
Curhat dikit boleh yaππ
Pertama, aku mau ucapin permohonan maaf yang sebesar-besarnya untuk para readers atau kakak author yang selalu mendukung ceritaku ini. Sebelum melanjutkan cerita JSP ini, aku mau curhat dikit. Boleh yaπππ
Beberapa hari yang lalu asam lambungku kambuh lagi, sehingga aku tak bisa melakukan aktivitas apapun. Jadi, beberapa hari yang lalu aku istirahat total.
Pekerjaan rumah juga adikku yang ngerjain karena jangankan untuk bebersih rumah, untuk berdiri saja aku kesulitan. Rasa pusing seperti ada yang main gangsing di kepala, juga perut terasa melilit seperti di tusuki. Arrrggh ... rasanya lidah pun pahit.
Jangankan untuk menulis, melihat layar ponsel saja sudah bikin aku mual karena cahayanya. Jadi, aku minta maaf kepada kalian yang senantiasa menunggu ceritaku ini. Terima kasih atas pengertiannya.ππ
-----------βββββ-----------
Sebulan telah berlalu, mereka tak terus berlarut dalam kesedihan. Semua aktivitas seperti biasanya pun di lakukan.
Pergi ke kantor setiap pagi dan pulang di sore hari. Yang pergi ke butiq untuk mengecek semua pesanan dari para pelanggan, dan yang sekolah pun sudah berangkat lagi setiap hari.
Mereka melakukan semua tugas seperti biasanya. Tapi, pagi ini terasa lain. Zidane di kejutkan dengan menghilangnya Sherly dari rumah.
Pagi itu Zidane tak menemukan istrinya dimanapun. Dia berkeliling rumah dan bertanya kepada para pelayan, namun tak ada satupun yang mengetahui dimana keberadaan nona muda rumah ini.
"Apa kalian tidak melihatnya keluar?" Nada cemas terdengar dari ucapan Zidane.
Para pelayan hanya menggelengkan kepala pertanda tak mengetahuinya.
"Apa kalian melihat daddy?" Tanya Zidane lagi.
"Tuan besar sudah berangkat ke kantor barusan, tuan muda." Jawab pelayan.
"Oh, baiklah. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian!" Zidane melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
Ia merogoh kantong celana dan mengambil ponselnya yang kemudian menscrol nomor di layar ponsel. Setelah menemukan nama yang ingin di hubungi, ia pun menggeser warna hijau di layar ponsel untuk melakukan panggilan.
"Hallo, Zidane. Ada apa kamu telpon kakak pagi-pagi begini?" Tanya orang di sebrang.
"Hallo, kak. Apa Sherly ke rumah kakak?" Tanya balik Zidane.
"Sherly? Tidak tuh. Memangnya dia tidak dirumah?" Kak Al balik bertanya.
"Itu dia kak. Aku sudah mencari-carinya dari subuh, tapi gak nemuin dia sama sekali. Nanya sama para pelayan, tapi mereka gak ada yang tahu kemana dia pergi." Jelas Zidane cemas.
"Daddy. Coba tanya daddy!" Usul kak Al.
"Daddy sudah berangkat ke kantor sebelum aku menemuinya." Jelas Zidane lagi.
"Tumben. Ini kan baru jam enam pagi. Kok tumben daddy sudah berangkat kantor!" Zidane diam mendengarkan ucapan kakak iparnya.
Benar juga. Tumben daddy berangkat sepagi ini. Ada masalah apa ya?
"Ya sudah deh, Dane. Nanti kakak coba tanya daddy, siapa tahu dia pamit sama daddy kalau keluar rumah." Ucap kak Al menenangkan adik iparnya.
"Iya kak. Terima kasih." Ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.
"Hemh, kemana sih kamu Machan?" Dia berlari lagi mengelilingi rumah besar ini untuk mencari keberadaan istri tercinta.
Satu jam berlalu, namun Sherly belum di temukan juga. Itu membuat Zidane sangat cemas, sehigga ia terus khawatir.
Zidane sudah berkeliling komplek dan mendatangi tempat yang mungkin Sherly datangi. Namun, hasilnya tetap sama. Bahkan, ponsel Sherly pun tertinggal di kamar membuat Zidane semakin khawatir.
Ponsel Zidane berbunyi. Dengan malas ia menganggat panggilan telpon yang entah dari siapa.
"Ha ...!" Sebelum Zidane mengucapkan sesuatu, si penelpon sudah berkata terlebih dahulu.
"Zidane, tolong datang ke rumah baru gue sekarang juga. She-Sherly, Sherly." Dia sangat gugup dengan ucapannya sendiri.
