
Suara seseorang yang baru saja datang ke mansion itu, mengejutkan mereka.
Terlihat pria muda dengan setelan jas putih. pertanda bahwa dia seorang dokter.
"Istri?Zidane sudah punya istri?"Tanya dokter muda itu.
"Eh dokter Rian, mengagetkan kami saja!" Kata para penjaga itu.
"Tadi kalian bilang, Zidane bawa pulang seorang istri?benar begitu?"Tanya Rian lagi.
"Itu anu dok, tuan muda memang membawa pulang seorang gadis, supir truk bilang kalau itu istrinya.jadi kami pikir mungkin itu istri tuan muda!"Jawab penjaga itu.
"Iya dokter, tadi juga dia gak mau kami membantunya untuk menggendong gadis itu. malah tuan muda sendiri yang menggendongnya ke dalam"Jelas penjaga.
"Hemh, posesif sekali.curiga nih!"Gumam dokter Rian."Pantas tadi di telpon, dia menyuruh ku harus segera datang.dasar kau Zidane!awas ya, jika kau tak menjelaskannya padaku"Kata Rian sambil berlalu dan masuk ke mension."Parkirkan mobilku"Ucapnya sebelum melangkah.
"Baik dokter"Ucap penjaga itu yang langsung menangkap kunci yang di lempar dokter Rian.
Dokter Rian adalah dokter pribadi keluarga Prasetyo.sekaligus teman sekolahnya Zidane.mereka sudah dekat satu sama lain, dan tak pernah ragu untuk saling berbagi rahasia atau meminta pendapat.
Rian datang atas permintaan Zidane yang menghubunginya secara langsung, ia meminta Rian segera datang ke mensionnya tanpa menjelaskan apa dan kenapa.dia harus datang dalam waktu sepuluh menit.
Dokter Rian pun masuk ke dalam dan langsung menuju ke atas.dia pun berpapasan dengan para pelayan di sana.
"Hai cantik, dimana tuan mu berada sekarang?"Tanya nya pada salah satu pelayan paling muda di sana.
"Eh dokter Rian, tuan muda di kamarnya. tapi dokter, dia membawa gadis cantik kesini. menurut dokter, dia itu siapa ya?"Tanya si pelayan itu yang penasaran.
"Menurutmu siapa?"Rian balik bertanya.
"Gak tahu dokter, tapi sepertinya ia spesial soalnya langsung di bawa kamar tuan muda"Jelas pelayan itu.
"Hemh, ke kamar?wah gercep juga ternyata" Gumam Rian yang berpikir sambil mengelus dagunya."Mungkin kah gadis ini yang sudah mencairkan gunung es.kalau itu benar.aku akan bersujud di kakinya. hehehe.." Katanya sambil cengengesan di depan pelayan.Membuat pelayan itu terkekeh.
Rian pun melangkah menuju ke kamarnya Zidane, namun terhenti oleh pelayan itu.
"Dokter ganteng, kalau boleh.nanti saja ke sana nya.soalnya tuan muda..emh anu.."Dia tak bisa menjelaskannya.
"Kalau bicara itu yang jelas, jangan bertele tele.bikin pusing saja"Kata dokter Rian sambil berlalu.
"Dokter, ku mohon jangan ke sana!"Cegah pelayan itu lagi.
Tapi Rian tak mau mendengarkan nya.ia terus berjalan dan melangkahkan kakinya ke arah kamar Zidane.
Namun ia terhenti saat mendengar suara dari dalam kamar.
"Akh, pelan sedikit.kenapa kasar sekali sih mainnya"Suara rengekan gadis itu.
"Kamu itu bisa diam tidak, aku bahkan belum menyentuh titik itu."Bentaknya pada si gadis.
"Aduh, jangan..!!sakit tahu!"
"Akh..lembut sedikit dong!"
"Gue udah gak kuat, cepetan dong!bisa gak sih?"Gadis itu terus merengek.
"Makanya di buka dulu, baru bisa menyentuhnya.cepetan.biar enakan"Kata Zidane dengan suara lantang.
"Udah di buka nih, cepetan"
"Iya yang itu.sstt..akh..!iya terus, kaya gitu. tekan lebih kuat ya.lu kan cowok?masa kaya gitu aja gak bisa, lembek amat sih!"
"Akhhhh...jangan terlalu kuat, pelan sedikit dong"
"Hahaha..jangan disitu.geli tahu..hahaha.."
Suara rengekan dan desahan si gadis membuat Rian dan pelayan yang berada di balik pintu menjadi salah paham.ia mengira kalau Zidan sedang bermain di ranjang.
Walaupun itu benar di ranjang, tapi bukan seperti yang mereka bayangkan.
