
Sebuah mobil menepi di pinggir jalan setelah melihat seseorang yang berjalan di Zebra cross.
Gadis cantik yang sudah lama mengisi hari-harinya, kini harus ia lepaskan begitu saja.
Wajah cantik nanteduh itu sedang berjalan dengan gontai di jalanan yang di lewatinya.
Ia terus memperhatikan gadis itu dengan seksama di dalam mobilnya.
"Apa alasanmu memutuskan cinta kita?"Ia terlihat sedih dengan bergumam.
Gadis itu melangkah ke sebuah toko buku dengan tak bersemangat.
Diikutinya gadis itu yang masuk ke dalam toko buku secara diam-diam seperti maling yang takut ketahuan.
Jujur, di dalam lubuk hatinya ia sangat masih mencintai gadis itu.Namun, dia harus menelan pil pahit dengan ucapan yang di katakan oleh gadisnya bahwa mereka harus putus.
Dari jauh, terlihat gadis itu membaca sebuah buku dengan serius yang entah apa judulnya.
Karena fokus menatap bukunya, ia sampai tak sadar bahwa seseorang duduk di sampingnya dengan santai.
Pemuda itu mengambil asal sebuah buku dan duduk di sampingnya.
Setelah beberapa menit, gadis itu sadar kalau dia sedang di perhatikan.Maka, ia pun menoleh ke arah kiri yang ternyata seorang pemuda yang sangat ia cintai sudah duduk di sampingnya.
"Sedang apa lu disini?"Tanya Iren ketus.
"Kamu gak lihat kalau aku sedang baca buku!" Diangkatnya buku itu untuk di tunjukkan padanya sambil memegang roti.
Iren pun melirik buku yang di pegang Indra dengan terbalik."Hebat ya, elu bisa baca buku dengan terbalik?"Cibirannya membuat Indra tersadar.
"Bukan untuk ngikutin gue kesini, kan?" Pertanyaan itu sengaja di tekankan.
Indra jadi salah tingkah karena ketahuan."Ohhh, suka-suka aku dong!"
Iren kesal di buatnya.Ia pun melangkah pergi dan meninggalkan Indra yang terus memperhatikannya.
"Yank, tunggu!"Indra mengejar Iren yang sudah keluar dari toko buku setelah membayar buku itu.
Iren tak mau mendengarkan teriakan Indra, ia terus melangkah menjauh dari pemuda itu.
Indra berlari dan menarik tangan Iren setelah dekat."Renita, tunggu dulu!"
Iren menoleh karena tarikan Indra."Apa sih, Ndra.tangan gue sakit tahu!"meronta berharap lepas dari genggaman tangannya.
Indra semakin mempererat peganggannya dan ia menarik tangan gadis itu menuju mobilnya.Di dorongnya sedikit tubuh gadis itu yang terus meronta.
Blugh..klick.
Pintu mobil di tutup lalu di kunci supaya gadis itu tidak melarikan diri.
"Apasih mau lu?gue gak mau ikut sama elu, Ndra."Iren berusaha membuka pintu mobil yang terkunci membuat Indra kesal.
"Shut up,"Teriakan Indra membuat Iren tak bergerak seketika.
"Aku cuma ingin berbicara sama kamu, kenapa kamu tak mau mendengar apapun dariku?"Indra kesal padanya.
"Please, yank.aku cuma ingin mengobrol sebentar sama kamu!"Pinta Indra dengan menyentuh kedua bahu Iren yang sedang tertunduk.
"Tak ada yang harus di bicarakan lagi di antara kita, Ndra."Ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Semuanya sudah berakhir!"Ia menahan tangisnya dengan berpaling ke arah jendela.
"Yank, tolong jelaskan alasannya!"Pinta Indra.
"Apa aku melakukan kesalahan yang membuatmu terluka?"Namun Iren menggelengkan kepalanya.
"Apa orang tuaku mengatakan sesuatu kepadamu?"Lagi-lagi Iren menggelengkan kepalanya.
"Lalu apa alasannya?"Teriak Indra membuat Iren tersentak.
"Aaaa..aku..aku"Ia terlalu takut saat ini.
Indra menyentuh wajah cantik Iren dan menghadapkan ke arahnya."Apapun alasannya, Insyaallah aku akan memperbaiki semuanya!"
