
Sherly pulang bersama kakak dan ketiga sahabatnya menuju kediaman Grisheld.
Namun, ia terlihat tak senang dengan kepulangannya kali ini.pasalnya, ia selalu mengingat perlakuan Zidane pada pamannya.yaitu Hendri.
"Kenapa sih dia?sebesar apa sih masalah di antara mereka itu?kak Hendri ka orangnya baik dan perhatian.kenapa dia ketus gitu ya?"
"Ah, wajar juga sih.dia kan orangnya memang dingin.tapi, itu kan paman yang mengurusnya dari kecil.wajar jika itu orang lain.ini kan pamannya sendiri."
Sherly terus saja melamun dengan pemikirannya sendiri.
Sampai ia tak mendengarkan panggilan kakaknya.
"Sherly, apa sih yang elu lamuin sampai kak Al saja diabaikan"Dika menepuk lengannya pelan.
"Hahh, iya ada apa?"Sherly celingukan kesana sini.
"Ih bos, elu kok jadi tukang ngelamun sih?"Cibir Geri.
"Tahu nih, semenjak pulang dari hutan itu elu jadi pendiam.apa elu kesambet?"Indra menimpali perkataan Geri.
"Apaan sih kalian?gue biasa aja kok!"Sherly langsung melengos dan memandang ke arah jendela.
"Kak Al manggil elu Sherly.kenapa elu diem aja sih?"Dika mengusap kepala gadis itu.
"Oh, ada apa kak?"Sherly langsung menatap kakaknya yang sedang menyetir.
"Sudah lah, mungkin kamu masih syok atas kecelakaan kemarin.kita langsung pulang saja deh!"Kata kak Al padanya.
"Oke!"Ucap Sherly singkat.
Mobil hitam itu pun meluncur menuju kediaman Grisheld dengan cepat.
Kak Aldrian tahu jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran adik kesayangannya itu.maka, ia tak mau banyak bertanya dulu pada Sherly.
Sesampainya di mension besar itu, Sherly langsung turun dan berlari menuju kamarnya di lantai dua. tanpa menyapa semua orang yang berada disana untuk menunggu kepulangannya.
Ia mengabaikan panggilan semua orang yang berteriak memanggil namanya.
"Ada apa dengan adikmu kak?kenapa dia terlihat cuek sekali sama semua orang?"Ibu negara bertanya pada anak sulungnya.
"Aku juga tidak tahu mom, mungkin dia syok atas kejadian yang menimpanya"Jelas Al menenangkan hati ibunya.
"Iya mom, mungkin saja dia lelah dan ingin istirahat"Tutur ayahnya menimpali ucapan anaknya.
"Sayang, ada apa?kenapa kamu terlihat sedih?"Bisik kak Aisyah khawatir.
"Tidak apa-apa yank, gak usah khawatir oke!"Kak Al tersenyum pada istrinya itu.
Apa dia kepikiran tentang paman dan keponakannya itu?apa dia mencintai salah satunya atau bahkan keduanya?karena, aku melihat kedekatannya dengan Hendri dan Hendri pun perhatian padanya. Namun, ia juga terlihat dekat sekali dengan Zidane dan mereka sepertinya saling menyukai.Batin kak Al terus menerka pemikiran Sherly.
"Hei, kenapa sekarang kamu yang melamun sih?daddy memanggilmu itu!"Kak Aisyah menepuk lengan suaminya.
"Hah, iya dad.ada apa?"Pandangan Kak Al langsung tertuju pada ayahnya.
"Kalian pasti lelah.istirahat dulu gih" Kata ayahnya menyuruh keempatnya untuk istirahat.
"Kami pulang saja deh om, tak enak harus menginap disini!"Dika dan kedua sahabatnya berkata dengan sopan.
"Kenapa tak enak, ini bukan pertama kalinya kalian menginap disini bukan?"Kata tuan Hadi.
"Lagian ini kan sudah malam, jadi kalian menginap saja disini ya?"Lanjutnya lagi.
"Emmm, gimana guys?"Dika berbisik pada Indra dan Geri.
"Apa tidak merepotkan om?"Kata Geri sungkan.
"Hei, kalian ini kan sudah seperti anak-anak kami.kita sudah mengenal kalian dari jaman kalian orok.kenapa, masih bicara seperti itu"Sang ibu negara menjawab pertanyaan Geri dengan panjang.