"Sherly? Kenapa dengan istriku?" Zidane menjadi panik.
"Dia ... dia pingsan." Ucapnya lagi.
Zidane langsung mematikan ponselnya dan ia berlari menuruni tangga kemudian menyambar kunci mobil.
Dengan tergesa-gesa, Zidane melajukan mobilnya dan tanpa menghiraukan tatapan heran para pelayan.
Bipp...
Pesan masuk dari penelpon tadi dan memberikan alamat rumahnya kepada Zidane.
Dibacanya sekilas, kemudian ia menginjak gas dan melaju dengan cepat menuju alamat yang di berikan.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa menghilang tiba-tiba dan sekarang aku malah dikejutkan denganmu yang pingsan." Gumam Zidane.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan macet, akhirnya Zidane sampai di rumah besar. Dia pun turun dari mobilnya kemudian melangkahkan kakinya menuju rumah besar itu.
Ada aura yang aneh dari rumah besar ini. Tapi, apakah itu? Entahlah.
"Angker"
Cuma itu yang keluar dari mulut Zidane saat menilai keadaan rumah ini hanya dari luarnya saja.
Ting tong
Di tekannya bel rumah Dika namun tak berfungsi sebagaimana mestinya.
Zidane menunggu lama di luar namun tak ada yang membukakan pintu. Dia pun menelpon nomor tadi dan memastikan bahwa ada orang di dalam rumah.
Tapi, Zidane harus di buat terkejut karena nomor yang menelponnya tadi malah tidak bisa di hubungi kembali.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomor tujuan anda."
Si mbak operator yang menjawab panggilannya, bukan orang yang mau di hubungi Zidane. Mungkin, si mbak operator ingin melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Aneh. Jelas tadi masih nyambung dan mengirimkan pesan kepadaku. Tapi saat ku telpon sekarang, nomornya sudah tak aktif." Zidane menatap ponselnya.
"Ada yang janggal." Dia pun mengintip kedalam rumah dari balik kaca.
Di penglihatan Zidane, rumah itu tidak terlihat seperti rumah pada umumnya. Itu seperti rumah yang sudah tak terpakai dan keadaan rumah itu pun seperti gudang.
"Apa ini?" Zidane mudur dan melihat dengan jelas seluruh keadaan rumah di depannya ini.
"Astagfirullahaladzim."
Rumah besar itu berubah menjadi perumah tua dan sudah lapuk.
"Ada apa ini?" Zidane tampak heran dengan keadaan yang di lihatnya sekarang ini.
"Kemana orang-orang? Kenapa sepi?"
Pandangan mata Zidane beredar ke sekeliling dan tak menemukan satu orang pun.
Tak ada jawaban dari siapapun, membuat Zidane semakin khawatir adalah nomor yang tadi menghubunginya pun sudah tak aktif.
Beberapa jam sebelumnya ...
Kriiiing ... kriiiiing
Ponsel Sherly berdering cukup keras membuat si pemilik terbangun. Kepalanya menyembul dari balik selimut dan tangannya pun terulur untuk mengambil ponsel.
"Hemm?" Hanya gumaman yang ia keluarkan.
"Beib, bisa minta tolong gak?" Suara Dika terdengar.
"Kenapa, Dik?" Suaranya serak ciri khas bangun tidur.
"Ada suatu masalah yang gue pikirin nih." Kata Dika.
"Masalah apa sih yang sedang lu pikirin?" Kini Sherly duduk di ranjangnya.
"Beib, sebenarnya gue bingung mau gimana ceritanya sama lu." Tutur Dika.
"Ngomong aja sih. Gue siap dengerin kok!" Kata Sherly lagi.
"Begini ... Gue sama Iren kan beli rumah mewah di komplek perumahan. Harganya sih emang terbilang murah ya. Gue saja sampai bingung tuh rumah murah banget. Tapi, selama seminggu kita tempati, sering terjadi hal yang aneh gitu." Jelas Dika.
"Aneh? Maksud lu aneh gimana?" Tanya Sherly penasaran.
"Kadang, lampu nyala atau mati sendiri. Kadang, Rani tertawa atau nangis secara tiba-tiba. Kalau malem, di dapur seperti ada orang lagi masak." Tutur Dika.
Sejenak Sherly berpikir. "Mungkinkah ada setan di rumah baru lu?"
Perkataan Sherly sontak membuat Dika melonjak ke sampingnya. "Ja-jangan bercanda dong lu!"
