Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe Terungkap


__ADS_3

Kelima anak manusia itu terus berkelahi sampai titik darah penghabisan. Semuanya tak ada yang mau mengalah kecuali di kalahkan.


Para preman yang berbadan kekar ternyata tenaganya tak sekuat tubuhnya yang besar.


Walaupun Zyan dan Andra terbilang masih muda dan cukup kecil tubuhnya dari ketiga preman, namun kekuatan kedua pemuda tampan itu ternyata cukup besar.


Dalam selang waktu yang cukup singkat, ketiga preman sudah terkapar tak berdaya. Mereka saling tumpang tindih di atas tanah.


"Ampun tuan muda, kami tak akan mengganggu mereka lagi asalkan tuan muda memaafkan kami kali ini!" Mereka memohon.


Tanpa berkata, Zyan menggerakkan tangan menyuruh mereka pergi dari hadapannya.


"Terima kasih tuan muda. Kami janji, jika kita bertemu lagi, satu pintaku jangan menyerang kami lagi. Kami sudah kapok!"


Zyan hanya mengangguk mengiyakan permintaan mereka.


Namun tidak dengan kawan-kawan lain, mereka kesal karena sikap sombong para preman tadi. Juga kesal kepada Zyan yang membiarkan para preman pergi begitu saja.


"Hei permen ... eh, preman! Enak bener ya lu udah berbuat sesuka hati, sekarang mau pergi gitu aja."


Para preman yang hendak pergi dari tempat itu harus terpaksa berhenti karena perkataan Rena.


"Ka-kamu ingin kami melakukan apa supaya diizinkan pergi?"


Bagus, dia bertanya. Hahaha


"Antarkan kami ke alamat ini!"


Para preman pun melihat kertas bertuliskan alamat seseorang yang di perlihatkan Rena.


"Alamat ini?"


Mereka saling pandang sebelum menjawab.


"Untuk apa neng cantik mau ke alamat ini?" Tanya salah satunya.


"Ada urusan. Udah jangan banyak tanya, anterin aja lah!" Ketus Rena.


"Tapi ... tapi, rumahnya sudah tak ada lagi. Sekarang hanya sebuah lahan pemakaman umum di tempat itu!" Jelas para preman.


"Apa? Lahan pemakaman umum? Kok bisa?"


Betapa terkejutnya hantu Laila mendengar rumahnya sudah hancur dan berganti menjadi lahan pemakaman umum. Pupus sudah harapan untuk mencari petunjuk pembunuhan dirinya.


Bukannya memperhatikan ucapan para preman, junior and the genk malah asyik berdiskusi sendiri.


"Gimana sekarang? Apa kita nyari petunjuk di tempat lain saja!"


Keempatnya pun sedang grasak grusuk mendiskusikan cara untuk mengungkap kasus kematian hantu Laila, supaya mereka bisa cepat kembali pulang ke rumah.


"Woi adik-adik, kenapa kalian ngobrol sendiri? Apa kami sudah boleh pulang?" Tanya para preman.


Tanpa memalingkan wajah, keempatnya berkata bersamaan. "Gak boleh!"


Otomatis, para preman duduk kembali di tempatnya tadi saat kalah bertarung dari Zyan dan Andra.


"Baiklah!" Ucap mereka pasrah.

__ADS_1


Sedangkan ketiga adik kakak tadi hanya melongo diam tak mengerti.


"Gimana kalau kita suruh mereka nyariin orang bernama Burhan saja! Siapa tahu mereka kenal yang bernama Burhan itu." Usul Asyanti.


Mereka akhirnya setuju usul Asyanti. Dengan mulai bertanya kepada para preman, mereka menanyakan orang yang bernama Burhan.


"Emm, paman permen ... eh preman. Apa kalian kenal yang bernama pak Burhan? Katanya dia tinggal di daerah sini!"


Mendengar nama yang tak asing di telinganya, para preman gelagapan untuk menjawab pertanyaan gadis di hadapannya.


"Pak Burhan?" Terlihat raut cemas dan ketakutan di wajah mereka bertiga.


Tak beda halnya dengan ketiga adik kakak yang di kejar para preman tadi. Mereka enggan dan takut untuk menjawab pertanyaan and the genk junior.


"Kenapa? Sepertinya kalian ketakutan gitu mendengar namanya?"


Para preman menunduk tak berani berkata apapun untuk menjawab pertanyaan.


"Kalian kenal atau tidak?" Kini Zyan membuka suaranya yang dingin itu.


Walau dengan ketakutan yang terpancar di wajah mereka, lebih takut lagi jika pemuda di hadapannya itu mengamuk. Mending jawab saja, pikir preman itu.


"Pak Burhan adalah suami bos kami!" Jawab si preman.


Junior terkejut dengan jawaban preman. "Suami? Bukankah dia suami dari tante Laila?" Lirikan mata Zyan tertuju pada si tante hantu yang mengangguk.


"Apa mungkin beda orang?" Mereka pun menggelengkan kepala.


"Coba kalau ada fhotonya ya!"


"Tapi, aku yakin dia orang yang sama." Kata Zyan.


Mendengar nama Sari, hantu tante Laila seketika termenung mengingat nama itu. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi, dimana ya?"


Sedangkan kakak beradik terlihat ketakutan setelah mendengar nama Sari di sebutkan. "Kak, dia yang mengurung kita di gudang tua!" Bisik kedua adiknya.


Melihat ekspresi dari ketiga kakak adik dan juga tante hantu, Zyan merasa ini saling terikat dan ada hubungannya.