Karena rasa penasaran dan naluri lelaki Rian menggebu, ia pun mendobrak kamar Zidane dengan paksa.membuat si penghuni kamar terlonjak kaget dan terjatuh berbarengan ke atas kasur dengan posisi yang intim, membuat mereka semakin salah paham.
__ADS_1
Rok Sherly yang tersingkap menampakkan paha mulusnya terpampang jelas dan posisi Zidane di atasnya.seperti habis melakukan sesuatu.semakin membuat Rian dan pelayan salah paham.
"Gila lu bro, gercep juga nih!"Kata Rian yang melihat keintiman mereka.
"Apa yang kamu lakuin disini?"Tanya Zidane singkat masih dengan posisinya.
"Sorry deh, gue ganggu ya.ya udah lanjutin lagi mainnya.kita keluar.tapi ingat, mainnya jangan kasar ya tuan muda"Ucap Rian terkekeh sebelum menutup pintu kamar.
Zidan yang tersadar dengan ucapan sahabatnya itu, lansung berdiri dan menutup paha Sherly dengan selimut.ia langsung berteriak memanggil Rian.
"Dokter gila, kemari kau"Panggilnya pada Rian membuat Rian berbalik lagi.
"Gue gak mau ganggu kalian,"Ucapnya sambil berlalu dan melambaikan tangan.
"Kamu salah paham brengsek.kembali kesini atau ku pindahkan kau desa terpencil di pegunungan sana"Ancamnya pada Rian, mebuat dokter muda itu langsung masuk ke kamar lagi tanpa banyak alasan.
"Periksa dia"Ucap Zidane singkat.
"Apanya yang harus di periksa?apa gadis itu sudah tak perawan lagi.sampai dia susah payah menyuruhku datang hanya untuk memeriksa itu, atau dia ada kelainan?" Batin Rian bertanya tanya.
"Cepat periksa dia, kenapa bengong aja" Perintah Zidan lagi.
"Oke!"Ucap Rian singkat, tanpa bertanya lagi dia langsung menghampiri Sherly yang terbaring di atas kasur dan tertutup selimut
Rian langsung menyingkapkan selimut itu dan ia pun menarik rok Sherly ke atas membuat gadis itu maupun Zidane naik pitam.
"Aaaaaaaa, apa-apaan sih ini?"Tanya Sherly memegang roknya yang hampir tersingkap.
"Hei dokter gila, mau apa kamu?"Tanya Zidan dengan menarik tangan Rian.
"Eh, kan tadi kamu yang bilang kalau aku harus memeriksanya.bukan begitu tuan muda?"Kata Rian membela diri.
"Maksud kamu?"Tanya Zidane bingung.
"Tadi kan kamu bilang harus memeriksa, ini kan yang mau dibuktikan.bahwa dia masih suci atau sudah pernah berhubungan sama lelaki lain!"Tutur Rian pada mereka.
"Apa?ya tuhan, satu cowok dingin saja udah bikin gue naik darah.di tambah temannya yang gila.berani sekali dia berpikiran seperti itu"Kata Sherly kepada mereka.
"Seharusnya tanya dulu, yang mau di periksa itu apa?bukan langsung periksa saja dasar dokter gila kamu!pantas saja tak ada pasien yang mau berobat sama kamu"Cibir Zidane pada Rian.
"Hallo tuan muda!tadi kamu bilang cepat periksa dia.seharusnya kamu bilang dong apa yang harus di periksa kepadaku.jadi aku tak salah paham."Ucapnya tak terima.
"Jadi menurutmu, aku yang salah hehh?"Tanya Zidan dengan tatapan tajam.
"Alah mak..Mati gue, kalau dia sudah memperlihatkan mode garangnya.bisa bisa gue end"Batin Rian dengan menelan salivanya.
"Ah..hehehe..aku yang salah tuan muda, maafkan hambamu ini ya?"Ucapnya merayu dan merendah pada Zidane.
"Kalau begitu kerjakan pekerjaanmu dengan benar.periksa kakinya yang terkilir dan juga pinggangnya"Perintah Zidane.
"Eh, pinggang tidak usah.kakinya saja.lihat kakinya sudah bengkak"Kata Zidan lagi.
"Ah, benar.cuma kamu yang boleh memeriksa pinggangnya tuan.siapalah aku ini?"Batin Rian menatap sendu.
"Baiklah nona muda, perlihatkan kakimu yang sakit itu."Ucapnya pada Sherly.
Sherly pun menjulurkan kakinya ke arah dokter Rian, kemudian dengan perlahan Rian memeriksanya.namun tanpa sengaja dia menekan kaki Sherly yang bengkak membuat gadis itu mengaduh.