Iren malah menangis mendengar penuturan Indra."Hiks..hiks..Maafkan aku!"Di tutupnya wajah cantik itu dengan kedua tangannya sambil terisak.
Indra langsung memeluk dan mengecup pucuk kepala Iren.
"Jika aku bersalah, tolong maafkan.Aku memang tidak paham dengan perasaan wanita.Jadi, tolong beri tahu aku apa kesalahanku itu, yank!"Wajah Indra menempel di samping wajah Iren.
"Bukan kamu yang salah, Ay.tapi aku.Aku lah yang bersalah kepadamu.Hiks..hiks..!"Iren menangis tersedu dengan menggenggam erat tangan Indra."Maafkan aku, huhuhuuu!"
Indra mengelus punggung mantan kekasihnya itu."Apa yang harus aku maafkan darimu?"
Pertanyaan Indra membuat hati Iren sedikit terenyuh.Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata."Aku tak bisa mengatakannya sekarang."
"Kapan..kapan kamu akan mengatakan semua alasannya padaku?"Tanya Indra.
"Suatu saat setelah aku sudah siap dan mempunyai keberanian untuk berbicara padamu!"Ucap Iren lirih.
"Tolong, biarkan aku pulang.Aku sedang tak enak badan!"Permintaannya pada Indra.
"Apa kamu sakit?"Indra menjadi cemas.
"Kita ke dokter, ya?"Ia menempelkan punggung tangannya di kening Iren.
Iren menggelengkan kepalanya."Aku cuma ingin istirahat saja!"
Indra menjadi terdiam."Baiklah, aku akan mengantarmu pulang!"Ucapnya kemudian menyalakan mesin mobil dan melajukannya di jalan beraspal.
Tak ada obrolan apapun diantara mereka selama dalam perjalanan.Iren terlihat memalingkan wajah ke arah jendela dengan pikirannya.Sedangkan Indra fokus menatap jalanan.
Jika saja malam itu aku tak datang, mungkin tak akan menjadi seperti ini.Ay, maafin semua kesalahanku.
Iren terlihat sedih dan frustasi karena memikirkan masalahnya.
__ADS_1
Sedangakan Indra, ia juga tak tahu harus berkata apa untuk membujuk gadisnya kembali ke sisinya.
Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali kepadaku, sayang?
Mereka diam dalam kekalutan hati masing-masing.
Sampai suara dering ponsel mengganggu kebisuan keduanya.
Kriiiing...kriiiing..
Bukan bunyi sepeda roda tiga.Melainkan bunyi ponsel Indra pertanda panggilan masuk.
Digesernya warna hijau dan ia menyalakan loudspeaker.
"Hallo,"Ucapnya sesaat setelah menggeser warna hijau di layar.
"Hallo, sayang.kamu dimana?"Suara perempuan terdengar membuat Iren terhenyak begitupun Indra.
"Siapa ini?"Tanya Indra sambil melirik gadis di sampingnya.
"Masa kamu lupa sama aku sih?baru kemarin kamu yang chatt ke nomerku dan meminta ketemuan!"Perempuan itu mengingatkan namun Indra tak merasa.
Sedangkan Iren terlihat cemburu dan kesal di buatnya.
Katanya cinta sama aku tapi ada perempuan lain yang memanggilnya sayang.huuuhh!
"Salah sambung kali, mbak!"Sebelum di tekan warna merah di layar ponsel, perempuan itu berkata sampai membuat Iren berpaling.
"Kamu jangan pura-pura lupa dong.Ayo, kita ketemuan hari ini!"Ajaknya pada Indra.
"Maaf, gue gak kenal!"Ketus Indra namun perempuan itu berkata lagi.
"Pokoknya aku menunggumu sekarang juga di basecamp!"Ucapnya terkekeh.
"Basecamp..basecamp yang mana?"Indra melirik Iren.
"Basecamp kita dong, Jalu sayang!Aku selalu menunggu kedatanganmu"Ia terkekeh dan membuat Indra juga Iren saling pandang.
"Wasyem lu, Geri.kurang di hajar!"Indra berteriak pada si penelpon.
