Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kabar mengejutkan


__ADS_3

"Akkh ... sayang. Aku sudah lelah. Bisakah kita beristirahat sebentar!" Rengekkan Zidane terdengar memelas.


Namun Sherly tak memperdulikan rengekan suaminya. Ia malah sengaja mempercepat pergerakkannya.


"Aku gak akan berhenti sampai kamu kelelahan dan pingsan!"


"Aku sudah lelah ini. Kumohon, berhenti sebentar ya!" Zidane terus merengek manja.


"Gak akan! Kamu sudah membiarkan wanita lain menyentuh bagian tubuhmu walaupun itu hanya tangan atau kepalamu saja!" Tolak Sherly. "Jadi, terima saja hukumanmu ini dengan senyuman, oke!" Lanjut Sherly lagi.


Dengan malas, Zidane bergerak lagi seiring pergerakkan istrinya.


Ya tuhan, aku menyesal telah membiarkan Avril masuk kedalam ruangan ini. Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku menyuruh Rian mengusirnya saja.


"Ssstttt ... aaakkhh, sayang. Kakiku sudah tak kuasa untuk ku gerakkan lagi! Rasanya ini sudah kaku." Zidane kembali merengek.


Sherly berhenti sejenak, kemudian melepaskan tangannya di pinggang suaminya. "Baiklah, kau bisa istirahat. Hari ini sudah cukup! Tapi besok, jangan harap kamu bisa istirahat sebelum kakimu bisa bergerak lagi."


Ancaman sang istri membuat Zidane lesu seketika.


Sebum Zidane duduk di kursi rodanya, Rian datang dengan kabar gembira.


"Hai kakak ipar. Bagaimana si tuan dingin? Apa dia sekarang mau menjalankan terapinya?" Tanya Rian terkekeh.


Zidane menatap Rian dengan kesal. "Sialan kau. Kenapa kamu mengatakan yang tidak-tidak pada istriku. Dasar kau tukang ngadu!"


"Eehh, memangnya aku mengadukan apa pada kakak ipar? Dia melakukannya dengan keinginan hatinya, betul kan kak!" Elak Rian dengan meminta perlindungan Sherly.


"Iya. Aku memang sengaja ingin menemanimu menjalankan teraphi ini, apa kamu keberatan?"


Zidane seketika bungkam dengan menggelengkan kepalanya. Dia tak bisa berkata apapun kalau Sherly sudah bicara dengan ketus.


"A-aku seneng banget kalau kamu menemaniku, sayang. Ja-jadi aku lebih bersemangat lagi untuk sembuhnya!" Ucap Zidane terbata.


Sherly menilik mimik muka suaminya dengan seksama. "Tapi, sepertinya kamu gak senang kalau aku memaksamu untuk berjalan!"


"Ah, tidak ... tidak. Aku senang kok! Iya kan, dokter gila?" Kedipan mata Zidane di tangkap Rian dengan cepat.


"Dia sangat bahagia kok, kakak ipar."


Sherly mendelik kearah keduanya. "Kau sama saja, Rian. Jika dia malas untuk melakukan terapi lagi, akan ku pastikan kau berhenti jadi dokter pribadinya saat itu juga!"


"Dan untuk kamu," Zidane mendongakkan kepalanya menatap istri tercinta. "Kalau kamu gak mau sembuh, ya sudah. Jangan salahkan aku jika besok aku pergi bersama teman-temanku untuk liburan ke pantai. Aku malas harus mendorong kursi roda di pasir pantai. Jadi, kamu gak usah ikut!"


Kedua lelaki tampan itu saling pandang dengan ancaman Sherly.


"Ya tuhan, istriku mau menyingkirkan suami tampannya ini?" Rengek Zidane.


"Ya tuhan, kakak ipar ingin menyingkirkan diriku dari pekerjaan yang ku sukai ini. Apa salahku jika suaminya sengaja melakukan ini untuk menggoda istrinya!"


Sherly langsung berbalik dan mendekat ke arah Rian. "Apa maksudmu?"


Tatapan tajam Sherly membuat nyali Rian menciut. Dia keceplosan berbicara rahasia antara dirinya dan Zidane di depan Sherly.

__ADS_1


"Ah kakak ipar ... hehehe. Anu ... itu ...!" Lirikkan mata Rian tertuju kepada si tuan muda dingin sahabatnya.


