wanita yang di cintai sebagai tanda cinta. Hahaha, Zyan, tunggu aku!"


Ketiganya tersenyum dengan pikiran masing-masing.


Tapi, mereka tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan nanti.


Apa mungkin Zyan akan mudah di taklukan oleh gadis seperti Diana dengan ilmu hitam yang di bekali Hendri? Ataukah, Zyan akan membuat Diana menyesal karena telah berurusan dengannya?


***Kita tunggu besok lagi ya. Hari ini, bersambung dulu ya gengss.

__ADS_1


See you again tomorrow ...


Salam manis dari othor termanis sejagat NT. 😘😘***


__ADS_2