Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe Kemarahan Zidane


__ADS_3

"Apa? Jadi kamu membiarkan anak-anak untuk menyelesaikan kasus kematian Laila?"


Suara Zidane meninggi mengetahui para junior pergi atas perintah si mami sengklek.


"Ya gak apalah, papi. Kan mereka udah gede ini. Mereka juga mau kok pergi bersama si hantu Laila." Ucap Sherly tanpa mau di salahkan.


"Iya Zidane, ini juga demi ... !" Sebelum Dika menyelesaikan ucapannya, Zidane sudah menyemburkan lahar panas ke arahnya


"Kalian juga. Kenapa kalian mendukung istriku untuk menyuruh anak-anak pergi? Mereka belum berpengalaman untuk hal semacam ini. Dasar kalian! Orang tua macam apa sih sebenarnya yang anak-anak punya?"


Ternyata bukan cuma Dika yang kena sembur, tapi and the genk semua yang sedang duduk diam anteng di sofa harus terkena semburan api si naga laut dari timur.


Entah sejak kapan and the genk menclok di sofa rumah Sherly, karena otor yang dari tadi diem anteng nongkrongin di mari kagak liat mereka masuk rumah deh!


Tak ada keberanian lagi dari mereka untuk mengatakan sepatah kata pun kepada si naga laut timur. Karena, mereka sadar akan kekuatan orang yang di hadapannya ini. Kalau bukan pemiliknya yang menenangkan, dia akan tetap ngamuk mengobrak-abrik nyali mereka.


Sun go kong belum turun tangan. Makanya, si naga laut timur masih ngamuk. Itulah julukan untuk Zidane dan Sherly sekarang dari and the genk.


Ada-ada aja


"Aku gak mau tahu. Suruh mereka pulang sekarang juga!" Bentak Zidane.


Dika, Indra, Geri, dan Iren hanya bisa diam tak bersuara. Sedangkan Sherly hanya menanggapi bentakkan suaminya dengan senyuman.


Mentang-mentang suaminya, ckk.


"Sayang, udah dong jangan marah mulu! Entar gantengnya di gondol kucing gimana? Aku bingung nyarinya nanti." Perkataan yang bikin kesel otor, eh Zidane. "Mereka akan baik-baik aja. Kamu percaya kan sama aku?" Di elusnya wajah tampan Zidane dengan lembut berharap amarahnya mereda.


Zidane menatap istri cantik dan manjanya itu. Walaupun mereka sudah agak sedikit tua, tapi tetap ya suami kalah kalau lagi di rayu seperti ini.


"Jangan merayu-ku, mam! Gak akan mempan." Kata Zidane namun tetap memegangi tangan yang mengelus wajahnya.


"Cih, aku tahu kok ini gak akan mempan!" Cibir Sherly yang kemudian duduk di pangkuan suaminya. "Cup." Di kecupnya bibir seksi Zidane olehnya. "Ini sebagai jaminannya." Berkata setelah memberikan sentuhan lembut di bibir sang suami.


And the genk hanya menunduk tak berani melihat usaha Sherly untuk meluluhkan hati suaminya supaya tak marah lagi.


Sedangkan Zidane menyunggingkan bibirnya sedikit, namun dia berusaha tak memperlihatkan pada istrinya. Supaya terlihat masih marah.


"Jaminanmu di tolak karena gak cukup. Di lanjut nanti malam jika anak-anak udah kembali dengan selamat! Aku ingin kamu lebih berinisiatif untuk memberikan jaminannya." Bisik Zidane tepat di telinga istrinya.


Itu memancing Sherly untuk berteriak dengan keras. "Apa? Kamu sok-sokan nolak tapi minta lebih. Dasar rentenir!"


And the genk terkejut dengan teriakan Sherly yang terkesan membentak suaminya. Entahlah suami istri itu sedang membicarakan apa. Karena indra pendengaran mereka hanya menangkap kata rentenir yang minta lebih.


"Apa mereka sedang membicarakan utang piutang? Bukankah kita sedang membahas anak-anak yang pergi bertugas? Ah, bodo amatlah dengan urusan si bos. Toh kalo kita ngomong juga percuma." Bisik para And the genk.


Sherly bertolak pinggang sambil melototkan mata. "Kenapa aku harus ngasih jaminan yang lebih? Anak-anak juga akan balik sebentar lagi."