"Hahahaaa...Jalu ku sayang.kemarilah, aku kangen!"Dia malah tertawa karena ketahuan dan merubah suaranya kembali.
"Dasar, Jawir.tungguin di situ, gue cuss kesana" Diputusnya panggilan itu dan ia langsung melajukan kendaraannya menuju ke basecamp.
"Anterin aku pulang dulu!"Pinta Iren singkat.
"Kita kesana dulu ya.kamu kan sudah lama gak ikut nongkrong bareng!"Kata Indra.
"Tapi..!"Ia bingung jika harus kesana.
"Bentaran doang, yank."Ucapan Indra membuat Iren terenyuh.
Apa kamu tak bisa melepaskanku, Ay?
Iren memilih diam tak berkata apa-apa.
Mobil Indra melaju dengan kencang menuju basecamp mereka.
Iren tampak ragu untuk melangkah masuk karena bisa di pastikan mereka akan bertemu membuat suasana menjadi canggung.
"Ndra, sebaiknya gue balik deh!"Iren berbalik lagi saat Indra melangkah masuk.
"Ayo lah, mereka sudah pada nunggu!" Genggaman tangan Indra mulai di eratkan.
Mau tak mau Iren pun masuk bersama Indra.
"Hai semua, apa kabar?"Indra berbasa basi kepada ketiga sahabatnya.
Ketiganya cuma melirik sekilas kemudian melanjutkan kembali makan siang mereka.
"Asem, gue dicuekin!"Indra duduk di samping Dika dan langsung mencomot makanan dari piring Dika.
"Woi, ini punya gue.Tuh, punya lu!"Tunjuknya ke depan Sherly dan langsung di ambil olehnya.
"Pelit, lu"Di bukanya bungkusan nasi itu.
"Yank, sini dong!"Ajak Indra kepada Iren yang termenung di ambang pintu.
Sontak ketiganya menoleh.
"Hai, gue gak tahu kalau elu ikut, Ren?Nasi bungkus cuma beli empat.Gimana dong?"Kata Geri setelah melihat gadis itu.
Iren menggelengkan kepala."Gak apa, gue juga sudah makan, tadi"Ia duduk samping Sherly.
"Makan ma gue aja, nih!"Sherly memberikan sendoknya supaya Iren makan.
"Sepiring berduanya sama gue aja, Ren!"Geri terkekeh sambil melirik Indra yang melotot ke arahnya.
"Berani lu?"Indra berdiri dengan mengacungkan sendok ke arah Geri yang sedang tertawa meledeknya.
Sedangkan Dika dan Iren sendiri terlihat canggung.
Sherly berdiri dan menghentikan mereka.
"Buruan selesaikan makannya, kita harus ngurusin kasus baru nih."
Mereka pun menoleh ke arah Sherly dan protes."Kok kasus baru sih, bukannya lu mau tunangan?"Protes Geri.
"Kenapa masih ngurusin kasus kematian orang sih, Sher?"Indra pun tak setuju.
"Gue gak mau kalau nanti si Zidane marah sama elu, beib!"Dika mengelus punggung Sherly."Gue sayang sama lu.Jadi, gue gak mau ada yang marahin lu"Lanjutnya.
Sherly tersenyum."Ini juga permintaan dia?"
"Jadi, dia mengizinkan lu pergi?"Tanya Geri yang diangguki Sherly.
Perkataan Sherly membuat mereka menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"Jadi gini....."
《《《Sherly pun menceritakannya....
Di malam setelah Zidane pulang dari rumah Sherly, tak sengaja ia melihat anak kecil yang berlarian di jalan dengan riang gembira.
Zidane menghentikan motornya saat anak itu berlari dan hampir tertabrak olehnya.
Anak itu malah tertawa dan melanjutkan permainannya.
"Dia bukan manusia ternyata!"Zidane pun melajukan motornya kembali.Namun tak beberapa lama, anak itu kembali berlari ke arahnya.
"Om, tolongin aku.Dia mengejarku terus!"Ia terlihat sangat ketakutan.
"Siapa?"Zidane mengedarkan pandangannya namun tak ada siapapun.
"Dia om, orang itu terus mengejarku.Aku takut, om!"Dia terus merengek meminta bantuan pada Zidane.
