Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Menghilangnya Dika


__ADS_3


Pagi itu, Iren berlari ke kamar mandi menuju washtaple. Ia tak dapat menahan rasa tak enak di perutnya. Sejak kehamilannya di bulan pertama sampai di bulan ke tujuh ini, Iren selalu merasakan mual dan keram di sekita perutnya. Sehingga dia tak bisa memasukkan makanan untuk di cernanya.


"Wuueeekkk!" Iren terus memuntahkan apapun yang di makannya.



Dika yang mendengar istrinya sedang muntah dari dalam kamar mandi pun menjadi tak tega. Wajahnya menatap ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia beranjak dari tidurnya dan langsung menghampiri istrinya di dalam kamar.



Dilihatnya Iren yang tak berdaya dengan wajah yang pucat. Maksud hati ingin membantu istrinya supaya lega. Dika mendekat dan memijat tengkuk Iren dengan perlahan, tapi tangannya di tepis oleh Iren.


"Gue gak butuh perhatian dari lu. Sebaiknya elu pergi deh, Dik!" Ketus Iren padanya.


"Tapi Ren, setidaknya gue bantuin lu biar enakan ya?" Nada bicaranya selembut mungkin supaya Iren tak marah.


"Apa yang lu bisa lakuin supaya hidup gue tak seperti ini? Asal lu tahu Dik, hidup gue sangat menderita. Jadi gue minta sama lu, jangan sok perhatian deh sama gue!" Ketusnya lagi dengan menatap Dika di pantulan cermin.


Memang bukan kali pertama Iren ketus pada Dika setelah mereka menikah, tapi hari ini terasa menyakitkan buat hati Dika.


Setiap hari tidur di kamar yang berbeda, makan di meja yang terpisah, bahkan tak saling sapa satu sama lain pun sudah biasa baginya. Dika maklum karena mungkin Iren sedang hamil dan katanya orang hamil itu perasaannya selalu seperti itu.


Tapi dengan perlakuan Iren hari ini, Dika merasa Iren keterlaluan. Kalau istrinya itu membencinya, tidak apa-apa. Dika cuma hanya ingin dihargai sebagai suami dengan semua perhatian yang di lakukannya. Hanya itu.


Di turunkan tangan itu dari tengkuk istrinya. Ia pun hanya menatap sendu. "Gue cuma memenuhi kewajiban gue sebagai suami. Jika lu gak suka dan membenci gue, gak apa Ren. Itu hak lu." Kata Dika dengan lirih.


"Tapi, setidaknya lu lihat perhatian dari gue. Maaf kalau lu menderita selama hidup sama gue, gue akan membebaskan lu setelah anak kita lahir ke dunia." Dika pun melangkah keluar dari kamarnya dan meninggalkan Iren yang hanya diam menatapnya dari pantulan cermin.


Bagaikan seribu duri, perkataan dan perlakuan Iren menusuk ke hatinya. Memang mereka menikah karena terpaksa, tapi setidaknya Iren harus menghargainya sebagai suami.


Sementara Iren hanya termenung di tempatnya. Perkataan Dika tadi seolah menyadarkannya dari satu kewajibannya sebagai istri. Ia pun terduduk dan menangisi perlakuan kasarnya tadi terhadap suaminya.


Memang kecelakaan itu bukan sepenuhnya salah Dika. Kalau saja Iren tak membiarkan Dika melakukannya, mungkin tak akan ada janin yang tumbuh di rahimnya.


Melihat Dika pergi begitu saja, hatinya jadi sedikit kecewa.


"Apa gue sudah keterlaluan kepadanya?" Iren terisak dan mengusap sisa air mata di pipinya.


Dengan menaiki motornya, Dika pergi entah kemana. Dia memilih menghindar dari pandangan Iren supaya tidak mempengaruhi moodnya dan janin yang dikandung istrinya.


Sebuah pemandangan laut menjadi tempat melepaskan segala kesedihannya. Wajah tampan itu terlihat sendu dan kusut.


"Kenapa hidup gue seperti ini? Disaat gue menerima segalanya, bahkan istri gue pun gak menghargai apapun yang di lakukan gue kepadanya. Kenapa tuhan?" Teriak Dika melepaskan kekesalannya.


Ia terduduk dengan menjambak rambutnya dengan kasar. "Haaaaaa!" Teriak Dika lagi sambil mendongakkan kepalanya ke atas.



Ia terus berjalan lebih mendekat menuju arah laut dan berdiri di pinggir jurang di atas lautan. Pandangannya mulai kabur karena matanya yang berkaca menahan tangisnya.


Tak terasa, air mata pun meluncur begitu saja membasahi pipinya.


"Harus kah gue pergi untuk selamanya?" Pikiran Dika mulai tak terkontrol. Entah setan apa yang merasukinya, hingga dia berpikir seperti itu.