Zidane hanya memalingkan wajah cueknya ke arah lain. Dia tak mau tergoda oleh bujuk rayuan atau rengekan si mami manja istrinya itu.


Wajah Sherly terlihat kesal dan marah karena perkataan suaminya. Di tendangnya ujung sofa tempat duduk suaminya sampai Zidane berdiri.


"Apa kamu marah kepadaku? Bukankah harusnya aku yang marah padamu?"


Walaupun dalam nada bicara Zidane tak memperlihatkan amarah atau berbicara dengan nada tinggi, tapi Sherly tahu jika suaminya itu sedang marah.


"Mm ... maaf, a-aku tadi kesal karena kamu ...!"

__ADS_1


"Jadi?"


"Hemh?" Sherly mendongakkan wajahnya menatap Zidane.


"Jadi?" Ulang Zidane lagi.


Sherly yang tak mengerti akan perkataan suaminya menjadi kebingungan sendiri. Entah apa yang harus dia katakan sekarang karena sepertinya dia mati gaya.


"Ja-jadi, aku akan menuruti semua apa yang kamu mau oke!" Ucapnya cepat.


Padahal, Zidane hanya ingin Sherly mengakui kesalahannya karena sekarang dia sedang marah atas kepergian anak-anak.


Senyum Zidane terlihat manis mendengar ucapan istrinya walaupun bukan itu yang dia maksud.


"Oke!" Ucapnya singkat dan datar, kemudian dia pergi keluar setelah mendengar sebuah mobil berhenti di halaman depan rumahnya.


Sherly bernafas lega karena suaminya tak marah. Hembusan nafas lega terdengar dari mulutnya sampai and the genk berdiri menghampiri.


"Astagfirullah, jantung gue mau copot!"


"Yaelah Sher, laki lu kaya hakim yang siap meng-eksekusi penjahat!"


"Tangan gue udah dingin dan gemeteran sampe kaki."


"Lama-lama gue bisa pingsan kehabisan oksigen!"


Para and the genk berceloteh ria setelah kepergian si naga laut timur. Mereka meluapkan isi hati masing-masing kepada sahabatnya sekaligus istri dari orang yang bikin mereka jantungan.


Sherly menatap sahabatnya satu persatu. "Kalian tahu, demi memaafkan kalian gue harus memberikan jaminan kepada rentenir itu! Huaaaa." Rengeknya.


And the genk mengernyitkan dahi. "Rentenir? Maksud lo?"


Walaupun terlihat bingung karena tak mengerti, namun mereka tak bisa bertanya karena teriakan si naga laut timur sudah terdengar nyaring.


"Mami, cepat kemari!"


Mereka pun menoleh kearah luar. "Apalagi sekarang?" Tapi, mereka tetap menghampirinya.


"Iya papi. Ada apa?" Tanya Sherly.


Tanpa menoleh, Zidane berkata. "Lihat. Putraku sampai seperti itu! Apa kalian tidak merasa bersalah?"


And the genk menoleh ke arah tangan Zidane yang menunjuk. "Ya Allah, Zyan. Apa yang terjadi padanya?"


"Anak mami kenapa?" Teriak Sherly.


Mereka langsung melompat ke arah mobil yang terparkir di depan rumah Zidane. Terlihat Zyan yang lemah dan tertidur pulas di kursi depan samping kemudi.


"Zyan ... Zyan!" Panggil Sherly menepuk pipi si tampan sedikit keras.


Zidane langsung memegangi tangan istrinya. "Hei, kamu gak lihat dia begitu kelelahan. Biarkan dia istirahat!"


"Ta-tapi, pi. Dia ... dia ...!"


"Dia gak kenapa-kenapa, tante. Dia hanya kelelahan sesudah nolongin tante hantu!" Jelas Andra.


Para orang tua melirik Andra karena penjelasannya. "Menolong tante hantu? Memangnya, apa yang di lakukannya sampai dia seperti ini?"

__ADS_1


Sebelum Andra menjawabnya, Zidane menyuruh mereka semua masuk ke rumah.


"Kita bicarakan ini di dalam. Sekalian bawa mereka juga masuk!" Perintah Zidane.


"Hemh, mereka? Siapa?"