"Hehehe"Ketiganya cengengesan.
__ADS_1
"Ya sudah, istirahat sana.dua kamar diatas yang deket kamar Sherly kan kosong.kalian disana saja"Kata tuan Hadi.
"Kami satu kamar saja om, sudah biasa bertiga kok"Jelas Indra.
"Oh gitu, ya sudah sana naik"Kata ibu negara.
Mereka pun melangkahkan kakinya di tangga dan menuju ke atas.
Saat mereka menapakkan kaki di ujung tangga, mereka di kagetkan sesuatu.
Brakk...geblugh..praaanggg..
Terdengar suara gaduh dari kamar Sherly.entah apa itu yang pasti membuat mereka berlarian ke kamar Sherly.
Tok tok tok
"Beib, elu kenapa?"Dika mengetuk pintu kamar dengan keras.
"Bos, elu baik-baik saja kan?"Kini Indra mengetuk dan berteriak.
~Hening tak ada jawaban~
"Tadi berisik banget, sekarang sepinya kaya kuburan.sebenarnya, ada apa sih sama dia?"Geri menempelkan telinganya di balik pintu kamar Sherly.
"Tau nih, kita ke kamar saja yuk!mungkin dia sedang sibuk sendiri kali"Indra mengajak kedua sahabatnya untuk istirahat ke kamar di samping kamar Sherly.
Di dalam kamar
"Huahaaaaa..aku ingin kamu menuruti semua permintaanku" Makhluk itu tertawa dengan jahat.
"Kkkk..aaa..pa..mau lu?"Sherly berusaha berbicara walaupun ia kesusahan karena cekikkan di lehernya.
"Berikan pemuda itu padaku, atau serahkan dirimu sendiri padaku!"Ia membuat suatu pilihan yang susah dan Sherly tak mengerti maksud perkataannya.
"A..pa mak..sud mu.."Ia berusaha melepaskan cengkraman di lehernya.
"Dia, pemuda yang bersamamu di hutan"Makhluk itu berkata dengan mempererat cengkramannya.
"Di..a bu..bu..kan si..ap..aah-si..a..paaahh gu..e, ke..napa e..el..u min..minta di..a ke..pa..da..gu..gue" Sherly terus berusaha berbicara.
"Tapi, aku melihat dia terikat dengan mu.jadi, aku minta kamu untuk menyerahkan dia padaku"Tutur makhluk itu.
"Gu..gue gak nger..ti mak..sud..luh" Ia terus berucap dan menahan tangan yang mencengkram lehernya.
Karena ia terus mencoba membuka cengkraman tangan besar dan hitam itu, tanpa sadar telapak tangannya menggosok cincin permata birunya.
Dan, keluar lah cahaya putih yang menyilaukan mata makhluk yang mencengkram leher Sherly.
Sosok makhluk menyerupai harimau putih, keluar dari cincin itu dan menerkam makhluk tinggi besar yang mencengkram leher Sherly.
"Hrrghhhmm"Harimau putih itu menggeram dan mencabik makhluk tadi yang berusaha membunuh Sherly.
"Ukhuk ukhuk..."Sherly terjatuh saat cengkraman tangan itu lepas dari lehernya."Astaga, apa harimau itu keluar dari sini"Ia memperhatikan cincin permata birunya itu.
"Haaaaa...ampun"Makhluk itu berteriak dan memohon ampun. Namun, harimau putih itu tak melepaskannya dan terus mencabik-cabik makhluk besar itu sampai dia melebur dan menghilang.
"Hhrrgghhhmmmm"Harimau putih itu menoleh ke arah Sherly dan menghampirinya.
"Jangan kesini, please!"Sherly mengulurkan tangannya dan kepalanya menunduk.ia tak mau jika harus mati di tangan harimau putih.
Namun, harimau itu terus mendekat ke arahnya sampai menyentuh tangan Sherly yang sedang terulur membuat ia terkejut.
"Aaaaaa"Ia berteriak karena terkejut.takut, mulut harimau itu yang mendekati dan menggigit tangannya.
"Eh,"Ia heran karena merasakan kelembutan bulu harimau itu.dan harimau itu sepertinya senang saat tangan Sherly menyentuh kulitnya.
"Dia jinak juga ternyata"Ucapnya sambil mengelus kepala harimau itu.