"Ish, gue gak bercanda dodol. Dengerin cerita lu aja, gue sudah bisa meyimpulkan bahwa di rumah lu emang ada hantunya." Kata Sherly.
"Ja-jadi, gimana dong?" Tanya Dika gugup.
"Emm, elu beli rumah baru atau bekas sih!" Tanya Sherly lagi.
__ADS_1
"Gue gak tahu. Soalnya gue beli dari temennya si enyak. Katanya, tuh rumah baru selesai." Sherly mengangguk menanggapi perkataan Dika.
"Selesai di bangun apa selesai di renovasi?" Pertanyaan Sherly mengundang rasa penasaran Dika.
"Maksud lu?"
"Dik. Rumah yang selesai di renovasi, berarti tuh rumah udah pernah di tempati. Barang kali ada kejadian sebelumnya." Jelas Sherly.
"Iya juga. Kok gue gak mikir kesitu ya." Sherly hanya menggedikkan bahunya.
"Mungkin tuh rumah bekas orang dan ada sesuatu yang terjadi. Makanya di jual murah sama gue." Mereka saling diam.
"Ya sudah. Gue kesitu sekarang. Gue mau lihat hantu macem apa sih yang nempatin rumah lu." Tutur Sherly sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Gue jemput lu atau ...!"
"Gak usah. Gue minta anter suami gue aja deh!" Dika pun setuju dengan ucapan Sherly.
"Kirimin alamat lu, biar gue gak tersesat." Dika terkekeh dengan ucapan sahabatnya.
Panggilan pun diakhiri, Sherly bergegas ke kamar mandi dan mencari suaminya.
Ting
Pesan dari Dika yang mengirimkan alamat rumahnya.
"Oke!" Jawab Sherly singkat membalas pesan dari Dika.
Dia pun melanjutkan mencari suaminya lagi.
"Kemana dia? Ini masih jam lima tapi orangnya sudah gak ada di rumah?" Dia berkeliling kamar untuk mencari suaminya.
"King ice!" Panggilnya namun tak ada yang menjawab.
Kakinya melangkah ke balkon tapi suaminya tak ada di sana. Ia pun tersadar akan sesuatu.
"Astaga, kenapa gue bisa lupa. Dia pasti belum pulang dari mesjid. Haish, gue jadi pelupa." Dia pun berbalik dan mengenakan pakaiannya.
Ponsel Sherly berdering lagi. Panggilan dari Dika kembali.
"Iya Dika."
"Beib, cepet dateng kesini. Gawat." Dika terdengar panik.
"Apa sih, Dik?" Pertanyaan Sherly tak di jawab oleh Dika, melainkan tangisan dari si kecil Maharani, putri Dika dan Iren.
"Gue kesitu sekarang." Di matikan sambungan telpon olehnya dan dia menaruh ponsel di atas kasur.
Sherly menjadi ikut panik. Dia buru-buru mengambil kunci mobil dan bergegas keluar. Ponselnya tertinggal di kasur karena dia sibuk mencari kunci mobilnya.
Keadaan di bawah sepi. Kemana orang-orang? Gak biasanya rumah besar ini tak ada pelayan yang berkeliaran. Padahal, ini sudah jam lima lewat.
"Pada kemana nih orang? Sepi bener?"
Sherly tak memikirkannya lagi, dia bergegas pergi karena khawatir dengan keluarga kecil sahabatnya.
"Sudahlah, nanti gue kasih kabar setelah sampai di rumah si Dika saja.
Kakinya melangkah ke garasi untuk mengambil si sweaty, namun apa yang terjadi? Ban sweaty ternyata kempes dan dia mengeluh untuk itu.
"Ah, shit. Kenapa di saat seperti ini dia gak bisa diandelin sih?" Gerutunya dengan kesal.
Dia pun berlari ke luar gerbang. Tak ada pak satpam yang berjaga.
"Kemana nih dua satpam? Kok pada gak ada sih?" Matanya melirik kiri dan kanan namun tak menemukan juga.
"Ah, sudahlah. Gue keburu terlambat."
Kakinya melangkah keluar dari gerbang dan menghentikan taksi yang lewat di sana.
"Pak. Antarkan saya ke perumahan taman sari blok mawar nomor 18." Pintanya pada supir taksi.
"Baik, mbak." Jawab pak supir.
Mobil taksi meluncur di jalan raya menuju alamat yang diminta penumpang.
Maafin aku, King ice. Aku gak bisa nunggu kamu pulang dan pamitan sama kamu. Dika sama keluarga kecilnya sekarang sedang membutuhkan aku.
Lanjut gaess ...
__ADS_1