Zidane terdiam sejenak."Apa kamu yang terlibat kecelakaan tadi siang?"Tanya nya pada anak itu yang mengangguk cepat.
"Kamu mati tertabrak mobil?"Lagi-lagi anak itu mengangguk.
"Karena di kejar oleh orang itu, aku jadi tertabrak mobil, om!"Ia sangat sedih.
"Dia juga yang membuat ibuku meninggal, om." Lanjutnya.
"Orang itu, siapa?"Zidane penasaran.
"Dia selalu memakai pakaian serba hitam, dan juga..dan.."Anak itu terlihat bingung.
"Baiklah, ayo ikut sama om.biar nanti seseorang yang membantumu."Kata Zidane.
Anak itu pun di bawa pulang oleh Zidane ke rumahnya serta tinggal bersama Nania dan Alea.
"Pergilah bersama teman-temanmu untuk membantu seorang anak yang membutuhkan pertolongan.Aku mengizinkannya" Pesan singkat terakhir yang di kirim Zidane sebelum ia ke kantor pagi tadi.
》》》》
"Gimana, kalian mau kan membantu anak itu?"Sherly berharap untuk di setujui.
Mereka saling pandang kemudian mengangguk."Oke kita bantu, demi lu!"
"Yeeeaaaahhh!"Sherly berjingkrak-jingkrakan kegirangan.
"Girang banget?"Dika terkekeh melihat Sherly yang berjingkrak-jingkrakan.
"Iya dong.Gue kan nanti dapet ha....!"Ia tak jadi mengucapkannya setelah melihat tatapan dari keempat sahabatnya.
"Ha..apa?"Mereka jadi penasaran.
"Ha..haassyyiiimm..kayaknya gue mau flu deh!heheeee.."Alibinya.
Mereka pun melengos dan tak menghiraukan Sherly yang sedang bersin.
Untung aja gue gak keceplosan.
Sherly pun melangkah meninggalkan mereka yang sedang makan.
Di bukanya kunci ponsel dan ia pun mencari nomor kontak kemudian memanggil seseorang. "Hallo, mereka udah setuju!"
"......."
"Mereka kan teman baikku, kenapa pada gak mau!"
"....."
"Jangan lupakan hadiah yang tadi pagi kamu janjikan!"
"....."
"Awas ya kalau bohong!"
"....."
Sherly pun mematikan ponselnya.Ia tersenyum menatap layar ponsel yang sudah di matikannya.
Setelah memutuskan panggilannya, ia pun melangkah ke dalam kembali.Namun saat berbalik, ia di kejutkan dengan teriakan keempat sahabatnya."Haaaaaaaaaa"
Sherly berlari masuk dengan terburu-buru.
"Ada apaan sih?"Ia celingukan kesana kemari namun tak ada satu pun dari and the genk terlihat disana.
"Weeehh, kemana mereka pergi?"Di tengoknya kiri dan kanan serta kesana-kemari namun and the genk tetap tak ada di mana-mana membuat Sherly cemas.
"Guys, kalian dimana?"Teriak Sherly namun mereka tetap tak ada yang menjawab.
"Dika, Indra, Geri, Iren, kalian dimana sih?" Sherly semakin khawatir dengan mereka.
"Ya tuhan, kemana mereka pergi?barusan ada suara teriakan mereka.Tapi, sekarang kemana orangnya.
"Astaga..apa yang harus gue lakuin?"Ia terlihat cemas dan tak tenang.
Sherly mencari mereka ke setiap sudut ruangan basecamp namun tak ada satu pun yang terlihat membuat ia semakin khawatir.
"And the genk!"Teriak Sherly frustasi karena tak melihat mereka dimana pun.
"Kasus anak itu belum di buka, ini malah nambah kasus baru.Masa gue harus mecahin kasus hilangnya And the genk juga sih!"
"Huaaaaaaaaa"
**Bersambung guys..
Kira-kira, and the geng kemana sih?
Penasaran deh!🤔🤔
Lanjut besok lagi guys.😉😉
__ADS_1
Maafkan segala kekurangan otor ya gengs. Otor tak sepandai para penulis lain yang hebat di luar sana.Karya otor juga terbilang ecek-ecek...🤗🤗
Terima kasih yang selalu mendukung otor😘😘**