
Beberapa menit sebelumnya...
Zidane yang berlari dengan menggendong tubuh lemah Sherly menuju ruang gawat darurat.
Ia tidak memperdulikan apapun lagi kecuali keselamatan si gadis berisiknya.
"Dokter..dokter..tolong selamatkan dia." Zidane menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Tuan muda Zidane?"Dokter itu mengenalinya."Kenapa dengannya, tuan?" Ia bertanya karena penasaran.
Siapa gadis ini, apa dia kekasihnya?Tuan muda sepertinya sangat khawatir padanya.
"Kau jangan banyak bertanya, dokter.Cepat selamatkan saja nyawanya!"Ketus Zidane.
Dokter itu pun tak mampu bertanya lagi saat melihat tatapan dinginnya."Ba..baiklah tuan.Suster, ayo ikut aku ke ruang gawat darurat!"Di ajaknya kedua suster yang sedang berjaga di depan.
Suster itu pun mengekor di belakang dokter dengan diam.Mereka tak mampu bertanya atau mengucapkan kata apapun karena melihat tatapan tajam si tuan muda.
"Siapkan alat-alatnya sus, kita ambil tindakan."Kata dokter itu kepada suster.
"Baik, dok"Di pasangkannya alat-alat di tubuh Sherly mulai dari impusan.
"Maaf tuan muda, anda tidak boleh disini. Silahkan tunggu diluar!"Dokter menyuruh Zidane untuk ke luar.
"Kau berani menyuruhku keluar, hehh?"Ia sangat marah dengan perintah dari dokter.
"Jika kau berani menyuruhku keluar, aku akan pastikan kau yang akan keluar dari rumah sakit ini selamanya.Aku akan mengadukan mu pada pemimpin rumah sakit ini kalau kau tak becus bekerja"Ancam Zidane.
Hiks, teganya dia.Padahal kan ini prosedur.
Nyali Dokter itu pun menciut, ia tak berani lagi melawan perintah si tuan muda.
"Baiklah tuan muda, silahkan anda duduk"
"Aku tak akan duduk.Ayo periksa dia!"Kata Zidane tanpa menoleh ke arahnya.
Ya sudah lah, yerserah anda saja.
Tapi ia tak mengucapkan apapun kepada si tuan muda dingin itu.
Ia pun memeriksanya dengan teliti.
"Denyut nadinya melemah dok,"Kata suster.
"Ambil tindakan."Kata dokter singkat.
Mereka pun mengambil tindakan untuk menyelamatkan gadis itu.
Segala upaya di lakukan oleh dokter dan suster untuk menyelamatkan gadis yang di bawa si tuan muda.
Mereka tak mau melakukan kesalahan apapun karena si tuan muda terus memperhatikan pekerjaannya.Ia pun terus menggenggam erat tangan si gadis dengan perasaan yang sulit diartikan.
Rasa khawatir jelas terlihat di raut wajah si tuan muda yang melihat si gadis berisiknya yang dalam kondisi lemah.
"Seluruh tubuhnya sudah dingin sekali, wajahnya pun mulai memucat.apa dia bisa di selamatkan, dok?"Bisik suster pada dokter.
"Jangan bicara sembarangan kamu.Lakukan pekerjaan mu dengan benar, selamatkan dia. Kalau tidak, akan ku pastikan kau menanggung akibatnya!"Zidane marah dengan perkataan suster itu.
Jangankan suster berbisik, bicara dalam hati saja Zidane bisa tahu.apalagi dia berbisik di sampingnya.ckk, dasar.
"Ti..tidak tuan.maafkan saya."Suster terkejut dengan bentakkan Zidane.
Ia pun kembali bekerja dengan fokus tanpa menoleh ke arah mana pun.
Mereka terus berusaha, namun takdir berkata lain.Sherly tak bisa di selamatkan.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt...
Alat pendeteksi jantung melemah dan akhirnya menunjukkan garis lurus.
"Dokter..dokter..dia sudah...."Suster itu terkejut dengan kondisi pasien.
Dia takut nyawa pasien yang satu ini tak tertolong.Karena si tuan muda mengancam untuk mengeluarkannya dari pekerjaannya.
"Apa maksud dari bunyi alat itu dokter?" Zidane memotong ucapan si suster.