"Sebenarnya, kamu itu apa?kenapa bisa keluar dari cincin kecilku ini"Ia terus mengelus kepala harimau.
__ADS_1
Flashback
Saat Sherly keluar dari kamar perawatan Zidane, sesosok makhluk besar mengikutinya sampai ke rumah.
Ia melangkah dengan kaki panjangnya mengikuti laju mobil kam Al yang pulang menuju ke mension.
Sherly melihat makhluk itu mengikuti nya sejak dari rumah sakit itu.karena ia fokus ke arah makhluk itu, ia pun tak mendengar kakaknya memanggil ataupun ucapan dari mereka yang berada di mobil.
Makhluk besar itu terus mengikutinya sampai rumah danSherly pun buru-buru berlari ke kamar dengan menaiki tangga tanpa menyapa semua orang yang sedang menunggunya di ruamg tamu.
Maafin aku mom, dad, kak Aisyah. Aku gak mau kalian terlibat.
Sherly berlari ke kamar dan mengunci pintu kamarnya.
Wuuuiisshhh
Angin kencang berhembus di kamar Sherly yang luas dan membuat semua berterbangan dan berjatuhan.
Brakk...geblugh..praaanggg..
"Brakk"Pintu balkon di terpa angin kencang dan membuatnya terbuka sampai menimbulkan suara kencang..
"Geblugh"Semua jendela dan pintu yang terbuka tadi tertutup dengan sendirinya.
"Praaanggg"Barang-barang yang berterbangan pun terjatuh ke lantai dan pecah saat semua jendela dan pintu itu tertutup.
Ketiga sahabat Sherly yang baru saja menginjakkan kaki di ujung tangga, mendengar kegaduhan dari dalam kamar Sherly.
Mereka menghampiri dan mengetuk pintu kamar.namun, tak ada jawaban dari dalam.
Sherly sebenarnya mendengar ketukan itu dengan jelas. tapi, ia tak mau membuat semua orang khawatir dan membawa mereka dalam masalah.maka dari itu, ia diam saja saat mereka memanggil namanya.
"Hahaha...kau gadis pemberani rupanya?"Makhluk besar itu mencibirnya.
"Gue gak pernah takut sama siapa pun.termasuk makhluk seperti elu itu ya"Kata Sherly dengan lantang.
"Gadis pemberani yang sombong, hehh!rasakan ini"Ia mengulurkan tangan besarnya dan langsung mencengkram leher Sherly dengan kuat dan terjadilah kejadian itu sampai sosok harimau putih datang karena panggilan tak sengaja dari Sherly yang terpojok.
▪▪
Sherly diam merenungi perkataan makhluk yang mau membunuhnya itu.
apa maksud perkataan makhluk itu dengan bilang bahwa gue dan si king ice itu saling terikat?
Ah, mungkin makhluk itu asal bicara supaya gue mau menuruti semua perkataannya.
Tapi, mengapa dia berbicara seperti itu?apa yang diinginkan dari gue dan si king ice ya?huaaahhh..gue pusing.
"Lebih baik gue berendam.menenangkan semua saraf yang tegang, supaya gue menjadi rileks dan fresh"Ia pun melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Sstt..aww."Pecahan beling menusuk kakinya karena ia bertelanjang kaki.
"Shit, gue lupa dengan kekacauan ini" Gerutunya sambil mencabut pecahan beling dari telapak kakinya.
Darah pu keluar menetes dari telapak kakinya dan ia pun terpincang-puncang masuk ke kamar mandi.
☆☆☆☆
**Maaf karena otor upnya lama.
Aku sedang dalam tahap merevisi ulang semuanya.jadi, aku tak bisa mengupdate bab baru kemarin..🙏🙏🙏
Terima kasih sama kak Elisabeth dan kak Heni nur yang memberiku saran dan instruksinya.😘😘😘😘
Terima kasih juga buat kalian para readers dan kakak author yang selalu senantiasa mendukungku selama ini.😘😘😘
Yang minta feedback or follback nya.maaf, aku belum bisa mampir ke karya kalian.
Insyaallah besok aku akan mampir.🙏🙏
__ADS_1
Mohon do'anya supaya diriku selalu sehat dan aku juga mendo'akan kalian semua dalam keadaan sehat wal-afiat.selalu dalam lindungan Allah SWT.aamiiinnn..🤗🤗**