"Apa?" Sekali lagi Sherly bertanya.


Sedangkan Zidane menepuk keningnya karena ternyata hanya diancam sedikit saja, Rian membeberkan rahasia mereka.


"Dasar kau payah, Rian." Gerutu Zidane.


"Katakan!" Suara Sherly terdengar dingin dan datar.


Rian sangat dilema antara jujur atau bohong. Namun tetap saja, keduanya merugikan dirinya. Tapi, dia berharap kalau berkata jujur, Sherly akan menyelamatkan dirinya dari ancaman Zidane.


Bodo amat lah. Toh si raja es kalah jugasama istrinya.


Batin Rian tertunduk takut, kemudian mendongakkan kepala menatap Sherly dengan takut.


"Se-sebenarnya Zidane su-sudah ... sembuh!" Ucapan Rian yang terbata dan lirih walaupun kalimat terakhir hanya gumaman saja, namun Sherly tetap masih mendengarkannya dengan jelas.


"Lalu?"


Helaan nafas Zidane terdengar panjang saat Rian melanjutkan ucapannya yang membongkar rahasia mereka. "Haahh!"


Sherly melirik sekilas ke arah suaminya. Dia bisa menangkap sesuatu dengan melihat situasi sekarang ini. "Lanjutkan!"


"Dia sengaja bilang belum sembuh biar kakak ipar selalu memanjakannya."


Mata Sherly membulat mendengar kejujuran Rian. "Apa?" Matanya melirik suami tampannya lagi yang sedang menutupi wajah dengan telapak tangannya.


"Di-dia juga ingin aku berbohong kalau dia akan sembuh dalam waktu beberapa bulan, supaya kakak ipar membantu dia melakukan apapun. Seperti memandikannya, menyuapi dia makan, menemani dia setiap saat, bahkan melayani dia ... emm, itu!"


"Lalu ... dia juga mengancamku jika aku mengatakan yang sebenarnya kepada kakak ipar, aku akan di kirim ke pulau terpencil dan tak boleh kembali lagi." Dengan cepat Rian berkata lagi untuk menyelamatkan dirinya.


"Bagaimana dengan wanita yang kemarin kesini itu? Apa dia sengaja mengundang wanita itu kemari supaya di layani olehnya?"


Sontak Rian dan Zidane menggelengkan kepalanya. "Tidak. Jangan salah paham!" Ucap keduanya berbarengan.


"Si Avril kemari karena mau berbicara sama Zidane. Dia meminta izinku untuk masuk ke ruangan ini." Tutur Rian.


"Dan dia yang mengizinkannya masuk?"


"Tentu saja kakak ipar. Kalau bukan karena izin darinya, aku gak berani membiarkan wanita lain masuk kemari!" Jelas Rian.


"Siapa wanita itu?" Zidane menggelengkan kepala mendengar pertanyaan istrinya kepada Rian.


Karena Rian ingin selamat dari Sherly, dia pun berkata jujur apa adanya.


"Avril mantan pacar Zidane waktu dia memegang perusahaan kakek di thailand."


Sherly tersenyum getir. "Oh, jadi mantan pacar? Ku kira dia wanita penggoda seperti si Prita yang selalu mengejar-ngejar kamu terus. Ceritanya kangen ya? Hemh, kenapa gak bilang kemarin kalau dia kekasihmu dulu. Mungkin, aku gak akan seagresif itu dan menunjukan kemesraan kita?"


Zidane kembali menutup wajahnya dengan telapak tangan. Percuma juga dia berbicara saat ini. toh gak bakal menang melawan istrinya.


Kembali Sherly menatap Rian. "Aku akan menaikkan gajimu dua kali lipat."

__ADS_1


Rian sangat senang dengan hadiah kejujurannya dari Sherly. "Yang benar, kak? Wahhh, terima kasih banyak!"


"Asalkan ...!" Kembali Rian menatap serius wajah Sherly dan menunggu perkataan yang sengaja di gantungnya. "Kau bisa membuat dia lumpuh beneran dan menyembuhkannya lagi!"


"Apa?" Keduanya terkejut dengan permintaan Sherly.


"Maksud kamu apa sayang?" Zidane berdiri dengan meraih tangan istrinya.


"Hohohoooo ... sudah capek ya duduk di kursi roda?" Ledek Sherly.


"Sayang, maafin aku! Aku ... aku gak bermaksud membohongimu, sayang. Ini semua ide Rian!" Tunjuk Zidane.