"Suster, siapkan alatnya!"Pinta dokter tanpa menjawab pertanyaan Zidane.
Ia lebih memilih bekerja di bandingkan mengatakan sesuatu yang nantinya akan di salahkan oleh si tuan muda.
Alat kejut jatung atau defribrilator di tempelkan di dada Sherly untuk memacu kerja jantungnya.
Satu....dua....Tiga...
Alat itu terus di tekankan di dadanya namun Sherly tak meresponnya.
Lagi dan lagi, dokter berusaha menyelamatkan gadis si tuan muda namun takdir berkata lain.
Dokter pun menggelengkan kepalanya pertanda mereka sudah menyerah.
"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa menyelamatkan nyawa kekasih anda!"Ia menunduk lesu dan tak berani memandang ke arah Zidane.
Zidane mundur beberapa langkah ke belakang.Ia tak mau mempercayai ucapan dokter sambil menggelengkan kepalanya.
Ia pun maju lagi dan mencengkram kerah baju si dokter.
"Lakukan lagi.selamatkan dia sekarang juga!" Teriak Zidane kepada dokter.
"Tuan, jika anda ingin mengeluarkan saya dari pekerjaan, saya pun ikhlas tuan.Tapi tetap saja, dokter mana pun tak akan bisa menyelamatkan pasien jika kondisinya sudah seperti ini."Jelas dokter itu.
"Dia sudah kehabisan waktu, tuan.Dia terlambat di bawa kemari"Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Zidane pun melepaskan cengkramannya.
Memang benar Sherly terlambat di bawa kemari karena banyak sekali hambatan yang harus di lalui mereka.
Zidane mendekat ke ranjang pasien.Ia menggenggam tangan Sherly dengan menitikkan air matanya.
"Maafkan aku, maaf"Ia menangis dengan menempelkan keningnya di kening Sherly.
Baru kali ini si tuan muda dingin itu menangis setelah dua puluh tahun yang lalu saat kehilangan orang tuanya.
Kali ini, ia menangisi gadis berisik yang belum lama ia kenali dan selalu mengganggu pikirannya.
Air mata Zidane menetes membasahi wajah Sherly.Saat air mata itu mengalir melewati pipi si gadis, seketika alat pendeteksi jantung berbunyi kembali.
Elektokardiogram (EKG) berbunyi lagi.
Tit..tiiiit...tiiit
Pertanda jantung Sherly kembali memacu.
"Dokter, lihat.alatnya kembali berbunyi.Dia kembali lagi, dok!"Seru suster yang kegirangan saat melihat alat pendeteksi itu menunjukkan garis naik turun di layar monitor.
"Iya suster, ini ke ajaiban.Selamat tuan muda, dia hidup kembali!"Dokter mengucapkannya dengan tulus hati.
Zidane menaikkan wajahnya sedikit menjauh dari gadis itu.Ia menatap wajah cantik si gadis berisiknya.
"Jangan pernah meninggalkan aku.Awas jika kau berani melakukannya!"Ia mengecup keningnya dengan sedikit lama dan ia pun melepaskannya.
"Periksa kembali kondisinya!"Perintahnya pada dokter.
Dokter pun langsung maju dan memeriksa kondisi Sherly.
Setelah memeriksa kondisi pasiennya, ia nampak tak senang dan gelisah.
Ia pun kembali menundukkan wajahnya di hadapan si tuan muda.
"Maafkan saya lagi tuan.dia memang kembali, tapi karena kondisinya sedikit parah, bisa di pastikan ia akan tertidur untuk sementara."Tutur dokter.
"Maksudnya apa dengan tidur sementara?" Ia menaikkan kembali nada bicaranya.
"Emm, anu tuan.Itu..anu!"Dokter bingung cara menjelaskannya.
"Anu..anu apa?bicara yang jelas!"Bentak Zidane.
"Kemungkinan dia akan mengalami koma," Ucap dokter dengan rasa takut.
"Haaaahhhh"Zidane menghela napas panjang.Ia pasrah dengan kondisi seperti ini.
Memang harus apa lagi jika kondisinya sudah seperti ini.Yang penting gadis itu tak pergi meninggalkannya saja sudah bersyukur.
Zidane keluar tanpa berkata apapun.Ia berdiri di depan kamar itu dengan menyender di tembok.