"Aduh dokter, sakit"Ringis Sherly membuat Zidane kembali duduk di sampingnya.
Dengan sengaja Zidane menggeplak kepala Rian di depan Sherly.
"Aduh, kenapa kau memukulku"Ucapnya pada Zidane.
"Kalau bekerja yang benar,"Kata Zidane datar dan santai.
"Apa maksudmu?"Tanya Rian tak terima.
"Aku mengerjakan tugasku dengan benar. iya kan nona muda?"Ucapnya kemudian beralih pada Sherly.
"Emh, cuekin aja si King Ice itu dokter." Kata Sherly kepada Rian.
__ADS_1
Ucapan Sherly membuat Zidane melotot tapi membuat Rian tersenyum
"King Ice katanya?hihihi...ada juga yang berani mengatainya begitu." Batin Rian.
Dia pun memeriksa kaki Sherly dan memberi obat serta membalut kakinya supaya terlindungi.
Epilog
Zidane membawa Sherly yang tertidur ke kamarnya, di depan para pelayan yang memperhatikannya.
Saat Zidane menaruh tubuh Sherly di atas ranjang king size miliknya, gadis itu terbangun dan ia pun terlonjak kaget dengan melompat dari atas kasur ke lantai.
"Mau apa lo?"Tanya nya yang melihat wajah Zidane tepat di depan wajahnya, ia mendorong tubuh Zidan sambil melompat ke lantai.
Sherly lupa kalau kaki sama pinggangnya sedang sakit,maka ia pun meringis kesakitan
"Akkhhh..shit, gue lupa kalau kaki sama pinggang gue sakit."Ucapnya.karena sakit yang di deritanya, membuat ia tak seimbang dan terjatuh.namun Zidane keburu menangkapnya.
Zidane cuma menatapnya dengan tatapan dingin dan datar."Sudah beraktingnya?" Tanya nya dengan nada dingin.
"Hahh, gu..gue." "Eh,kenapa gue yang gugup. seharusnya dia yang merasa bersalah!" Batin Sherly.
"Kemarilah"Kata Zidane singkat.
"Mau apa lu?"Tanya Sherly.
"Duduk lah"Perintah Zidane.
"Jangan macem macem ya!"Kata Sherly sambil terbungkuk menahan sakit.
Zidane pun mendengus kesal, kemudian menarik pinggang Sherly dan mendudukkan di atas ranjang.
"Akh, pelan sedikit.kenapa kasar sekali sih mainnya"Suara rengekan gadis itu.
"Kamu itu bisa diam tidak, aku bahkan belum menyentuh titik itu."Bentaknya pada si gadis.
"Aduh, jangan..!!sakit tahu!"
"Makanya duduk yang anteng"Ketus Zidane yang akan menyentuh kaki Sherly.
"Akh..lembut sedikit dong!"Rengeknya.
"Aku bahkan belum menyentuhnya"Kata Zidane yang kesel karena kaki Sherly tak mau diam.membuat dia susah untuk memijatnya.
"Gue udah gak kuat, cepetan dong!bisa gak sih?"Gadis itu terus merengek.karena dirasa kakinya cukup sakit sekali.
"Makanya di buka dulu, baru bisa menyentuhnya.cepetan.biar enakan"Kata Zidane dengan suara lantang.ia menyuruh Sherly membuka sepatunya.namun Sherly kesusahan.
"Udah di buka nih, cepetan"Ucap Sherly dengan ketus.
"Kemarikan kakimu,"Kata Zidan kemudian dituruti Sherly."Gimana, udah enakkan?" Katanya sambil memijit kaki Sherly.
"Udah kok, eh yang ini belom"Tunjuk Sherly pada pinggangnya.
"Iya yang itu.sstt..akh..!iya terus, kaya gitu. tekan lebih kuat ya.lu kan cowok?masa kaya gitu aja gak bisa,lembek amat sih!"
"Cih, bisa nya cuma merintah saja"Cibir Zidane pada Sherly.entah sadar atau enggak dia seperti mengatainys sendiri.
"Akhhhh...jangan terlalu kuat, pelan sedikit dong" kata Sherly.
"Aku sudah pelan ini, mau seperti apa lagi. bahkan tenaga saja belum ku keluarkan" Ucap Zidane, ia pun meraba pinggang Sherly dengan memalingkan wajahnya yang sudah merah merona.
"Hahaha..jangan disitu.geli tahu..hahaha.."
Dan sampai Rian masuk dan mendobrak pintu kamarnya itu, lalu kejadian yang di lihat Rian adalah keslah pahaman semata.
Bersambung.
***Ritualnya jangan lupa ya gengs..
Hatur nuhun๐๐๐***
__ADS_1