
"Itu Zidane!"
Saat mendengar teriakan Indra yang menunjuk suaminya, Sherly nampak lega.
Dia pun berlari dengan tertatih ingin memeluk suami tercintanya. "Sayang."
Zidane tersenyum ke arah istrinya dengan perasaan rindu yang teramat sangat. Dia merentangkan kedua tangan untuk menyambut istrinya dan membawanya kedalam pelukan.
Perlahan Zidane berjalan ke arah luar supaya dia bisa memeluk istri tersayangnya.
Namun, Zidane tak tahu jika pamannya kini sudah berada di belakang dengan penampilannya yang mengejutkan. Wajahnya berubah menyeramkan dan tubuhnya pun sedikit lebih besar dan tinggi.
Hendri melompat dari atas tanpa ada suara. Sehingga, Zidane tak menyadari kedatangannya disana.
Mereka yang melihat Hendri dengan wujud seperti itu hanya bisa membelalakan mata. Bagaimana tidak? Hendri tampak menyeramkan dengan penampilan yang seperti itu.
"Awas!"
Namun teriakan peringatan mereka tak bisa membantu Zidane karena dia tak sempat menghindar dari tarikan tangan Hendri yang membawanya masuk kembali kedalam bangunan tua tersebut.
Tiba-tiba ...
Bluuuuuugghhh
Bangunan tua yang sudah setengah runtuh itu, sekarang hancur dan rata dengan tanah. Menimpa Zidane dan Hendri yang berada di lantai paling bawah.
"Tidak!"
Semua berteriak melihat kejadian naas yang menimpa Zidane.
"King ice!" Sherly berusaha berlari mendekat namun Al menahan tubuh adiknya.
"Jangan, dek. Berbahaya!" Al terus mendekap tubuh adiknya.
"Lepaskan aku, kak. Aku mau nolongin suamiku. Dia ... dia ...!"
"Sher, kakak akan meminta bantuan tim penyelamat untuk mengangkat puing-puing reruntuhan itu." Deni langsung menelpon tim penyelamat dan tim medis supaya datang ke tempat tersebut.
"Sher, elu harus kuat dan sabar. Kita tunggu mereka datang dan menyelamatkan suami lu."
"Enggak. Gue akan lakukan penyelamatan suami gue sendiri. Gue gak mau dia kenapa-kenapa jika kelamaan disana." Sherly terus meronta melepaskan diri supaya bisa menolong suaminya.
Drrrrggghhhh ... brakkk
Puing-puing reruntuhan berterbangan ke atas seperti di dorong kuat dari bawah oleh seseorang sampai mereka semua terkejut.
Sherly berlari mendekat setelah lepas dari dekapan tangan kakaknya. "King ice!" Ia terus meneriakan panggilan untuk suaminya.
"Sherly ... berbahaya!" Indra dan Geri berlari mendekati Sherly. "Bagaimana jika reruntuhan itu menimpa tubuh lu? Kitapasti akan sedih." Lanjut Indra dan Geri.
"Itu pasti dia. Suami gue bakal kembali, iya kan?" Matanya berbinar menatap ke depan.
"Ya tapi jangan terlalu dekat, Sher. Bahaya." Indra langsung menarik tangan Sherly untuk menjauh dari reruntuhan itu.
__ADS_1
Dari bawah reruntuhan, seseorang bergerak dan menyingkirkan satu persatu puing yang menindih tubuhnya. Perlahan dia pun nampak muncul ke atas dan melompat keluar dari tumpukan reruntuhan tersebut.
Swuuussshhh ... jleg
Dia mendarat dengan sempurna di hadapan semua orang yang berada di tempat itu. Awalnya, mereka senang dan mengira jika Zidane lah yang keluar dari reruntuhan tersebut. Tapi, mereka harus menelan kenyataan kalau orang yang berdiri di hadapan mereka bukanlah orang yang di harapkan. Melainkan, orang yang di benci mereka saat ini.
"Hai sayang. Wajahmu sangat tegang sekali. Apa saya membuatmu sangat khawatir karena tertimpa reruntuhan?"
Hendri berjalan mendekat kearah Sherly dengan mengulurkan tangannya. Namun, dengan cepat Indra dan Geri menghalangi dengan tubuh mereka supaya Hendri tak dapat menjangkau Sherly.
"Jangan mendekat! Atau kau akan tahu akibatnya!" Ancam kedua sahabat Sherly.