Ia pun merosot dan terduduk di lantai sambil memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas dengan butiran air mata membasahi pipi.
Ketiga teman Sherly datang menghampiri.
"Hei tuan muda, apa yang terjadi?Tanya Geri kepadanya namun tak di jawab oleh Zidane.
"Apa yang terjadi?"Mereka pun penasaran.
"Apa mungkin Sherly....hahh, gak mungkin?" Dika menutup mulutnya tak percaya.
"Hei tuan muda, apa yang terjadi kepadanya?jawab lah pertanyaan kami!" Teriak Geri padanya.
Lagi-lagi Zidane tak menjawab pertanyaan Geri membuat mereka mengira-ngira sendiri.
Saat suasana terasa tegang, keluarlah seorang dokter yang memeriksa kondisi Sherly.
"Dokter, bagaimana keadaannya?"Tanya ketiganya menatap dengan harap-harap cemas.
"Maaf, dia sudah tidak...."
"Gak mungkin..gak mungkin!"Dika menggelengkan kepalanya.Ia tak sanggup menerima kenyataan itu.
"Tidak dokter, aku mohon jangan katakan itu!"Geri ikut menggelengkan kepalanya.
Indra menatap Zidane yang terduduk lesu di lantai.Ia pun menunduk sambil menutup wajahnya.
"Sherly!"Teriakan Indra mengundang semua orang untuk menoleh ke arah mereka.
"Hiks..hiks..huuaaa...huhuuuu"Ketiganya saling berpelukkan dan menangis tersedu.
"Kenapa kalian aneh sekali?"Tanya dokter kepada mereka.
"Apa maksud dokter dengan bertanya seperti itu?kami sanat sedih tahu,"Kata mereka dengan tersedu.
"Asal dokter tahu, dia itu kesayangan kami, kebanggaan kami, cinta kami, dokter. huhuuuu"Mereka menangis lagi.
"Tapi dia sudah tidak apa-apa."Jelas dokter.
"Kami tahu dokter."Mereka tetap tak mendengarkan ucapan dokter dengan jelas.
"Eeh, bentar.maksud dokter apa barusan bilang dia sudah tidak apa-apa?"Indra tersadar dengan ucapan dokter.
"Iya, dia sudah tidak apa-apa.memang tadi kondisinya sempat down, tapi sekarang dia kembali.Namun karena kondisinya parah, dia tidur untuk sementara"Jelas dokter.
"Tidur sementara, maksud dokter dia koma?" Dika menatap dokter dengan serius.
"Iya, dia koma sementara.Jika kalian terus mengajaknya berinteraksi, kemungkinan dia bisa cepat bangun.Jadi, saya sarankan untuk selalu berinteraksi bersamanya.Karena, pendengarannya tetap berfungsi dengan semestinya walaupun dia memejamkan matanya"Jelas dokter kepada mereka.
"Kenapa gak ngomong dari tadi, dokter?" Geri kesal kepada penjelasan dokter yang menurutnya kurang jelas.
__ADS_1
"Saya belum menyelesaikan ucapan saya, kalian sudah menyela."Elak dokter.
"Ohh, gitu ya dok.maaf deh!"Mereka pun cengengesan.
"Syukur lah Sherly gak kenapa-napa.tapi, kenapa dia sedih?"Mereka melirik Zidane yang terlihat sangat sedih.
"Gak tahu juga, mungkin dia syok saat alat pendeteksi itu menunjukkan garis lurus di monitor."Bisik suster.
"Dia sangat mengkhawatirkan nona muda" Lanjutnya.
Mereka pun saling pandang kemudian menoleh ke arah Zidane yang sedang duduk dengan keadaan yang tak bisa diungkapkan.
Aku gak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi.
Zidane tetap diam dan memejamkan matanya.
Suara langkah kaki berlarian ke arah mereka membuat mereka menoleh.
Terlihat beberapa orang berlari menuju ke arah mereka dengan raut wajah khawatirnya.
"Dika, bagaimana keadaan Sherly?"Tanya orang itu saat sudah sampai di hadapan mereka.
Ternyata mereka yang berlari itu adalah keluarga si gadis berisik dan yang bertanya tadi adalah si ibu negara.