Yang di tunjuk pun tak terima dengan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bukan aku yang memberikan ide gila itu, kak. Dia sendiri yang memikirkannya!"


"Kalian sama saja. Kalau kamu gak bisa membuat dia lumpuh, maka aku yang akan membuat dia gak bisa berjalan lagi!" Teriak Sherly.


Kemudian dia menendang tubuh Zidane namun tak kena. Karena dengan cepat Zidane mengelak dari tendangan istrinya.


Sherly terus melayangkan pukulan ke arah Zidane yang dengan mudah di hindari oleh suaminya itu.


Sampai Sherly merasakan kelelahan karena serangannya dapat dengan mudah di hindari Zidane yang bergerak lebih lincah darinya.


"Hah ... hah, sekarang aku yakin kalau kamu memang sudah sembuh total. Huuh, bisa-bisanya aku tertipu oleh kedua pria bodoh seperti kalian!"


"Apa? Kamu bilang aku pria bodoh? Sayang, cukup Rian saja yang kau sebut bodoh. Jangan bawa-bawa suami tampanmu ini! Aku ini sangat pintar dan cerdas." Kata Zidane kesal.


"Sudahlah. Aku malas berbicara denganmu. Sebagai hukumannya, besok kita berlibur ke pantai dan kamu harus membayar semuanya."


"Baiklah sayang. Apapun untuk istri tercintaku, aku akan melakukan apapun!" Suaranya di buat lembut supaya meluluhkan hati istrinya.


"Bukan cuma kita, tapi And the genk dan para istrinya. Juga si dokter gila itu sama pacarnya!" Rian begitu senang karena Sherly tak melupakannya. "Tapi tunggu, apa dia masih punya pacar? Bukankah waktu itu dia di putuskan pacarnya?"


Sudah diangkat ke langit, kemudian di banting dengan keras ke tanah. Itulah yang di rasakan Rian sekarang ini.


"Kakak ipar.Aku sudah bersemangat dengan ajakanmu tadi. Tapi, kenapa kamu menyebutkan mantan pacarku? Haish, aku jadi sedih kan!"


"Jadi, kamu memang sedang jomblo sekarang? Ckckckk, Rian. Usiamu sudah tidak muda lagi, janganlah mencari pacar! Carilah calon istri yang benar. Kamu itu kan tampan dan baik hati. Jadi, carilah wanita yang benar mencintaimu apa adanya. Bukan karena kedudukan dan harta!" Nasehat Sherly.


Zidane menarik pinggang ramping istrinya dan membawa kepelukkannya. "Seperti kamu yang mencintaiku apa adanya kan, sayang?"


Sherly memutar bola matanya dengan malas. "Keluargaku punya banyak harta. Walaupun kamu miskin, aku akan tetap mencintaimu. Jadi gak perlu memanfaatkanmu dalam keuangan. Aku suka sama kamu karena kamu baik, perhatian, dan penyayang. Walaupun kamu itu seorang King ice!"


Rian tertawa mendengar ucapan Sherly barusan. Dia senang kata-kata tegas yang bisa membungkan sahabatnya itu, si tuan muda dingin.


Zidane yang melihat Rian terkekeh, langsung melempar tatapan tajam yang seketika membuatnya diam. Tidak perlu melempar barang kepadanya, cukup dengan tatapan tajam saja Rian bisa langsung diam dengan tertunduk.


"Sayang, bagaimana keadaan anak kita? Apa dia sekarang sudah bergerak lincah?" Pertanyaan Zidane sontak membuat Sherly maupun Rian bungkam dengan saling menatap. "Kata orang tua, jika usia kandungan sudah mencapai lima atau enam bulan, bayinya sudah bergerak aktif. Bagaimana dengan anak kita? Apa dia menyusahkanmu?"


Kini giliran Sherly yang tertunduk lesu dengan seberondol pertanyaan dari suaminya. Dia sedih dan tak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan dari suaminya yang sedang menatap dengan senyum manisnya.


"Se-sebenarnya ... anak kita sudah gak ada!" Kata Sherly dengan mata terpejam.


__ADS_1


Zidane langsung merosot lemas terduduk di pojokkan mendengar perkataan Sherly. Dia seakan syok mengetahui kabar ini sampai Rian berteriak.


"Zidane!"


__ADS_2