Hendri memicingkan mata kemudian tergelak sangat keras. "Hahaha ... kalian manusia bodoh yang lemah. Apa kalian akan melawan saya yang kuat dan perkasa ini?" Ledeknya kepada keduanya.
"Kita gak takut sama manusia iblis macam lu. Kita akan melawan lu sekuat tenaga." Keduanya berkata tanpa ragu.
"Ooohh, sudah mulai berani rupanya ya. Tidak seperti dulu lagi ternyata." Cibir Hendri. "Saya selalu bersama kalian dan mengikuti gerak-gerik kalian selama ini. Jadi, saya tahu bagaimana kemampuan kalian."
Tanpa di duga, Hendri langsung menyerang kedua sahabat Sherly yang belum siap untuk apapun penyerangan dari Hendri.
Hiyaaa ... bakkkk ... bughh ... blugh
Keduanya terkena pukulan Hendri dengan mudah sampai mereka tersungkur di tanah dengan luka di wajah dan perut mereka yang terkena pukulan.
Aldrian, Deni, dan Dika yang melihat itupun tak tinggal diam. Mereka bertiga berlari menerjang Hendri yang sedang melayangkan pukulan kearah keduanya.
Terjadilah pertarungan antara mereka dengan sengit.
Karena Hendri sudah di rasuki sesuatu, dia pun menjadi sangat kuat dan tak tertandingi oleh siapapun. Apalagi, hanya kekuatan manusia biasa yang melawannya.
"Hahaha. Apa kalian sudah sadar sekarang bahwa saya adalah manusia terkuat di dunia ini?" Dia berdiri dengan sombongnya. "Kalian seharusnya mengalah dari awal jika tak ingin babak belur seperti ini," Cibirnya kemudian.
"Cuih. Aku gak akan pernah mengalah dan gak akan mengaku kalah darimu, dasar iblis." Aldrian bangkit dan menerjang tubuh Hendri lagi.
Walaupun Aldrian berusaha sekuat tenaga, namun Hendri dengan mudah menangkap setiap gerakan Al dan dia pun kemudian membanting tubuh Al ke tanah dengan sangat keras.
"Aaarrrggghhh ... Ukhuk ... ukhuk." Darah keluar dari mulut Aldrian.
"Kakak!" Sherly berlari ke arah kakaknya namun dengan cepat tangannya di cengkram oleh Hendri. "Lepaskan gue, brengs*k!" Ia meronta ingin melepaskan diri namun tak bisa karena Hendri menggengganmnya dengan kuat.
"Ckckck ... kakak ipar sayang. Kau itu tetap tak mau tahu ya jika saya bilang kalau kalian itu tak bisa melawan kekuatan saya. Jadi, tolong maafkan adik iparmu ini ya yang tak sengaja menyakitimu!" Nada cibiran terdengar dari perkataan Hendri.
"Le-paskan ukhuk ... adikku." Suara Aldrian sangat lirih hampir tak terdengar.
"Apa? Saya tidak mendengar perkataanmu, kakak ipar." Hendri menyentuh telinganya dan mengarahkan kepada Aldrian dengan sengaja. "Bukankah kau itu orang yang tegas dan berwibawa? Kenapa suaramu seperti itu? Bahkan, semut pun tak bisa mendengar suaramu." Cibirnya terus menerus.
Aldrian berusaha bangkit namun Hendri menginjak tubuhnya dengan kaki kirinya. "Jika kau terus berusaha melawan, saya takut kau akan terluka dan tak bangun untuk selamanya. Nanti, istri tersayangku akan sedih dan marah kepada suaminya ini. Iya kan, sayang?"
"Singkirkan kakimu dari tubuh kak Al, Hendri!" Kata Sherly dengan lantang.
"Sayang, kalau saya menyingkirkan kaki dari kakakmu, dia akan menyakiti saya lagi." Ucapnya dengan nada manja.
Ingin sekali Sherly mengucek wajah sok lugunya Hendri saat ini. Ia kesal sampai menendang ************ Hendri dengan sangat keras sampai si empunya mengaduh kesalitan.
__ADS_1
"Aaarrrgghhhh ... apa yang kau lakukan, sayang? Kau menyakiti milikku. Dia belum pernah merasakan rasanya menengok jabang bayi di rahimmu." Hendri mengaduh sambil memegangi adik kandungnya.