Mereka mendapatkan kabar dari Geri yang menghubunginya lewat ponsel.
"Tante, maafin Dika ya.Dika gak bisa menjaga Sherly dengan baik!"Dika tertunduk lesu di hadapan nyonya Fransisca.
"Dia sebenarnya kenapa?jangan bikin kami bingung"Kak Al menarik kerah baju Dika.
Mereka pun terkejut dengan perlakuan kak Al kepada Dika.
"Kak Al, ini bukan salah Dika.ini salah kami juga."Indra memegang tangan kak Al.
Kak Al melirik mereka satu persatu, kemudian melirik Zidane yang duduk dengan keadaan yang tak pernah mereka lihat.
"Bagaimana kondisinya?"Kak Al menghampiri Zidane dan bertanya padanya.
Zidane tak perduli dengan pertanyaan orang yang ada di hadapannya.Ia tetap memejamkan matanya.
"Hei tuan muda, jawab pertanyaanku!"Kak Al berteriak kepada Zidane.
"Pasien sudah tidak apa-apa tuan, cuma dia koma untuk beberapa waktu."Dokter datang dan menjawab pertanyaan Aldrian.
Mereka pun menoleh kepada dokter itu.
"Kondisinya sangat parah sampai dia sempat down.Tapi saat tuan muda menempelkan keningnya di kening nona muda, monitor menunjukkan denyut nadi nona kembali dan jantungnya kembali berdetak lagi.Bukan kah itu suatu keajaiban.Tuan, nyonya?"Kata Dokter itu.
Mereka pun saling tatap dan kemudian memandangi Zidane yang terlihat sangat terpuruk.
"Lalu, kenapa dia seperti itu?"Tanya mereka.
"Itu karena dia takut kehilangan orang yang dia sayangi lagi.Dia pernah kehilangan kedua orang yang di sayangi di masa lalu.Dan sejarang lun dia sangat sedih dengan kondisinya sampai dia takut kehilangannya" Seseorang datang dan menjelaskan pada mereka.
Rian datang kesana karena Geri juga menghubunginya.
Ucapan Rian membuat mereka jadi tak enak hati.Mereka jadi menatap iba pada Zidane.
Mereka memang keluarga dan teman dekat Sherly.Tapi, Zidane lah yang merasa sangat terpukul dengan kondisi Sherly saat ini.
Entah dia merasa bersalah atau dia takut kehilangan.Kedua pernyataan itu benar adanya.
Zidane selalu ketus dan dingin kepada Sherly. Tapi, jauh di lubuk hatinya dia sangat mencintai gadis itu lebih dari apapun.
Aku gak akan biarin kamu menderita.Aku janji.Mulai sekarang, aku akan menjagamu dan mendampingimu untuk selamanya.
Zidane bangkit dan pergi tanpa berkata sepatah kata pun kepada mereka yang menatapnya dengan berbagai pertanyaan.
Dia langsung pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah siapa pun membuat semuanya terheran.
"Tadi dia nangis, sekarang dia pergi gitu aja."Dika melirik Geri dan Indra.
"Dia sangat sedih, Dik.Mungkin dia mencintai si bos!"Tanpa sadar Geri mengucapkan itu.
Sedangkan Dika terlihat tak suka dengan perkataan Geri.
"Sssttt, elu ngomong apa?kenapa elu ngomongin itu sama si Entong?"Indra menyikut Geri sambil berbisik.
Geri pun tersadar."Oh ya ampun, gue lupa!"
Keduanya pun saling pandang melihat Dika terdiam dan tak bereaksi apapun.
Sementara keluarga Sherly sudah masuk untuk melihat kondisi putri bungsunya.
"Sayang, kenapa jadi begini!"Semua keluarga terlihat sedih dengan melihat kondisi putri bungsunya itu.
Sherly terbaring tanpa bisa merespon ucapan mereka semua.dia tidak bisa melihat ekspresi semua keluarganya yang sangat mencintainya.
Sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu, gadis itu terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang seperti itu.
***Bersambung....
Sertakan like, dan komen setelah membaca cerita.
Dan vote sebanyaknya untuk mendukung cerita otor.
Ikan hiu makan tomat......Kagak doyan kaleee..
๐๐๐
Hatur tengkiyuhhh๐๐๐๐๐***
__ADS_1