"Maafin gue ... maaf!" Bayangan dirinya di air laut itu seakan memanggilnya sehingga Dika pun melompat dan terjun ke dalam laut yang dalam itu.


"Renita ...!" Teriaknya saat dirinya tercebur kedalam air laut.


▪▪▪▪▪


Malam sudah semakin larut, namun Dika tak terlihat pulang kerumah. Sudah dua hari dia tak pulang, bahkan sekedar menghubunginya.

__ADS_1


Iren terlalu malu untuk menghubungi orang tua Dika dan para And the genk hanya sekedar menanyakan keberadaan suaminya itu.


Apa kata mereka nanti, nanti mereka mengira kalau gue cinta mati lagi sama si Dika. Hemh!


Namun, ia juga berpikir lagi. Kalau terjadi sesuatu sama Dika bagaimana?


Iren menjadi khawatir. Perasaannya semakin tak karuan karena suaminya itu tak kunjung pulang, ditambah perkataan kasarnya tempo hari.


"Kemana dia pergi? Apa ke tempat anak-anak?" Ia pun menghubungi satu persatu sahabatnya.


Tuuuttt ... tuuuuttt.


Nada tunggu panggilan terdengar dan dia sabar menuggunya.


"Hallo!" Terdengar suara Geri menjawab panggilannya.


"Hallo Ger, gue mau tanya. Emmm, Dika ke tempat lu gak?" Tanya Iren langsung setelah menjeda ucapannya.


"Dika? Gak ada tuh! Lagian, gue bukan istri keduanya yang harus setiap hari digilir waktu!" Jawab Geri dengan candanya.


"Gue serius, Ger!" Nada bicara Iren terdengar kesal.


Geri tergelak mendengar ucapan kesal Iren. "Hahaha, Dika suami lu. Kenapa tanya sama gue? Lagian, ini sudah jam berapa Ren? Tengah malam gini ya waktunya suami istri bercinta, bukan kelayapan ke rumah sahabatnya!" Perkataan Geri membuat Iren sedikit tersindir.


Jangankan bercinta, tidur satu kamar bahkan satu ranjang saja tidak pernah.


Selama ini, Dika selalu tidur di sofa ruang tengan dan Iren tidur di kamar sendirian. Bukan Dika sengaja melakukan itu, tapi dia sendiri lah yang memaksa Dika untuk tidur di luar dan Dika pun tak pernah protes atas permintaannya.


Bahkan, Dika tidak pernah mempermasalahkan apapun yang di inginkan Iren.


Tidak saling menyapa dan tidak pernah duduk berdua jika makan.


Selama empat bulan menikah dengannya, Iren selalu tak memperhatikan dan tak menghargai Dika sama sekali.


"Ren, Renita ..., lu masih disitu?" Tanya Geri karena tak mendengar suara sahabatnya itu.


"Ah iya Ger. Gue ...," Iren tak bisa berkata apapun lagi. Yang dipikirannya sekarang adalah keberadaan Dika.


"Makasih, Ger. Bye!" Di tutupnya sambungan telpon oleh Iren sebelum Geri mengucapkan sesuatu.


"Ren, gue ..., hallo!" Dia tak dapat mengatakan apapun karena sambungan sudah di putus sebelah pihak.


"Dasar Iren, bilang saja kalau khawatir." Geri pun melanjutkan tidurnya karena ini sudah pukul 23.30 yang artinya sudah larut malam.



Sementara dirumah itu, Iren terlihat mondar mandir dengan perasaan yang sangat gelisah.


"Gue telpon Sherly saja deh!" Di carinya nomor telpon Sherly dan ia pun menggeser warna hijau kemudian menunggu panggilannya di jawab.


"Hallo, assalamuala'ikum!" Suara Zidane yang terdengar menjawab panggilannya.


Iren menjadi bingung antara menanyakan atau tak jadi saja. "Kenapa Zidane yang jawab sih!"


"Waalaikumsalam. Emm, hai Zidane. Maaf mengganggu malam-malam begini. Aku cuma mau menanyakan kabar kalian saja, hehehe!" Akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya.


"Oh, kabar kami baik." Jawab Zidane lembut."Kamu gak mengganggu kok. Disini masih siang, jadi santai saja ya!" Lanjutnya lagi.


"Masih siang? Memang kalian lagi dimana?" Tanya Iren penasaran.


"Kami sekarang lagi di Amsterdam. Ada urusan yang harus aku selesaikan di kantor pusat, sekalian kami akan honeymoon setelahnya." Tutur Zidane.


"Owh, ya sudah. Aku ...!"

__ADS_1


"Nah, ini sahabatmu datang!" Zidane menghentikan ucapan Iren.