"Cih. Mimpi aja lu. Gue gak sudi melihat milikmu itu. Apalagi, jika dia berani masuk kedalamnya. Gue pites jika dia berani menampakkan wujudnya di depan gue." Sherly memperagakan mematahkan ranting dengan tangannya.
"Uuuwww, Sherly serem amat. Tuh junior milik si Hendri mau di pites kalau dia nongol keluar di depan Sherly." Bisik Dika.
"Iya. Untung lu dulu nampakin si ali oncom cuma sama Iren, bukan sama Sherly. Kalau kagak, si ali oncom tinggal kenangan bro." Indra berbisik dan diangguki Geri.
"Sialan lu. Dulu gue gak sengaja juga kali buat nampakin kegagahan si ali ... eh, kenapa gue jadi mengakui nama ali oncom ya. Dasar kalian ... plak plakkk." Tangan Dika melayang di kepala Indra dan Geri.
"Wasyem lu. Kurang ajar emang. Maen geplakin kepala orang aja. Gini-gini gue udah jadi bapak." Indra tak terima dengan perlakuan sahabatnya.
"Tahu ih. Gue juga calon bapak tahu." Indra dan Dika langsung menoleh ke arah Geri.
"Maksud lu? Apa si doyok udah gak perjaka dan melakukan sesuatu mengikuti jejak si ali oncom?" Dika melotot ke arah Indra yang sengaja mengungkit masalah itu.
"Kagak lah. Gila lu pikirannya kek gitu banget ama gue. Si jawir udah sah milik seseorang." Ucapnya bangga.
"Seriusan? Kapan lu marriage? Kok kita kagak diundang?" Indra dan Dika menatap tajam.
"Gue nikah pas ..."
"Woi, kalian bertiga. Saya disini sedang menahan sakit karena tendangan kaki istri yang terkena burung perkutut milik saya. Kenapa kalian malah ngobrol?" Hendri kesal karena merasa tak di perhatikan.
"Salah sendiri. Kenapa terus-terusan mancing amarah Sherly. Lagipula, Sherly bukan bini lu. Tapi, bininya keponakan lu. Dasar bapak tua kagak tahu diri." Cibir ketiganya.
Sedangkan yang di bicarakan sedang memeluk kakaknya yang terkapar di tanah karena ulah Hendri.
"Kalian berani memanggil saya dengan sebutan bapak tua? Apa kalian sudah menyerahkan hidup kalian untuk saya?" Seketika aura jahat muncul dari diri Hendri.
"Alamak. Matilah kita. Dia kelihatannya marah besar tuh!" Nyali ketiganya menciut kaya kerupuk terkena air setelah melihat amarah Hendri.
"Gak usah takut sama penjahat itu. Aku sudah mendapatkan bantuan." Nania yang sejak tadi tak kelihatan wujudnya, ternyata pergi mencari bantuan.
"Cih, hantu wanita yang sombong. Ternyata kau pergi mencari bantuan untuk mengalahkan saya." Hendri berdecih melihat Nania yang datang dengan beberapa hantu dan jin baik.
"Kami akan melawan kamu sampai kamu kalah." Teriak Nania.
"Oh ya. Dengan apa kalian akan mengalahkan saya yang kuat ini?" Ucapnya sombong.
"Dengan seluruh kekuatan kami."
"Baiklah kalau begitu. Tunjukkan kekuatan kalian supaya saya tahu mana yang terkuat. Biar saya bisa menyerap kekuatan dari kalian. Hahaha."
Para jin dan hantu saling berpandangan mendengar ucapan Hendri. Apa benar manusia di hadapannya ini mampu menyerap energi dan kekuatan milik mereka?
"Tunggu apa lagi. Ayo serang!" Walaupun ragu, mereka tetap menyerang Hendri yang seorang diri.
Pertarungan antara mereka pun tak terelakkan. Tapi, bagaimana cara mereka bisa mengalahkan manusia setengah iblis yang sedang bertarung dengan mereka tersebut.
Namun, mereka tetap berusaha mengalahkan manusia sombong ini dengan kekuatan mereka sendiri.
Mungkin hanya Zidane yang tahu akan cara mengalahkan Hendri. Tapi, apakah Zidane akan selamat dari tumpukkan reruntuhan bangunan tua? Atau, Zidane saat ini sudah tak bernyawa? Entahlah.
__ADS_1
Yuk, dukung author dengan like, komen, dan votenya.