"Apa kalian kenal bu Sari?" Tanya Zyan kepada ketiga adik kakak.


Dengan wajah ketakutan, ketiganya mengangguk. "I-iya kak, dia orang yang mengurung kami di gudang tua."


Tante hantu terkejut mendengar ucapan ketiga kakak adik tersebut. "Bukankah kalian di masukan ke panti asuhan sama ayah brengs*k itu!" Emosi Laila meluap.


Zyan tersentak mendengar suara tante hantu. "Tante kenal mereka?"


Sontak semua orang menoleh kepadanya. "Dia ngomong sama siapa sih?"


"Mereka bertiga anak-anak tante, ganteng! Yang sulung bernama Farid, kedua bernama Fitri, dan yang bungsu bernama Fina. Mereka harus tante tinggalkan begitu saja karena tante di bunuh oleh orang suruhan." Jelas Laila sebelum dia menyadari sesuatu.


"Oh iya, ganteng. Sari ... iya tante ingat, dia yang menyuruh orang untuk menabrak tante di ujung jalan sana dan menguburkan jasad tante di samping pohon beringin tersebut." Kata Laila.


Zyan mengangguk paham. "Baiklah tante, berarti sekarang tante udah tahu siapa pembunuh sesungguhnya. Tinggal menemui pak Burhan dan mengatakan semuanya pada anak-anak tante."


"Mereka belum tahu kalau tante udah gak ada, ganteng. Yang mereka tahu kalau tante meninggalkan mereka dengan sengaja, itulah yang dikatakan ayah mereka saat itu." Tutur Laila sedih.


Zyan sangat mengerti jika tante hantu sedang sedih saat ini. Dia pun tak banyak bicara atau bertanya lagi.

__ADS_1


Mereka semua terdiam tak mengerti dengan tingkah Zyan yang berbicara sendiri.


Andra langsung berkata setelah melihat kebingungan di wajah mereka semua. "Dia bisa melihat hantu. Makanya, sekarang dia sedang berbicara sama hantu. Hebat bukan!"


Mereka langsung menoleh ke arah Andra setelah mendengar perkataannya tentang Zyan yang bisa melihat hantu.


"Buset, serem amat nih orang bisa ngobrol sama hantu. Hiiiii, serem!"


Setelah berbicara sama tante hantu, Zyan mencoba bertanya pada pada para preman. Urusan dengan anak-anak tante hantu, biarlah nanti saja. Pikir Zyan.


"Paman preman, antarkan kami bertemu pak Burhan!" Pinta Zyan tak mau di tolak.


Para preman malah saling lirik dan kebingungan sambil berbisik-bisik. "Gimana ini?"


"Ada apa? Apa kalian tak mau mengantar kami bertemu pak Burhan?" Kata Andra.


Gelengan kepala dari para preman. "Bukan begitu, tuan muda. Sebenarnya ... pak Burhan sudah ... sudah ... emm, sudah meninggal!"


"Apa?" Semua orang terkejut termasuk ketiga anak bu Laila tentu dengan si tante juga.


"Meninggal? Kapan?"


"Sudah satu minggu pak Burhan meninggal. Dia ... dia ...!" Tampak keraguan dari perkataan para preman.


"Dia kenapa?" Bentak Zyan kesal.


Karena terkejut, salah satu preman menjawab dengan lantang dan cepat. "Dia di bunuh sama kami atas suruhan bu Sari."


Preman yang lain menepuk kening karena perkataan jujur temannya. "Aduh. Kenapa dia mengaku?"


"Di bunuh bu Sari? Bukankah dia suaminya?"


"Betul adik-adik, dia memang suaminya. Namun, bu Sari hanya menginginkan harta kekayaan pak Burhan. Malahan, bu Sari juga menyuruh orang untuk membunuh istri pertamanya, yaitu ibu mereka!" Aku preman tersebut sambil menunjuk ketiga kakak beradik.


Ketiga anak bu Laila terduduk lemas mendengar ibunya ternyata sudah tak ada karena di bunuh, bukan pergi meninggalkan mereka.


"Jadi, selama ini papa berbohong kalo mama sudah meninggal bukan pergi ninggalin kita!"


"Teganya papa membohongi kita!"


"Papa juga sudah menikahi orang jahat dan dia sekarang di bunuh sama istrinya!"


"Ya tuhan, malang benar nasib kita kak. Kita sudah tak punya orang tua lagi. Huhuhuuu!"


Ketiganya saling berpelukan sambil menangis.


Hati para junior terenyuh mendengar perkataan ketiganya. "Kesian amat mereka. Ibunya mati di bunuh, sekarang ayahnya juga di bunuh oleh orang yang sama. Yang lebih memprihatinkan lagi, rumahnya sudah rata jadi tanah pemakaman dan mereka harus terlantar seperti itu."


Tante hantu menangis berusaha memeluk ketiga anaknya walaupun menembus terus.


"Ya tuhan, bagaimana nasib kalian kedepannya tanpa orang tua? Hiks ... hiks."


Zyan yang dingin dan tegas, ternyata bisa sedih juga mendengar perkataan tante hantu. Matanya berkaca-kaca setelah melihat ibu dan anak yang harus terpisah seperti itu.


"Ya Allah, jangan sampai aku mengalami seperti mereka. Semoga papi dan mami-ku selalu sehat tanpa ada yang menyakiti keduanya dan selalu bisa berkumpul denganku selamanya sampai engkau yang memisahkan kami. Amiin!"


**Bersambung gaess ...

__ADS_1


Lanjut yuk**!


__ADS_2