Pertanyaan and the genk terjawab setelah melihat tiga orang anak turun dari mobil yang di kemudikan Andra.


"Siapa mereka?" Para orang tua terlihat bingung.


"Mereka anak tante hantu." Jelas Rena.


Dan para orang tuanya hanya membulatkan bibir. "Oooohh!"


Tanpa bertanya lagi, semua orang masuk ke rumah mengikuti langkah Zidane yang sudah menggendong tubuh putranya di belakang punggungnya dengan di bantu Geri.


Tubuh lemah Zyan di baringkan di sofa ruang tengah. Anehnya, si tampan itu tak bangun sama sekali walaupun keadaan rumah yang berisik seperti pasar burung.


Iren segera berlari mengambil air minum di dapur, sedangkan Dika berlari mencari kotak p3k untuk mengambil minyak kayu putih.


"Ini Sher, olesin sedikit di hidungnya biar dia siuman!" Di serahkannya minyak itu kepada ibu si pemuda yang tertidur.


Zidane segera menyambarnya cepat. "Putraku hanya tidur, bukan pingsan! Jadi, dia tak memerlukan apapun untuk membuat dirinya tersadar." Dika langsung terdiam mendengar perkataan Zidane.


"Ceritakan apa yang terjadi selama kalian disana, dan bagaimana juga ceritanya anak-anak ini ikut kalian!"


Tanpa ada yang kurang satupun, Andra, Rena, dan Asyanti menceritakan semua kejadian saat mereka datang di kampung halaman hantu Laila, kemudian bertemu anak-anak Laila yang di kejar para preman, mengetahui siapa pembunuh ibu mereka dan bagaimana ayahnya meninggal, juga saat Zyan membantu Laila bertemu anak-anaknya.


Semua kejadian itu di ceritakan kepada para orang tuanya tanpa terlewatkan.


Para orang tua saling pandang dan mengangguk mengerti. Mereka juga melirik anak-anak hantu Laila yang sedari tadi diam tertunduk karena merasa tak enak hati dan malu kepada mereka.


"Jadi, pembunuh ibu dan ayahnya itu adalah orang yang sama yaitu istri baru dari ayahnya sendiri?"


"Iya, ayah. Namanya ibu Sari. Dia punya bodyguard yang serem-serem lho, yah! Hiiiiiyy." Asyanti bergidik memeluk Geri.


"Kamu jangan takut, sayang! Kalau mereka menyakitimu, ayah akan menghabisi mereka!"


Asyanti semakin memeluk ayahnya sambil tersenyum dengan mengeratkan tangannya di lengan Geri.


"Cih, laga lu Ger! Lawan preman pasar aja lu takut, apalagi preman pembunuh seperti bodyguard-nya si Sari ntuh!" Cibir Dika.


"Bener lu, Dik. Dia kan sekarang udah kagak kuat kayak dulu lagi. Kalo di gebukin para preman, bisa pengshan dia!" Timpal Indra.


Geri yang tak terima cibiran kedua sahabatnya pun langsung melompat ke arah Dika dan Indra. Dia memiting kedua leher sahabatnya sambil berkata, "Elu berdua mau coba kekuatan gue, hehh?"


"Kagak, wir. Kita percaya kok, sumprit deh!"


Namun, Geri tak melepaskan begitu saja. Dia tetap menahan kedua leher sahabatnya dengan di jepit di ketek.


Dan terjadilah keributan kecil diantara ketiga sahabat dari istri Zidane. Mereka ribut seperti anak kecil walaupun di depan mereka ada anak-anak.


Huuuhhh, dasar and the genk sengklek.


Sedangkan Sherly, Zidane, Iren, dan juga anak-anak mereka di tambah anak-anak Laila hanya melihat ketiganya dengan menggelengkan kepala.


"Haish, mereka ini!"

__ADS_1


Asyanti menepuk keningnya melihat kelakuan sang ayah dan kedua sahabatnya seperti anak kecil. "Aduh, anak-anak aja kalah sama mereka!"


Hehehe, kamu maklumin aja ya As, bapakmu sama kedua sahabatnya kan emang tim sengklek. Jadi, wajar aja lah mereka kek gitu! Otor aja bingung mau ngomong apa lagi, soalnya udah dari orok pada sengkleknya. Hihihiiii.


__ADS_2