"Sayang, Iren telpon." Memberikan ponsel kepada istrinya.


"Hallo honey, apa yang membuat lu nelpon gue setelah sekian lama bertapa di gua toke?" Candaan Sherly sedikit membuat Iren tersenyum.


"Hei, lu kira gue apaan. Dasar lu!" Dia tersenyum di ujung sana.


"Hahaha," Sherly tergelak mendengar suara sahabatnya.


"Apa lu bahagia, beb?" Tanya Iren.


"Gue sangat bahagia. Lu tahu gak Ren, si king ice sudah janji sama gue kalau setelah pekerjaannya selesai, gue mau di ajak keliling eropa. Asyik kan?" Kata Sherly dengan senyum yang tak pernah hilang di wajahnya.


"Hemh, gue seneng denger lu bahagia seperti ini." Tutur Iren dan dia pun tak jadi menanyakan perihal tentang Dika.


"Percuma gue nanya, dia gak bakal tahu tentang keberadaan Dika." Batin Iren.


"Ya sudah Sher, gue tutup ya. Disini sudah malam dan gue sangat mengantuk. Hooaaammh, bye Sherly. Selamat bersenang-senang ya!" Dia pun menutup panggilannya setelah Sherly menjawab. "Bye Iren,"


"Hufft, yang terakhir cuma Indra. Apa gue sanggup mendengar suaranya?" Ia pun ragu namun tetap melakukan panggilan kepada Indra.


"Hallo!" Suara lembut Indra membuat hati Iren terenyuh. Seketika rasa bersalah menyelimutinya.


Ia terdiam dengan air mata yang menetes di pipinya.


"Hallo, Ren!" Suara Indra kembali terdengar dan menyebut namanya. Bukan panggilan seperti saat dia bersamanya.


"Ren, ada apa telpon gue? Apa ada masalah?" Pertanyaan Indra menyadarkan lamunan Iren di tambah suara wanita yang memanggil Indra dengan mesra.


"Siapa itu, sayang?" Suaranya terdengar mendekat ke arah Indra.


"Dia sahabat aku, sayang!" Kata Indra sedikit menjauh dari ponselnya namun masih di dengar Iren.


Hati Iren menjadi sakit saat mendengar ucapan lembut Indra kepada wanita lain. Tapi, itu sudah hak dia untuk memilih wanita lain karena memang Indra harus melanjutkan hidupnya.


"Semudah itu kah kamu melupakanku, Ay?" Batin Iren yang terus menangisi mantan pacarnya itu.


"Sayang, ayo kita pergi. Kakak sudah nunggu kita di luar!" Rengekan wanita itu mengajak Indra untuk beranjak dari duduknya.


"Sebentar dong sayang, aku lagi telponan dulu. Kamu tunggu aku di luar ya?" Pinta Indra dengan nada mesra.


"Hallo Ren, kalau lu gak mau ngomong, gue tutup ya? Soalnya, kita mau pergi nih!" Kata Indra di ujung telpon.


"Gue do'akan elu selalu bahagia bersama Dika dan calon anak kalian. Bye, Ren. Assalamuala'ikum!" Dan sambungan itu di putus oleh Indra.


Iren menjatuhkan dirinya di ranjang dengan keras setelah mendengar setiap perkataan Indra.


"Haaaaa!" Teriaknya sambil menangis.


"Aku menyesal, Dika. Maafin aku, maaf!" Iren menangis sambil meringkuk di atas kasur.


Rasanya dia sangat sedih dan khawatir.


Ketiga sahabatnya sudah di hubungi, namun tak ada yang tahu keberadaan Dika. Walaupun dia tidak menanyakannya, dia tahu kalau mereka tak tahu dimana keberadaan Dika saat ini.


Sherly saat ini sedang bersama Zidane di Amsterdam. Dan Indra pun sedang bersama pacar barunya. Mereka tak mungkin tahu keberadaan Dika saat ini.


Sementara di tempat Indra berada, ia menatap ponselnya yang sudah mati. Sebenarnya, ia sangat senang dan juga sedih mendengar suara Iren.


Senang karena sudah sekian lama ia tak mendengarnya. Sedih karena harus dengan sengaja membiarkan Iren mendengar ucapan mesra dan perkataan lembutnya kepada wanita lain.


"Maafin aku, yank. Ini memang yang harus aku lakukan demi kebahagiaan kalian. Aku memang tidak bisa melupakanmu, namun itu tak adil buat Dika. Mahardika adalah sahabat aku juga kamu. Jadi, aku akan membuat kalian bersatu dan bahagia selalu." Indra pun melangkah keluar untuk menghampiri pacar barunya.

__ADS_1


"Ayo sayang, kita pergi!"Ajaknya kepada pacarnya sambil tersenyum manis.


__ADS_2